
Davi duduk di tepi ranjang dengan gelisah. Dia tak tahu akan diapakan setelah dia mandi dan ganti baju. Para pelayan tadi juga sudah meninggalkan dirinya sendiri di kamar tersebut. Karena perutnya terasa lapar, Davi mau tak mau memakan sarapan yang diberikan pelayan tadi. Setelah selesai makan, Davi kembali gelisah entah apa yang terjadi pada dirinya nanti.
Dia sudah memakai pakaian tidur berbahaya satin dengan tali spaghetti di bahunya dengan jubah tipis menutupi piyama satin tersebut. Seolah dia akan tidur saja. Davi merapatkan jubah piyamanya tersebut serapat mungkin agar tidak terlihat jelas bentuk lekuk tubuhnya yang transparan dari bahan tersebut. Davi semakin takut dan gelisah. Permintaannya untuk keluar kamar dan berbicara baik-baik pada Davin ditolak oleh para pelayan.
Dia hanya diminta untuk tetap di kamar dan menunggu kedatangan Davin itu sendiri. Namun sudah hampir satu jam lebih dia menunggu tak ada tanda-tanda Davin akan mendatanginya ke kamar untuk menemuinya. Bahkan pintu kamar dikunci dari luar membuat Davi benar-benar terkurung di dalam kamar asing itu.
Davi semakin takut. Takut jika Davin melukainya dirinya atau salah seorang pengawal yang mengawasi villa mewah tersebut. Terlihat dari luar jendela banyak para pria kekar berjaga. Davi semakin gelisah saat mengingat kedua orang tuanya pasti mencemaskannya karena menghilang dari pesta pernikahan, bukan menghilang, tapi dia tak pernah datang karena keburu dibawa paksa oleh seorang pria tak dikenal.
"Sudah selesai tuan." Kepala pelayan pengurus villa tiba setelah menyelesaikan tugasnya sesuai permintaan tuannya.
Davin yang baru selesai menerima panggilan menatap kepala pelayan tersebut.
"Aku harus pergi, jaga dia jangan sampai melarikan diri. Kau yang akan bertanggung jawab!" Titah Davin menatap datar dan dingin.
Davin pun meninggalkan villa setelah menatap jendela kamar tempat Davi berada.
Kalau saja meeting pagi itu tidak mendesak, dia pasti lebih memilih berduaan dengan kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi miliknya itu.
***
"Bagaimana kabar dari kepolisian pak?' Tanya ibu Davi sambil menangis cemas di dalam rumah mereka.
"Mereka masih belum bisa memprosesnya karena belum dua puluh empat jam Bu." Jawab ayahnya semakin membuat istrinya menangis sedih.
"Kasihan putri kita yah, apa yang diinginkan penculik itu?" Gelisah ibu Davi.
"Kita tidak punya bukti kalau itu adalah penculikan Bu, bisa jadi putri kita yang melarikan diri dari pernikahan dengan cara menyamarkan sebagai penculikan." Ucap ayah Davi, dia kembali berpikir tentang beberapa hari ke belakang.
"Kasihan putri kita yah, jika dia benar-benar diculik." Rengek ibu Davi menangis sesenggukan.
"Bu, apa ibu melihat gelagat aneh Davi sebelum pernikahan?" Tanya ayah Davi menatap istrinya lekat.
Ibu Davi sontak menghentikan tangisannya. Dia kembali teringat saat tiga jam sebelum pernikahan dimulai. Davi terlihat merenung muram di dalam kamarnya.
"Ibu tahu sesuatu?" Desak ayah Davi curiga dengan istrinya yang terlihat serius berpikir.
"Ibu tidak yakin yah." Jawab ibu Davi ragu.
"Memangnya ada apa Bu?" Tanya ayah Davi.
"Sebelum pernikahan dimulai, Davi terlihat murah ya, kupikir karena gugup dengan pernikahannya." Jawab ibu Davi tak yakin.
"Apa dia terlihat hendak kabur dari pernikahannya?" Tanya ayah Davi semakin cemas mendengar kecurigaan ibu Davi.
"Tak mungkin yah, Davi tak mungkin mempermalukan orang tuanya." Bela ibu Davi mengelak dari kecurigaannya.
"Tapi nyatanya?" Sembur ayah Davi sedikit kesal.
__ADS_1
"Bagaimana kalau benar-benar diculik pa, lagipula dia mau kabur dengan siapa dan kemana?" Tanya ibu Davi yang diangguki pula oleh ayah Davi.
"Ibu tahu siapa pria yang dimaksud Davi saat itu Bu?" Tanya ayah Davi mencurigai sesuatu.
Ibu Davi kembali menerawang ke belakang beberapa hari saat lamaran Gio yang tidak langsung diterima oleh Davi karena sepertinya Davi memiliki seseorang yang lebih berarti bagi Davi sendiri.
"Dia pernah bilang atasannya begitu yah." Jawab ibu Davi membuat ayah Davi tersentak.
"Tak mungkin dia kabur dengan pria kaya itu Bu, atasan Davi seorang pria kaya yang tak mungkin kekurangan wanita kan Bu." Ibu Davi mengangguk-angguk mengiyakan pendapat suaminya.
