
Davin membuka matanya perlahan, hampir menjelang pagi dia menyelesaikan menggauli istrinya. Davin tersenyum saat mengingat percintaan panas mereka semalam membuatnya candu ingin lagi dan lagi. Entah sudah pelepasan ke berapa kalinya semalam. Dia baru melepaskan istrinya saat istrinya pingsan karena melayani nafsunya yang besar.
Davin menarik pinggang istrinya semakin mengeratkan dekapannya. Dia enggan untuk bangun karena masih ingin menikmati kebersamaannya dengan istrinya.
"Terima kasih sayang." Bisiknya sambil menyerukkan wajahnya ke leher istrinya manja.
"Ehm..." Davi hanya bergumam tidak jelas dalam tidurnya saat istrinya merasa terusik dengan pergerakannya.
"Ah, kau membangunkannya lagi sayang, kau harus bertanggung jawab." Bisik Davin mes*m sambil mulai menghentakkan tubuh bawahnya yang tak sempat dilepaskannya semalaman.
"Ah, kau nikmat sayang." Bisik Davin terus menghentak dari bawah membuat Davi langsung terjaga dengan desa*an yang spontan keluar dari bibirnya.
"Ini... aku...ah...ah..." Desa* Davi tanpa mampu menolak hentakan di bawah tubuhnya membuatnya meringis menahan sakit dan nikmat dalam waktu bersamaan.
"Kau nikmat sekali sayang, aku mencintaimu..." Bisik Davin disela-sela hentakan yang semakin bernafsu mendengar desa*an istrinya pertanda pelepasan pertamanya di pagi hari.
***
"Tidurlah sayang!" Davin mengecup kening istrinya penuh kasih setelah beberapa kali dia menyerangnya lagi. Davi kini terlelap karena kelelahan akibat gempuran suaminya yang tiada habisnya dan tiada puasnya.
Davin masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan pergi ke meja makan untuk sarapan pagi yang tertunda sampai siang menjelang hingga pukul sebelas siang.
"Siapkan makan siang, aku akan membawanya ke kamar!" Titah Davin tegas dengan wajah datar dan dingin yang ditunjukkan di depan para pelayan.
"Baik tuan muda." Jawab kepala pelayan menuju dapur.
Sementara menunggu makan siang istrinya siap, Davin menyelesaikan makannya sebelum membawa makanan ke kamar untuk istrinya.
Tap
Tap
Tap
__ADS_1
Suara langkah kaki terburu-buru menuju meja makan membuat Davin mengernyit heran menatap Fero.
"Ada apa?" Tanya Davin menatap Fero tajam.
"Maaf tuan muda, ini darurat." Lapor Fero.
"Apa?" Tanya Davin tidak sabaran. Fero tidak langsung menjawab, dia menatap sekeliling ada beberapa pelayan. Davin yang tahu langsung peka, memberikan kode lambaian tangan pada mereka untuk meninggalkan meja makan.
Fero pun langsung mendekati Davin dan membisikkan sesuatu di telinga tuannya.
"Lalu?" Tanya Davin mengernyit. Fero kembali membisikkan lagi.
"Awasi terus, jangan sampai pria itu berhubungan dengan mertuaku!" Titah Davin mengepalkan tangannya erat menahan amarahnya.
"Beri dia pelajaran kalau itu perlu!" Titah Davin lagi.
"Baik tuan." Fero pun meninggalkan tuannya setelah menyampaikan apa yang perlu disampaikan.
***
Davin duduk di sisi ranjang menatap istrinya yang terlelap. Dia pun tersenyum penuh arti.
"Aku mencintaimu sayang, sekarang kau sudah menjadi milikku seutuhnya. Apalagi jika seorang anak hadir lagi di rahimmu." Bisik Davin sambil mengelus pipi serta rambut istrinya penuh cinta. Tak lupa dia mendaratkan kecupan-kecupan di rambut itu.
"**** .. Jangan bilang kalau aku bernafsu lagi padamu sayang!" Umpat Davin tersenyum seringai melihat istrinya menggeliat karena kecupan-kecupannya yang kini merambat di pipi serta leher istrinya.
Davin menghentikan gerakannya saat melihat istrinya mengerjap mata menunjukkan bahwa dirinya sudah tersadar.
Davi menatap wajah tak asing lagi di hadapannya. Seketika wajahnya memerah mengingat kejadian pagi tadi dan semalam. Davin menyerangnya dengan begitu lembut hingga dirinya lupa bahwa dia tahanan yang diculik suaminya dan dipaksa dijadikan istri.
Davi merasa terbuai dan menikmati setiap sentuhan-sentuhan intens suaminya hingga dia merasa terbang ke awang-awang membuatnya terlena. Entah sejak kapan, desa**n kembali keluar dari bibir seksinya saat suaminya kembali menjalankan aksinya untuk menyerangnya kembali membabi buta.
Kruk...kruk...
__ADS_1
Suara perutnya membuat Davi semakin memerah, dia memang merasa sangat lapar setelah digempur suaminya berkali-kali. Davin sendiri sontak mengehentikan gerakannya merasa tak tega untuk kembali melanjutkan kegiatan menyenangkannya itu. Istrinya butuh tenaga, istrinya butuh asupan makanan untuk melayani nafsunya yang sangat besar.
"Makanlah!" Davin menyodorkan piring yang sudah berisi makanan yang dibawanya tadi.
"A...aku .. ingin ke kamar mandi." Cicit Davi ragu menatap suaminya penuh harap.
"Baiklah!" Davin langsung membopong tubuh istrinya setelah membuang selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya yang tanpa sehelai benangpun.
"Kyaa ..." Jerit Davi terkejut melihat kelakuan Davin yang terang-terangan melihat tubuh polosnya. Davi pun menyerukkan wajahnya ke leher suaminya untuk menyembunyikan wajah malunya yang sudah sangat memerah.
Davin sendiri tertawa terbahak melihat kelakuan malu-malu istrinya.
***
Davin meletakkan istrinya di atas closet duduk di dalam kamar mandi.
"Aku akan menunggumu." Davi terbengong mendengar ucapan suaminya.
"A...aku bisa sendiri. A... aku akan kembali sendiri..." Jawab Davi gugup.
"Kau bisa berjalan?" Tanya Davin menatap Davi tak percaya bahwa istrinya masih mampu berjalan sendiri setelah dia menggempurnya semalam penuh dan berlanjut pagi tadi.
"Setelah berendam sebentar, mungkin bisa?" Jawab Davi ragu dengan ucapannya sendiri.
Pasalnya terasa sakit dan lecet pada inti tubuhnya. Dia juga tidak yakin tidak akan kesakitan saat berjalan sendiri nanti. Davi masih dengan posisi mendekap lututnya dengan kedua tangannya untuk menutupi tubuh polosnya agar tidak terlihat langsung oleh suaminya meski mereka sudah sering melihat satu sama lain.
"Baiklah. Jangan terlalu lama! Kau harus makan!" Titah Davin menyalakan air kran yang hangat pada bathtub kamar mandi. Setelah dirasa cukup hangat dan separuhnya. Davin membopong kembali tubuh Davi tiba-tiba membuat Davi lagi-lagi sontak berteriak terkejut.
"Terima kasih..." Cicit Davi menundukkan kepalanya malu.
.
.
__ADS_1
TBC