Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 12


__ADS_3

"Duduklah!" perintah Arthur menarik jemari tangan Ji An untuk duduk di kursi sebelahnya.


"Tuan... A...aku..."


"Apa maksudmu tuan?" seru Arthur tak suka. Arthur membelai pipi wanita yang dirindukannya itu. Kini keduanya hanya berdua saja dengan Ji An di ruang privat itu.


"Kau tak merindukanku?" bisik Arthur lirih sarat akan kesedihan di matanya. Ji An melihat itu, dia merasa bersalah dan sedih.


"Maaf... maafkan aku..." ucap Ji An menangis sambil meminta maaf.


Arthur menggeleng, tak mengizinkan wanitanya itu menangis. Dia juga mengusap air mata Ji An dengan lembut.


"Please, don't cry. Aku tak menyukai hal itu..." ucap Arthur semakin membuat Ji An menangis merasa bersalah.


"Maafkan aku. Bukan maksudku untuk meninggalkanmu. Aku... aku...."


"Ssstt... jangan katakan apapun. Aku senang sudah menemukanmu." ucap Arthur menutup bibir Ji An dengan jari telunjuknya.


Kini keduanya menikmati makanannya. Setelah selesai Arthur membawa Ji An menuju mobil untuk dibawa ke hotel bersama. Dia tidak akan melepaskan lagi wanitanya. Selamanya, itulah janjinya dalam hati. Apapun alasannya, tidak akan terlepas lagi.


"Kita mau kemana? A...aku harus kerja Art..." ucap Ji An kebingungan karena Arthur menariknya masuk ke dalam mobilnya.


"Kita pulang ke tempatku. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu." Arthur mengecup bibir Ji An sekilas, membuat Ji An tersentak refleks menutup mulutnya.


"Tapi aku..."


"Tidak ada tapi-tapian... menurut padaku. Zein kita ke hotel!" titah Arthur, ucapan Ji An dipotong tak diberi kesempatan untuk bicara.


Tautan jemari tangan Arthur tak terlepas dari jemari tangan Ji An meski Ji An mencoba memaksa melepaskannya namun Arthur tak menghiraukannya. Hatinya kini berbunga-bunga senang dan bahagia sekali.


Setibanya di hotel, Arthur menarik Ji An turun dan membuatnya menurut padanya. Para karyawan yang menatap wajah Arthur yang tampan yang kemarin-kemarin menatap tajam dan dingin itu kini semuanya heran dan takjub. Tumben pemilik hotel yang tampan itu tersenyum.


"Art... kumohon, biarkan aku pulang. Aku harus pulang." pinta Ji An, dia mencemaskan putranya jika dia harus meninggalkannya.


"Tidak." jawab Arthur tegas menarik jemari tangan Ji An untuk masuk ke dalam lift masih diikuti Zein.


"Zein, kau selesaikan semuanya. Jangan ganggu kami!" seru Arthur.


"Baik tuan." jawab Zein.


Arthur menarik Ji An untuk masuk ke dalam kamar hotelnya, mengunci kembali pintunya agar wanitanya tidak kabur. Dia berniat mengurung wanitanya jika hal itu harus, Arthur tak mau berpisah lagi, sudah cukup enam tahun ini dia mencarinya.


"Mandilah dulu! Aku mau mengecek email sebentar." titah Arthur menuju meja kerjanya.


"Art, kumohon izinkan aku pulang. Pasti orang rumah akan mencemaskanku jika aku tak segera pulang." pinta Ji An memelas namun Arthur membekukan hatinya untuk mengasihinya.


"Mandilah!" titah Arthur lagi tak berniat menjawab keluhan wanitanya.

__ADS_1


"Art, kumohon!" Ji An sampai memohon dengan mengatupkan kedua tangannya setelah menyatukannya berharap Arthur akan luluh. Nyatanya Arthur tetap tak menghiraukan ucapan Ji An.


"Art, please..."


"Hah.... aku tak akan mengabulkannya. Meski kau menangis darah." jawab Arthur dingin duduk di kursi belakang meja, membuka laptopnya mengerjakan pekerjaannya.


Ji An tampak menghela nafas panjang. Percuma aku memohon padanya, lalu bagaimana aku harus pulang, pasti Matty akan cemas menungguku. batin Ji An, akhirnya menurut untuk mandi masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar itu.


Arthur tersenyum wanitanya menurut dan menyerah untuk memohon. Maaf sayang, kali ini biarkan aku egois sekali ini. Aku mencintaimu dan tak akan melepaskanmu selamanya. batin Arthur tersenyum senang.


