Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 53


__ADS_3

Plak


Suara tamparan terdengar nyaring di dalam ruang kerja Davin. Sang mama merasa geram pada putra sulungnya itu. Putranya dengan beraninya tak mengatakan yang sebenarnya tentang istrinya. Padahal pertunangan akan diadakan seminggu lagi. Kalau saja orang kepercayaan suaminya Zein tidak mengatakan kalau menantunya sedang hamil enam bulan, Ji An tak perlu membuat bekas telapak tangan di pipi putra sulungnya.


"Apa ini ma?" Tanya Davin sambil memegang pipinya yang panas tak percaya mamanya menamparnya sedemikian rupa.


Padahal sejak kecil mamanya tak pernah melakukan kekerasan fisik padanya. Meski sang mama marah. Dia hanya didiamkan berhari-hari hingga dirinya yang meminta maaf duluan.


"Apa yang kau lakukan sudah keterlaluan Davin." Seru Ji An mulai tak sabaran masih dengan tatapan amarahnya.


"Apa maksud mama?" Davin masih belum mengerti.


"Apa kau ingin putramu seperti dirimu dulu?" Seru Ji An. Davin terdiam, mencerna ucapan sang mama.


"Apa kau ingin putramu nanti berakhir tanpa melihat ayahnya yang terpisah dengan ibunya?" Seru Ji An lagi dengan wajah kesal. Kini Davin mengerti arti kemarahan sang mama.


"Kami sudah tidak saling mencintai." Jawab Davin berusaha tenang.


"Omong kosong. Ini yang kau katakan tidak mencintainya. Ini!" Seru Ji An membuang semua bukti pemesanan makanan bergizi untuk ibu hamil yang dikirimkan setiap hari tiga kali untuk menantunya.


Davin menatap kertas-kertas yang melayang jatuh di bawah mereka itu. Davin langsung tahu. Davin hanya diam tak menjawab. Dia harus menghukum siapa yang sudah berani mengatakan pada sang mama.


"Bawa pulang menantu mama, apapun yang terjadi!" Titah Ji An tegas tak mau dibantah.


"Kami sudah bercerai ma." Bantah Davin meski berlainan dengan hatinya.


"Mama sudah membuang berkas yang sengaja tidak diurus oleh Arman itu." Jawab Ji An santai sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut memikirkan apa yang dilakukan putranya.


Ji An memilih duduk di sofa ruang kerja Davin diikuti oleh Davin.


"Pergi! Jangan pulang ke mansion atau ke perusahaan sebelum kau bawa menantuku pulang!" Tegas Ji An lagi meski tidak membentak seperti tadi.


"Tapi ma..."


"Tidak ada tapi-tapian. Atau kau akan menyesal selamanya tidak bisa bertemu dengan istri dan anakmu nanti." Ancam Ji An beranjak dari sofa meninggalkan ruang kerja putranya itu.


"Ma, apa yang akan mama lakukan!" Seru Davin mengikuti langkah mamanya yang langsung ditahan Zein sesuai titah sang nyonya majikannya.


"Ada apa paman? Bagaimana mama bisa mengetahuinya?" Tanya Davin pada Zein asisten pribadi papanya.

__ADS_1


"Maaf tuan. Sudah lama saya menahan hal ini untuk merahasiakan dari nyonya. Tapi nyonya berulang kali memaksa saya untuk mengatakan semuanya." Jelas Zein meninggalkan Davin di ruang kerjanya.


Davin tertunduk duduk di sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil mengusap-usap kasar wajahnya.


"Tapi dia tidak mencintaiku ma, aku akan menyakitinya jika dia tetap berada disisiku." Bisik Davin tak tahu apa yang harus dilakukannya.


"Waktumu seminggu sebelum pertunangan. Sampai saat itu kau belum berhasil membawa menantuku, selamanya jangan berharap bertemu mereka." Ancaman terakhir kali sang mama terngiang-ngiang kembali di benak Davin dia tak tahu harus melakukan apa.


***


Davi menyambut ibunya dengan bahagia. Setelah seminggu lalu dinyatakan sadar dari komanya. Seminggu kemudian ibunya dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang hanya berobat jalan sudah cukup untuk kesembuhan sang ibu.


."Putriku, Davi." Sapa ibu Davi sambil memeluk putrinya erat. Dia sungguh sangat menyayangi putrinya itu, penyakit yang dideritanya hingga koma adalah karena dia terlalu mencintai putrinya tersebut.


