
Davin membuang semua barang-barang yang ada di meja kerjanya. Sontak hal itu membuat Fero dan sekretarisnya tersentak kaget karena mereka saat itu mengikuti Davin ke ruang kerjanya karena ada yang perlu dilaporkannya. Namun mereka tak menduga, bosnya yang terlihat diam sejak dari villa langsung melampiaskan kediamannya yang sejak tadi terlihat hendak meledak.
Fero langsung memberi kode pada sang sekretaris untuk meninggalkan ruangan Davin sebelum mendapatkan dampak dari amarahnya. Sang sekretaris langsung paham dan menutup pintu ruang kerja itu dengan rapat.
"Hah...hah...hah...." Suara nafas memburu dari Davin membuat Fero tak berani mengeluarkan suara sedikitpun.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk yang langsung dibuka oleh Fero untuk mencegah seseorang tersebut yang sepertinya ada kepentingan dengan sang tuan muda. Agar tak mendapatkan amukan juga dari sang tuan muda, Fero berusaha mencegahnya.
"Ada apa?" Tanya Fero dengan nada suara rendah tak mau membuat Davin semakin murka.
"Maaf tuan, ini darurat. Pabrik yang ada di negara A kebakaran." Jawab sekretaris Davin dengan nada yang ngos-ngosan juga sedikit takut-takut karena tuan mudanya sedang dalam keadaan emosi tinggi.
"Apa maksudmu?" Tanya Fero masih tak yakin dengan yang didengarnya.
"Pihak penanggung jawab dari pihak negara A sudah berusaha menghubungi telepon kantor tuan muda dan telpon selulernya, namun sepertinya..." Sekretaris itu tak melanjutkan ucapannya sambil melirik meja kerja Davin sudah berhamburan berceceran. Fero langsung paham apa maksud sekretaris itu.
"Baiklah, aku akan mencoba bicara pada tuan muda."
"Baik tuan." Sekretaris itu kembali ke mejanya di luar ruang kerja Davin. Fero menutup kembali pintu ruangan dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang mungkin akan memicu kembali emosi tuan mudanya.
"Ada apa?" Tanya Davin sudah mulai tenang duduk di kursi kebesarannya dengan meja kosong karena semua barang-barangnya berhamburan tercecer di lantai. Dan wajah Davin sudah mulai sedikit tenang meski sudah kehilangan barang-barang berharganya.
"Pabrik di negara A kebakaran tuan." Davin terdiam kaku. Dia memijat pelipisnya merasakan pening dan marah disaat bersamaan.
"Siapkan tiket pesawat kesana! Dan siapkan semuanya!" Titah Davin yang langsung diangguki Fero segera keluar ruangan mengurus titah tuan mudanya.
***
__ADS_1
"Saya ingin bertemu dengan tuan Fero." Ucap Gio saat dia tiba di gedung perusahaan Davin. Gio langsung dicegat securiti dan resepsionis saat hendak masuk lebih dalam ke gedung.
"Apa anda sudah membuat janji tuan?" Tanya resepsionis ramah dengan senyum di wajahnya.
"Saya belum membuat janji dengannya hari ini. Tapi kami sudah janji untuk bertemu." Jawab Gio yakin.
"Maaf tuan, kalau belum ada janji anda tidak bisa bertemu." Tolak resepsionis itu ramah.
"Tolong katakan! Saya Giovani Saputra ingin bertemu. Dia pasti akan bersedia menemui saya sekarang." Resepsionis itu terdiam. Dia bingung mau menolak bagaimana lagi. Karena berdasarkan informasi dari sekretaris CEO nya, tuan Fero dan tuan Davin sedang tidak di tempat.
"Maaf tuan. Sayang sekali saat ini tuan Fero sedang tidak ada di tempatnya. Beliau sedang ada perjalanan bisnis ke negara A." Jelas resepsionis itu akhirnya.
"Mustahil. Dia sudah janji akan menerima kedatangan saya jika saya berkunjung." Jawab Gio tak percaya dengan wajah mulai terlihat emosi.
"Maaf tuan. Itulah yang sebenarnya. Mungkin anda bisa kembali jika beliau sudah pulang." Saran resepsionis itu tetap berusaha ramah dengan mempertahankan senyum manisnya.
"****." Umpat Gio meninggalkan gedung itu memilih untuk menghubungi ponsel Fero namun ponsel Fero sedang tidak dapat dihubungi.
***
Tok tok tok
Cklek
"Maaf nyonya, makan malam sudah siap." Ucap seorang pelayan yang sepertinya disuruh oleh kepala pelayan. Davi menoleh menatap pelayan itu.
"Aku akan kesana." Jawab Davi beranjak dari tempat duduknya.
Setelah para pelayan membantunya membersihkan diri tadi. Davi termenung duduk di sofa dekat jendela kamarnya memandang ke arah luar jendela. Dan tanpa sadar langit sudah mulai gelap. Namun tak ada tanda-tanda suaminya akan mendatanginya. Atau suaminya sedang menghindarinya. Entahlah, Davi mencoba untuk tidak peduli.
__ADS_1
"Silahkan nyonya!" Ucap kepala pelayan yang sudah menyiapkan piring hanya untuknya saja.
Dia menatap miris kursi makan tempat Davin biasanya duduk. Namun kursi itu kosong tak berpenghuni, bahkan saat dia menunggu beberapa saat berharap suaminya tiba-tiba muncul untuk makan malam bersama meski akan diselingi keheningan diantara keduanya.
"Tuan muda sedang perjalanan bisnis ke negara A karena ada masalah disana. Mungkin akan memakan waktu lebih lama. Jadi, tuan muda tidak akan pulang dalam waktu dekat ini." Jelas kepala pelayan seolah tahu apa yang dipikirkan dari perilaku Davi.
"Terima kasih bi." Jawab Davi mulai mengambil makanannya sendiri.
Namun entah kenapa Davi merasa tak berselera dengan makanan-makanan mewah aneka macam yang terlihat menggugah selera itu. Davi hanya mengaduk-aduk makanannya dengan pikiran yang tenggelam entah memikirkan apa.
Dia lebih memilih menghindar dari pada menyelesaikan masalah. Apa yang kukatakan saat itu benar adanya? Batin Davi berkecamuk merasa sakit di ulu hatinya.
"Aku sudah selesai bi. Terima kasih makanannya." Davi beranjak dari tempat duduknya setelah mengusap secepat kilat air matanya yang tiba-tiba menetes di pipinya.
"Baik nyonya." Jawab kepala pelayan dengan nada berat.
Bahkan makanan yang di piring tak disentuhnya sama sekali. Kepala pelayan tampak menghela nafas panjang.
"Kalian bereskan ya?" Titah kepala pelayan pada rekan bawahannya.
"Baik nyonya." Jawab pelayan kompak.
Davi berlari ke kamarnya langsung menelungkupkan wajahnya ke bantal yang ada di ranjang. Entah kenapa dadanya terasa sesak, ulu hatinya sakit. Dia juga sangat sedih mendengar suaminya pergi melarikan diri dari masalah mereka yang belum diselesaikan.
"Kamu tega Davin.." Bisik Davi dalam tangisnya.
.
.
__ADS_1
TBC