
Sepuluh hari sudah, masalah sudah mulai terselesaikan meski belum sepenuhnya selesai. Davin memutuskan untuk kembali ke ibukota untuk mengurus pekerjaannya disana dan juga pulang ke villa menemui istrinya. Dia tak sabar untuk menerkam istrinya setelah sepuluh hari berpuasa meski harus terpaksa bersolo di dalam kamar mandi.
"Kau tetap disini menyelesaikan sisanya!" Titah Davin yang dijawab dengan helaan nafas oleh Fero.
Dia sudah bisa menebaknya hal ini akan terjadi, pasalnya beberapa hari yang lalu, tuan mudanya sudah uring-uringan dengan masalah demi masalah yang terjadi di perusahaan cabangnya ini. Para koruptor perusahaan sudah disingkirkan satu persatu hanya tinggal mencari pengganti yang cukup diselesaikan olehnya saja.
"Baik tuan." Jawab Fero terpaksa meski itu memang tugasnya.
"Aku akan pulang dengan sopir. Setelah masalah selesai, kau hubungi aku dulu sebelum kembali!" Titah Davin.
"Baik tuan." Jawab Fero sopan.
***
Sudah lebih dari lima jam perjalanan membuat tubuh Davin yang awalnya tak bersemangat dan kecapean karena perjalanan kini kembali bersemangat karena bisa menemui istrinya yang dirindukannya.
"Selamat datang tuan muda." Sapa kepala pelayan villa saat melihat Davin masuk ke dalam villa. Matanya jelalatan mencari keberadaan istrinya.
"Nyonya ada di kamar tuan." Seolah tahu siapa yang dicari tuan mudanya, sang kepala pelayan langsung memberitahu Davin.
"Kau bantu dia untuk mandi dan bersih-bersih. Persiapkan dia untuk malam pertama kami!" Titah Davin tanpa basa-basi dengan senyum terukir jelas di bibirnya.
Semua pelayan yang ada disitu tercenung sejenak melihat senyum manis terukir di wajah tuan mudanya yang sangat selama ini jarang ditunjukkan. Tapi karena keberadaan istrinya, tuan mudanya menjadi begitu manis dan menggemaskan dengan senyumannya yang mati-matian disembunyikan namun tetap dapat dilihat dan dirasakan para pelayan. Semua orang pun ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan juga menghampiri majikannya itu yang terkenal dingin dan datar.
***
Cklek
Pintu kamar Davi dibuka dari luar kamar oleh kepala pelayan setelah mendapat izin masuk saat mengetuk pintu kamar itu. Davi menoleh menatap beberapa pelayan yang dibawa kepala pelayan, ada lima orang termasuk kepala pelayan. Davi mengernyit heran melihat hal yang tidak biasanya itu.
__ADS_1
"A... ada apa?" Tanya Davi gugup merasakan perasaan tidak enak dalam hatinya dengan kehadiran para pelayan seolah hendak bersiap untuk melayaninya.
"Maaf nyonya, tuan meminta kami untuk membantu nyonya mandi dan menyiapkan diri." Jawab kepala pelayan mewakili para pelayan. Davi terdiam mencerna ucapan kepala pelayan.
"Tunggu! A.. apa maksudmu?' Tanya Davi gugup dengan wajah yang tiba-tiba memerah.
"Mari nyonya!"
"Kalian, siapkan air hangat untuk mandi nyonya!" Titah kepala pelayan menunjuk dua orang rekan pelayan.
"Baik."
"A... aku bisa sendiri! Kalian pergilah!" Tolak Davi merapatkan pakaiannya malu.
"Maaf nyonya, tolong bekerja samalah atau tuan akan marah pada kami." Ucapan kepala pelayan membuat Davi terdiam. Dia sungguh tidak nyaman jika tubuhnya dipegang-pegang oleh orang lain. Namun dia tidak menyalahkan para pelayan karena mereka hanya menuruti perintah majikannya.
***
Davi merasa geli, tubuhnya digosok-gosok dengan sabun oleh para pelayan dalam bathtub kamar mandi. Namun dia tak mampu menolak. Davi memilih tetap memakai pakaian dalamnya karena tak nyaman harus telanjang bulat di hadapan para pelayan.
