Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 36


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Zein melaju dengan kecepatan sedang. Setelah dokter menyatakan putranya sehat dan diizinkan pulang. Arthur mengajak keluarga kecilnya untuk kembali ke Seoul untuk menemui ayah mertuanya. Senyum terus terpatri di bibir Ji An. Membayangkan dirinya akan bertemu dengan sang ayah yang sudah lebih dari lima tahun tak ditemuinya.


Meski dia sering melihat ayahnya muncul di surat kabar dan televisi. Pasalnya ayahnya bisa dikatakan seorang pebisnis sukses di negaranya, bahkan kini sudah merambah ke Asia. Baru hari ini dia akan bisa bertemu langsung dengan ayahnya. Dia tak menampik jika dia juga sangat merindukan sang ayah.


Perasaan gugup dan tegang juga sedang dialaminya, namun tautan jemari tangan suaminya membuatnya sedikit tenang. Senyuman suaminya dan perilaku manisnya benar-benar membuatnya merasa dicintai begitu besar. Bodoh sekali dirinya dulu dengan tega meninggalkannya begitu saja tanpa pamit.


"Kau gugup?" tanya Arthur merasakan dingin pada jemari tangan istrinya.


Ji An langsung menoleh menatap Arthur yang tersenyum menatapnya. Bibir Ji An langsung tersenyum senang melihat sebegitu perhatiannya suaminya ini padanya.


"Bohong jika aku mengatakan tidak. Ini pertemuan pertama kami setelah Matty lahir." jawab Ji An menatap Arthur lekat.


Cup


"Ada aku yang selalu bersamamu." ucap Arthur beralih mengecup punggung jemari tangan istrinya setelah mengecup bibirnya sekilas.


Wajah Ji An merona merah atas ciuman spontan Arthur, apalagi ada Zein sang asisten suaminya yang mungkin juga melihat dan mendengar interaksi mereka membuatnya malu. Untung saja putranya sudah tertidur pulas sejak naik ke mobil, mungkin efek obat yang diminum pagi tadi sebelum pergi dari rumah sakit.


Ji An menyerukkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya. Ingin menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Arthur mendekap erat tubuh istrinya, dia sangat suka melihat wajah memerah istrinya itu, terlihat imut dan menggemaskan dan tentu saja ada yang langsung tegak meski bukan keadilan.


"Jangan lakukan di sembarang tempat, aku malu." bisik Ji An di dalam pelukan itu. Arthur hanya tersenyum.


"Aku ingin menunjukkan pada semua orang bahwa kau hanya milikku." jawab Arthur membuat Ji An semakin memerah tanpa mampu menatap wajah suaminya.


Zein hanya tersenyum simpul, dia tak sengaja melihat tuannya mencium bibir istrinya tadi. Jiwa jomlonya meronta melihat kemesraan majikannya. Tak dipungkiri, dia pun menginginkan hal itu juga.

__ADS_1


'Kapan aku bisa menemukan pujaan hatiku. batin Zein tertawa getir meski tak mengeluarkan suara.


***


Zein memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Arthur sambil menggendong putranya dan Ji An keluar dari mobil masuk ke dalam rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Zein langsung melajukan mobilnya mencari tempat parkir yang nyaman untuk mobil itu dan dirinya.


"Ayah..." lirih Ji An saat sudah muncul di ruang perawatan ayahnya.


Ji Sung menoleh ke arah pintu terbuka menampilkan sosok putrinya yang sudah lima tahun ini hanya bisa ditatap dari jauh dan lewat foto saja. Mata keduanya tampak berbinar penuh sorot kerinduan dan rasa kasih sayang serta rasa bersalah.


"Nona muda, tuan muda dan tuan muda kecil..." sapa Sung Hun membungkukkan badannya memberi salam. Mundur beberapa langkah memberi ruang pada keluarga itu.


Arthur mendorong tubuh Ji An untuk mendekati ranjang. Mata Ji An tampak berkaca-kaca.


