
Ji An tampak duduk gelisah di depan kaca rias kamarnya. Baru kali ini kegugupan melanda dirinya hingga tidak bisa dikendalikannya. Saat malam pertamanya dengan Arthur dulu tidak seperti ini. Namun hari ini sukses membuat gugup, resah dan gelisah tak karuan berkecamuk dalam dirinya.
Meski secara siri dia sudah sah menjadi istri seorang Arthur tapi ini kali pertama dia akan bertemu dengan ayah mertuanya. Ibu mertuanya katanya tak bisa datang karena kesehatan, dokter tak mengizinkan untuk naik pesawat atau bepergian lebih dari dua jam. Atau beliau akan drop kembali.
Dokter tidak main-main dengan ucapannya, mau tak mau mereka terpaksa menuruti apa kata dokter demi kesehatan. Mereka pun merencanakan juga pernikahan saat tiba di negara asal Arthur sekaligus berkenalan dengan seluruh keluarga besar Arthur termasuk ibu mertuanya. Ji An hanya berharap keluarga suaminya mau menerimanya.
"Nona muda, mereka sudah datang. Anda disuruh untuk turun!" ucap seorang pelayan di rumahnya.
Ya, kini keadaan rumah dan perusahaan ayahnya sudah kembali ke tangan sang ayah dan tentu saja hal itu juga campur tangan dari sang menantu Arthur. Tuan besar Kim sungguh merasa sungkan dan tak enak hati pada keluarga konglomerat yang bisnisnya sudah menguasai seluruh Asia itu.
Selain restu atas pernikahannya, Arthur tak minta hal lain lagi pada sang ayah mertuanya itu untuk balas budi atas kebaikan Arthur. Karena ayah mertuanya terus saja mendesaknya untuk mengembalikan segala kebaikan Arthur. Keinginan Arthur sukses membuat hati tuan besar Kim menghangat dan terharu.
Dimana lagi dia akan menemukan seorang menantu yang begitu mencintai putrinya dengan tulus seperti Arthur. Akhirnya tuan besar Kim merestui mereka tanpa syarat. Dan menyerahkan putri satu-satunya dengan senang hati.
"Apa kabar tuan Kim?" sapa Derian saat keluarga Arthur datang untuk melamar secara resmi pada keluarga Kim.
"Tuan Aftano... long time no see?" sapa Ji Sung sambil meraup Derian masuk ke dalam pelukan ala lelaki.
"I'm fine. Aku tak menyangka kita akan benar-benar menjadi besan." canda Derian membuat Ji Sung tertawa terbahak-bahak.
"Anda masih ingat saja saat kita berencana berbesan." jawab Ji Sung tertawa terbahak-bahak disahuti tawa Derian juga yang membahana di rumah besar nan mewah itu.
Arthur mendelik, memicingkan mata menatap kedua orang tua itu. Sesaat kemudian dia tersenyum, Kalau sudah jodoh memang gak kemana ya? batin Arthur tersenyum simpul.
Arthur menoleh menatap arah tangga, calon istrinya.. ralat ibu dari putranya yang sudah menjadi istri sirinya turun dengan dres merah maroon sebatas lutut dengan aksen burkat warna merah muda dengan pundak model sabrina menampakkan bahu putih mulusnya tanpa cela membuat Arthur terpesona untuk kesekian kalinya pada istrinya itu.
"Mam..." panggil Matty yang melihat Ji An turun dari arah tangga dengan cantik dan elegannya.
"Hei boy .." balas Ji An menyapa putranya, tak lupa dikecupnya kedua pipi sang putra yang tersenyum bahagia bisa bertemu sang mama.
Ya, Matty selama keluarga sang papa datang, dia selama seminggu tinggal dengan Arthur karena kedua kakaknya menahan Matty untuk pulang. Mereka mengagumi Matty yang sangat benar-benar mirip dengan adiknya itu. Mereka jadi teringat masa lalu saat mengasuh sang adik bungsu mereka.
__ADS_1
Hanya saja Matty anaknya banyak bicara dan selalu menjawab jika diejek atau digoda tante-tantenya. Kalau Arthur dulu sangat cengeng dan penakut, dia langsung menangis mengadu pada sang mama jika digoda atupun diejek dengan bercanda oleh sang kakak.
Bahkan kedua tantenya berdecak kagum saat ucapannya diargumen oleh Matty dengan teori-teori yang mampu men- skak mat, yang katanya didapat dari buku yang dia baca dan ponselnya.
Arthur langsung tersentak dari keterpesonaannya menatap sang istri. Langsung berdiri menyambut wanita yang dicintainya itu.
"Apa kabar sayang?" sapa Arthur sambil mengecup bibir istrinya sekilas.
Semua orang geleng-geleng kepala melihat kelakuan Arthur yang tidak tahu tempat itu. Namun Arthur tampak cuek. Seminggu tak bertemu kekasih hatinya itu membuatnya seperti tak bertemu berbulan-bulan saja. Meski dirinya berada di tengah-tengah keramaian keluarganya.
