Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 22


__ADS_3

Sore hari Arthur kembali ke kamar hotelnya. Menatap ranjang tempat tidur terdapat dua manusia yang sangat dicintainya. Arthur duduk di tepi ranjang menatap keduanya yang terlelap tidur dengan tatapan sedih tapi bahagia. Diulurkan jemari tangannya untuk membelai pipi lebih wanita itu dengan penuh kasih.


"Terima kasih sudah mempertahankan putra kita. Terima kasih telah melahirkannya. Terima kasih tetap mencintaiku selama ini." bisik Arthur lembut, jemari tangan satunya meraih jemari tangan wanita itu mengecup punggung tangan itu.


Tanpa sadar air matanya menetes, mengingat penderitaan wanita itu dalam memperjuangkan putra mereka.


"Art..." Ji An membuka matanya merasakan belaian lembut dan kecupan di punggung tangannya.


Ji An melihat air mata Arthur yang menetes sedih menatapnya. Ji An sontak terduduk bersandar di kepala ranjang. Mengusap air mata itu dengan lembut dan tersenyum manis.


"Kenapa?" Arthur bukannya menjawab semakin terisak tanpa suara.


Ji An tak tahu apa yang terjadi refleks memeluk tubuh besar dan kekar itu. Arthur menyerukkan kepalanya di bahu Ji An yang entah kenapa air matanya terus menetes mengingat kembali cerita Zein bagaimana kehidupan kedua orang ini selama ini.


"Maaf... maafkan aku... aku terlambat menemukan kalian. Maaf sudah banyak menderita selama ini." bisik Arthur saat merasa sudah bisa mengendalikan perasaannya.


Ji An tak menjawab hanya mengelus lembut punggung Arthur berkali-kali, mencoba menghibur atau entahlah, dia ingin melakukannya dengan perasaan tulus dan bahagia.


"Pa... ma..." Matty mengerjap sambil mengucek-ngucek matanya melihat kedua orang tuanya berpelukan di sampingnya. Matty duduk di depan mereka.


"Matt... " lirih Ji An memeluk tubuh putranya setelah melepas pelukan Arthur. Arthur memalingkan wajahnya mengusap cepat air matanya.


"Kenapa kalian?" tanya Matty polos.


"Tak apa, papa ingin dipeluk mama." ucap Ji An asal. Matty beralih menatap Arthur yang masih terdiam.


"Papa mau dipeluk Matt dan dihibur juga?" tawar Matty yang merentangkan kedua tangannya hendak memeluk yang ditanggapi tawa oleh Arthur dan Ji An.


Matty hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya tertawa dan sudah tidak sedih lagi. Arthur mengusak rambut putranya gemas.


**


"Kita pulang ke Indonesia. Kita akan menikah disana." ucap Arthur setelah mereka selesai makan malam dan mandi.

__ADS_1


Mereka tak keluar kemana-mana. Hanya ingin bermalas-malasan di kamar. Matty sibuk menonton tv sambil bermain dengan tabletnya. Sedangkan kedua sejoli itu duduk di sofa tak jauh dari putranya yang memilih duduk di atas karpet berbulu lembut itu. Ji An sontak menoleh menatap Arthur lembut.


"Apakah itu bisa ditunda sebentar?" pinta Ji An hati-hati ingin melihat reaksi Arthur. Arthur menatap Ji An lembut.


Kini keduanya duduk saling merapat di sofa dengan sebelah tangan Arthur mendekap bahu Ji An menempelkan erat di tubuhnya. Dan Ji An menempelkan kepalanya di bahu Arthur. Sungguh pemandangan yang mesra.


"Tentang ayah mertua?" tebak Arthur yang membuat Ji An terkejut.


"Kau..." Ji An tersipu mendengar kata-kata mertua yang keluar dari mulut Arthur.


