
Arthur masih setia berada di sisi Karina dengan menggenggam erat jemari tangannya. Entah sudah berapa jam lamanya jemari tangan itu digenggam. Bahkan usiran sang papa tak dihiraukannya. Kini dirinya masih tetap duduk di lantai tepi ranjang sang mama yang masih setia menutup matanya. Seolah enggan untuk membuka kembali matanya.
"Art, istirahatlah! Papa akan menjaga mamamu?" pinta Derian yang tak didengarkan Arthur.
Dia masih terdiam di lantai kamar menatap Karina sendu. Jangan, Jangan! Jangan tinggalkan Arthur ma, Arthur masih ingin bersama mama, Arthur masih belum bisa membahagiakan mama. Kita janji untuk jalan-jalan berdua ma. Kumohon buka matamu ma. batin Arthur, masih saja air matanya mengalir dalam diamnya.
Tawaran sang papa untuk kesekian kalinya tak dihiraukannya. Dia hanya melamun berkubang dalam pikirannya. Ketakutan dan kecemasan melintas dalam benaknya jika suatu saat sang mama benar-benar pergi.
Dalam mimpi.
Karina menatap sekeliling ruangan berwarna putih tak ada siapapun disana. Bahkan dirinya kini sendiri. Tubuhnya terasa sehat dan segar kembali. Tak merasakan sakit seperti sebelumnya. Karina mencoba berkeliling dalam ruangan yang serba putih itu.
Memanggil suaminya yang paling cemas dengan keadaannya. Namun tak ada jawaban. Karina mencoba kembali ke ruangan lain tetap saja tak ada sahutan. Dia mulai memanggil satu persatu nama anak-anaknya, tapi tak ada jawaban lagi. Karina sempat frustasi.
Apa aku sudah meninggal? Apa aku benar-benar telah meninggalkan keluargaku. Karina terduduk menangis di lantai ruangan itu, merasa belum berpamitan dengan suaminya dan anak-anaknya, apalagi dengan sang putra bungsunya. Dia belum melihat putranya satu-satunya itu menikah dan melihat cucu dari putranya itu.
"Kenapa Oma menangis?" tanya seorang anak kecil laki-laki sekitar umur lima tahunan.
Wajahnya mirip sekali dengan putranya Arthur. Karina langsung mendongak menatap ke arah suara pria kecil yang memanggilnya Oma itu. Setahunya cucunya laki-laki hanya Rey dan ini siapa? Begitulah batin Karina bertanya-tanya tentang balita dihadapannya kini. Pria kecil itu tampak mengelus punggung Karina seolah ingin menghibur Karina yang sedang menangis.
"Kau siapa nak?" tanya Karina menatap pria kecil itu.
"Aku cucumu Oma." jawab pria kecil itu sambil tersenyum manis.
"Cucuku? Si... siapa nama papamu?" tanya Karina lagi.
"Papa Arthur." jawab pria kecil itu lagi.
"Arthur? Kau putra Arthur. Papamu bernama Arthur? Tapi..." ucap Karina masih kebingungan.
"Davin..." panggil seorang wanita dari belakang pria kecil itu yang ternyata bernama Davin.
"Iya ma." jawab Davin menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
Wanita itu mendekat ke arah putranya yang dipanggil Davin. Tersenyum juga menatap Karina yang dikenali sebagai ibu mertuanya.
"Mama." sapa wanita itu menundukkan wajahnya memberi hormat pada Karina.
"Kau cantik sekali nak." ucap Karina menyentuh dagu wanita itu lembut.
Wanita itu tampak malu-malu mendengar pujian itu. Wajahnya memerah, dia menundukkan wajahnya tersipu malu.
"Terima kasih ma." jawab wanita itu malu-malu.
"Siapa kamu nak?" tanya Karina yang sejak tadi penasaran dengan dua orang ini.
"Mama lupa ya? Aku menantu mama, istrinya Arthur ma." jawab wanita itu memperkenalkan diri.
"Istri putraku Arthur?" tanya Karina tak percaya. Wanita itu hanya mengangguk, sambil menunduk malu-malu.
Wajah cantik, polos dan tangguh. Itulah yang dilihat Karina pada wanita itu. Dan wanita itu sangat sopan dan santun, begitu baik berprilaku terhadap orang tua. Karina seketika tersenyum senang. Mengusap pipi wanita itu lembut bergantian dengan pipi pria kecil yang mengaku cucunya itu.
