Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 17


__ADS_3

Davi masih terdiam menatap kosong ke langit-langit kamar tak menghiraukan Davin yang ada di sisinya. Entahlah mungkin sakit hatinya kembali menyeruak melihat pria yang memperkos**ya.


"Bagian mana yang sakit? Kau tak apa?" Tanya Davin mencoba bersabar menghadapi calon istrinya.


Dia tahu bagaimana perasaannya merasa milik berharganya direbut secara paksa. Dan Davin mencoba membujuknya untuk menebus kesalahannya.


"Aku mau pulang!" Ucap Davi tegas tanpa menatap Davin. Davin hanya terdiam tak menjawabnya.


"Kau pasti lapar, makanlah!" Ucap Davin sambil bersiap menyuapi Davi makanan yang sudah disiapkan pelayan.


"Aku mau pulang!" Ucap Davi masih keukeuh dengan ucapannya.


Davin memejamkan matanya menahan amarahnya agar tidak terlampiaskan dan membuat Davi takut padanya.


"Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Kau pasti lapar." Bujuk Davin lagi tak menghiraukan ucapan Davi.


Davin menyodorkan sesendok bersiap untuk masuk ke dalam bibir Davi.


"Aku mau pulang!" Teriak Davi menepis sendok itu kasar dan tak sengaja juga menyenggol piringnya juga dan jatuh berhamburan di lantai.


Bunyi barang pecah membuat para pelayan di lantai bawah terkejut dan saling menatap penuh tanda tanya namun semua orang memilih diam. Davin menatap piring berisi nasi yang sudah jatuh berhamburan di lantai. Dia terdiam, dia ingin berteriak juga. Dia memilih meninggalkan kamar menunggu sampai Davi tenang.


"Belum cukupkah kau mengurungku setelah berhasil mengambil milikku yang berharga." Teriakan Davi mampu membuat Davin menghentikan gerakannya yang hendak membuka hendel pintu.


"Lepaskan aku! Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan bukan? Biarkan aku pulang! Kalau kau takut akan melaporkanmu pada polisi. Tenang saja, aku tak akan mengatakan pada polisi. Kau bisa tenang." Ucap Davi membuat Davin kehilangan kesabaran.


Davin sungguh kecewa mendengar ucapan Davi seolah dirinya tak berarti apapun untuknya. Tangan Davin mengepal di sisi tubuhnya, rahangnya mengeras, dia sudah kehilangan kesabaran.


"Aku tak akan melepaskanmu. Kau sudah menjadi milikku." Jawab Davin tegas.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Kalau kau berpikir aku tetap mencintaimu kau salah. Aku sungguh sangat membencimu, sangat benci. Jadi sekarang lepaskan aku!" Teriak Davi semakin histeris menatap Davin nyalang.

__ADS_1


"Istirahatlah kau butuh ketenangan!" Ucap Davin keluar dari kamar, dia tak mau meladeni Davi yang masih diselimuti emosi.


Dia takut malah akan ikut-ikutan emosi jika meladeni Davi dan berakhir semakin menyakitinya.


"Kau brengsek Davin, kau sungguh brengsek. Aku membencimu." Teriak Davi histeris sambil melemparkan bantal dan guling ke pintu yang sudah ditutup oleh Davin.


"Ayah...hiks...ibu... hiks... Davi mau pulang." Bisik Davi menangkupkan wajahnya ke kasur ranjang dengan tangis sesenggukan.


Dia sudah tak peduli seperti apa bentuk wajahnya karena tangisannya berhari-hari ini.


***


Bruak...


Srekk...


Davin membanting semua barang-barangnya yang ada di meja ruang kerjanya. Dia melempar semuanya yang ada di ruang kerjanya sebagai pelampiasan kemarahannya. Dia sangat sakit hati dengan penolakan Davi padanya. Bahkan dia mengatakan terang-terangan tentang kebenciannya dengan wajah penuh kekecewaan padanya.


Davin menjatuhkan pantatnya di kursi ruang kerjanya, menutup matanya dengan lengan kanannya. Dia sungguh menyesal telah memperko** gadis kesayangannya. Dia berharap setelah itu Davi luluh dan kembali mencintainya. Namun apa yang dikatakan Davi sungguh membuatnya sakit hati dan menyesal.


***


"Tuan, meeting lima belas menit lagi." Beri tahu Fero.


Davin langsung berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruangan menuju ruang meeting.


Setelah semalam Davin mengamuk di ruang kerjanya. Pagi itu Davin memilih untuk berangkat ke kantor, dia ingin menenangkan diri agar tidak melampiaskan di depan Davi.


"Kau, dimana putriku? Aku tahu putriku ada bersamamu. Dimana dia?" Seseorang menarik kerah Davin saat dia hendak masuk ke dalam lift.


Davin yang tak mengira pria itu mendatanginya tak melawan tapi juga tidak diam. Dia balas menatap pria paruh baya yang menarik kerah kemejanya.

__ADS_1


Davin langsung mengangkat tangannya mencegah saat Fero dan beberapa pengawalnya yang berjaga di sekitar ruangannya hendak maju.


"Maaf tuan. Apa maksud dari ucapan anda?" Tanya Davin tenang seolah tak tahu apa yang dimaksud pria paruh baya itu.


Meski sebenarnya dia tahu pria paruh baya itu adalah Ayah Davi.


"Jangan berlagak bodoh! Aku tahu putriku menjadi sekretarismu dan kalian berhubungan. Katakan dimana putriku!" Teriak pria paruh baya itu yang ternyata adalah ayah Davi.


"Aku masih tak mengerti maksud anda? Kenapa anda mengira saya tahu dimana putri anda?" Ucap Davin berusaha tenang menatap ayah Davi dengan tatapan datar dan dingin.


Fero mencoba melerainya namun karena Davin yang mencegahnya, dia hanya bisa menontonnya.


"Brengsek kamu! Kalau sampai kau terbukti yang telah menculik putriku, aku tidak akan tinggal diam. Camkan itu!" Teriak ayah Davi menghempaskan tubuh Davin kasar.


Dia memang tidak punya bukti untuk menuduh pria yang katanya memiliki hubungan dengan putrinya itu. Saat mereka bertemu terakhir kali putrinya pernah memberi tahunya kalau dia mencintai orang lain.


Davin merapikan kerah jasnya yang kusut dengan tenang dibantu Fero. Fero masih diam tak berkomentar apapun. Entah apa yang direncanakan tuannya itu namun dia memilih untuk diam.


"Fero." Panggil Davin begitu mereka di dalam lift menuju ruang meeting.


"Ya tuan." Jawab Fero sopan.


"Perketat penjagaan di villa! Aku tak mau mendengar dia melarikan diri apapun caranya." Ucap Davin dengan nada tenang sarat akan sifatnya yang overprotektif dan obsesi.


"Baik tuan." Fero hanya mengangguk mengiyakan tanpa berani berkomentar.


'Aku tak akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku. Davi milikku selamanya tetap menjadi milikku apapun yang terjadi. Entah dengan cara apapun aku harus mendapatkannya. Kalau cara halus tidak bisa. Aku tak peduli jika harus dengan cara paksaan.' Batin Davin dengan senyum seringai di wajahnya, sambil membenahi dasinya yang terlihat miring.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2