Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 6


__ADS_3

Sudah dua hari mereka mengurus pekerjaan di pulau B. Dan sore hari ini Davin memutuskan untuk pulang. Dan Fero tetap tinggal mengurus sisanya. Davi membereskan semua barang-barangnya dalam koper, begitu juga dengan barang-barang Davin tentu saja atas perintah Davin.


Davin masih berada di kantor menyerahkan semua sisanya pada Fero untuk diselesaikan dulu sebelum pulang juga mungkin masih beberapa hari ke depan.


"Ah, capeknya." keluh Davi membaringkan tubuhnya sejenak di ranjang kamar Davin setelah membereskan barang-barang Davin dan juga barang miliknya. Davi melirik jam dinding kamar menunjukkan pukul dua siang.


"Hmm... koper sudah, tiket sudah, apa lagi ya?" guman Davi masih berbaring berpikir sesuatu yang mungkin terlupakan.


"Masih ada waktu sampai jam enam sore." gumannya.


Tanpa sadar Davi tertidur pulas di ranjang kamar Davin. Saat Davin kembali ke kamar, Davin mengernyitkan dahi melihat Davi yang tertidur pulas di kamarnya. Setelah di tepi pantai malam itu. Meski belum mendapatkan Davi seutuhnya, Davin sudah berani meninggalkan kissmarknya di dada kembar Davi meski Davi tampak agak keberatan.


Dan sekarang Davin ingin mengerjai gadisnya ini. Davin membuka blouse atasan Davi dengan membuka satu persatu kancingnya. Yang bahkan tak membuat Davi terbangun malah terlihat menikmati.


"Dasar gadis nakal. Jika seseorang menggerayangimj seharusnya kau bangun. Kau bahkan tak bergerak sedikitpun saat aku menjamah tubuhmu. Bagaimana kalau ada yang berusaha memperkosamu." guman Davin tersenyum menatap wajah Davi yang imut dan cantik.


Davin melanjutkan aksinya. Membuka blouse itu setelah melepas kancingnya hingga terpapang gundukan dada kembar di balik bra merah itu. Menarik ke atas bra itu dan menyembulah hal yang diinginkan Davin. Davin mengelus tubuh terbuka itu malah terdengar desahan dari bibir Davi.


Semakin membuat Davin bersemangat. Bibirnya menelusuri leher Davi, turun ke leher meninggalkan kissmark, turun ke dada yang pu*tingnya mencuat tegang membuat Davin tak sabar untuk mengu*lumnya bergantian. Desahan dalam tidur dari bibir Davi semakin mengangkat tubuhnya untuk meminta lebih pada Davin.


Tentu saja hal itu tidak disia-siakan oleh Davin. Dia mengu*lum, menji*lat dan mengigit kecil pu*tingnya dengan tangan lainnya mere*mas dada lainnya. Tak lupa kissmark bertebaran di kedua dada kembar Davi. Davin melepaskan setelah sesuatu di bawah tubuhnya menggeliat meminta dibebaskan.


"Shit..." umpat Davin segera melepaskan kesenangannya.


Dia sudah berjanji tidak akan melakukan lebih sebelum mereka menikah. Dan Davin menghormati keputusan Davi. Davin segera membenahi blouse Davi yang sempat diberantakan dan dia pun masuk ke dalam kamar mandi menuntaskan hasratnya yang sudah tak bisa dibendung lagi.


***


Kini keduanya sudah sampai di bandara kota mereka setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat jam.


Davi masih belum menyadari apa yang terjadi pada tubuhnya. Tadi dia hampir saja terlambat dan mandi cepat dan ganti baju cepat-cepat agar tak ketinggalan pesawat. Karena Davin sengaja membangunkannya sedikit mepet ingin melihat reaksi Davi. Dan ternyata saking tergesa-gesanya Davi tak menyadarinya.


"Davi..." teriak seseorang dari kejauhan membuat keduanya mematung.


"Gio.." bisik Davi lirih membuat Davin mengepalkan tangannya erat dan rahangnya juga mengeras tak suka melihat pria yang menghampiri Davi.

