Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (101)


__ADS_3

Udayana terdiam mematung, sorenya yang semula cerah berubah menjadi mendung, tiba-tiba tangannya gemetar tidak tertahan. Sudah dua tahun ia menghindar dari segalanya, teman-temannya, kerabat dan yang lain-lain.


Tidak ingin terdengar berita miring soal putra sematawayangnya yang hilang ingatan. Maka dari itu Udayana berusaha tidak berinteraksi dengan siapapun.


Tidak menghadiri pertemuan antara geng arisannya, ia memilih untuk keluar dengan baik-baik.


Tidak ingin menghadiri pertemuan istri para pebisnis, menolak dengan sopan mengatakan ia ingin fokus pada pekerjaan rumahnya.


Tidak ingin bertemu keluarga besarnya yang sedang membuat pesta, menolak hati-hati dengan alasan sibuk dengan bisnisnya.


Menutup pintu gerbangnya rapa-rapat agar tidak ada yang masuk dan membocorkan masalah Aryan. Jeff ditugaskan untuk menutup gerbang dan diperbolehkan tidak sopan jika ada yang ingin menerobos gerbang Mahesvara nan megah.


Karena beberapa kali ada wartawan yang datang sekedar ingin bertanya keadaan keluarga Mahesvara, karena hanya keluarga mereka yang tidak hadir pada saat Tuan besar Mahaprana membuat sebuah acara ulang tahunnya ke 59 yang begitu megah. Menurutnya angka itu akan membawanya semakin berjaya dalam kesuksesan diumur selanjutnya. Padahal saat ini dia memang sudah berjaya.


Tapi beberapa teman bisnisnya tahu, bahwa ia membuat acara semeriah itu hanya untuk memancing keluarga Mahesvara karena tidak pernah muncul dalam acara apapun.


Tapi kali ini, kenapa wanita yang berdiri dihadapannya mampu menerobos. Udayana yakin Jeff pasti bisa menolak untuk membuka pintu dengan lebar. Tapi kenapaa??


"Berliaann..." Udayana melangkah mundur ketika wanita itu melangkahkan kakinya berusaha menghampiri dirinya, suara anak kecil semakin membuatnya gemetar. Anak yang Udayana hindari agar tidak berinteraksi dengan siapapun.


Masih dengan menatap wanita dihadapannya, kaki Udayana gemetar mundur.


"Mamaa.. " panggil Wanita itu, Udayana semakin melangkah mundur, bagaimana kalau ia berteriak saja memanggil Jeff yang tidak bisa diandalkan itu.


Seorang pria masuk dan berdiri dibelakang wanita dihadapan Udayana, lagi-lagi Udayana melangkah mundur dan ia hampir tersandung kebelakang karena tidak memperhatikan langkahnya.


"Mamaa.. " panggilnya lagi.


"Berliaann...."


"Iya Tante? Hey kalian sudah sampai?" menatap kedua tamu yang srdari tadi membuat Udayana gemetar lemas.


Udayana menatap Berlian. "Kenapa kamu suruh mereka datang kesini?"


Berlian maju mengambil alih anak yang berumur sekitar satu tahunan untuk digendongnya. "Hay ganteng? Siapa namanya?"

__ADS_1


Ibu sang anak menatap Berlian. "Danizel Aunty."


Mencium pipi gembul Danizel. "Berlian rasa, keluarga Mahesvara gak perlu sembunyiin soal Aryan dari Zaskia dan Reza. Mereka berdua bukannya bagian dari keluarga Mahesvara juga?"


"Tapi Berlian, Tante malu...."


"Kenapa Tante harus malu?" membawa anak Zaskia kehadapan Udayana. "Ini cucu Tante, Tante bahkan gak dateng waktu Zaskia syukuran buat kelahirannya."


Udayana menahan untuk tidak menangis. "Ayolah Berlian, Tante malu karena sudah menyembunyikan soal Aryan sama Zaskia."


"Awalnya Kia juga kesel, tapi sekarang Kia maklumi Mama, Kia juga udah marah sama Reza karena Reza gak cerita soal itu," Zaski melangkah maju. "Maa, Mama gak percaya sama Kia?"


