Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 37


__ADS_3

"Apa maksud dari semua ini pak?" Tanya Davi menatap pengacara itu lekat.


"Itu surat perceraian yang dikirim tuan muda Davin. Juga semua tentang tunjangan yang diberikan pada anda dan calon anak anda. Setelah sembuh sopir akan mengantar anda pulang ke rumah anda. Dan ...." Jelas pengacara itu.


"Boleh aku bertemu suamiku?" Tanya Davi menyela ucapan pengacara itu.


"Maaf nyonya. Tuan muda sedang tidak berada disini. Beliau melakukan perjalanan bisnisnya ke luar negeri lima hari yang lalu setelah mendengar anda siuman." Jawab pengacara itu.


"Aku tak mau menanda tangani apapun sebelum bertemu langsung dengan suamiku. Silahkan anda pergi! Saya sedikit lelah." Tegas Davi meletakkan berkas itu di ranjang mengusir pria paruh baya itu sopan. Dia memilih untuk membaringkan tubuhnya tak memperdulikan pengacara itu.


"Huff.. kalau begitu saya permisi. Saya akan sampaikan pada tuan muda tentang permintaan anda." Pengacara itu meninggalkan ruang perawatan tanpa dijawab lagi oleh Davi.


Davi membuka matanya begitu mendengar pintu kamar perawatannya di tutup dari luar.


"Setelah semua yang terjadi, seenaknya kau membuangku Davin. Jangan harap aku akan menuruti lagi keinginanmu!" Bisik Davi masih berbaring di ranjangnya.


***


"Tuan, pengacara ingin bertemu dengan anda?" Ucap sekretaris Davin yang langsung diangguki Davin tanpa basa-basi.


Cklek


"Selamat siang tuan muda." Sapa pengacara paruh baya itu adalah pengacara kepercayaan keluarganya.


"Duduk!" Titah Davin langsung saja pria itu duduk dengan wajah rasa bersalahnya.


"Ada apa?" Tanya Davin to the point.


"Nyonya menolak untuk tanda tangan tuan." Jelas pengacara itu.


"Kenapa?"


"Beliau ingin bertemu dengan anda sebelum menanda tanganinya." Jawabnya lagi.


"Aku sudah katakan bahwa aku sedang tidak di tempat kan?" Jawab Davin tak suka, perintahnya tidak dilakukan sesuai dengan keinginannya.


"Saya sudah beralasan pada beliau tentang anda sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Namun tampaknya nyonya tak peduli dan bersikeras untuk tidak akan menanda tangani apapun sampai bertemu dengan anda tuan." Jelas pengacara itu membela diri.


Davin terdiam dengan memangku sebelah kakinya di atas kaki satunya menatap pengacara itu penuh intimidasi.


"Lakukan sampai dia mau tanda tangan!" Titah Davin mutlak setelah lama berpikir.


"Tuan muda mengatakan untuk tidak memaksakan diri..." Pengacara itu menjeda kelimatnya.


"Aku mengatakan lakukan apapun agar dia menanda tanganinya asal jangan sampai menyakitinya. Entah itu ancaman atau semuanya. Aku tak mau anakku kenapa-napa." Jelas Davin kembali ke kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Baik tuan. Saya akan berusaha lebih keras lagi." Jawab pengacara itu beranjak dari duduknya.


"Maaf tuan." Davin kembali mendongak menatap pengacara yang berbalik lagi menatapnya juga itu. Davin mengiyakan pertanyaannya lewat tatapan matanya.


"Seandainya nyonya meminta untuk menghubungi tuan, apa saya bisa..."


"Hubungkan pada Fero!" Jawab Davin tegas dan langsung berpamitan setelah mendapat jawaban yang diinginkannya.


Cklek


Suara pintu ruangannya tertutup. Davin meletakkan penanya lemas. Dia mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya sambil menyandarkan sikunya di meja.


"Maaf... dengan begini kau akan bebas tak terkekang lagi. Semoga kau bahagia." Bisik Davin.


"Ya ma." Jawab Davin saat ada panggilan dari ponselnya.


"Kau kapan kemari sayang?" Tanya mama Davin dari seberang panggilan.


"Sudah kukatakan aku menolak perjodohan itu ma." Jawab Davin langsung paham maksud sang mama.


