
Davi membuka matanya saat mendengar pintu kamar tertutup dan suara orang-orang yang sejak tadi di kamarnya sudah tidak terdengar lagi. Dia menatap langit-langit kamar itu dengan tatapan mata kosong. Kejadian pagi tadi kembali melintas dalam benaknya.
Sesuatu miliknya yang berharga yang sudah dijaganya sejak kecil telah diambil paksa oleh pria yang bukan suaminya. Yang mengaku sangat mencintainya. Tapi sekarang dia menghilang dari sisinya.
"Hiks...hiks... ayah...ibu... tolong aku ibu!" Bisik Davi sambil menangkupkan wajahnya ke lututnya yang ditekuk.
Di tempat lain.
"Hah... hah...Davi!" Seru wanita itu yang terbangun dari tidurnya.
Sudah entah ke berapa kalinya ibu Davi pingsan karena belum mendapat kabar dari putrinya itu. Sejak semalam kemarin perasaannya tidak enak, tidak baik-baik saja. Seolah putrinya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Dan puncaknya pagi tadi. Tangannya tak sengaja menyenggol gelas di meja sampai jatuh ke bawah dan pecah.
"Ibu kenapa?" Tanya ayah Davi melihat istrinya lagi-lagi tersadar dalam keadaan histeris sambil menyebut nama putrinya.
Ayah Davi juga cemas, dia sudah meminta seseorang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Davi yang dipercayainya telah diculik seseorang. Namun sudah hampir tiga hari belum ada kabar sama sekali.
Sedang istrinya tampak tak bersemangat untuk melakukan apapun bahkan makan pun tidak berselera sama sekali. Tubuhnya mulai berkurang dan sedikit kurus karena memikirkan putri semata wayangnya.
"Davi yah, Davi... Davi dalam bahaya, kita harus menolongnya. Hiks...hiks..." Seru ibu Davi histeris sambil menggenggam lengan suaminya.
__ADS_1
Ayah Davi hanya menghela nafas panjang sambil menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Orang-orangku sedang mencari keberadaannya Bu, kita juga sudah menyerahkan pada polisi juga. Kita tunggu kabar mereka saja Bu. Kita juga tak tahu harus mencarinya kemana. Berdoa saja semoga dia baik-baik saja. Mungkin itu hanya bunga tidur." Hibur ayah Davi sambil mendekap tubuh istrinya.
"Tidah yah, aku yakin putriku tidak baik-baik saja. Dia merintih sambil menangis dan memanggil-manggil kita yah." Ucap ibu Davi sambil sesenggukan dengan deraian air mata.
Ayah Davi hanya terdiam, dia juga tak tahu harus apa dan bagaimana. Tidak banyak teman-teman Davi yang bisa memberikan petunjuk dimana putrinya berada. Putrinya juga tidak terlihat sedang diculik. Asumsi polisi bahkan menyimpulkan mungkin putrinya melarikan diri dari pernikahan yang tidak dikehendakinya dan memilih untuk melarikan diri.
Tapi dia sudah membantahnya mentah-mentah kalau putrinya bukan anak yang seperti itu. Dia sangat penurut dan menyayangi orang tuanya. Kalau memang putrinya menolak pernikahan tersebut pasti akan mengatakan padanya sebelum hari H pernikahan. Dia juga merasa bersalah pada calon besannya karena juga ikut mendengar asumsi polisi membuat hubungan keduanya menjadi canggung.
Bahkan pagi tadi keluarga calon besannya mengutarakan niatnya untuk membatalkan hubungannya. Dan mau tak mau ayah Davi mengiyakan karena dia tak tahu keberadaan putrinya dan tak bisa memastikan putrinya akan kembali baik-baik saja. Dan ayah Davi ragu kalau putrinya tidak baik-baik saja. Tapi apa yang harus dilakukannya selain hanya berdiam diri hanya menunggu informasi dari orang-orangnya.
'Kemana kau putriku?' Batin ayah Davi masih menepuk-nepuk punggung istrinya menenangkannya.
***
"Nona waktunya makan malam. Tadi sejak pagi anda belum makan." Ucap kepala pelayan sambil meletakkan nampan yang dibawanya ke meja dekat sofa ranjang.
Davi hanya terdiam tak meliriknya sama sekali. Dia masih menatap keluar jendela kamar itu meski pemandangan di luar sudah gelap dan tak nampak apapun.
__ADS_1
"Nona, saya mohon, tolonglah kami! Tuan muda akan marah jika kami tidak berhasil membujuk nona untuk makan walau hanya sedikit." Bujuk kepala pelayan dengan lemah lembut menarik perhatian Davi.
Namun Davi tetap tak bergeming di tempatnya sedikitpun. Dia sungguh tak punya semangat lagi dalam hidupnya. Setelah miliknya yang paling berharga direnggut paksa. Sungguh gak itu membuatnya tak mampu melakukan apapun. Seolah yang hendak dilakukannya berakhir sia-sia.
Bahkan dirinya mencoba bunuh diri namun selalu digagalkan para pelayan yang berjaga di luar pintu kamar. Awalnya Davi mengira tak ada seorang pun yang berjaga di luar pintu namun percobaan bunuh dirinya langsung mendapat pertolongan dari pelayan penjaga dan dia dapat diselamatkan.
Sudah lima hari sejak kejadian malam naas itu. Davi masih tetap tak berselera makan dan sering pingsan dan lemas. Entah kenapa orang tuanya tak berusaha mencarinya atau menemukannya disini. Dia juga sudah mencoba kabur, namun para pengawal sangat banyak di villa tersebut. Dan Davi langsung tertangkap untuk kedua kalinya.
Dan Davin sendiri entah kemana tak menunjukkan batang hidungnya sejak merenggut paksa kehormatannya. Seolah dia hanyalah barang yang sudah siap setiap saat akan dibuang begitu saja. Namun kenapa seolah-olah dia tak dibiarkan pergi dari villa itu. Davi meminta pelayan untuk menghubungi orang tuanya namun ditolak oleh para pelayan.
Davi dilarang menggunakannya atau apapun bentuk yang digunakan untuk menghubungi orang tuanya nanti.
Hingga Davi pun menyerah dan sejak pagi tadi tak menyentuh makanannya sedikitpun hanya berdiam diri di depan jendela kaca di kamar itu tanpa melakukan apapun. Seolah melakukannya pun percuma saja.
.
.
TBC
__ADS_1