Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 34


__ADS_3

Davi langsung dibawa ke rumah sakit terdekat begitu dia kembali pingsan saat dokter mencoba menghubungi Davin. Sehingga dia mengurungkan niatnya untuk meminta izin pada Davin tentang pemindahan Davi ke rumah sakit. Demi kemanusiaan dan juga janjinya sebagai seorang dokter. Dokter pun nekat menyuruh para pengawal yang berjaga menyiapkan mobil dan membopong tubuh Davi ke mobil.


Awalnya para pengawal saling pandang meminta pendapat namun kemudian melihat tubuh lemas, pingsan dan tubuh kurus sang nyonya menganggukkan kepalanya setuju. Apalagi sang dokter mengatakan ada nyawa lain dalam tubuh sang nyonya semakin membuat mereka gerak cepat memberikan pertolongan pada Davi.


Mereka siap menanggung resiko apapun termasuk kemurkaan tuan muda. Namun jika sampai janin tuan muda mereka ikut meninggal karena mereka yang kurang cepat bertindak. Tuan muda mereka pun pasti akan lebih murka. Karena setahu mereka, sang tuan muda tengah menunggu kehadiran bayi lagi setelah keguguran pertama nyonya. Begitulah desas-desus yang mereka dengar diantara pelayan.


***


Kepala pelayan dan dua orang pengawal ikut di dalam mobil. Dan beberapa pengawal lagi mengikuti dari belakang dengan mobil lain. Mereka juga harus memastikan bahwa sang nyonya baik-baik saja. Dokter mengendarai kendaraannya sendiri yang dibawanya menuntun semua orang menuju rumah sakit yang direkomendasikannya tadi setelah dia hubungi untuk menyiapkan segalanya untuk menolong Davi begitu mereka sampai di rumah sakit.


"Bagaimana kondisi saat ini dok?" Tanya seorang dokter obgyn yang bertanggung jawab di rumah sakit itu.


"Hiperemesis gravidarum. Pasien mengalami dehidrasi dan tubuh lemas serta nafsu makan berkurang." Jawab dokter yang merujuk Davi ke rumah sakit.


"Saya sudah memberikan pertolongan pertama, namun sepertinya sudah sangat terlambat jika tidak dilakukan perawatan intensif lebih dalam. Pasien pernah mengalami keguguran juga sebelumnya." Jelas dokter itu lagi.


Dokter obgyn rumah sakit hanya mengangguk-angguk mengiyakan mengerti dengan penjelasannya. Dia pun masuk kembali ke UGD untuk melakukan tindakan terhadap Davi.


Kepala pelayan dan beberapa pengawal berdiri berjajar menjaga situasi dan kondisi di sekitar ruang UGD. Pengunjung rumah sakit yang melihat kedatangan orang-orang itu sontak menontonnya dan berbisik-bisik bertanya tentang apa gerangan yang sedang terjadi.


Namun semua orang langsung diusir oleh pimpinan pengawal yang melindungi Davi. Hingga mereka semua terpaksa buyar. Sang pemimpin pun memberi titah pada dua anak buahnya untuk mensterilkan lorong tempat sang nyonya sedang ditindak oleh dokter.


***


Davin tersentak dari tidurnya. Ya, dia tidak sengaja tertidur saat perjalanan menuju bandara karena kelelahan setelah mengurus proyeknya selama hampir sebulan. Bahkan karena kesibukannya dia tak menghubungi villa seperti biasanya. Untuk makan dan tidur saja dia di tempat sembarangan karena ternyata proyeknya mendapat sedikit masalah setelah kebakaran tersebut.


Davin mengumpat kesal mengingat tentang mimpi buruknya. Dia didatangi seorang anak kecil perempuan. Dia mengatakan untuk segera pulang menemui sang ibu. Kalau tidak, adiknya terpaksa harus ikut dengannya. Davin bertanya-tanya dengan penuh tanda tanya. Dan anehnya lagi, anak perempuan kecil itu memanggilnya.


"Tuan, pesawat akan segera berangkat?" Ucap Fero membuyarkan lamunan Davin. Davin hanya mengangguk dan langsung turun begitu Fero membukakan pintu mobil.


"Kau sudah mendapat kabar?" Tanya Davin saat naik ke tangga pesawat diikuti Fero.