Tak sampai satu jam, mereka selesai membantu Davi membersihkan tubuhnya serta memberikan wangi-wangian seperti saat spa di salon saja. Davi merasa merinding melihat perlakuan para pelayan yang tersenyum bahagia saat membersihkan tubuhnya seolah dirinya memang disiapkan untuk dinikmati oleh majikan mereka.
Seketika Davi tersentak kaget mencerna apa yang sedang dipikirkannya.
Tunggu! Apa Davin akan meminta haknya? Batin Davi ternganga.
Jadi, ini alasan para pelayan membantunya membersihkan tubuhnya, meriasnya bahkan memberikan wangian tubuh untuk...ah tidak. apa aku siap? Batin Davi berkecamuk merasa gugup dan gemetar tubuhnya. Para pelayan untung saja sudah selesai melakukan sentuhan pada tubuhnya. Davi tiba-tiba bergidik ngeri membayangkan malam ini harus terpaksa melayani suaminya. Bagaimana pun juga dia harus siap.
"Tunggu!" Panggil Davi saat kepala pelayan yang terakhir hendak menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Ada yang anda butuhkan lagi nyonya?" Tanya kepala pelayan tersenyum ramah.
"Apa Davin sudah pulang?" Tanya Davi ragu.
"Tuan muda sudah sampai sore tadi nyonya." Jawab kepala pelayan tersenyum senang melihat kegugupan sang nyonya yang dikiranya juga bahagia mendengar suaminya kembali pulang.
"Ah, terima kasih." Jawab Davi bergidik. Kepala pelayan pun pergi meninggalkan kamar setelah menutup pintu kamar.
Davi segera berlari ke dalam ruang walk in closet mencari piyama tidurnya yang lebih tertutup, namun dibolak-balik seperti apapun Davi tak menemukan piyama apapun selain lingerie seksi dengan berbagai macam model seperti yang dikenakannya saat ini.
Cklek
Pintu kamar terbuka dari luar membuat Davi seketika gugup. Davin menatap ke sekeliling kamar mencari keberadaan istrinya. Dia sudah tidak tahan untuk memendam hasratnya. Dia sudah berusaha melampiaskan pada ja*ang di sana namun bayang-bayang wajah istrinya yang menatapnya sendu membuat tak bisa menikmati godaan-godaan yang dilancarkan oleh ja*ang disana membuat Davin frustasi dan merasa bersalah.
Hingga akhirnya Davin memilih untuk main solo di kamar mandi dengan Davi sebagai bahan fantasinya. Hingga akhirnya sudah lebih dari tiga hari membuat Davin frustasi memilih untuk kembali pulang karena tak mau berlama main solo.
Davin masuk ke dalam kamar menatap pintu kamar mandi yang tertutup mengetuknya dari luar yang langsung diurungkan ketika melihat istrinya muncul dari walk in closet. Davi langsung mendekati istrinya dan spontan mendekapnya erat menyalurkan kerinduannya. Davi yang mendapatkan perlakuan spontan suaminya tak sempat menghindar hanya terdiam kaku dengan tubuh menegang.
"Aku merindukanmu sayang." Bisik Davin sambil menyerukkan wajahnya ke leher jenjang istrinya. Menyesap dalam-dalam dengan meninggalkan jejak kepemilikan sambil mencium aroma tubuh istrinya yang candu untuknya.
"Ah..." Suara laknat yang ditahan Davi tanpa sadar muncul dari bibirnya karena sesapan Davin membuat Davin semakin tersulut nafsunya hingga membuat Davin memberikan kecupan-kecupan lembut di sekitar leher istrinya agar lebih nyaman.
Davi terdiam tak bisa menolak perlakuan suaminya dari pada suaminya murka. Bagaimana pun juga dia harus melayani Davin yang sudah menjadi suaminya meski atas paksaan. Melawan pun juga percuma membuat Davi mencoba merilekskan tubuhnya menerima segala perlakuan Davin yang sangat lembut dan membuatnya sedikit demi sedikit terbuai.
.
.
TBC
__ADS_1