
Su Jin bersiap untuk menuju kantor perusahaan Davin. Semalam Davin menghubungi ponselnya akan menempatkannya di bagian sekretarisnya nanti. Sesuai pekerjaannya yang ada di perusahaan di Kore* tempat asalnya. Su Jin menjadi sekretaris ayah Davin tuan Arthur selama di Kore*, itu pun atas rekomendasi dari ibunya yang sejak kecil selalu dititipi Davin sebelum pulang ke rumah kakeknya.
Sekarang karena dia sedang berpura-pura sebagai calon tunangan Davin demi menyatukan pasangan suami istri itu. Su Jin rela memendam perasaannya demi teman kecilnya itu. Su Jin tak percaya jika ada seorang wanita yang tidak mencintainya. Apalagi sudah menjadi suami istri. Su Jin mengira kemungkinan Davin salah paham tentang perasaan istrinya. Davin sendiri memang tidak terlalu peka terhadap perasaan siapapun kecuali orang-orang terdekatnya.
Maka sekarang Su Jin ada disini untuk meluruskan segalanya sekaligus membuat cemburu istri Davin untuk mengetahui perasaannya sekarang.
"Huff... semangat Su Jin ah, kau bisa. Meski kau harus memendam lagi perasaanmu terhadap Matty. Tidak.. mungkin aku harus membuang perasaan ini. Aku tak apa asal dia bahagia. Semangat!" Ucap Su Jin di depan cermin seluruh badan yang ada di dalam kamar tamu apartemen Davin sambil mengepalkan tangannya ke udara memberi semangat pada dirinya sendiri.
"Aduh... jangan sekarang! Aduh..." Su Jin mendekap perut bawahnya yang terasa sakit. Dia sudah bisa menebak kalau minggu ini sudah waktunya datang. Namun entah kenapa secepat ini harus datang, disaat hari pertamanya bekerja di perusahaan Davin.
"Sakit...aduh..." Lirih Su Jin terus menekan perutnya sambil membaringkan tubuhnya perlahan di ranjang. Karena tidak tahan, Su Jin berbaring melingkar di perutnya.
Ting tong ting tong
Suara bel pintu apartemen berbunyi. Su Jin hanya bisa terdiam tak mampu menjawab atau beranjak untuk membuka pintunya.
"Sebentar..." Bisik Su Jin lemah. Dia ingin minta tolong tapi dia tak mampu bergerak karena sakit di perutnya.
Keringat dingin terus keluar dari kening Su Jin. Namun satu tangannya terus mendekap perutnya dan tangan satunya meremas sprei untuk meredakan rasa sakitnya.
***
Sementara itu Fero yang gelisah di luar pintu apartemen. Dia bimbang antara ingin masuk atau tidak dengan pengetahuannya tentang password pintu apartemen itu. Namun dia tak mau lancang. Tapi jika dia di dalam pasti mendengar suara bel pintu dan segera keluar.
Fero mondar-mandir di luar pintu berpikir sejenak.
"Setidaknya aku harus memastikan dia baik-baik saja." Guman Fero mulai menekan password pintu apartemen itu.
Tit tit tit tit tit tit
Enam digit angka dimasukkan dalam password pintu apartemen itu dan bunyi pintu terbuka.
Su Jin tersentak kaget mendengar suara pintu depan apartemen terbuka karena dia hapal betul jika pintu terbuka.
"Apa itu Matt?" Guman Su Jin, tapi semalam Davin mengatakan padanya kalau dia akan meminta seseorang untuk menjemputnya karena dia sibuk dengan pekerjaannya dan tidak bisa menjemput.
Tap
__ADS_1
Tap
Tap
Langkah kaki Fero menelusuri semua ruangan yang dilewatinya memindai masing-masing tempat untuk menemukan penghuninya yang belum pernah dilihat wajahnya sama sekali. Dia tak peduli menerobos masuk. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan orang yang mungkin dianggap penting oleh tuannya. Dia harus memastikan pekerjaannya sempurna.
"Excuse me!" Seru Fero tak ada jawaban. Hening di dalam apartemen itu.
"Hei!" Ucap Su Jin sambil meringis karena memaksakan untuk berteriak.
Samar-samar Fero mendengar suara.
"Excuse me! Any body home?" Seru Fero lagi masih terus berjalan menelusuri setiap sudut unit apartemen.
"Hei.." Seru Su Jin berteriak lebih kencang meski masih lirih.
