
Matty membuka matanya, dirasakan di sampingnya ada pergerakan, dia menatap tersenyum melihat kedua orang tuanya tidur pulas saling berpelukan. Dia mengucek matanya perlahan untuk menajamkan penglihatannya.
Tak mau mengganggu, Matty masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya sendiri dan memakai pakaiannya sendiri. Untungnya papanya sudah menunjukkan di mana tempat pakaiannya.
Dia membuka pintu kamar perlahan agar tak membangunkan mereka dan pergi ke luar kamar untuk sarapan sendiri dengan ditemani pengawal yang semalaman berjaga di luar kamar.
Ji An merasa nyaman hingga semakin kencang mendekap erat tubuh Arthur. Arthur membalasnya juga tanpa sadar karena keduanya masih tertidur pulas. Entah kenapa keduanya merasakan saling nyaman dalam pelukan itu hingga masih pulas tertidur hingga matahari sudah menampakkan cahayanya.
Dalam mimpinya, Ji An merasa memeluk guling yang begitu menghangatkan tubuhnya. Entah sejak kapan dia tak ingat pernah merasa nyaman lagi seperti hari ini. Ah, nyaman sekali, aku tak mau bangun. Aku ingin terus tidur. Dan guling ini sangat nyaman. Tapi, kok agak keras yang gulingnya. Dan entah kenapa di bagian bawah belalainya sangat keras dan panjang.
Ji An semakin mengusapkan pahanya pada belalai itu tanpa sadar. Arthur yang merasakan tubuh bagian bawahnya bangun membuka matanya. Terasa nikmat, itulah yang dirasakan Arthur. Dia menatap wanita di sampingnya itu tersenyum padahal matanya masih terpejam rapat. Dengan pahanya menggesek-gesek belalainya yang semakin berdiri tegak.
"Jangan menggodaku sayang?" bisik Arthur.
Ji An malah tersenyum masih dengan mata terpejam. Tangan Ji An malah meraih belalainya.
"Oh, shit... jangan memancingku pagi-pagi sayang, atau aku tak akan melepaskanmu sekarang. Sudah lama belalaiku tak masuk ke tempatnya." bisik Arthur lagi menggeram menahan hasratnya dengan suara serak dan tanpa sadar mendesah.
Ah, kenapa semakin panjang dan tegak. Tunggu-tunggu, bukannya semalam aku tidur di sofa tanpa guling. batin Ji An membuka matanya perlahan, langsung menatap ke arah tangannya memegang. Oh no...shit. batin Ji An mendongak menatap wajah Arthur yang sudah berkabut gairah.
"Sudah kukatakan jangan memancingku pagi-pagi." bisik Arthur yang lebih mirip desahan.
__ADS_1
Ji An ingin melepaskan diri namun tubuh Arthur bergerak cepat menindih tubuh Ji An yang mungil.
"Art, a... aku ... bu...bukan begitu.. A...ku sung...guh... tidak sengaja... A... aku..."
"Tuntaskan dulu apa yang kau mulai sayang." bisik Arthur membuat tubuh Ji An merinding.
Arthur mencium bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan, tanpa sadar Ji An membalas ciuman itu dengan lembut pula.
"Art,... Matty..." desah Ji An disela ciumannya.
"Bahkan putra kita tahu apa yang kita butuhkan." Arthur mengecup lagi bibir itu rakus.
Sudah lama tak merasakannya membuat Ji An terbawa suasana dan membalas ciuman, ******* dan hisapan bibir Arthur. Desahan pun keluar dari mulutnya hingga Arthur melesakkan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Ji An dan membelit lidahnya.
Arthur menatap wanitanya yang sudah tak sabar ingin merasakan kenikmatan juga. Tapi Arthur masih setia menggesek-gesekkan di bibir bawah milik wanitanya membuat Ji An menatap frustasi karena Arthur tak kunjung melakukannya.
"Please, **** me..." bisik Ji An menggeram menunggu kenikmatan. Arthur tersenyum seringai menatap wanitanya.
"As you wish baby..." Arthur melu**mat lagi bibir merah Ji An dan penyatuan pun terjadi.
Ji An terlihat memejamkan mata merasa sedikit sakit di bawah tubuhnya namun hanya sebentar, dia akhirnya dapat menikmati permainan panas itu. Arthur merasakan hal yang sama seperti enam tahun lalu.. mungkin... untuk pertama kalinya juga dulu bagi Arthur, sekarang dia juga merasakan kenikmatan yang seperti baru pertama kali dilakukannya.
__ADS_1
Arthur terus menghentakkan dengan cepat hingga suara desahan keduanya memenuhi kamar hotel itu. Bahkan mereka tak sadar putra mereka sudah tak ada di samping mereka karena sedang mereguk kenikmatan dan saling merasakan tubuh mereka masing-masing yang sudah lama tak didapatkan oleh keduanya.
Sudah satu jam lebih, Arthur masih setia menghentak-hentakkan tubuhnya di atas Ji An. Menikmati kenikmatan yang baru saja didapatkan itu. Ji An, entah sudah ke berapa kalinya dia mendapatkan pelepasannya. Namun Arthur masih belum melepaskannya. Dia tampak menikmati dengan berbagai gaya.
Ji An hanya mengikuti sesuai perintah Arthur. Tubuhnya sudah merasa lelah. Namun Arthur tanpa ampun menggempurnya berkali-kali. Padahal sudah dua kali Arthur mendapatkan pelepasannya.
Tapi, terlihat masih saja belum puas. Bisikan Arthur tentang tak akan melepaskan dirinya sampai puas membuat tubuh Ji An merinding ngeri. Namun entah kenapa dia menikmatinya juga.
"Art, aku lelah..." lirih Ji An yang tak dihiraukan Arthur yang masih saja menghentak-hentakkan tubuhnya tanpa lelah.
"Kau yang memancingku sayang." jawab Arthur melu*mat lagi bibir Ji An lembut tapi menuntut.
TBC
.
.
.
Maafkan typo
__ADS_1
Beri dukungannya
Beri like, rate dan vote nya