Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 16


__ADS_3

"Matty, kita pergi sayang." ucap Ji An menarik tangan Matty.


"Tuan Kim saat ini sedang koma." ucapan Hyung Jae membuat Ji An terhenti, mengurungkan niatnya untuk pergi, Matty hanya menatap keduanya bingung.


"Sebagai putri tunggal keluargamu, apa kau tak mau menjenguknya?" Ji An masih terdiam, dia ingin tidak mempercayai ucapan pria brengsek itu. Ji An tahu betul siapa Hyung Jae, dia pria licik dan brengsek.


"Kalau papaku memang koma, aku pasti mendengar kabar itu." jawab Ji An yakin, dia memang mempunyai seseorang yang dipercaya untuk memberi kabar tentang yang terjadi di rumahnya.


"Maksudmu Sung Hun?" ucap Hyung Jae disertai tawa ejekan.


"Apa maksudmu?" jawab Ji An emosi berbalik menatap Hyung Jae.


"Kurasa dia tak mungkin lagi memberimu informasi. Secara dia sudah dipecat sebulan yang lalu." jawab Hyung Jae dengan tawa kembali mengejek.


"Matty, bisa kau bermain di taman sebentar?" bujuk Ji An sambil mengusap bahu putranya.


"Ya, ma."


"Ingat, jangan kemana-mana sampai mama datang?" peringat Ji An.


"Ya ma." Matty pergi meninggalkan kedua orang dewasa itu menuju taman hotel itu tak jauh dari restoran tempat mereka makan.


"Bisa anda jelaskan maksud perkataan anda tuan?" tanya Ji An formal, tatapannya masih sama sinis dan ketus. Masih dengan raut wajah datar dan tajam.


"Kau bilang kau tak tertarik lagi, jadi..."


"Jangan berbelit-belit, sebenarnya apa yang ingin anda sampaikan?" sela Ji An tak sabaran memotong ucapan Hyung Jae.


"Baiklah. Toh aku juga masih banyak urusan. Aku akan langsung ke intinya saja." Hyung Jae menjeda ucapannya menunggu reaksi wanita di depannya ini, tatapan mata Ji An tetap tak bersahabat dan masih menatap tajam padanya.


"Saat ini ayahmu sedang koma karena penyakitnya dan dia harus segera dioperasi karena penyakit gegar otaknya. Aku tak bisa mengambil keputusan itu karena dia butuh persetujuan dari walinya yaitu putrinya." Hyung Jae melihat reaksi Ji An yang sesaat terlihat shock namun segera dikendalikan, tapi Hyung Jae bisa melihat itu.


"Aku akan mengeluarkan biaya untuk operasi ayahmu jika perjodohan antara kita tetap dilanjutkan." jelas Hyung Jae menatap Ji An menunggu reaksinya.


"Apa maksud anda? Itu jelas-jelas perusahaan ayah saya, kenapa saya harus minta izin anda untuk mengeluarkan uang?" sentak Ji An emosi.


"Sudah kukatakan, perusahaan ayahmu sudah menjadi tanggung jawabku, karena janji ayahmu tentang perjodohan kita. Jadi, tanpa tanda tanganku uang tak bisa dikeluarkan." jelas Hyung Jae sambil mengedikkan kedua bahunya tersenyum seringai.


"Kau... Jangan bermimpi untuk melanjutkan perjodohan itu." sentak Ji An menahan emosinya agar tidak meledak di situ.

__ADS_1


"Kalau begitu jangan harap tuan Kim akan bangun, mungkin saja dia hanya menghitung hari." ucap Hyung Jae berdiri dari duduknya sambil merapikan jasnya yang rapi.


"Kau... sampai kapan kau akan memaksakan sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi? Bahkan kita sama-sama tak pernah mempunyai perasaan. Lalu untuk apa perjodohan tetap dilanjutkan." ucap Ji An merendahkan suaranya merasa tercekat dan sesak pada dadanya mengingat ayahnya yang kini terbaring lemah di rumah sakit tanpa siapapun yang mengurusnya.


"Aku tak butuh perasaan pada pernikahan, bagiku asal bisa menggabungkan kedua perusahaan tuan Kim dan perusahaanku itu lebih dari cukup. Perasaan... itu bulshit." ucap Hyung Jae meninggalkan restoran itu, karena sekretarisnya sejak tadi sudah memberitahunya jika pemilik hotel sudah siap di ruang meeting.