Fero mempercepat langkahnya mendengar samar-samar suara parau. Pikiran buruk menghantuinya. Dia merasakan cemas dan panik bersamaan kalau-kalau terjadi sesuatu dengan penghuni apartemen tuannya.
"Kau dimana?" Seru Fero membuka pintu kamar utama namun kosong. Fero berjalan ke kamar tamu yang ada di depan pintu kamar utama.
Cklek
"Anda tidak apa-apa nona?" Tanya Fero cemas langsung nyelonong masuk mendekati Su Jin. Dia sudah tidak peduli kalau dia dikatakan lancang. Dalam pikirannya hanya berusaha untuk menolong secepatnya.
"Sakit." Bisik Su Jin lirih yang masih bisa di dengar Fero.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Jawab Fero tegas sambil hendak membopong tubuh Su Jin.
"Jangan!" Su Jin mencegahnya sambil menggenggam pergelangan tangan Fero erat.
"Tapi?"
"Ambilkan air hangat dan handuk! Cepat!" Titah Su Jin menahan sakit di perutnya yang semakin sakit.
"Baik. Sebentar." Jawab Fero beranjak menuju dapur melakukan apa yang diminta Su Jin.
Tak sampai lima belas menit, Fero membawa air hangat di baskom dan handuk bersih ditangannya.
__ADS_1
"Tolong kompres perutku!" Pinta Su Jin sambil tetap meringis kesakitan.
"Apa?" Seru Fero tanpa sadar mundur ke belakang mendengar permintaan Su Jin.
"Tak apa. Kumohon!" Pinta Su Jin dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan kesakitan.
"Tapi itu... berarti..."
"Cepat! Sakit... aduh..." Fero menelan ludahnya kasur, suara kesakitan Su Jin entah kenapa terdengar seperti ******* di telinga Fero. Fero segera menyingkirkan pikiran-pikiran kotornya dan melakukan apa yang dikatakan gadis itu.
Su Jin membuka kancing pakaiannya untuk memudahkan Fero mengompres perutnya langsung. Fero yang melihat kelakuan Su Jin wajahnya langsung memerah karena malu. Terpapang nyata di hadapannya, perut mulus putih tanpa cela membuat Fero seketika meneguk ludahnya kasar. Sontak Fero langsung membuang pandangannya ke arah lain.
"Disini, rasanya sangat nyeri." Tunjuk Su Jin tanpa rasa bersalah dan dia tak sadar dengan kelakuan spontanitasnya karena kesakitannya.
"Ah, i.. itu..." Fero kehilangan kata-kata mendengar titah Su Jin. Dia menatap wajah Su Jin yang terus-terusan meringis kesakitan sambil menahan untuk diredakan sakitnya oleh Fero.
Fero yang tak tega melihat wajah kesakitan Su Jin membuang pikiran mes*mnya.
Ini demi kemanusiaan, ini hanya pertolongan pada pasien. Batin Fero meletakkan handuk basah air hangat tadi meletakkan perlahan ke atas perut Su Jin. Dan tentu saja mata Fero tertutup rapat sambil sesekali melirik dengan satu matanya untuk meletakkan handuk itu di tempat yang pas. Fero menahan nafasnya untuk tidak terlihat gugup dan mes*m.
"Terima kasih. Ini lebih baik." Ucap Su Jin menghela nafas lega merasakan perutnya lebih baik. Namun dia merasakan sesuatu yang mengalir... entahlah.
"Sudah lebih baikkah?" Tanya Fero ikut bernafas lega setelah melakukan pertolongan pertama tersebut.
"Boleh aku minta tolong sekali lagi?" Pinta Su Jin memelas menatap Fero penuh harap.
"Kalau bisa akan kulakukan." Jawab Fero yakin.
"Bisa...ehm... belikan aku pembalut?" Wajah Su Jin yang sudah memerah karena kesakitan kini semakin merah saja. Dia... sungguh-sungguh sangat malu sekarang. Kalau saja keadaannya tidak mendesak mungkin dia tak akan minta pertolongan.
"Ya?" Fero terdiam mencerna ucapan Su Jin.
"Ah?" Fero sontak menutup mulutnya mengetahui barang apa yang dimaksud Su Jin.
"Tentu." Fero langsung keluar dari dalam kamar dengan wajahnya yang sangat-sangat memerah. Su Jin pun juga sama dia merutuki dirinya yang benar-benar tidak mampu melakukannya.
.
__ADS_1
.
TBC