Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 33


__ADS_3

Davin menatap keluar jendela pesawat pribadinya. Karena masalah proyek di luar negeri miliknya. Davin segera bergegas menuju kesana. Bahkan dia sudah melupakan masalahnya dengan istrinya. Dia juga tidak sempat pamit atau menghubungi istrinya karena keadaan darurat ini. Saat dia menghubungi pihak penanggung jawab proyek disana, kabar yang didengarnya sungguh mencengangkan. Ketua proyek melarikan diri setelah mendengar kebakaran yang tentunya dialah sumber biang kesalahan.


Kekesalan yang sudah mulai mereda tadi kini kembali naik ke ubun-ubun membuatnya mengeraskan rahang dan mengepalkan tangannya kesal ingin menemukan orang itu dan menghancurkan wajahnya hingga babak belur sekalian melampiaskan kekesalannya yang sudah mencapai batas.


***


"Bagaimana keadaan sekarang?" Tanya Davin saat pesawat tiba di bandara dan sudah ada orang kepercayaannya yang menjemputnya.


"Tersangka masih dalam pencarian, keberadaan sementara ada di desa XY dan orang-orang kita sudah tiba disana satu jam lalu." Jelas pria itu.


"Dan keadaan proyek?"


"Sudah dievakuasi semua, beruntung tidak ada korban jiwa. Kerugian berkisar mencapai hampir satu M. Dan syukurnya itu sudah diasuransikan dan pihak terkait sedang mengurusnya." Jelasnya lagi membuat Davin menganggukkan kepalanya paham. Kemarahannya sedikit mereda mendengar keadaan bisa stabil sebelum dia turun tangan.


"Dia tak tahu tentang asuransi itu?" Tanya Davin saat perjalanan menuju lokasi proyek. Pria kepercayaannya yang ikut duduk di samping kursi sopir tadi menjelaskan lagi.


"Sepertinya tidak tahu tuan, kalau dia tahu mungkin dia tidak akan melarikan diri."


"Apa pemicu sementara terjadinya kebakaran?"


"Dugaan sementara karena puntung rokok yang dibuang sembarangan olehnya. Sehingga dia merasa bersalah dan tak mungkin mengganti kerugian dari kerusakan tersebut sehingga memilih untuk melarikan diri setelah melihat api membesar." Jelas pria itu lagi dengan lancar. Davin mengangguk-angguk mengerti. Dia menatap ke luar jendela mobil. Tampak wajahnya sudah mulai tenang dengan amarah yang sudah hilang dari wajahnya.


***

__ADS_1


"Nyonya tidak apa-apa?" Tanya kepala pelayan menatap wajah Davi yang memucat pagi itu. Davi hanya menggelengkan kepalanya lemah. Dia pun beranjak dari ranjang. Sudah seminggu lebih Davin tidak menunjukkan batang hidungnya di villa. Dia juga tak mendengar kabar baik dari kepala pelayan atau orang-orang yang ada di villa, seolah mereka dilarang untuk mengatakan tentang keberadaan Davin yang entah kemana.


Kepala pelayan yang melihat keadaan Davi yang semakin lemah merasa kasihan. Nafsu makannya juga berkurang drastis dan tubuhnya yang sudah kurus semakin kurus saja. Kepala pelayan ingin memanggil dokter, tapi dia tak berani sebelum ada perintah dari sang tuan muda.


Brukk


"Nyonya!" Teriakkan kepala pelayan terasa menggelegar di dalam kamar membuat dia spontan berteriak dan mendekati tubuh Davi yang terjatuh pingsan di lantai.


"Hubungi dokter wanita yang waktu itu!" Titah kepala pelayan sambil meminta pelayan lain membantu membopong tubuh Davi ke ranjang.


"Baik nyonya."


Tak sampai setengah jam dokter wanita yang pernah memeriksa keadaan Davi saat keguguran itu datang. Dia memeriksa dengan teliti, sudah lebih dari dua bulan dia kembali datang ke villa milik tuan muda itu untuk memeriksa wanita yang sama lagi. Terakhir dia melihat Davi tubuhnya sudah kurus dan sekarang semakin kurus. Sungguh dokter itu merasa miris melihat keadaannya.


"Tidak tahu dok, tuan muda sudah lebih dari sepuluh hari belum ada kabar." Jawab kepala pelayan menyesalkan hal itu.


"Huff... Aku harus segera bertemu dengan tuan muda sebelum keadaan semakin gawat. Apa nyonya tidak bernafsu makan?" Tanya dokter itu.


"Oh iya, sudah lebih dari sepuluh hari itu nyonya makan dengan enggan. Beliau juga hanya makan sedikit. Setiap makan lebih banyak pasti akan langsung dimuntahkan." Jawab kepala pelayan. Dokter hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.


"Kondisinya masih stabil untuk saat ini, tapi saya tidak bisa bilang baik-baik saja. Nyonya saat ini sedang hamil. Dan keadaan ini akan semakin membahayakan jika dia tidak mendapatkan perawatan medis yang maksimal dapat berdampak pada bayinya lagi." Jelas dokter itu membuat kepala pelayan antara bahagia dan sedih.


"Jadi bagaimana sebaiknya dok?" Tanya kepala pelayan menatap dokter penuh harap.

__ADS_1


"Tentu saja nyonya harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Tubuh nyonya sangat lemah dan kurang asupan gizi. Bayinya juga akan dalam bahaya melihat keadaan nyonya yang tertekan dan stress. Saya tidak akan bisa menjamin keselamatan keduanya dalam waktu dekat terutama bayinya sangat rentan keguguran." Jelas dokter membuat wajah kepala pelayan pucat ketakutan. Tuan mudanya pasti akan menyalahkannya karena dialah yang bertanggung jawab atas keadaan sang majikan.


"Saya tak bisa memutuskannya tanpa izin tuan muda dok? Apa yang harus saya lakukan?" Tanya kepala pelayan kebingungan antara takut, kasihan dan bingung.


Dokter menghela nafas panjang, dia juga tak bisa sembarangan bertindak. Dia mengenal betul perilaku sang tuan muda, amarahnya seolah siap meledak setiap saat setiap waktu meski itu hal sepele.


"Aku akan coba hubungi tuan muda kalau tidak bisa asistennya, kalau mereka tetap tak bisa dihubungi. Atas dasar kemanusiaan dan janji saya sebagai dokter untuk menyelamatkan pasien siapapun dia. Aku akan membawa nyonya ke rumah sakit. Urusan tuan muda aku yang akan menghadapinya nanti." Ucap dokter itu yang diangguki antusias oleh kepala pelayan. Dia juga kasihan pada Davi yang terlihat tertekan dengan paksaan di dalam villa itu.


.


.


TBC


Hai pembaca setiaku


Baca juga dan jadikan favorit ya


Karya baruku



Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2