"Bukan tentang itu. Adikmu pulang memberi kabar pada kami." Davin menegang mengingat adik nakalnya itu sudah ember pada mamanya.


"Memang apa yang dikatakan bocah nakal itu?" Bukannya menjawab pertanyaan mamanya Davin malah balik bertanya.


"Jangan sampai mama datang ke kantor membuat keributan Matt! Kau tahu betul bagaimana mama." Jawab sang mama membuat Davin terdiam.


"Baiklah sayang, kau putra terbaik mama." Davin tersenyum miris. Apa jadinya jika sang mama tahu tentang perilakunya pada Davi. Mama pasti akan membunuhku. Batin Davin berdecak.


Dia merasa dendam pada adiknya yang ember itu. Padahal dia sudah membantu adiknya yang kesulitan karena skandalnya di dunia K-Pop. Sehingga dia memilih melarikan diri ke tanah air papanya. Namun Davin mendukung hal itu daripada dia diserang hatter KPop karena cuitan mereka benar-benar tajam. Untungnya masih ada negara papanya tempat asal papanya yang notabene semua orang acuh dengan sikap seorang idola.


"Ya tuan." Jawab Fero di seberang panggilan Davin setelah menghubungi mamanya.


"Siapkan tiket pesawat ke Korea besok pagi. Penerbangan paling awal!" Titah Davin langsung menutup ponselnya tanpa menunggu Fero menjawab.


***


"Suster?" Panggil Davi saat seorang suster masuk ke ruang perawatannya untuk mengantar makan malam.


"Ya nyonya." Jawab suster itu ramah setelah meletakkan makan malam untuk Davi di meja sebelah ranjang.


"Apa di luar ada pengawal yang berjaga?" Tanya Davi ragu.


"Maksud nyonya para pengawal berjas hitam itu?"


"Iya benar."

__ADS_1


"Kalau para pengawal itu sudah tidak ada setelah sehari saat anda siuman." Jelas suster itu. Davi mengernyit.


"Benarkah? Suster yakin?" Tanya Davi memastikan.


"Benar nyonya. Tidak ada siapapun yang berjaga di luar." Jawab suster itu entah kenapa membuat Davi kecewa mendengarnya.


"Terima kasih sus."


"Iya nyonya, saya permisi dulu." Davi hanya mengangguk.


*Jadi benar kau akan melepaskanku Davin. Kau sudah tak mencintaiku lagi?


Apa ucapanmu saat aku koma itu benar? Kau akan menjauh dariku dan anakmu sendiri.


Kau jahat Davin, setelah semua ini kau baru melepaskanku. Setelah aku jatuh cinta padamu lagi*? Batin Davi menangis tanpa sadar.


***


Tok tok tok


"Masuk!" Titah Davi berteriak dari dalam ruang perawatan.


Cklek


"Selamat pagi nyonya." Sapa seorang pria paruh baya yang dikenali Davi.


"Pak, anda..."


"Iya nyonya. Saya sopir pribadi tuan Davin. Saya datang kemari ingin mengantarkan barang-barang nyonya." Sopir itu mengulurkan sebuah tas milik Davi yang entah dimana sejak lama. Sepertinya Davin menyembunyikannya di suatu tempat.


Davi langsung meraih barang-barang lamanya itu. Ponselnya juga ada disana, padahal saat Davin menculikku bukannya dia tidak membawa apapun? Darimana Davin mendapatkannya, tak mungkin kan dia mencuri di rumahku. Davi sibuk menggeledah barang-barang pribadinya. Dan masih utuh semuanya.


"Kalau begitu saya permisi nyonya. Besok saya akan datang siang untuk mengantar anda pulang?" Davi langsung menoleh menatap sopir itu.


"Pulang?" sopir itu mengangguk. " Ke villa?" Tanya Davi lagi.


"Ke rumah orang tua anda." Jawab Davi seperti kehilangan semangat hidupnya.


"Apa maksud bapak?"


"Saya hanya menjalankan perintah tuan muda nyonya."


"Terima kasih." Sopir itu langsung pamit setelah membungkuk memberi hormat pada nyonya yang mungkin sudah bukan nyonya yang akan dilayaninya lagi itu.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2