"Kami akan mengunjungi mama nanti, sekarang kami harus pergi dulu." pamit wanita itu menggandeng pria kecil itu.
Dan tanpa sadar Arthur merasakan pergerakan jemari tangan Karina dan langsung Arthur berseru.
"Ma... mama... kau sadar... ma..." seru Arthur melihat mata Karina terbuka perlahan. Derian, Dion dan Putri yang ikut berjaga yang duduk di sofa tak jauh dari ranjang Karina berbaring sontak ikut mendekati suara Arthur.
"Sayang .." seru Derian yang sudah mendekati Karina dengan menggenggam jemari tangannya.
Karina menatap wajah lelah dan sendu suaminya. Hatinya pun mencelos merasa bersalah pada suaminya itu yang terlihat mengkhawatirkannya. Karina beralih menatap putra-putrinya yang berdiri berjajar di sisi ranjang. Dion, Putri dan yang terakhir adalah Arthur. Wajah lelah putranya itu sungguh membuat hati Karina trenyuh dan terharu.
Pasti dia yang terus menggenggam erat jemari tangannya. Itulah yang dirasakan Karina saat terbangun. Tangan lebar dan besar mirip milik suaminya namun masih belum berkeriput. Angel, Vio dan Aksa bersama anak-anaknya yang tadi bergantian menjaga sang mama ikut masuk ke kamar mamanya yang katanya sudah sadar dari tidur panjangnya.
Karina masih diam menatap putra-putrinya dan cucu-cucunya yang baru datang terlihat raut wajah cemas dan sendu juga. Ah, ternyata semua anak-anaknya benar-benar menyayanginya tulus. batin Karina.
Karina mencoba bangun, dibantu Derian yang dengan setia menggenggam erat jemari tangannya. Karina tersenyum menatap suaminya lembut. Tapi Derian hanya menunjukkan wajah datarnya.
__ADS_1
"Bisa tinggalkan kami berdua?" pinta Karina dengan nada suara lemahnya namun tetap berusaha tersenyum lembut dengan wajah pucatnya. Seketika semua wajah anak-anaknya berkerut tak terima.
"Setelah ini, mama akan bicara pada kalian. Please." pinta Karina memohon.
Membuat anak-anaknya tak berani membantah lagi. Dengan teratur semua anak-anaknya dan cucu-cucunya meninggalkan kamar itu, Arthur yang masih tak bergeming menatap Karina lekat. Karina balas menatap putra bungsunya itu lembut tak lupa senyuman manis masih tercetak di bibirnya.
Putri menepuk pundak Arthur, membujuknya untuk segera meninggalkan kamar mamanya. Dengan berat hati Arthur pergi, dia masih berdiri di pintu menatap wajah Karina yang juga masih menatapnya. Pintu kamar pun tertutup. Karina ganti menatap wajah suaminya yang sudah sejak tadi tak berpaling sama sekali dari wajahnya.
Menuntut penjelasan tentang keadaan istrinya yang terlihat segar bugar sebelum dia pingsan. Karina ganti menatap jemari tangannya yang digenggam suaminya. Ganti dia balas menggenggamnya erat.
Mereka saling menatap kembali, tanpa sadar air mata Derian luruh dengan derasnya. Karina ikut menangis dan memeluk tubuh suaminya yang saat ini lemah itu.
"Maaf... Maaf membuatmu cemas." bisik Karina lirih, Derian hanya menggeleng masih dalam pelukan istrinya malah dia semakin mempererat pelukannya.
"Terima kasih sudah kembali. Terima kasih sudah bertahan hidup." bisik Derian lirih, air matanya semakin deras saja mengalir.
Sedangkan di bawah, di ruang keluarga. Arthur bergerak gelisah mondar-mandir kesana-kemari. Masih menunggu orang tuanya untuk turun. Saat sadar sesudah tertidur selama seminggu ini, membuat Arthur cemas dengan keadaan Karina.
"Bisakah kau duduk Art?" ucap Angel yang pusing melihat Arthur tak tenang.
Namun hal itu tak dihiraukan Arthur, malah Arthur seolah masa bodoh dengan permintaan kakaknya itu.
"Terserahlah!" ucap Angel lagi.
TBC
.
.
.
Maafkan typo
__ADS_1
Beri dukungannya
Beri like, rate dan vote nya