
Hatinya berdenyut ketika sebuah pertanyaan sederhana keluar dari bibir manis Aryan. Haruskah Berlian menjawab atau pura-pura tidak mendengar saja. Mereka masih saling menatap.
"WOY biasa aja dong liatnya." Berlian lebih dulu memutuskan tatapan mata ketika mendengar Denada dan Chacha sudah kembali ke mobil dengan banyak barang di tangan masing-masing.
Aryan menjalankan mobil setelah dia memakai sabuk pengaman, melanjutkan perjalan menuju rumah keluarga Wijaya. Hening suasana di dalam mobil, Chacha dan Denada juga ikut membisu, merasakan aura dingin didalam mobil. Bukan, bukan dingin yang berasal dari AC, ini memang benar-benar dingin. Ahh kalian pasti mengerti, semoga saja.
Setelah sampai dihalaman rumah Wijaya Denada dan Chacha mengeluarkan barang-barang yang di beli dengan bantuan Mbok Jem, Berlian masih terdiam belum ingin beranjak dari duduknya.
"Maaf sudah lancang bertanya hal yang buat kamu sedih, ayok turun, sudah malam kamu perlu istirahat." Aryan mengelus kepala Berlian dan turun lebih dulu dari mobil.
Berlian termenung, hatinya masih terasa sakit jika mengingat Farrel. Tiba-tiba Udayana dan Sarah berlari kecil lalu memeluk Berlian yang baru saja turun dari mobil. "Ada apa Tante, Bude?"
"Gimana kalo Seminggu lagi?" Kembaki Udayana bertanya antusias, Berlian melihat kearah Aryan yang menggeleng tidak tahu.
"Seminggu lagi apanya Ma??" Tanya Aryan.
"Pertunangan kalian dong, Mama udah gak sabar mau bawa Berlian ke rumah, mama pengen ke salon bareng, hangout bareng, gosip bareng di rumah, pamer ke temen-temen Mama." Udayana menjawab sambil membayangkan sesuai ucapannya dengan tertawa bahagia. Sedangkan Berlian hanya berkerut tidak mengerti.
Memangnya aku ini apa? Barang? Di pamerin ke teman-temannya. Dosa apa yang sudah aku perbuat Ya Tuhan. Berlian mengelus dada heran.
"Ma, biarin Berlian yang nentuin. Dia nerima bukan berarti kita langsung mempercepat pertunangan, yakan Berlian?" Mencela Udayana.
Belum Berlian menjawab, Udayana sudah lebih dulu memotong. "Gak bisa, udah sana masuk. Gak usah ikut campur. Pria itu tau apasih?" Mendorong tubuh Aryan untuk menjauh.
"Yaaa.... Seminggu lagi ya?" Udayana mengulang pertanyaan menatap calon menantunya.
"GAK BISAAA!!!??????? jangan seminggu lagi dong, itu terlalu cepat." Berlian menghela nafas lega, mamanya memang yang terbaik. Dia pasti tahu bahwa anaknya terpaksa menerima dan sengaja mengulur waktu untuk mencari cara agar membatalkannya. "Dua minggu lagi aja gimana?" Berlian melotot kaget, dua minggu bukan waktu yang lama. "Omanya akan datang, jadi kita juga harus meminta persetujuan beliau."
"Oma datang? Terus kenapa juga harus cepet-cepet?" Tanya Berlian kesal.
"Nurut aja sayang, Mami setuju kok. Lagian kenapa emangnya kalo Oma kamu dateng?? gak cuma pernikahan kamu aja. Pertunangan kamupun Oma harus datang sebagai pihak dari Papi kamu." Basagita menjawab dengan bangga. Seperti sangat menginginkan hal ini.
"Nah kan Yana, Gita pasti setuju sama usulanku." Sarah lebih menjawab bangga, bahkan ia sempat menepuk dadanya menunjukan rasa bangganya.
"Nikah?? Berlian aja gak berpikir bakal nikah." Basagita berlari langsung membekap mulut Berlian.