"Maafkan Davi Bu, maaf." Bisik Davi lirih dalam pelukan ibunya menangis terharu.


"Ibu memaafkanmu nak. Ibu juga minta maaf karena memaksakan kehendak kami." Ucap ibu Davi membuat Davi menggeleng merasa bersalah.


Ibu Davi terdiam merasa mengganjal saat memeluk tubuh putrinya tersebut. Ibu Davi melepaskan pelukannya menatap putrinya sendu. Tatapan beralih ke perut buncit putrinya. Membuat seketika menutup mulutnya tak percaya.


"Davi nak.... ini..." ibu Davi terkejut melihatnya.


"Tidak apa nak, kalau pria itu tidak mau bertanggung jawab, ayah dan ibu masih ada untukmu sayang." Hibur ibu Davi kembali memeluk tubuh putrinya yang terlihat lemah.


"Maaf ... maaf...hiks...hiks..." Ayah Davi hanya diam menyimak tak mau menyela, keduanya sudah lama merindu, sehingga ayah Davi memberikan kesempatan keduanya untuk melampiaskan semuanya. Ayah Davi hanya menepuk punggung istri dan putrinya untuk memberi semangat.


***


"Kenapa sayang?" Tanya Arthur yang melihat kedatangan istrinya terlihat kesal dan marah. Namun kekecewaan dan kesedihan lebih mendominasi. Arthur berdiri dari kursi kebesarannya menghampiri istrinya yang terlihat berkaca-kaca matanya menahan tangisnya.


"Huahuahuahuhuhu...." Ji An melampiaskan rasa sedihnya di dekapan pelukan suaminya yang bersikap lembut padanya.


"Cup...cup.. " Arthur menghela nafas berat melihat istrinya menangis seperti anak-anak kehilangan mainannya dan sekarang sedang mengadu padanya.


Arthur menggiring istrinya untuk duduk di sofa ruang kerjanya tak jauh tempat mereka berdiri. Istrinya masih setia menangis dalam dekapannya tanpa melepasnya. Biarkan kemejanya basah oleh air mata istrinya asal hal itu puas demi istrinya tercinta.


Setelah dirasa cukup, hampir satu jam lebih istrinya menangis di dekapannya kini sudah mulai tenang. Mata sembab dan basah masih terlihat di sekitar wajahnya membuat Arthur mengulurkan tisu untuk membersihkan wajah istrinya.


"Putramu sangat menjengkelkan." Ucap Ji An memulai curhatnya. Arthur masih diam menunggu kelanjutan kalimat istrinya.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak berkaca pada dirinya sendiri." Arthur mulai tahu arah pembicaraan istrinya.


"Kalau saja Su Jin tak mengatakan semuanya padaku, Zein juga tak jujur padaku." Ucap Ji An lagi menatap suaminya penuh selidik.


"Apa?" Tanya Arthur merasa terintimidasi oleh istrinya.


"Kenapa kau menyembunyikannya dariku?" Tanya Ji An menatap suaminya kesal.


"Kau tak bertanya." Jawab Arthur enteng.


"Sayang!..." Ucap Ji An marah langsung berdiri dari duduknya menatap suaminya.


"Sayang dengarkan aku! Mereka sudah dewasa, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita hanya perlu..."


"Apa mas ingin melihat cucuku seperti dia dulu? Tanpa bertemu dengan ayahnya?" Tanya Ji An membuat Arthur terdiam. Seketika bayangan masa lalu terlintas dalam benaknya.


"Sayang, kenapa bawa-bawa kita dan masa lalu, hal itu tidak ada hubungannya. Kau yang tak memberi tahuku dulu."


"Jadi mas menyalahkan aku?" Tanya Ji An semakin kesal.


"Bukan seperti itu sayang ..."


"Mas tidur di kamar tamu untuk seminggu kedepan." Arthur menganga langsung berlari mengejar istrinya yang hendak meninggalkan ruangannya.


"Sayang, kau tak bisa melakukan hal itu padaku." Arthur langsung meraih tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya meski istrinya berusaha menolak dan melepas pelukannya.


"Aku tak peduli." Jawab Ji An cuek.


"Sayang, maafkan aku...please." Mohon Arthur yang masih membuat Ji An memalingkan wajahnya.


"Sayang, aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu." Rayu Arthur.


Mereka pun masih terus melakukan drama pertengkaran itu hingga akhirnya Ji An luluh dan mendengarkan penjelasan suaminya kenapa tak memberi tahunya.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2