Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 7


__ADS_3

Arthur membuka mata perlahan, mengerjap sebentar, dia berada di kamar pribadi ruang kerjanya. Ya, ruang kerja Arthur dilengkapi sebuah kamar untuknya istirahat jika terpaksa lembur yang tak bisa ditinggal pulang. Dia terduduk di tepi ranjang. Selalu saja memimpikan hal sama, siapa mereka? batin Arthur.


Dia segera masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya itu membersihkan diri untuk segera melanjutkan pekerjaannya. Apalagi nanti ada rapat pemegang saham yang sudah ditunda beberapa hari ini.


Arthur duduk di kursi kebesarannya memulai melakukan pekerjaannya meski belum waktunya jam kerja dimulai, dia ingin pekerjaannya segera menyelesaikan pekerjaannya. Dia sudah segar kembali setelah mandi dan ganti baju.


Ya, semua perlengkapannya memang sudah disiapkan di dalam kamar pribadi itu termasuk pakaian perlengkapannya. Agar dirinya tak kesulitan jika saat terpaksa harus menginap di kantor.


Waktunya sudah menunjukkan pukul delapan pagi, waktu jam kerja dimulai. Para karyawan pasti sudah mulai masuk ke ruangan masing-masing. Arthur mengambil ponselnya menghubungi orang kepercayaan itu.


Dalam percakapan di ponsel.


Arthur : "Kau dimana?" seru Arthur tanpa menjawab sapaan Zein.


Zein : "Saya sedang perjalanan untuk meeting dengan klien tuan?" Arthur memang menyuruhnya kemarin untuk menemui klien itu. Karena Arthur sedang malas dan ingin segera menyelesaikan pekerjaannya saat ini.


Arthur : "Apa kau tak ke kantor dulu?"


Zein : " Maaf tuan, klien itu sudah menghubungi saya untuk memajukan jam pertemuan, karena mereka akan segera kembali ke negara mereka siang ini juga. Jadi saya langsung ke lokasi pertemuan. Maaf tuan."


Arthur : "Shit... Baiklah. Lanjutkan saja!"


Arthur menutup ponselnya, dia merasa lapar sekarang, biasanya Zein dengan cekatan menyiapkan sarapan sarapannya jika dia menginap di kantornya. Arthur ganti meraih telepon kantor menghubungi sekretarisnya, sebenarnya dia malas menyuruh sekretarisnya ini, karena genit dan selalu merayunya.


Dalam percakapan telepon.


Vina : "Ya tuan?"tanya Vina sang sekretaris genit.


Arthur : "Bawakan aku kopi!"


Vina : "Baik tuan."


Vina dengan senang hati menerima perintah sang bos, dia segera menuju pantri atau menyuruh salah satu OB untuk membuatkan kopi. Karena tak mungkin dirinya membuat sendiri. Jika dia sendiri yang membuat apa tugas OB.


"Ini nona kopi pesanan anda." ucap salah seorang OB meletakkan di meja Vina.


"Pergilah!" usir Vina pada OB itu dengan melambai tangannya ke udara tanda pengusiran.

__ADS_1


Vina berdiri, membenahi kemeja ketatnya dan rok span ketatnya. Dia mau melancarkan aksi rayuannya lagi pada sang bos karena kemarin-kemarin dia tak punya celah karena selalu ada asisten pribadi sang bos. Namun hari ini sepertinya asisten sang bos belum datang juga. Vina mengetuk pintu ruang kerja bosnya.


"Masuk!" seru Arthur dengan suara dingin dan datarnya. Namun hal itu tak menyurutkan Vina untuk menggoda sang bosnya.


"Kopinya tuan?" tawar Vina dengan nada dibuat semenggoda mungkin.


Arthur tak menoleh karena tahu apa yang dilakukan sekretarisnya itu pasti tengah menggodanya dengan suara yang dibuat-buat.


Arthur merasa jengah sebenarnya, namun Zein sekarang tak ada. Kalau bukan karena pekerjaan Vina yang sangat baik, Arthur pasti akan menyuruh Zein untuk memecat gadis ini. Ya, Vina masih gadis tapi entahlah!


