
Sung Hun menghampiri ranjang tuannya yang terlihat sedang melamun menatap kosong keluar jendela ruang perawatannya. Sung Hun menghela nafas panjang, dia ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi pada nona muda dan tuan muda kecilnya tapi Arthur, keponakannya yang juga suami dari nona mudanya melarangnya untuk mengatakan hal itu.
Mereka mengatakan akan segera pulang, mungkin besok setelah Matty dinyatakan benar-benar sehat. Sung Hun hanya bisa diam dan pasrah. Memang semua itu demi kebaikan tuan besarnya juga. Namun jika melihat keadaannya seperti orang yang putus asa, Sung Hun lama-lama juga tak tega.
"Tuan, waktunya makan siang." ucap Sung Hun setelah lama menimbang-nimbang kembali keputusannya.
"Putriku... benar-benar... belum memaafkanku..." bisik Ji Sung lirih sarat keputus asaan.
"Tuan..."
"Mana makan siangku? Aku ingin sembuh demi cucuku." ucap Ji Sung menoleh tersenyum meski dipaksakan menatap Sung Hun yang tampak mencemaskannya.
"Silahkan tuan!" Sung Hun meletakkan makanan dari rumah sakit yang diantarkan tadi.
Menatanya di meja kecil yang sudah dibuka di hadapan Ji Sung. Ji Sung menatap satu persatu makanan di atas meja itu tak berminat meski makanan itu terdapat banyak vitamin dan nutrisi untuk kesembuhannya. Tapi dia mencoba memaksakan diri untuk makan makanan rumah sakit yang hambar itu.
***
"Bagaimana?" tanya Arthur setelah melihat Zein tiba di rumah sakit.
Arthur meninggalkan kamar putranya sejenak setelah mendapat kabar Zein telah mengurus perihal di villa kemarin. Kini mereka sudah duduk di bangku taman rumah sakit. Dan tentu saja tak lupa menambah pengawalan yang ketat di depan ruang perawatan putranya.
Dia tak mau kecolongan lagi. Karena sepertinya dalang utama penculikan, Jung Hyung Jae masih bebas berkeliaran di luar sana.
"Kami sudah membereskan semua tuan. Dan pencarian terhadap Hyung Jae masih belum mendapatkan hasil." jelas Zein ikut menyeruput kopinya begitu tuannya juga meneguknya.
"Lakukan terus untuk pencarian itu Zein. Si brengsek itu pasti tak akan menyerah dengan begitu mudahnya." ucap Arthur lagi.
"Baik tuan."
"Baiklah. Istirahatlah, aku mau menemani istri dan putraku!" Zein tak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya memberi hormat.
__ADS_1
**
Cklek...
Pintu ruang perawatan Matty dibuka, terdengar gelak tawa sang putra yang sepertinya sedang bercanda dengan sang mama.
"Hahaha... geli mama." ucap Matty dengan tawa yang terbahak-bahak.
Ji An yang sibuk menggelitiki putranya bercanda menoleh menatap arah pintu bersamaan dengan putranya.
"Papa..." sapa Matty tersenyum senang melihat Arthur muncul di ambang pintu. Arthur ikut tersenyum menatap keduanya.
"Hai boy..." jawab Arthur sambil mengacak rambut putranya. Ji An tersenyum manis menatap Arthur begitu juga Arthur balas tersenyum menatapnya.
"Kapan kita pulang, pa? Aku bosan." keluh Matty yang disenyumi Ji An dan Arthur.
"Besok kau sudah pulang, kau hanya perlu beristirahat dan menghabiskan infusmu." jelas Arthur mendekati istrinya mengecup sekilas puncak kepala istrinya lembut.
"Benarkah?" tanya Matty antusias, raut wajahnya tampak berbinar.
"Tentu. Dan sekarang kau harus istirahat agar besok kita bisa pulang. Kau sudah makan dan minum obat kan?" tanya Arthur tersenyum senang.
"Tentu." jawab Matty mulai memejamkan mata, dia tampak menguap, sepertinya efek ngantuk dari obat sudah bereaksi.
"Kau juga, istirahatlah!" saran Arthur membelai pipi istrinya lembut, mengecup sekilas bibirnya setelah mengusapnya lembut.
"Kau yang harus istirahat. Sejak malam itu, aku tak melihatmu istirahat." jawab Ji An.
"Aku sudah tidur beberapa jam yang lalu." ucap Arthur menghibur istrinya.
Ji An mencium bibir suaminya lembut, namun Arthur semakin menekan tengkuknya memperdalam ciuman itu. Dalam sekejap lengan Ji An telah melingkar di leher suaminya. Mereka saling mencium, melu*mat, mencecap dan menghisap bahkan lidah mereka saling bergelut dalam mulut keduanya.
__ADS_1
Setelah dirasa udara mulai habis. Ji An melepas ciuman itu, nafas keduanya tampak memburu. Sorot mata suaminya sudah berkabut gairah meski terlihat berusaha meredamnya karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk dilanjutkan.
"Aku akan tidur di sampingmu. Ayo!" ajak Arthur berbaring di ranjang sebelah putranya yang tadi digunakan untuk perawatan Ji An saat pingsan.
Arthur mengecup berkali-kali puncak kepala istrinya yang menyerukkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Aku mencintaimu." bisik Arthur. Ji An sontak mendongak menatap Arthur.
"Aku... juga mencintaimu." ucapnya.
"Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika sesuatu terjadi pada kalian. Kalian adalah separuh nyawaku." bisik Arthur lagi.
"Kita akan selalu bersama." jawab Ji An semakin menyerukkan kepalanya di dada bidang suaminya. Arthur mengecupi kembali puncak kepala dan rambut istrinya gemas.
"Paman Sung Hun menghubungiku." Ji An sontak mendongak lagi.
"Ayah?"
"Ayah mertua sudah sadar dan kaulah orang pertama yang ditanyakannya dan juga putra kita." jawab Arthur menatap istrinya lekat penuh kasih.
"Benarkah? Ayah tak marah padaku? Ayah tak membenciku?" tanya Ji An antusias, Arthur tersenyum melihat reaksi istrinya. Dikecupnya bibir istrinya itu sekilas.
"Tak ada orang tua yang membenci anak-anaknya. Mereka hanya perlu diberi sedikit perhatian dan rayuan. Kau yang terlalu keras kepala." jelas Arthur. Ji An tampak manyun cemberut mendengar ucapan Arthur.
"Aku kan marah karena dia menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku?" lirih Ji An kembali menyerukkan kepalanya di dada suaminya.
"Kenapa kau tak mengatakan yang sebenarnya siapa ayah putra kita?" tanya Arthur.
"Saat itu, jika aku mengatakan yang sebenarnya pada ayah. Aku tak yakin ayah akan mencarimu. Bahkan aku tak tahu harus mencarimu kemana, dimana. Dan siapa keluargamu. Bahkan aku mencari tahu dirimu saat ayah belum tahu kehamilanku. Aku datang ke NYC namun kau sudah tak disana. Semua orang yang mengenalmu hanya mengatakan kau kembali ke negara asalmu dan aku tak tahu dimana itu." jelas Ji An serasa kembali ke masa lalu dimana dia berkelana mencari keberadaan Arthur.
"Maaf... maafkan aku... bahkan aku mencarimu setelah kau meninggalkanku di club malam itu sampai saat sekarang, sampai kita bertemu disini." jawab Arthur lagi-lagi mengecupi puncak kepala dan rambut istrinya lembut penuh rasa bersalah.
__ADS_1
TBC