Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 13


__ADS_3

Ji An terjerembab di ranjang king size hotel itu. Arthur memaksanya untuk berbaring, wajahnya yang memerah karena amarah kecemburuan membuatnya tak lagi berpikir jernih. Dia ingin memiliki wanita di depannya ini.


Arthur tak akan rela jika ada yang memilikinya selain dirinya. Tunggu! Apa Ji An sudah menikah? Apa itu tadi suaminya? batin Arthur mengurungkan niatnya untuk menindih tubuh Ji An. Dia bangkit berdiri keluar kamar meninggalkan Ji An tanpa ucapan apapun.


Batin Arthur berkecamuk membayangkan wanitanya sudah punya suami atau mungkin bahkan sudah punya anak dari pria lain. Arthur mengusap wajahnya kasar. Dia ingin marah, tapi pada siapa?


"Aaarrg..." teriak Arthur membuang semua barang-barang yang ada di ruang tamu kamar itu.


Ji An yang mendengar kemarahan Arthur tersentak ketakutan. Entah kenapa dia merasa bersalah membuat Arthur marah. Hingga membuat Ji An tertidur pulas karena bingung harus melakukan apa.


Pagi hari, Ji An membuka matanya perlahan menatap sekeliling. Melihat sisi ranjang tak ada Arthur disana, entah kenapa dia merasa kecewa. Ji An beranjak dari ranjang menuju kamar mandi membersihkan dirinya.


Setelah setengah jam kemudian, pintu kamar diketuk Ji An tak berani membukanya, pasti Arthur lah yang akan membuka, begitu pikirnya. Namun pintu diketuk lagi, tak ada tanda-tanda pintu itu akan dibuka oleh seseorang. Setelah memakai pakaian yang diberikan Arthur kemarin dia memberanikan diri untuk membuka pintu.


"Iya...?" tanya Ji An yang ternyata dari layanan kamar.


"Saya mengantar sarapan Anda nona." ucap pelayan wanita itu.


"Masuklah!" jawab Ji An mempersilahkan masuk dengan membuka pintu kamar lebih lebar. Pelayan itu mengangguk dan masuk.


"Terima kasih."


"Kami permisi." pelayan itu pamit setelah menatanya di atas meja.


Ji An mulai makan makanannya, dia sangat lapar karena dari sore dia belum makan apapun. Sepertinya Arthur lupa memberinya makan. Dia makan dengan lahap dan tanpa sadar menghabiskan makanannya itu semua. Ponselnya berdering, Ji An segera menerimanya.


Terdapat nama my love di ponselnya. Ji An tersenyum senang dia juga lupa mengabari putranya itu setelah tidak pulang semalaman.


Dalam percakapan ponsel.


Ji An : "Iya, sayang..."


Matty : "Ma, mama tak pulang? Mama dimana? Mama baik-baik saja kan?"


Ji An : "Satu-satu boy, mama baik-baik saja, maaf, mama belum bisa pulang mungkin sebentar lagi. Mama harus mengerjakan pekerjaan sebentar lagi."


Matty : "Ok, ma. Hati-hati. I Miss you ma."


Ji An : "Miss you too honey."


Ji An menutup ponselnya dengan muram, bagaimana dia bisa pergi dari sini. Dia harus mencari cara untuk keluar dari kamar ini. Saat membuka pintu untuk layanan kamar tadi, ada beberapa pengawal yang berjaga di luar. Dan itu pasti pengawal yang ditugaskan Arthur untuk mencegahnya melarikan diri.

__ADS_1


"Excuse me...." ucap Ji Am melongok keluar pintu menatap salah satu pengawal.


"Iya nona."


"Dimana bos kalian, Arthur... tuan Arthur...?"tanya Ji An.


"Tuan sedang ada urusan nona. Ada hal penting yang harus dilakukannya. Anda diminta untuk menunggu di dalam kamar sampai tuan selesai dengan urusannya." jelas salah seorang pengawal itu.


"Aku ingin berjalan-jalan keluar sebentar. Apakah boleh?" pinta Ji An memelas.


"Maaf, nona. Tuan mengatakan untuk tidak mengizinkan anda keluar dari kamar." jawab pengawal itu menyesal.


"Hanya sebentar. Kumohon!"


"Maaf nona." sesal pengawal itu lagi. Ji An berdecak, usahanya membujuk gagal.