"Jaga ucapanmu. Duh, maaf, ini anak emang mintak di rukiyah." Dan melototi Berlian dengan tajam. Berlian meringis sakit ketika jari cantik Mamanya memutar di kulit pinggul Berlian.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Gita, sekarang aja syukur-syukur Berlian nerima perjodohan ini." Kini mereka saling melempar senyum.
Sarah mendorong tubuh Berlian untuk pergi dan langsung kembali membicarakan hal-hal yang di perlukan dalam pertunangan bersama Basagita dan Udayana. mereka sangat bersemangat.
********
Terlalu banyak pikiran yang berputar di otak Berlian, hingga tidak mampu lagi ia tampuh. Dari dirinya yang menerima perjodohan, sebuah acara pertunangan yang akan dilaksanakan cepat, hingga Omanya yang di haruskan hadir.
Berlian menghentikan langkahnya saat menuju gazebo sambil membawa gitar kesayangannya, gitar pemberian Farrel di gaji pertama kekasihnya itu. Ia terkejut melihat Aryan juga berada di sana, jemarinya yang sibuk bergerak menyentuh keyboard laptop.
Tidak mungkin dia ikut duduk di sana, sedangkan pertanyaan sianv tadi saja sudah membuat makan malam bersama canggung. Aryan menghentikannya saat dia berusaha untuk melangkah jauh secara pelan-pelan.
"Kamu di sini?" Berlian membalikkan badan dan tersenyum garing. "Sini, duduk bareng." Suruhnya.
"Gak deh. Gue masuk aja, takut ganggu lo lagi kerja." Padahal dirinya memang tidak ingin berada di sana dengan Aryan.
Pria itu tersenyum kearah Berlian. "Gak kok, sama sekali gak ganggu. Sini duduk, ada cemilan juga."
Berlian menelan ludah ketika matanya menangkap chocolate di atas meja. Karena terhipnotis oleh cemilan favoritnya, akhirnya Berlian duduk di samping Aryan.
Aryan kembali dengan laptopnya dan Berlian masih sibuk dengan gitarnya, menyanyi tidak jelas, terkadang sesekali memotong chocolate di depannya. Tepat pada lagu
Oh, there she goes again
Every morning it's the same
You walk on by my house
I wanna call out your name
I want to tell you how beautiful you are from where I'm standing
You got me thinking what we could because....
Aryan menghentikan aktivitasnya dan ikut bernyanyi pada lirik selanjutnya..
I keep craving, craving, you don't know it but it's true
__ADS_1
Can't get my mouth to say the words they want to say to you
This is typical of love
Can't wait anymore, I won't wait
I need to tell you how I feel when I see us together forever
In my dreams you're with me
We'll be everything I want us to be
And from there, who knows, maybe this will be the night that we kiss for the first time
Or is that just me and my imagination.
Berlian menghentikan permainan gitarnya. "Suara lo bagus juga." Aryan tersenyum. "Berhenti tersenyum setiap ngomong sama gue." Rutuk Berlian.
Aryan kembali melanjutkan aktivitas yang ia hentikan tadi. "Memangnya kenapa? senyun itu..."
"Manis" Berlian melotot dan langsung memukul mulutnya sendiri berkali-kali. Dilihat Aryan masih mengetik dan tidak menunjukkan reaksi terkejut atau semacamnya.
"......IBADAH." Aryan menoleh. "Kenapa? Sorry gak denger." Dia mengerutkan dahinya. "Kenapa mukul mulutmu Berlian, ada yang sakit?" Berlian seketika berhenti memukul mulutnya.
"Engga, biasa aja kok." menatap sejenak dan melanjutkan pekerjaannya lagi, Berlian merasa canggung sendiri.
Dia langsung mengelus dada lega mengetahui Aryan tidak mendengar ucapan gila dari mulutnya, Karena takut mulutnya menimbulkan kekacauan lagi, Berlian pamit pergi.
Aryan melihat Berlian sudah menjauh dan kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya, refleks tangannya menyentuh bibir dan tersenyum mengingat ucapan Berlian yang di dengarnya. "Kenapa harus blakblakan gitu sih bikin kepedean orang aja."
...☘️☘️...
ARYAN TARA MAHESVARA
BERLIAN WIJAYA VALFREDO
__ADS_1