Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 30


__ADS_3

"Akhirnya kau datang." sapa Hyung Jae saat tiba di ruang tamu villa itu.


Ya, Hyung Jae membawa Matty ke villa pribadinya yang ada di Busan. Ji An menatap tajam Hyung Jae yang malah tersenyum miring.


"Dimana putraku?" seru Ji An tanpa basa-basi dengan tatapan mata dingin dan tajam.


"Duduklah dulu! Sepertinya kita butuh berbincang!" ucap Hyung Jae sambil duduk di sofa ruang tamu itu tepat di depan Ji An berdiri.


"Katakan dimana putraku?" seru Ji An lagi semakin emosi. Dirinya sungguh tak mau terjadi sesuatu pada putranya.


"Kau sungguh wanita yang tak sabaran dan selalu memancing emosiku, tapi... aku suka." ucap Hyung Jae tersenyum menggoda.


"Tunjukkan padanya, setelah itu bawa kemari lagi!" titah Hyung Jae memberi kode pada asistennya yang sejak tadi mengikuti di belakangnya.


"Baik tuan." ucap pria itu sambil menundukkan kepalanya dan berlalu masuk ke dalam kamar tempat Matty berada.


Sedang kedua penjaga yang mengantarkan Ji An ke dalam tadi memegang kedua lengan Ji An kasar.


"Jangan sentuh aku, lepas!" bentaknya, langsung dilepaskan setelah mendapat kode dari Hyung Jae.


"Matt..." seru Ji An berlari mendekati Matty yang berbaring di ranjang tertidur pulas tidak... dia tidak tidur, dia dibius.


Brengsek kau Hyung Jae, kau bius bocah sekecil ini, batin Ji An emosi. Dia tampak mengepalkan jemari tangannya kuat.

__ADS_1


"Matt, Matty, wake up honey..." ucap Ji An lembut sambil menepuk-nepuk pipi Matty lembut namun tak ada sahutan dari pria kecilnya karena reaksi obat tidur yang diberikan Hyung Jae.


"Dia baru tertidur. Biarkan dia istirahat!" sahut Hyung Jae yang ikut masuk ke dalam kamar itu.


"Brengsek, kau apakan dia? Tak mungkin dia hanya tidur." bentak Ji An dengan penuh emosi.


"Ah, kau memang pintar. Tak salah aku menginginkanmu." Hyung Jae tersenyum seringai menatapnya Ji An penuh hasrat.


"Brengsek, dia masih kecil, tak seharusnya kau menggunakan obat tidur ataupun bius padanya." seru Ji An lagi.


Hyung Jae mendekati Ji An perlahan menarik dagunya dan dicengkeramnya meski masih lembut yang langsung ditepis kasar oleh Ji An. Hingga membuat Hyung Jae emosi kembali mencengkeram dagu itu kuat.


"Akan kubuat kau menjadi milikku, hingga dia pun merasa jijik untuk kembali padamu. Karena aku sudah menginginkanmu sejak lama begitu juga harta ayahmu. Hmm... Huahahahaha...." tawa Hyung Jae memenuhi kamar itu hingga para penjaga yang ada di situ merinding ngeri mendengar tawa itu hingga Hyung Jae menyentak dagu Ji An kasar.


"Ah, aku masih punya putramu agar kau menuruti apa keinginanku. Hahahaha..." tawa Hyung Jae kembali menggelegar di kamar itu sambil keluar dari kamar itu.


"Kunci pintunya, jangan biarkan mereka kabur!" titah Hyung Jae kembali ke kamarnya.


Ji An hanya terduduk lemas di lantai menutup mulutnya, mencegah agar tangisannya tidak lolos dari mulutnya.


"Maafkan aku Art, maaf..." lirihnya sambil menatap Matty yang tertidur pulas seolah tak terjadi apapun.


**

__ADS_1


"Bagaimana situasinya?" tanya Arthur pada Zein yang masih sibuk mengutak-atik laptopnya entah apa yang dilakukannya.


Dia melarang Arthur untuk bertindak gegabah. Dia menyuruh tuannya itu menunggu sebentar, apakah nyonya mereka akan segera kembali keluar dari rumah itu atau tidak. Namun sudah ditunggu hingga tiga jam tak ada tanda-tanda pergerakan dari villa milik Hyung Jae bahkan terlihat adem-adem saja.


"Sepertinya Tuan muda Jung...."


"Jangan sebut brengsek itu seperti itu!" umpat Arthur.


"Maaf tuan, Jung sepertinya menyekap nyonya bersama tuan muda kecil." jelas Zein.


"Brengsek." umpat Arthur mengepalkan tangannya semakin erat meninju udara.


"Ayo bergerak sekarang!" titah Arthur tak sabaran mulai mengkode anak buahnya sesuai rencana.


Arthur ikut masuk menyusup villa itu, sedang Zein mengawasi cctv tak lupa earphone terpasang di telinganya, juga telinga tuannya dan beserta anak buahnya.


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2