Dia masuk lagi ke dalam kamar, bingung melakukan apa. Dia duduk di sofa, bermain ponselnya, namun sudah hampir dua jam dia bosan dan meletakkan ponselnya. Dia pun berbaring di sofa dan tanpa sadar dia tertidur.


**


"Bagaimana Zein? Kau sudah menyelidiki tentang Ji An?" tanya Arthur setelah mereka mengungkap kebusukan putra pimpinan Jung.


"Berdasarkan informasi, nona Ji An pergi dari rumah lima tahun yang lalu dalam keadaan hamil." jelas Zein menjeda ucapannya menunggu reaksi tuannya.


"Hamil? Apa maksudmu?" Arthur semakin emosi, pupus sudah harapannya untuk memiliki Ji An, karena itu artinya dia sudah menikah. Arthur tampak frustasi.


"Lalu?" tanya Arthur lagi.


"Nona Ji An terpaksa meninggalkan rumah dan hidup sendiri sampai sekarang. Bahkan orang tuanya mengusirnya karena nona Ji An hamil dan tidak bersedia mengatakan siapa ayah bayi itu dan menolak untuk menggugurkan kandungannya. Berdasarkan informasi, nona Ji An terpaksa melakukan itu untuk menghindari perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya." jelas Zein.


"Perjodohan? Itu artinya dia belum menikah? Tidak jadi menikah?" tanya Arthur antusias sedikit mendapat ruang nafas yang sejak tadi dia rasakan sesak.


"Begitulah tuan. Sekarang dia hanya tinggal berdua dengan putranya." jelas Zein. Arthur sontak berdiri merapikan pakaiannya.


"Pria brengsek mana yang tidak mau bertanggung jawab dengan kehamilannya?" Decak Arthur.


"Itu saya belum menemukan jejak-jejak pria itu tuan." sesal Zein karena tidak bisa memuaskan tuannya.


"Ayo kita pergi!"


"Ya?"

__ADS_1


"Kita ke sekolah putranya dan jemput dia. Siapa nama putranya?" ucap Arthur berjalan keluar ruangan diikuti Zein.


"Namanya Matty."


Tak sampai satu jam, kini Arthur sudah tiba di depan sekolah Matty. Zein keluar dari mobil namun Arthur masih setia menunggu di dalam mobil. Tak sampai setengah jam, anak-anak mulai mnghambur keluar kelas masing-masing.


Arthur langsung keluar dari mobil mencari seorang pria kecil yang mungkin berwajah mirip wanitanya itu. Namun bayangan lamunannya langsung menghilang melihat seorang pria kecil berjalan ke arahnya.


Arthur tak bisa berkata-kata, bagaimana itu mungkin. batin Arthur tak percaya. Air matanya tanpa sadar menetes, segera diusapnya air mata itu. Arthur menatap lekat pria kecil yang semakin dekat itu.


"Persis, persis sekali... Bagaimana hal itu mungkin Zein?" guman Arthur, Zein pun juga tersentak melihat wajah pria kecil itu. Bersamaan dengan itu, ponselnya berdenting tanda ada pesan masuk, dibukanya ponselnya terdapat kiriman gambar foto pria kecil itu yang merupakan putra kekasih tuannya.


Matthew Davino, itulah namanya yang diakuratkan dengan mengirim akta kelahiran putra kecil itu dengan nama Arthur Zion Aftano sebagai nama ayahnya.


"Matty..." sapa Arthur membuat pria kecil itu menoleh menatap pria asing yang samar-samar dikenalnya itu.


"Matty, bukankah dia papamu?" ucap Su Jin yang berdiri di sisi Matty.


Matty hanya diam, dia memang pernah melihat foto pria itu di dompet pribadi sang mama dan sempat mengabadikannya dalam ponselnya. Dia juga pernah memberitahukan pada temannya Su Jin.


"Benarkah?" tanya Matty menatap Su Jin.


"Ehm... coba mana ponselmu!" Su Jin mengulurkan jemari tangannya menodong pada Matty.


Matty mengulurkan ponselnya, membiarkan Su Jin mengutak-atik ponselnya. Arthur masih belum bereaksi, dia hanya menyimak interaksi kedua anak kecil itu.


"Benar-benar... dia adalah milikku?" guman Arthur tersenyum senang dan entah kenapa hatinya menghangat dan bahagia.


TBC


.


.


.


Maafkan typo


Beri dukungannya


Beri like, rate dan vote nya

__ADS_1


__ADS_2