Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 42


__ADS_3

Seminggu setelah hari pernikahan, keluarga Arthur sudah kembali ke tanah air dua hari lalu. Sang papa tak bisa lama-lama meninggalkan istrinya yang sedang kurang sehat. Rencananya jika tak ada kendala Arthur dan keluarga kecilnya akan berkunjung ke tanah air seminggu kemudian.


Dan seminggu berikutnya akan diadakan resepsi pernikahan kembali di hotel keluarga Aftano di tanah air. Derian menginginkan pesta mewah untuk merayakannya itupun juga permintaan sang istri. Karena Arthur adalah satu-satunya putra tunggal keluarga besar mereka.


Dan Karina tak mau membedakan mereka diantara anak-anaknya yang lain. Derian sebenarnya mencegah untuk resepsi itu karena keadaan kesehatan istrinya yang kurang sehat. Namun karena istrinya pula Derian terpaksa menurutinya.


Seminggu kemudian Arthur dan keluarga kecilnya bertolak ke tanah air untuk menemui sang mama sekaligus mengenalkan anak dan istrinya.


"Apa mama akan menyukaiku?" tanya Ji An gugup sambil menggenggam erat jemari tangan Arthur.


"Hei, kita sudah pernah melakukan video call dengan mama. Dan mama sangat menyukaimu." hibur Arthur sambil mengecup punggung jemari tangan istrinya lembut.


Jemari tangan Ji An semakin dingin dan berkeringat, sudah lama dirinya tak mengenal sosok seorang ibu. Dia hanya berharap semoga mama mertuanya menyukai dirinya.


"Tetap saja aku gugup. Apalagi aku pernah hamil di luar nikah. Aku..."


"Ya, mamaku bukan orang tua sekolot itu. Dia pasti malah akan menyalahkanku karena tak bisa menemukanmu saat kau sedang hamil. Seharusnya aku lebih berusaha untuk mencarimu. Aku terlalu takut untuk kau tolak." ucap Arthur membuat Ji An terharu, menatap Arthur dengan raut wajah kasihan.


"Jangan mengasihaniku seperti itu. Aku tak sesedih itu. Sekarang aku bersyukur telah menemukan kalian. Terima kasih." ucap Arthur mengecup punggung jemari tangan istrinya.


"Untuk?"


"Sudah mempertahankan anak kita. Pasti sangat sulit hidup di luar rumah dalam kondisimu seperti itu. Aku mencintaimu." ucap Arthur. Ji An mengecup bibir Arthur sekilas.


"Aku juga mencintaimu." keduanya pun saling mencium.


"Ehm... Kita sudah sampai tuan." Zein berdehem setelah mematikan mesin mobil.


Sejak tadi dirinya ingin berteriak pada kedua pengantin baru ini. Bisakah bermesraannya di tempat yang hanya ada mereka berdua. batin Zein meronta-ronta namun hanya bisa ditelan dalam hati saja.


"Huf ..." Ji An tampak menghela nafas panjang.


"Papa, ini rumah siapa?" tanya Matty yang sejak tadi tidur di dalam mobil, sudah berdiri bersisian dengan menggandeng kedua tangan orang tuanya.


"Ini rumah nenek, mamanya papa." jelas Arthur.


"Nenek Matty?"

__ADS_1


"Hmmm."


Mereka pun masuk dengan kegugupan terlihat jelas pada Ji An, bagaimana pun juga ini pertemuan pertamanya dengan sang mama mertua. Meski Arthur bilang tak apa, dan pasti mama mertuanya menyukainya tetap saja kegugupan melandanya.


"Mama kedinginan?" tanya Matty merasakan jemari tangan Ji An dingin dan berkeringat.


Arthur juga menoleh menatap Ji An yang memucat. Dia pun menghentikan langkahnya.


"Kau ingin menunda untuk bertemu mama?" tanya Arthur melihat Ji An tampak pucat.


"Tidak. Aku ingin menemuinya sekarang." jawab Ji An tegas.


"Kau yakin?"


"Tentu."


"Tapi wajahmu pucat?"


"Tak apa, aku hanya sedikit gugup."jelas Ji An yakin.


"Kemarilah!" ucap Arthur melambai pada istrinya. Ji An mendekat, tiba-tiba Arthur mendekapnya erat.


"Terima kasih."


"Everything for you, baby." Mereka pun tersenyum.


**


"Tuan..." Zein baru bisa mendekat setelah keduanya tampak melepaskan pelukannya. Arthur menoleh menatap Zein.


"Ya?"


"Tuan Sung Hun menghubungi ponsel anda." jelas Zein.


"Paman?" Ji An menyela.


"Aku akan menerima panggilannya sebentar, kau masuklah dulu!" Ji An mengangguk dan menggandeng putranya masuk ke dalam rumah besar nan mewah itu.

__ADS_1


"Permisi...." ucap Ji An.


"Ah nona muda. Silahkan masuk! Pasti anda istri tuan muda?" tanya seorang pelayan yang melintas di depan pintu masuk ramah dan sopan.


"Ah, right." jawab Ji An ramah.


"Mari, nyonya sudah menunggu anda. Beliau ada di kamarnya." Ji An yang belum begitu mengerti dengan bahasa yang digunakan pelayan karena selama dengan Arthur, dia menggunakan bahasa Inggris.


"Ah i..."


"Mama, it's in her room sis, Come in!" sela seseorang dari tangga beralih menatap pelayannya." Bi, langsung antar saja ke kamar mama!" titah orang itu.


"Thank you." Ji An menundukkan wajahnya.


"Nothing. Febi, berhenti sayang! Jangan lari-lari." seru Vio melihat putrinya berlarian naik turun tangga.


Ji An tersenyum melihat suara teriakan wanita yang sangat mirip suaminya ini. Putrinya yang terlihat baru berusia satu tahunan tapi sudah terlihat lincah dan gesit menghindari mamanya. Dan mata Ji An beralih pada perut wanita itu, seperti hamil tiga bulanan.


"Hai, how are you?" sapa Vio mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Hai, I'm Ji An."


"I'm Vio, Arthur's twin brother, Arthur's brother to be precise." jelas Vio memperkenalkan diri.


"Nice to meet you."


"Nice to meet you too. Ah, you're right. I'm about three months pregnant." jelas Vio mengikuti arah pandang Ji An.


"Ah, congrats."


"Thank you. Ah, ini pasti versi mininya Arthur? Kau sangat mirip dengannya. Siapa namamu boy?" tanya Vio, namun Matty hanya diam. Beralih menatap mamanya. Ji An mengangguk memberi tanda.


"Aku Matty."


Bruk... tiba-tiba Febi putri vio menubruk tubuh Matty menghambur memeluk Matty tertawa terbahak-bahak.


"Sepertinya dia menyukaimu." ucap Vio tertawa diikuti oleh Ji An.

__ADS_1


TBC


__ADS_2