Mereka pun duduk setelah saling berkenalan dan bertegur sapa. Acara dimulai dengan makan malam bersama di rumah keluarga besar Kim. Setelah itu dilanjutkan ramah tamah tentang lamaran untuk pernikahan yang telah diputuskan oleh kedua belah pihak seminggu lagi. Itupun karena Arthur yang meminta untuk disegerakan. Katanya niat baik itu akan lebih baik disegerakan.
"Mama tak bisa datang." ucap Arthur dengan wajah sedih.
Ji An yang mengetahui begitu besar cintanya kekasihnya itu pada sang ibu mertua membuatnya sungguh terharu dan bangga.
"Bagaimana kalau kita video call?" hibur Ji An menatap Arthur lembut.
Kini mereka sudah duduk berdua di gazebo samping rumah keluarga Kim. Dengan kedua orang tua tetap berbincang di ruang tamu. Sedang kakak-kakak Arthur dan suami serta anak-anaknya berbincang mengikuti obrolan orang tua dan paman Sung Hun dan istrinya juga ada.
"Tentu."
Dalam percakapan video call :
Arthur menatap layar ponselnya yang sudah tersambung dengan saudari kembarnya itu.
Vio : "Ada apa Art?" tanya Vio masa bodoh, dia sedang mengurus putri kecilnya yang sedang makan.
"Hati-hati Feb, jangan lari-lari!" teriak Vio di seberang telpon saat hendak menyuapi putrinya malah berlari-lari.
Arthur di seberang telpon hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putri saudarinya itu yang memang sangat lincah. Apalagi sekarang saudarinya itu juga tengah hamil dua bulan, yang katanya rentan di usia kehamilannya. Tapi, yang dilihat Arthur, Vio tampak bersemangat.
__ADS_1
Saat ditanya soal tersebut oleh Arthur dia hanya menjawab, ini sudah yang keempat, aku percaya dia akan baik-baik saja. Sudah biasa. jawab Vio saat mereka bertemu. Arthur saat itu hanya memutar matanya malas. Bahkan semboyan wanita itu selalu benar, jangan pernah berdebat dengan yang namanya perempuan pasti akan otomatis mengalah meski mereka salah.
Dan Arthur telah membuktikannya pada ketiga saudarinya. Makanya jika dia diejek oleh kakak-kakaknya dia pasti akan menemui sang mama. Dan otomatis mereka akan kalah berdebat dengan sang mama. Itulah yang dilakukannya saat dulu masih kecil. Namun dia tak peduli jika dianggap sebagai pengadu.
Baginya karena itulah dia sangat mencintai sang mama. Beliau adalah cinta pertamanya setelah dia dilahirkan.
Arthur : "Apa mama sedang istirahat?" tanya Arthur setelah Vio terlihat duduk tenang dengan sang putri kecilnya yang juga duduk diam dengan tenang di sebelahnya.
Vio : "Dia baru saja minum obat, sekarang baru saja tidur." jawab Vio sambil menyuapi lagi putrinya sebelum berlari lagi.
Arthur : " Baiklah, biarkan beliau istirahat. Aku akan menghubunginya lagi nanti kalau sudah bangun."
Vio : "Tentu." Vio langsung menutup ponselnya karena putrinya akan segera berlari kalau dia tidak segera memegangnya.
Sedang Arthur di seberang berdecak kesal karena saudarinya itu benar-benar tak ada akhlak. Bahkan dia belum salam untuk menutup ponselnya, langsung dimatikan ponselnya.
"Bagaimana?" tanya Ji An yang dari tadi hanya menyimak percakapan Arthur.
"Mama baru minum obat dan sudah tidur. Nanti Vio akan menghubungiku jika mama sudah bangun." hibur Arthur meraih bahu istrinya, mendekatkan pada wajahnya dan mengecup singkat bibir istrinya.
"Tak apa, kita bisa menghubunginya lain kali." jawab Ji An menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Memejamkan matanya sejenak menghirup aroma maskulin tubuh suaminya yang sudah seminggu ini dirindukannya. Entah kenapa hatinya menghangat dan tenang.
"Kau lelah?" tanya Arthur melihat Ji An memejamkan mata.
"Aku merindukanmu." bisiknya masih dengan mata terpejam.
"Aku merindukan aroma tubuhmu." jawab Ji An masih tetap memejamkan matanya sambil mengendus-endus aroma tubuh di sekitar dada hingga naik ke ceruk leher suaminya.
"Jangan menggodaku sayang!" desis Arthur dengan nada serak sarat akan hasratnya yang mulai bangun.
__ADS_1
Ji An langsung menarik kepalanya namun ditahan oleh Arthur. Hingga keduanya kini saling mencium, melu*mat, menghisap dan lidah keduanya bergelut di dalam mulut.
TBC