Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (73)


__ADS_3

Udayana dibawa masuk kedalam ruang khusus Jessica, pria gemulai ini adalah pemilik dari Salon Jess manjalita.


Memiliki gedung tinggi dan lima belas karyawan tetap, semua pekerjanya harus memiliki sertifikat lulus dari kursus kecantikan.


Jessica memberikan kebebasan salonnya untuk memperkerjakan seseorang dalam gender apapun. Jessica juga tidak memilah siapa yang ia pekerjakan, yang terpenting adalah skill yang mereka miliki.


Jika ada seorang pelamar kerja tidak memiliki sertifikat dan tidak mampu sekolah kecantikan, namun ia memiliki skill yang Jessica ingikan, maka Jessica akan menyekolahkan orang itu untuk mendapatkan sertifikat.


Salon Jess manjalita ini. Memiliki tiga lantai, lantai atas terdapat ruang perawatan VIP. Bagi mereka yang menggunakan ruang VIP akan diberikan pelayanan khusus, diutamakan. Kadang yang memberikan perawatan adalah Dokternya secara langsung.


Untuk lantai ini, biasanya digunakan oleh para istri-istri konglomerat, Artis, dan wanita-wanita sosialita.


Lantai dua. Khusus lantai bersantai, semacam spa dan pijat terapi, Namun dilantai VIP juga sudah tersediakan semacam ini.


Dan untuk lantai utama, adalah tempat layanan umum. Seperti, pangkas rambut, creambath, highlight untuk mewarnai rambut, rebonding, dan smoothing untuk meluruskan rambut. Tentu, dilantai VIP juga sudah tersedia seperti ini.


Saat ini ruang VIP dan ruang Spa penuh. Jadi, untuk sementara Berlian ditaruh dilantai bawah, untuk meregangkan otot Berlian disarankan untuk dipijat sebentar oleh Angel sebelum melakukan perawatan lainnya dilantai atas. Padahal, Berlian hanya ingin mengganti warna rambut disini.


Udayana adalah pelanggan tetap sebelum Jessica sebesar sekarang. Setelah keluarga Mahesvara bangkit, salon, butiq baju Udayana, dan lainnya menjadi sorotan.


Dan, Salon Jess manjalita inilah salah satu tempat yang paling ramai digemari para wanita sosialita. Setelah tahu, Nyonya Mahesvara merawat diri disalon ini.


Sejak saat itu, Jessica begitu menghormati Udayana. Karena berkat wanita berdarah Bali itu, Salon yang tidak ada apa-apanya sejak dulu mendadak terkenal. Apalagi saat Udayana menawarkan diri untuk berinvest disalon ini.


Dulu, ia hanya mampu menyewa salon dengan satu lantai, dan kini ia sudah mampu membeli gedung dengan tiga lantai.


Dulu, ia hanya memiliki beberapa ruang-ruang kecil, seperti layanan umun dan ruang spa dijadikan satu, hanya diberi sekat-sekat. Dan kini, ia sudah mampu membedakan mana untuk layanan umum, mana untuk spa, mana untuk perawatan, sampai lantai VIP dengan budget lumayan besar. Bahkan, kini ia sudah mampu untuk bekerja sama dengan beberapa Dokter kecantikan.


Dulu ia hanya memiliki tiga karyawan, termasuk Angela. Namun kini ia sudah memiliki lima belas karyawan, dan tujuh orang pekerja paruh waktu. Yang ia panggil jika lima belas karyawannya sedang kewalahan.


Jessica, dengan memiliki nama asli Josep itu begitu beruntung mengenal Nyonya Mahesvara. Tempatnya curhat, soal pendapatan dari salon kecil.


Udayana dulu karena merasa belum mampu menghasilkan banyak uang, hanya bisa masuk kedalam salon kecil. Setidaknya ia bisa membayar dan berdandan cantik ketika menghadiri acara apapun. Tidak akan membuat anak dan suaminya malu, ia juga tidak menyangka. Berkat dirinya, salon yang dulunya kecil, sekarang sudah berniat memiliki cabang.


"Ada apa Jess? Tumben bawa aku keruanganmu?" tanyanya, ketika Jessica membawa Udayana untuk duduk didepan meja kerjanya. Jessica menyerahkan Papper bag dengan ukuran besar yang ia ambil dari balik meja kerjanya dan ia serahkan kepada Udayana.


Wanita itu melongok sedikit, ia melihat sebuah kotak besar. "Apa ini Jess?"


"I gave a small gift for you" Udayana tertawa.


"Sejak kapan kamu mulai sok kasih aku hadiah. kamu gak mulai normal kan Jess? aku masih cinta sama Abraham. Aku gak mau ninggalin dia." memeluk tas miliknya, ia jadikan benteng kalau-kalau Jessica punya niat macam-macam.


"Dih, Madam. Saya gak tertarik sama Madam, saya ngasih ini karena mau nyogok buat jadi istri kedua Tuan Besar Mahesvara." semakin membuat Udayana terbahak.

__ADS_1


"Mana mau Gena punya Mama kayak kamu Jess, pasti dia nangis terus."


"Kan saya gak bakal geser posisi Madam."


"Udah ah, geli aku denger kamu bilang gitu." kini Jessica yang tertawa besar.


"Abis Madam duluan sich." sembari mencolek genit. "Gimana? Nona Gena mau gak?"


