Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (38)


__ADS_3

Menurit Berlian, cuaca cerah di sore hari ini sama sekali tidak bersahabat dengan hatinya. Saat ini diringa sedang membantu menanam bunga di halaman depan rumah Mahesvara, beberapa sapaan pelayan tidak dia tanggapi de gan ramah. Pikirannya berkeliaran pada kejadian semalam, setiap mengingatnya membuat Berlian geran dan sesekali berdecak sebal. Membuat para pekerja merasa tidak enak, mereka mengira Berlian sebal dengan keberadaan mereka.


Wajah cantik Berlian ditekut membuatnya terlihat menyeramkan.


Dari malam sampai saat ini Berlian sama sekali tidak berniat bertemu dengan Aryan, hanya sekedarnya. Berpapasan saat didapur, berpapasan saat Berlian menghampiri kamar Gena, berpapasan saat sama-sama diruang perpustakaan dirumah Mahesvara. Karena setiap melihat wajah pria itu membuat hati Berlian kesal sekali.


Udayana dan Abraham juga baru pulang siang tadi karena mereka menginap di Hotel, jadi tidak akan ada yang merasa aneh melihat sikap Berlian yang tidak seperti biasanya, Udayana juga sudah meminta maaf berulang-ulang. Saat mereka sudah kembali.


*****


"Maafin Tante ya Berlian, Tante gatau kalo bakal kayak semalem jadinya." Sambil menyentuh leher Berlian yang diperban. Wajah wanita itu juga kelihatan meringis seperti merasakan sakit melihat luka Berlian.


"Gak apa-apa tante, kita semua kan gak bakal kepikiran bakal gimana?" Udayana mengangguk. Tapi saat mata Berlian melihat Aryan turun. Berlian permisi dengan alasan ingin istirahat.


********


Entah apa yang membuat Berlian kesal, pokoknya Berlian kesal saja. Pak Hendra yang sedang memantau pekerja yang bertugas membersihkan kebun halaman depan melihat takut kearah Berlian.


"Nona, biar saya saja yang nyiram bunga itu, nona Berlian duduk saja." Pak Hendra harus menyelamatkan bunga kesayangan Udayana di dekat Berlian.


Beberapa bunga sudah menjadi sasaran pelampiasan kekesalan dari Berlian. Pak Hendra takut bunga kesayangan Udayana terkena sasaran amuk Berlian juga dan mereka yang akan terkena imbasnya, walaupun mereka sudah menjelaskan alasannya.


"Gak!!" Berlian menjawab ketus kepada Pak Hendra yang kaget. Namun Berlian langsung tersadar, "ehh maaf Pak, saya gak bermaksud ngebentak tadi."


"Tidak apa-apa nona,"


"Pak Hendra, bantuin yang sana aja. Saya bisa kok yang disini," menunjuk bunga di pot yang siap dipindahkan.


Pak Hendra menghela nafas lega, Berlian mulai bisa dikontrol, bunga itu aman dan nasib pekerja akan selamat.


Gena yang sedari tadi sibuk memotong buah, melirik ke anehan tingkah Berlian, biasanya wanita itu selalu tersenyum ramah kepada pelayan di rumah ini. Kadang menyiram tanaman sambil mendendangkan lagu, sesekali melempar candaan kepadanya, tapi kali ini Gena merasa Berlian sepertinya tidak merasakan keberadaannya. Aneh.


"Ada apasih kak??" Berlian hanya menggeleng, melihat Gena sedang mengupas buah di Gazebo kecil. Mereka berencana membuat rujak sore ini. "Bisa kok cerita sama aku," Berlian hanya terdiam dan memikirkan sesuatu.


"Gena,"


"Hmm,," Berlian mulai menimang-nimang pertanyaan yang akan ia ajukan.


"Zivana Ezzah pernah main kesini gak??"


Terlihat Gena menghentikan aktivitas memotong dan mulai Berpikir. "Kak Zee??"


"Iya, Zee," Berlian mulai kesal lagi, setelah tahu Zee adalah panggilan dari Aryan untuk Zivana.


"Kenapa kak?"


"Ahh enggak. So, dia pernah main kesini?"


"Kayaknya pernah." Raut wajah Gena terlihat kesal.


"Ramai-ramai atau sendirian?" Tanya Berlian lagi.


"Dulu pernah sendirian," berusaha mengingat, karena memang Zivana sudah lama tidak pernah berkunjung.


"Sering??" Gena menggeleng tidak yakin.


"Kenapa kakak tanya soal dia?" Berlian tidak terlihat seperti wanita yang ingin tahu lebih banyak tentang orang menurut Gena.


"Jawab aja. Sering????"

__ADS_1


"Jarang gitu, kalo dulu waktu masih kuliah. Sering banget" Berlian mengepalkan tangannya.


"Terakhir kapan?"


"Terakhir waktu acara ulang tahun mas Aryan." Pak Hendra berdehem memberikan peringatan kepada Gena untuk menutup mulutnya, agar tidak sembarangan bicara.


Gena mengangguk mengerti. "Itu waktu Aryan nembak Zivana kan?"


"Kakak tahu??"


Berlian mengangguk. "Terus?? Waktu dia nolak Aryan, dia masih sering kesini sendirian?" Gena membalakkan matanya.


"Kakak tahu mas Aryan ditolak juga?" Berlian mengangguk. "Udah engga lagi"


"Waktu dia dateng sendirian, ngapain aja???" Gena menggeleng.


"Mereka di perpustakaan."


"Terus waktu ramai-ramai mereka ngapain aja??" Berlian kembali bertanya penasaran.