Ji An terduduk lemas jatuh di lantai restoran itu. Air matanya tak keluar, karena sudah terlalu seringnya dia menangis. Dadanya sesak, nafasnya tercekat. Dulu dia pergi dari rumah karena ayahnya mengusirnya karena hamil tanpa mengatakan siapa pria yang menghamilinya meski dirinya tahu siapa ayah bayinya.


Namun karena dia tak tahu dimana alamat Arthur yang ada di Indonesia, Ji An terpaksa membesarkan sendiri sang buah hati meski awalnya sulit karena gerakannya selalu diawasi oleh calon tunangannya yang dijodohkan olehnya waktu itu.


"Mama..." panggil Matty yang menghampiri mamanya yang terduduk diam. Ji An tersentak sontak menoleh menatap putranya.


"Mat..." Ji An langsung bangun berdiri menggandeng jemari tangan putranya meninggalkan restoran juga hotel itu.


"Kita pulang ya yuk!" ajak Ji An.


"Em..." jawab Matty tersenyum senang.


"Maaf nona, tuan tidak mengizinkan anda pergi dengan membawa tuan muda." ucap pengawal Arthur yang sejak tadi berdiri mengawasi Ji An dan Matty dari kejauhan.


"Apa maksudmu?" seru Ji An tak suka.


"Omong kosong apa itu? Mat putraku, dia tak berhak melarang ku untuk membawa putraku pergi!" seru Ji An semakin bertambah emosi padahal emosinya sudah mulai reda tadi.


"Kalau begitu tunggu tuan memberi izin pada anda." pengawal itu mulai mencekal lengan sang tuan muda yang digandeng oleh Ji An.


"Aku mau pulang dengan mama." jawab Matty tegas.


"Maaf tuan muda, tunggu izin dari tuan." Ji An menepis kasar tangan pengawal itu yang mencekal pergelangan tangan Matty.


"Lepaskan, kau menyakitinya!" seru Ji An meski cekalan itu tak lepas.


Keributan pun terjadi antara pengawal yang mempertahankan Matty dan Ji An yang memaksa Matty untuk pergi.


"Ada apa ini?" suara bariton Arthur yang menggelegar membuat semua yang disitu spontan berhenti ribut tak ada yang berani mengeluarkan suara.


Para pengawal membungkukkan badan pada sang tuan. Ji An langsung maju di hadapan Arthur dengan emosi dan wajah garangnya.


"Apa maksudmu tak mengizinkan aku pergi dengan putraku?" seru Ji An meluapkan emosinya.

__ADS_1


"Memang. Aku tak mau kau membawa kabur putraku lagi." jawab Arthur santai.


"Dia putraku, dan aku berhak membawanya bersamaku." jawab Ji An tak mau kalah.


"Tanpa izinku."


"Omong kosong macam apa itu."


"Terserah apa mauku. Kau boleh pergi asal tak membawa Matty."


"Dia putraku, selama ini aku yang mengurusnya, kau tak berhak memisahkan kami."


"Tentu berhak. Aku ayah kandungnya. Selama ini kau tak membawanya padaku. Bagaimana aku mengurusnya." ucap Arthur membela diri menggendong Matty meninggalkan lobi hotel yang semakin ramai melihat keributan itu.


"Art... kumohon! Jangan lakukan itu!" seru Ji An mengikuti langkah Arthur.


Arthur hanya diam tak menyahuti ucapan Ji An, dia masuk ke dalam lift khusus eksekutif, Ji An juga mengikuti.


"Kumohon Art, jangan seperti ini. Jangan pisahkan dari putraku, dia satu-satunya milikku!" mohon Ji An sudah mulai berderai air matanya.


"Kalau kau ingin membawanya pergi, bawa aku juga." ucap Arthur tersenyum seringai tanpa menatap wajah Ji An yang berdiri di sampingnya.


"Apa maksudmu?"


"Kau bisa mendengarnya, kalau tidak pergilah sendiri. Kami tetap disini." jawab Arthur santai.


Ji An terdiam, padahal dia ingin menjenguk ayahnya yang katanya sedang dirawat di rumah sakit. Dia ingin pergi sendiri, tapi takut Arthur akan membawa putranya pulang ke Indonesia yang artinya Ji An tak tahu dimana tempat tinggal Arthur disana.


TBC


.


.


.


Maafkan typo


Beri dukungannya

__ADS_1


Beri like, rate dan vote nya


__ADS_2