Ji An terjebak di dalam kamar mandi hotel, dia lupa tak membawa baju ganti untuknya. Dia masih terdiam di dalam kamar mandi, bingung akan melakukan apa. Hanya handuk yang menempel pada tubuhnya yang dipakai saat ini.


Dia tak mungkin memakai baju kotornya lagi setelah dipakai seharian kerja. Arthur menunggu Ji An keluar dari dalam kamar mandi, namun sudah hampir satu jam dia tak kunjung keluar. Arthur merasa cemas langsung berdiri menuju kamar mandi.


"Ji An, honey... apa yang terjadi?" tanya Arthur sambil mengetuk pintu dan tak ada sahutan dari dalam kamar mandi semakin membuat Arthur cemas saja.


"Ji An..." serunya lagi lebih berteriak lagi.


Ji An tersentak pintu kamar mandi digedor lebih kencang dari ketukan pertama.


"Akan kudobrak jika kau tak membukanya!" seru Arthur lagi.


"Sebentar..." jawab Ji An, dia memegang handel pintu dan membukanya sedikit memunculkan hanya kepalanya. Arthur mengernyit, bertanya-tanya apa yang dilakukan wanitanya ini.


"Maaf, apakah ada baju ganti yang bisa kupakai?" tanya Ji An tersipu malu, dia tak berani menunjukkan tubuhnya yang hanya berbalut selembar handuk di atas pahanya. Arthur tersenyum lucu.


"A... apa... maksudmu?" tanya Ji An gugup, pasalnya Arthur memegang pergelangan tangannya yang menggenggam handuknya yang diselipkan di dadanya takut akan lepas.


"Kenapa? Tentu aku ingin melihat tubuhmu, apa masih sama dengan yang dulu." bisik Arthur menggoda Ji An. Dan wajahnya langsung tersipu malu, memerah bak tomat.


"Ya..."


"Hahaha...." tawa Arthur menggelegar, entah kenapa Arthur suka sekali menggoda wanitanya ini sangat menyenangkan dan dia terdiam sebentar, baru menyadari bahwa baru kali ini dia bisa tertawa lepas sejak ditinggalkan Ji An, diapun tersenyum menarik Ji An keluar dari dalam kamar mandi setelah memaksa membuka pintu lebar.


"Kya..." tarikan Arthur membuat Ji An membentur dada bidang Arthur yang besar dan kekar.


Dan aroma tubuh maskulin yang diingat Ji An, seketika dia langsung merona kembali mengingat pikiran mesumnya. Dan bayangan masa lalu saat menghabiskan waktu bersama Arthur dulu terlintas di benaknya.


"Aku menginginkanmu." bisik Arthur merasa sesak di balik celananya dan Ji An paham akan hal itu dan merasakan juga sesuatu mengganjal mengenai pahanya.


Ting tong tong tong


Suara bel pintu berbunyi, mengganggu aktivitas mesra pasangan itu.


"Tunggu disini!" titah Arthur mendudukkan Ji An di ranjang king size itu.


"Ini yang tuan minta." ucap Zein setelah pintu dibuka.

__ADS_1


"Terima kasih Zein, istirahatlah!" ucap Arthur.


"Baik tuan." jawab Zein meninggalkan kamar tuannya setelah tuannya menutup pintu.


"Pakailah! Mari makan malam!" ucap Arthur menyerahkan sebuah paper bag bercetak nama butik terkenal di Seoul, lalu Arthur masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya.


Ji An melihat apa yang ada di dalam. Sebuah gaun merah yang sangat cantik plus pakaian dalam dengan warna serasi dan pas menurut Ji An.


"Ah, aku harus mengabari putraku sebentar. Mumpung dia sedang mandi." lirih Ji An mengambil ponselnya setelah memakai kemeja Arthur yang terletak di meja tak jauh dari ranjang.


Dalam percakapan ponsel.


Matty : "Ma..."


Ji An : " Hei boy... kau sedang apa?"


Matty : "Aku sedang makan malam bersama keluarga Su Jin ah ma."


Ji An : "Boy, mama malam ini akan pulang terlambat, mungkin akan tidak pulang. Apa kau keberatan jika harus menginap di rumah Su Jin sayang?"


Matty : "...."


Ji An : "Sayang..."


Matty : "It's okay ma, jaga diri mama."


Ji An : "Sorry sayang..."


Matty : "Ya mama, it's okay. Aku baik-baik saja."


Ji An : "Makasih sayang..."


Ji An menutup panggilannya.


"Siapa yang kau maksud sayang itu?" suara bariton yang menggelegar sarat akan kecemburuan membuat tubuh Ji An menegang tak berani berbalik menatap Arthur.


TBC


.


.


.


Maafkan typo


Beri dukungannya

__ADS_1


Beri like, rate dan vote nya


__ADS_2