"Waktu itu----"


"Kupas buahnya dengan benar, nanti tangan kamu bisa terluka Gena." Tegur Pak Hendra karena melihat Gena yang mulai bicara banyak.


"Iya Pak," Gena kembali mengupas buah dan tidak melanjutkan ucapannya.


"Pak Hendra saya kan lagi ngajak cerita Gena," Tatap berlian cemberut.


"Nona," Pak Hendra berdiri. "Kalau Nona memang ingin tau, kenapa tidak bertanya sendiri?" Membayangkan dirinya harus bertanya kepada Aryan sudah membuat Berlian malas.


"Iya bener kak, Seharusnya--" Gena menggantungkan ucapannya karena melihat mobil sport berwarna putih masuk kehalaman rumah. "---Kak Devan" Berlian langsung belihat kearah tujuan mata Gena, Berlian melihat Devan keluar dari dalam mobil dan langsung masuk kedalam rumah.


********


"Selamat sore om--tante," Devan menyapa Udayana dan Abraham bergantian.


"Sore---Eeehh Devan tumben main kesini. Ada apa??" itu hanyalah basa-basi milik Udayana, karena tanpa bertanya mereka sudah tahu maksud dari kedatangan Devan kerumah mereka.


"Gini om-tante, Devan mau mintak maaf atas kejadian tadi malam, Devan bener-bener gak bermaksud melecehkan Berlian." Abraham sama sekali tidak berniat untuk menatap pria itu, Udayana mendekat ditempat Devan berdiri.


Wanita cantik ini kan pandai berakting, ia akan berpura-pura terlihat baik-baik saja.


"Kamu perlu mintak maaf ke orangnya langsung, atau kamu ke atas dulu temui Aryan. Nanti tante suruh Berlian nyusul," Devan mengangguk dan langsung berjalan keruangan atas yang dimaksud Udayana.


Devan tidak akan salah jalan, dulu ia sering main kerumah ini, bukan sekedar main. Terkadang ia juga akan menginap disini, kalau ia merasa bosan dirumah.


********


Setelah berada di ujung anak tangga, Devan melihat Aryan fokus pada layar laptop. "Hallo, Tuan muda Aryan?" Sama sekali tidak berniat menatap seseorang yang masih berada dianak tangga. Dengan mendengar suaranya saja, Aryan sudah tahu siapa tamu yang datang tanpa diundang itu.


Devan melihat Aryan yang masih fokus menatap layar laptop dipangkuannya. Laki-laki itu bergerak mendekati Aryan yang duduk di sofa panjang lurus di depan tangga.


"Gak nyuruh gue duduk??"


"Gue gak pernah ngundang orang hari ini."


"Ck," Berdecak sebal dengan tanggapan cuek Aryan.


"Ada aturannya kalau mau ketemu sama gue."

__ADS_1


"Izin sama sekertaris lo dulu?"


"Hmm,,"


"Sekretaris yang gak bakal kasih tahu bosnya dimana itu."


"Hemm," Aryan hanya berdehem menjawab ucapan dari laki-laki berwajah lebam di depannya.


"Sekretaris yang sama juteknya kayak bosnya. Untung cantik."


"Hmm,"


"Jutek bener mas,"


"Keluar. Gue sibuk!!" Devan tertawa.


"Gue di paksa suruh minta maaf kesini." Devan masih seperti yang dulu tidak tahu diri.


"Minta maaf kok harus di paksa, mending lo pergi aja. Ganggu!!" Aryan sama sekali bicara tanpa melihat kearah lawan bicaranya. Ia tidak perduli lagi dengan kata tidak sopannya.


"Haha, ya gimana. Pokoknya gue mau mintak maaf, terserah lo mau gimana."


"Yaudah pergi sana."


"Dimaafin gak??"


"Lo perlu minta maaf aja sama Berlian, sepertinya Berlian yang dirugikan disini."


"Oke, nanti gue bilang,"


"Yaudah. Lo bisa keluar sekarang,"


"Jawab dulu," Akhirnya Aryan menatap Devan dengan tatapan jengah.


"Apa lagi???"


"Berlian Wijaya tunangan lo itu, Berlian yang itu kan?" Aryan menatap Devan tajam. Ia tahu apa yang dimaksud pertanyaan Devan barusan. "Kok diem? Benerkan Berlian yang itu?"


"Lo ngomong apa sih?" Aryan berdiri mendekati Devan, dan mengibas tangannya di depan Devan. Berharap Devan tahu bahwa dirinya sedang mengusir.


Devan tertawa melihat kelakuan Aryan. "Halah, lo pasti tahu kan maksud gue,"


"Kalau masih sayang nyawa, mending pergi."


"Jawab dulu. Gue gak bisa tidur dari semaleman,"


"Lo gak bisa tidur kek, lo tidur gak bangun-bangun kek. Bukan urusan gue."


"Dih jahat bener mas,"


"Gak seharusnya lo gak bisa tidur karena mikirin tunangan orang."


"Terserah lo mau ngomong apa, gue yakin kok lo tahu apa yang gue maksud."


"Pergi, sebelum gue ngusir lo dengan cara kekerasan,"


"Gue bakal pergi asal lo jawab dulu," Aryan semakin menatap Devan tajam. Sangat tajam. "Dia Berlian yang itu bukan?"


"Yang apa?" Devan dan Aryan melihat kearah Berlian, wanita itu berdiri dianak tangga membawa minuman ditangannya. Menatap Aryan dan Devan bergantian.

__ADS_1


...☘️☘️...


__ADS_2