"Gak mau, akukan sudah bilang. Anak itu menolak keras kalau dirinya harus tampil public"


"Yah, gak bisa pakai cara apapun?" mencoba mencari sebuah keberuntungan dari Udayana. "Madam itu, sudah seperti Dewi keberuntungan saya tahu gak? Saya yakin banget, kalau Nona Gena jadi Brand Ambassador dari Salon ini. Bakal semakin merajai, dan lagi untuk promosi soal perawatan kecantikan, Nona Gena sendirikan juga perawatan sama Dokter disini? Jadi sudah pasti terjamin." ucapnya lagi penuh keyakinan.


"Kamu kan tahu? Gena trauma sejak remaja, dia dibully karena bukan berasal darah daging kami."


"Dirahasiakan dong. Pastikan tidak ada yang tahu."


"Kalau salon ini menjadi sorotan setelah Gena menjadi modelnya, pasti semua orang juga cari tahu soal Gena Jess."


"Kita bisa atur itu."


"Dia sudah punya pacar, dia bilang dengan penuh penekanan. Gak boleh dengan cara apapun dia keluar dimedia." ucapnya lagi, berusaha untuk meyakinkan Jessica.


"Hah, susahnya."


"Siapa namanya Madam?"


"Bimo, satu kampus. Satu fakultas juga." menunjukkan foto Bimo dengan Gena disebuah taman kampus.


"Jadi dia belum tahu siapa Nona Gena?" menyerahkan kembali ponsel Udayana.


"Belum. Gena belum siap kasih tahu katanya." memasukkan ponsel kedalam tasnya lagi.


"Kasih tahu dengan cepat, jangan dirahasiakan, sebelum tahu dari orang lain. Itu lebih mengecewakan." Udayana terdiam, ia jadi ingat Berlian. Bagaimana kalau sampai calon menantunya itu kecewa padanya. "Sudahlah. Madam. Gimana kalau sama Nona Berlian? Wajahnya kan sempurna."


"Memangnya dia mau?" tanyanya balik.


"Madam bujuk dong."


"Mungkin dia mau, tapi kemungkinan calon suaminya yang melarang keras. Dia tidak suka Berlian terekspos" mengingat soal keposesifan Aryan kalau soal Berlian.


"Ah kesel, semua aja gak bisa. Bantu dong Madam."


"Aku usahakan ya? tapi gak janji." Udayana menarik keluar kotak didalam papper bag tersebut.

__ADS_1


"Ommmo. Daebak" sebuah tas berwarna cokelat terang, dengan sebuah logo terkenal dipenutup tas. "Ini, yang aku baru mau beli, cuma limitid edition."


"Saya, keep jauh hari buat kasih hadiah ke Madam." ucapnya sedikit sombong.


Udayana memasukkan lagi tas kedalam kotak, dan ia masukkan kedalam papper bag. "Aku terharu, kalau nanti aku bisa taklukin Aryan, aku ambil ini tas ya? Tapi kalau tidak bisa, aku relakan kamu apakan tas itu."


"Bawa saja Madam."


"No. Aku takut gak bisa tepatin." Udayana berdiri. "Sudah, mana tahu Gena sudah datang."


"Nona Gena ikut? Ah, saya bakal rayu dia." mereka berdua cekikikan sembari keluar ruangan, dianak tangga Udayana melihat tangan Berlian sedang digenggam seseorang yang sangat membutanya muak.


Dengan cepat Udayana turun. Lalu menepis tangan itu dan melotot. "Jangan sentuh calon menantu saya." Berlian sedikit terbelakak menatap Udayana.


"Tante." panggil Berlian lirih.


"Aku hanya menyapa Berlian, Yana. Apa itu salah?"


"Nyonya besar Mahaprana, saya tahu niat buruk anda. Buahkan jatuh tidak jauh dari pohonnya, kalau anaknya pandai merayu apa bedanya dengan orang tuanya." Berlian meraih tangan Udayana, tidak sepantasnya wanita itu berucap demikian.


Udayana pura-pura tidak mengerti maksud Berlian ketika meraih tangannya. "Berlian berbeda dengan wanita itu, dia tidak akan terhasut olehmu."


"Yana. Kami hanya mengobrol biasa."


"Mengobrol apa? Soal dia harusnya meninggalkan anak saya dan beralih pada anakmu begitu?" semua karyawan dan pengunjung mendadak tuli, mereka menjadi tidak bisa mendengar apapun.


"Astaga Yana. Aku pikir kita sudah baikan, dan melupakan masalah itu."


"Ya, saya dan kamu memang sudah baikan. Tapi itu hanya didepan keluarga, siapa juga yang mau menjadi temanmu. Buang jauh-jauh pikiran anda untuk kembali seperti dulu."


"Padahal aku sudah mencoba untuk kita terlihat baik-baik saja."


"Huh, siapa perduli." Nyonya Mahaprana terdiam, kenapa ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Udayana begitu menyakitkan. "Bagaimana? Berlian saya lebih mempesona dari emas itu bukan? Emas yang anda rebut dari saya." mengelus dagu Berlian.


Disa hampir saja berdiri, namun ia urunkan ketika melihat Udayana menarik Berlian untuk berdiri. Berlian menyerahkan kain yang melingkar ditubuhnya kepada Angela. "Permisi Tante." menunduk cepat karena Udayana sudah menariknya untuk keluar.


"Jess." teriaknya menatap Jessica dianak tangga.


"Ya Madam." turun perlahan.


"Telepon aku kalau sudah tidak ada pelanggan lagi, aku tidak mau berbagi nafas dengan orang asing. Berlianku butuh nafas segar." ucapnya penuh penekanan.


"Baik." satu pegawai salon membukakan pintu untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2