Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 24


__ADS_3

"Saya tidak mengira ayah tuan muda kecil adalah tuan muda Aftano." ucap Sung Hun yang kini duduk di cafe depan rumah sakit.


"Aku juga tak mengira kalau pamanlah orang kepercayaan tuan besar Kim." jawab Arthur menyeruput kopinya duduk di depan Sung Hun terhalang meja cafe.


"Bagaimana kabar nyonya besar?" tanya Sung Hun penasaran menatap Arthur lekat, dan tak mengira pertemuannya sesudah dua puluh tahun yang lalu membuat tuan muda Aftano ini sekarang menjadi pria gagah yang sangat menawan dan mempesona.


"Mama, sakit... beberapa waktu lalu sempat drop... tapi dia berjanji akan bertahan sampai pernikahanku? Entahlah, aku merasa bersalah." ucap Arthur dengan wajah sendu.


Wajah Sung Hun tampak cemas, adik sepupunya itu sungguh keras kepala dalam melakukan segala hal.


"Dia... wanita yang kuat, kurasa dia akan menepati janjinya." jawab Sung Hun yakin.


"Untungnya ada papa yang sangat mencintainya, jadi aku sangat bersyukur." ujar Arthur menerawang jauh mengingat wajah sang mama yang begitu dicintainya terlihat lemah tak berdaya membuatnya miris.


"Papamu memang sangat memujanya." ucap Sung Hun yang sama-sama menerawang jauh ke masa lalu mengingat dramatisasi saat menemukan adik sepupunya, satu-satunya putri pamannya yang telah lama hilang.


"Lalu, bagaimana paman bisa ada di sini?" tanya Arthur yang sejak tadi penasaran ingin bertanya.

__ADS_1


"Panjang ceritanya, setelah lulus kuliah aku mengabdi pada sahabatku itu sejak nona muda masih kecil, saat keluarga paman di tanah air memberi kabar tentang mamamu, paman memutuskan kembali ke negara asal dan mengundurkan diri menjadi asisten pribadi tuan besar Kim, sampai saya mendengar kabar nyonya besar yaitu ibu nona muda, tuan besar Kim memohon pada paman untuk kembali di sisinya sebagai tangan kanannya, paman tak bisa menolak karena dia merasa jatuh sejatuh-jatuhnya setelah ditinggalkan nyonya besar. Untuk itulah paman berjanji untuk setia selalu di sisinya." kenang Sung Hun yang tanpa sadar air matanya mengalir, Sung Hun segera menghapusnya, tersenyum mengenang nostalgia masa lalu.


"Terima kasih paman sudah menjaga ayah mertua dengan baik dan juga calon istri serta putraku." ucap Arthur tulus tersenyum menatap sang paman.


"Awalnya aku mengira salah lihat tentang tuan muda kecil, ternyata dia benar-benar putra anda." jawab Sung Hun.


"Jangan terlalu formal denganku paman, kau adalah satu-satunya keluarga mamaku saat ini." ucap Arthur merendah. Sung Hun tersenyum.


"Kau sudah dewasa ternyata. Aku bangga bisa menjadi gurumu dulu saat kecil meski hanya sebentar. Dan kau masih mengingatku, padahal saat itu pertemuan terakhir kita." ujar Sung Hun bernostalgia.


"Kaulah satu-satunya panutanku yang sangat kuhormati paman, kau yang mengajarkanku banyak hal." ucap Arthur tersenyum bangga.


"Putra dan putriku sudah menikah, mereka tinggal bersama keluarganya masing-masing. Sekarang aku hanya berdua dengan istriku." jawab Sung Hun.


"Benarkah?"


"Cucuku kadang mengunjungi kami di hari libur." Sung Hun bercerita dengan antusias.

__ADS_1


Arthur tersenyum lembut menanggapi pamannya yang sangat antusias dan bahagia saat bercerita tentang keluarganya. Terlihat bersinar bahagia di raut wajah tuanya.


"Tuan..." Zein menyela perbincangan dua orang ini. Arthur menolak menatap Zein yang terlihat tegang.


"Tuan muda Jung mengamuk di rumah sakit." ucap Zein membuat Arthur dan Sung Hun yang mendengarnya juga ikut tersentak.


"Apa?" teriak Arthur langsung beranjak berdiri dari duduknya diikuti Sung Hun yang mengikuti langkah Arthur.


TBC


.


.


.


Maafkan typo

__ADS_1


Beri dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


__ADS_2