"Lalu sekarang dimana Davi yah?" Tanya ibu Davi kembali histeris.
***
Davi masih berbaring tertidur pulas saat kepala pelayan mengantarkan makan siangnya ke kamar. Davi langsung tersentak bangun saat ada suara berisik di dalam kamar. Davi spontan merapatkan jubah piyama tipisnya merasa malu karena terlalu terbuka di bagian pahanya.
"Silahkan makan siang nona!" Ucap kepala pelayan itu menunduk sopan.
"Dimana Davin?" Bukan jawaban yang dikatakan Davi malah beralih bertanya.
"Tuan sedang ada perlu penting nona." Jawab kepala pelayan itu sopan.
"Aku... aku ingin memberi kabar pada orang tuaku. Bolehkah aku pinjam telepon atau ponsel mungkin?" Pinta Davi memelas menatap pelayan itu.
"Maaf nona. Kami tidak bisa melakukannya." Sesal pelayan itu.
Prang... grumpyang...
Davi mendorong meja makanan yang dibawa pelayan itu kasar. Dia mulai mengamuk dan tak sabaran karena tak tahu kepastian bagaimana dirinya nanti. Makanan pun berantakan di dalam kamar namun Davi sudah tak peduli lagi.
"Pergi! Keluar kalian! Pergi!" Teriak Davi histeris sambil menatap nyalang para pelayan.
Mereka semua pun terpaksa meninggalkan kamar setelah membereskan kamar setelah mendapat amukan dari Davi.
"Hiks...hiks...hikss..." Tangisan Davi terus terdengar putus asa di dalam kamar.
Sambil meringkuk di ranjang dengan bergumam di menyebut ibu dan ayahnya berulang kali.
***
"Aku akan segera kesana!" Jawab Davin sambil menutup ponselnya setelah mendapat kabar dari para pelayan di villa tempat Davin menyembunyikan Davi.
Davin menatap ponselnya lama, merenung sebentar.
"Kita pulang ke villa!" Titah Davin pada sopirnya.
"Tuan, meeting satu jam lagi." Peringat Fero yang dibalas tatapan tajam dari Davin.
__ADS_1
"Kau urus dulu!" Davin segera berlalu dari ruangannya tanpa mendengar protesan keras dari Fero.
***
Tak sampai satu jam, Davin sudah tiba di villa dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Davin yang kedatangannya langsung disambut oleh kepala pelayan.
"Nona masih menangis dan belum makan siang sama sekali tuan." Jawab kepala pelayan. Davin terdiam, menghela nafas sejenak.
"Apa yang terjadi?" Tanya Davin sekali lagi.
"Nona meminjam ponsel untuk menghubungi orang tuanya dan kami tak menuruti keinginannya." Jelas kepala pelayan.
Davin pun langsung menuju kamar tempat Davi berada.
"Bawa makanan sekarang dan ikuti aku!" Titah Davin.
"Baik tuan." Kepala pelayan langsung dengan sigap mengikuti perintah tuannya.
Cklek
Davin melihat ke ranjang terdapat Davi yang terdengar isakan tangis yang teredam dalam banyal ranjang itu. Davin memberi kode dengan tangannya untuk meletakkan nampan berisi makanan itu di meja nakas dan menyuruh kepala pelayan meninggalkan mereka. Davin mendekati tubuh Davi.
"Makanlah dulu!" Titah Davin membuat Davi tersentak dan sontak bangun sambil mengusap air matanya kasar menatap Davin nyalang penuh amarah.
"Lepaskan aku Davin!" Ucap Davi tegas.
"Apa kau ingin kusuapi?" Tanya Davin mengalihkan permintaan Davi.
"Lepaskan aku Davin! Pulangkan aku! Apa yang kau inginkan?" Tanya Davi menaikkan nada bicaranya.
Davin mulai hilang kesabaran karena Davi ingin pergi darinya. Dia pun meletakkan kembali piring yang sudah diangkatnya tadi bersiap untuk menyuapi Davi.
"Jangan pancing kemarahanku sayang!" Jawab Davin tenang meski raut wajahnya tidak baik-baik saja.
"Lepaskan aku! Kau... apa yang sebenarnya kau inginkan? Setelah kau tidak bisa dihubungi, aku anggap kita sudah tidak punya hubungan apapun!" Murka Davi berteriak kesal di hadapan Davin.
"Aku sedang sibuk saat itu sayang, kau seharusnya sabar menunggu ku sampai aku datang menemuimu." Jelas Davin.
"Tapi semua sudah terlambat, aku akan menikah dengannya dan kau..."
"Tak ada yang bisa merebutmu dariku Davi, kau hanyalah milikku. Tidak siapapun." Bentak Davin membuat Davi nyalinya menciut dan sontak mundur ke belakang karena bentakan Davin yang menakutkan.
"Aku akan mengurungmu disini sampai kau bersedia menjadi milikku seutuhnya." Davin pun meninggalkan kamar tersebut setelah menguncinya dari luar.
Emosinya sudah di ubun-ubun. Kalau dia segera tidak pergi dari kamar tersebut, entah hal nekat apa yang akan dilakukan Davin. Davin lebih memilih menyingkir dari pada membuat Davi ketakutan.
__ADS_1
TBC