__ADS_1


"Kau menjemputku?" tanya Davi gugup melirik Davin yang terlihat marah.


"Tentu. Aku merindukanmu." bisik Gio sambil mengecup kedua pipi Davi bergantian semakin membuat Davin meradang.


Kalau saja tak ingat tentang ucapan Davi kemarin, Davin pasti akan menghajar pria yang mengaku kekasih dari gadisnya ini. Davi kemarin menerima cintanya dan berjanji akan mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya dulu. Meski keberatan Davin menyetujuinya asal keduanya bisa bersama.


"Oh ya, kenalkan, dia bosku. Davin." ucap Davi memperkenalkan Davi.


"Davin?" Gio mengernyitkan dahi heran melihat nama bos kekasihnya hampir sama.


"Davin." Davin mengulurkan tangannya berkenalan meski merasa panas di dadanya melihat tangan Gio satunya bertengger di bahu Davi, gadisnya.


"Gio." Gio menerima uluran tangan Davin.


"Maaf pak. Saya pulang dulu!" pamit Davi sambil menundukkan kepalanya memberi hormat yang melihat rona wajah Davin memerah menahan amarahnya. Davin hanya tersenyum.


"Ah, sial..." umpat Davin melihat kemesraan Gio pada Davi.


'Kau akan terima hukumanmu.' pesan yang dikirim Davi membuat Davi bergidik ngeri.


"Siapa?" tanya Gio sibuk menyetir melihat Davi membaca pesan.


"Oh."


***


"Ibu..." seru Davi begitu tiba di rumah.


"Davi, tumben pulang kemari!" ucap ibu Davi.


"Aku merindukan ibu. Oh ya, dimana ayah?" tanya Davi menatap sekeliling rumah.


"Ada apa?" sela ayah Davi muncul dari dalam kamar.


"Ayah." Davi ganti memeluk ayahnya.

__ADS_1


"Kau tak akan pulang jika tak ada perlu ya?" Davi cengengesan.


"Kau dengan siapa?" tanya ayah Davi.


"Dengan Gio." jawab Davi sambil mengambil minuman untuk Gio.


Mereka pun mengikuti Davi ke ruang tamu yang sudah ada Gio.


"Selamat malam om, tante." sapa Gio menyalami ayah dan ibu Davi.


"Bagaimana kabarmu Gio?" tanya ayah Davi.


"Saya baik om." jawab Gio.


"Bagaimana pekerjaanmu?"


"Masih belajar om. Tapi sudah mulai lancar."


"Saya..ingin mengatakan sesuatu om, tante." jawab Gio ragu-ragu. Davi sedang meletakkan kopernya di kamar dan berganti pakaian.


"Katakan saja!" jawab ayah Davi.


"Saya selain mengantar Davi, saya ingin melamar Davi untuk menjadi istri saya." ucap Gio lancar tapi dadanya berdetak kencang karena gugup. Gio menunduk menunggu reaksi dan jawaban orang tua Davi.


Bruk...


Toples makanan yang dibawa Davi jatuh saat dirinya akan membawanya ke ruang tamu untuk Gio. Davi sangat gugup, bukankah dia akan memutuskan hubungannya dengan Gio karena dia mencintai Davin? Kenapa Gio malah melamarnya pada orang tuanya? Davi gugup mengambil toples makanan itu.


"Ini kue yang dibuat ibu." ucap Davi gugup.


"Kau sudah bilang pada Davi, Gio?" tanya ayah Davi yang melihat gelagat ragu pada Davi.


"Saya sudah mengatakan padanya saat baru tiba dari London." jawab Gio membuat Davi semakin ikut meremas kaosnya. Ayah Davi menatap Davi yang menunduk tak berani menatap orang tuanya.


"Kami perlu bicara dengan Davi. Dan asal kalian sama-sama sudah cocok. Om hanya bisa merestui. Itupun kembali pada keputusan Davi." jawab ayah Davi yang membuat Davi mendongak menatap ayahnya yang juga balas menatapnya seolah Davi ragu.

__ADS_1


"Terima kasih om, terima kasih." Gio bersorak senang. Davi terdiam menatap kedua orang tuanya.


TBC


__ADS_2