"Putriku..." bisik Ji Sung lirih, tanpa sadar kedua tangannya direntangkan siap menerima pelukan dari putrinya.


Ji Sung menggeleng, melepas pelukannya, menatap putrinya yang dirindukannya selama ini.


"Ayah yang bersalah, ayahlah yang seharusnya minta maaf. Maafkan ayah telah menelantarkan kalian. Maafkan ayah yang tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu. Maafkan ayah yang tak bisa melindungi kalian. Maaf..." ucap Ji Sung yang membuat air matanya ikut menetes. Ji An menggeleng.


Sung Hun tampak ikut terharu menyaksikan interaksi ayah dan putrinya yang hidup terpisah selama lima tahun ini tanpa saling tegur sapa.


"Tidak ayah... Aku yang salah, tak bisa menjadi anak yang baik untuk ayah... " ucap Ji An sesenggukan meski air matanya terus mengalir, diusapnya air mata ayahnya yang juga menetes.


Begitu juga Ji Sung mengusap air mata putri satu-satunya itu. Putrinya dengan istri yang dicintainya.

__ADS_1


"Mama menangis?" suara spontan Matty yang tiba-tiba membuat semua orang yang ada disitu refleks menatap pria kecil yang ternyata terbangun mendengar suara tangisan mamanya dan opanya. Semuanya pun tertawa bersama tanpa ada yang menjawab pertanyaan Matty.


"Cucuku?" tanya Ji Sung menatap Ji An dan Matty bergantian.


Ji An yang suaranya masih serak karena menangis tadi hanya mengangguk mengiyakan ayahnya. Matty menatap sang papa yang masih menggendongnya seolah meminta izin untuk meminta pendapat. Arthur hanya mengangguk.


Dan spontan Matty meloncat turun dari gendongan sang ayah menghampiri sang opa yang masih terduduk di ranjang karena kakinya masih memerlukan sedikit terapi agar bisa berjalan seperti sedia kala.


"Opa." ucap Matty memeluk Ji Sung, yang dibalas juga pelukan erat yang membuat semua orang disitu sekali lagi terharu terhadap interaksi keduanya.


"Cucuku, kau sangat tampan." ucap Ji Sung setelah melepaskan pelukannya.


"Tentu saja, papaku juga tampan." semua orang tertawa mendengar jawaban narsis pria kecil itu. Kini tatapan Ji Sung beralih menatap Arthur yang sejak tadi hanya diam menyaksikan interaksi reuni keluarga itu.


"Tuan muda Aftano...?" ucap Ji Sung begitu melihat Arthur ternyata orang yang dikenalnya selama ini.


"Maaf ayah mertua, saya baru bisa menyapa sekarang. Kalau aku tahu putri yang sering anda curhati itu adalah ibu dari anakku, aku pasti akan menerima perjodohan yang pernah anda tawarkan padaku saat itu." ucap Arthur sambil membungkukkan badan memberi hormat. Semua yang ada disitu tercengang bahkan Ji An ikut terkejut.


"Apa maksudnya ayah?" Ji Sung hanya tertawa mendengar ucapan Arthur.


"Ternyata kau masih ingat ya, padahal saat itu aku serius. Aku berharap kau menerimanya saat itu. Namun kau bilang sudah ada orang lain yang ada di hatimu dan akupun tak bisa memaksakannya. Kalau aku tahu bahwa kaulah yang berani menghamili putriku. Aku pasti akan mengejarmu bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun. Hahaha...." ucap Ji Sung sambil tertawa terbahak-bahak dan malah terbatuk sambil memegangi dadanya.


"Tuan..." Sung Hun mendekat yang ditahan Ji Sung.


"Tak apa, aku bahagia. Karena impianku tercapai." ucap Ji Sung lagi.

__ADS_1


Ji An tampak tak puas melihat ayahnya tak mau menceritakan yang sesungguhnya. Ji An berganti menatap Arthur yang hanya dijawab dengan kedikan kedua bahunya.


TBC


__ADS_2