"Taruh di meja saja! Dan pergilah!" seru Arthur masih sibuk dengan pekerjaannya tanpa menoleh menatap Vina.


"Baik tuan." Vina maju mendekati meja bosnya, meletakkan perlahan di meja namun... syur... kopi itu tumpah mengenai celana Arthur.


Dan dia sontak berdiri karena terkejut dengan tumpahan kopi panasnya yang sepertinya sengaja ditumpahkan oleh Vina.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Arthur dengan suara yang menggelegar menatap Vina dengan raut wajah penuh amarahnya.


"Maaf tuan maaf, saya tidak sengaja." seru Vina berpura-pura merasa bersalah padahal sengaja, dia segera meraih tisu di saku kemejanya dan mengusap celana bagian paha Arthur yang basah dengan gerakan menggoda.


Arthur bukan pria yang munafik namun dia juga mampu mengendalikan dirinya untuk tidak tergoda karena kerah kemeja Vina terpapang nyata di depannya saat dirinya menoleh menatap Vina yang tengah berlutut di sisi kanan kakinya mengelus pahanya dengan sengaja.


"Keluar!" seru Arthur menunjuk pintu ruangannya.


"Maafkan saya tuan, biar saya yang membersihkannya."jawab Vina masih mengusap paha bosnya dengan gerakan yang sensual dan dengan sengaja Vina menyentuh adik kecil Arthur dan spontan Arthur menjengit kaget dan melepaskan kakinya dengan kasar membuat Vina terdorong ke belakang dengan posisi duduk dan shit... itulah umpatan Arthur karena tak sengaja melihat ****** ***** g-string milik Vina yang menantangnya.


"Keluar!" teriak Arthur menggelegar yang ditanggapi Vina dengan biasa saja. Namun Arthur sudah mulai meradang.


"Maaf tuan." jawab Vina masih berusaha merayu bosnya.


"Keluar dan besok bawa surat pengunduran dirimu sebelum aku memecatmu!" titah Arthur meski tidak dengan nada berteriak, mampu membuat Vina gemetaran ketakutan.


"Maafkan saya tuan. Maaf, saya .... saya bersalah, saya membutuhkan pekerjaan ini." Vina memohon dengan sangat.


Selama ini dia menggoda sang bos karena kemarin-kemarin bosnya tak akan pernah memecatnya karena pekerjaannya terbilang baik. Namun sekarang dari tatapan matanya, Arthur sepertinya tidak bercanda.


"Keluar!" seru Arthur lagi.

__ADS_1


Vina dengan berderai air mata keluar pergi meninggalkan ruangan sang bos yang wajahnya sudah memerah karena amarah.


"Oh shit.." umpat Arthur merasakan adik kecilnya menegang dan dia masuk ke dalam kamar pribadinya untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.


Bahkan dia harus menuntaskan hasratnya karena sangat sesak di dalam sana. Dan entah kenapa bayangan Ji An terlintas di benaknya.


"Oh shit..." umpat Arthur kesal.


**


"Tuan, setengah jam lagi meeting dimulai." ucap Zein yang sudah tiba di ruang kerja Arthur setelah dua jam menemui klien di luar kantor. Zein menatap wajah tuannya tidak sedang baik-baik saja.


"Zein..." panggil Arthur dengan suara dingin dan tatapan yang tajam padanya.


Oh, my. Aku tak tahu apa kesalahanku, kenapa tuan terlihat menyeramkan saat ini. batin Zein.


"Ya tuan."


"Ganti sekretarisku dengan pria, besok!" titah Arthur dingin.


"Ya? Tapi tuan...!"


"Tidak ada bantahan." seru Arthur menggelegar.


"Baik tuan." jawaban final Zein meski di benaknya memikirkan apa kesalahan sekretarisnya sekarang.


Ah, apa Vina mencoba merayu bosnya lagi saat dirinya tak ada. Sial, kau sudah kuperingatkan jangan sekali-kali merayu tuannya jika tak mau hal ini terjadi. Pasti sudah sangat keterlaluan Vina sampai tuannya tak mau mendengar alasan apapun. batin Zein masih menunggu sang tuan untuk segera ke ruang meeting.


TBC


.


.


.


Maafkan typo

__ADS_1


Beri dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


__ADS_2