__ADS_1


"Maaf tuan sudah lima hari ini villa tidak bisa dihubungi." Jawab Fero singkat menjelaskan agar tuan mudanya tidak emosi. Karena dia melihat tuan mudanya terlihat gelisah dan tidak tenang.


"Apa maksudmu?" Tanya Davin kesal.


"Maaf tuan, pesawat akan segera take off." Interupsi seorang pramugari yang mendapat titah dari pilot. Davin menoleh pada pramugari itu tajam. Karena tak ada yang memerintahnya selama ini. Kalau Davin mengatakan jangan itu artinya jangan, kalau Davin mengatakan iya itu artinya iya, apapun itu.


Davin memilih menurutinya karena dia juga ingin segera pulang menemui istrinya. Kerinduan setelah tidak bertemu membuat perasaannya membuncah. Meski akhir pertemuan mereka buruk.


Perjalanan selama hampir tujuh jam membuat Davin merasa remuk di tubuhnya. Tubuh yang sudah kelelahan membuatnya lebih kelelahan. Dia berharap segera bertemu dengan istrinya, yang mungkin saja lelahnya akan hilang berganti dengan kebahagiaan.


Sudah lebih dari sebulan Davin tidak pulang ke villa. Juga hanya mendapat kabar kalau Davi baik-baik saja, tak ada hal gawat yang terjadi. Hingga lima hari belakangan dia tak bisa menghubungi villa. Di ponselnya tertera nomer tidak dikenal. Dia sudah menyuruh Fero menyelidiki nomer siapa itu. Namun belum menemukan titik terang pemilik nomer tersebut karena ruang lingkupnya terbatas.


Selain sibuk dengan masalah proyek, juga masalah lain yang muncul saat penyelidikan pembangunan proyek. Dan biang keladinya Davin sudah menangkapnya.


***


"Dimana para pengawal?" Tanya Davin melihat tak ada satupun penjaga di gerbang villa.


Tap


Tap


Tap


"Apa yang terjadi? Kemana para penjaga?" Tanya Fero saat melihat beberapa pelayan sedang santai setelah bersih-bersih.


"Tu...tuan..." Lima pelayan itu langsung berdiri berjajar membungkukkan badannya tak berani menatap wajah Fero yang sama dinginnya dengan tuan mudanya.


"A..anu...tuan..." Jawab salah seorang tergagap, ragu untuk mengatakan.


"Ada apa?" Suara dingin bariton Davin membuat pelayan-pelayan itu semakin menunduk ketakutan. Davin menatap pelayan-pelayan itu satu persatu tak ada yang berani menjawab. Davin menatap ke arah tangga dimana kamarnya yang tak jauh berada di sisi tangga.

__ADS_1


"Kemana semua penjaga?" Titah Fero menatap mereka dengan tajam.


Davin langsung berlari ke kamar, perasaannya sejak beberapa hari lalu tidak baik. Dia mencemaskan istrinya.


"Kau," Tunjuk Fero pada pelayan paling ujung.


"I...iya tuan." Jawab pelayan itu takut-takut dengan wajah yang sudah memucat pias. Mereka semua diam tak ada yang bergerak karena mereka mengenal siapa tuan muda yang dilayaninya tak akan segan menghukumnya.


"Katakan!"


"Nyo...nyonya... dirawat di rumah sakit XX tuan." Jawab pelayan itu ragu-ragu.


"Apa kau bilang? Dimana istriku!" Seru Davin menyambar kerah pelayan itu kasar. Dia yang tak mendapati istrinya di dalam kamar langsung murka. Mengira istrinya kabur dan dibantu dengan para pengawal yang mungkin saja kasihan.


Namun saat pelayan mengatakan istrinya dibawa ke rumah sakit. Kemurkaan Davin semakin tersulut. Matanya menggelap, rahangnya mengeras.


"Kapan? Apa yang terjadi?"


"Sa...saya tidak...tahu tuan. Beberapa... waktu lalu... nyonya pingsan...dan kepala pelayan.. menghubungi dokter wanita yang waktu itu... dan tidak lama... nyonya dibawa.. ke rumah sakit... dalam keadaan ... pingsan." Davin langsung menghempas tubuh itu meski tak sampai terjerembab ke belakang karena keburu ditangkap rekan pelayannya.


"Kita segera kesana Fero!" Titah Davin menuju keluar villa langsung masuk ke dalam mobil diikuti Fero.


.


.


TBC


Beri rate, like dan vote nya


Makasih

__ADS_1


__ADS_2