"Zein sedang mengurusnya agar kau bisa menemuinya. Dan sedang mengurus operasi untuk penyakit ayah mertua. Tunggu saja, mungkin besok dokter menghubungimi untuk meminta persetujuan operasi itu." jelas Arthur mengecup berkali-kali punggung tangan Ji An dan begitu juga pada pipi Ji An yang masih terdiam menatap dirinya tak percaya dengan kata-kata Arthur.


Arthur semakin gemas saja untuk tidak mengecup bibir merah merona itu.


Cup


Ji An malah meraih tengkuk Arthur untuk memperdalam ciuman mereka, tentu saja dibalas Arthur dengan senang hati.


"Everything for you." Ji An merasa terharu dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Arthur yang besar dan kekar.


**


Pagi hari, Arthur sudah bersiap dengan pakaian formalnya. Berdasarkan informasi Zein sang asisten. Mereka akan pergi ke rumah sakit kota menemui dokter untuk mengurus surat izin untuk operasi tuan Kim. Awalnya saat Zein mengurusnya, terdapat sedikit kendala karena para pengawal Hyung Jae yang menahan mereka.


Namun kekuasaan Arthur tak serendah itu. Akhirnya dengan sekali gertakan mereka tak berani melawan kembali karena kekuasaan seorang Aftano. Zein berhasil mengganti para pengawal itu dengan para pengawal kepercayaan tuannya.


Dan Zein mengurus segala administrasi pengobatan yang harus dilakukan untuk memperlancar proses operasi tuan besar Kim.


Setelah mendapat konfirmasi dari para dokter yang menangani, Zein menghubungi tuannya malam itu juga. Arthur hanya mengiyakan hasil laporan Zein dan mereka akan ke rumah sakit esok harinya.


"Kita akan kemana Art?" tanya Ji An yang sejak tadi penasaran karena Arthur menyuruhnya untuk bersiap-siap karena akan ke suatu tempat.


"Kau akan tahu nanti." jawab Arthur singkat, membuat Ji An berdecak sebal.

__ADS_1


Pasalnya dia sudah kesekian kalinya bertanya namun begitu terus jawabannya. Kini Ji An memilih untuk segera bersiap saja duduk di depan meja rias. Wajahnya masih saja cemberut sebal terhadap Arthur. Sedang sang putra Matty sudah siap sejak tadi di luar bersama pengawal yang menemani.


"Kau membuatku semakin bernafsu untuk menciummu lagi." bisik Arthur sambil mendekap erat tubuh Ji An dari belakang.


Kini mereka saling menatap dalam bayangan di cermin. Ji An yang terkejut dengan bisikan Arthur merona tersipu malu.


"Jangan menggodaku, apakah tak cukup di kamar mandi tadi?" ucap Ji An semakin merona.


Ya, setelah bangun tidur, Ji An menyiapkan sang putra terlebih dulu agar dirinya bisa bersiap setelahnya. Namun saat dirinya memasuki kamar mandi, sontak saat menutup pintu, Arthur langsung menelusup masuk ke dalam kamar mandi menyerang Ji An brutal dan liar.


Ji An hanya bisa pasrah, menolak pun percuma. Hingga tak cukup satu jam mereka mandi, hampir dua jam. Itu karena sang putra yang menganggu mereka karena merasa menunggu terlalu lama.


"Aku tak akan pernah cukup jika denganmu sayang." bisik Arthur yang merasakan tubuh bagian bawahnya bangun lagi.


Ji An yang merasakannya sontak berdiri menghindari Arthur karena mereka tak akan pernah selesai jika menuruti keinginan Arthur.


"Lebih baik kita berangkat sekarang. Kita juga harus sarapan dulu." elak Ji An.


Arthur terpaksa mengendalikan nafsunya hanya tersenyum menanggapi wanitanya.


TBC


.


.


.


Maafkan typo


Beri dukungannya


Beri like, rate dan vote nya

__ADS_1


__ADS_2