"Mama.. Mama yang udah buat rumah tangga kalian ada kebohongan karena Mama maksa Reza buat nutupi masalah Aryan dari kamu. Mama, Ma-ma malu karena gak bisa percaya sama kamu.."


"Ma, Reza juga bersalah gak seharusnya Reza nyembunyiin hal itu sama Kia," Reza maju menyentuh bahu istrinya.


"Mama takut Kia kesel dan tahu kalau Aryan kecelakaan dan hilang ingatan buat Kia jadi ngejek Mama." air mata Udayana akhirnya lolos juga.


"Tapi Kia gak pernah berfikir seperti itu Mama." Udayana maju perlahan memeluk Zaskia erat, rasanya ia terlalu bodoh menyembunyikan sesuatu dari seseorang yang sudah seperti anak kandungnya sendiri.


"Tok.. Tok... " ucap Berlian sembari mengayunkan tangan anak Zaskia kedaun pintu. "Permici, Danizel mau macukk." memperagakan ala anak kecil yang baru belajar bicara.


Pintu terbuka, membuat Berlian langsung menyelonong masuk, seperti kebiasaannya. Aryan menutup pintu dan menarik tangan Berlian sebelum wanita itu berkeliling dikamarnya.


Buru-buru Berlian memastikan apakah Danizel baik-baik saja. Karena punggung Berlian telah menabrak daun pintu dengan keras akibat dorongan dari Aryan, Berlian merasakan keterkejutan dari Danizel. "Disini bukan tempat sembarangan, pergi atau aku...."


"Aku apa??" Berlian mendongak karena jarak mereka terlalu dekat dan Aryan yang terlalu tinggi.


Rengekan anak kecil membuat Aryan memutuskan pandangan mereka dan beralih pada anak kecil yang sangat gemuk berisi dalam pelukan Berlian. "Anak siapa?"


"Anak Zaskia," jawab Berlian tanpa melepaskan pandangan yang menyapu wajah Aryan. "Mereka dibawah."


Aryan menoel pipi gembul Danizel. "Lucu, gemesin gitu," setelah beberapa hari menghadapi Aryan, ini pertama kalinya Berlian melihat wajah Aryan tersenyum. Dan ia tidak bisa melepaskan pandangannya.


"Kenapa gak terus pasang wajah senyum gitu sih, manis tau."

__ADS_1


Aryan mengangkat wajahnya menjadi sejajar dengan wajah Berlian. Satu alis tebalnya terangkat menatap Berlian, bahkan mata mereka saling mengunci pandang. Hanya deru nafas adu mereka yang terdengar.


Berlian meniup menyapu wajah Aryan. "Jangan dilihat terlalu dalam, nanti kepikiran."


Berlian bediri lebih tegap hingga hidungnya menyentuh bibir tipis Aryan. Sentuhan itu membuat Aryan mundur dan berdehem. "Danizel pengap ya sayang. Yuk kita keluar."


********


"Jadi beneran lo gak inget apapun?" Aryan mengangguk dengan mata menyusuri taman belakang melalui balkon. "Kalau lo tanya sama gue, Ya intinya lo udah ngelewati banyak hal gitu aja sih."


"Lo kenal sama perempuan itu?" menunjuk dengan dagunya.


Reza yang duduk dikursi santai sontak berdiri dan melihat siapa yang dimaksud Aryan. "Berlian maksud lo?"


"Hm.."


"Kenal. Kenal akrab malah," menurut Udayana, ia tidak boleh mengatakan apapun soal pertunangan sahabatnya dengan Berlian.


"Dia bilang kesini cuma numpang bentar, karena dia mau cari tunangannya yang hilang. Tapi kehadirannya disini buat gue itu annoying banget," Reza menoleh menatap Aryan. "Bisa lo bantu gue buat dia pergi dari sini."


"Bisa lo gak minta bantuan sama gue? gue takut kalau gue bantuin lo, gue bakal nyesel."


"Apa yang perlu lo sesalin? lo cuma perlu ngusir dia." kini beralih Aryan yang menatap Reza, pria itu sedang menegak minuman dengan ragu.


"Gue punya firasat gitu aja. Kenapa gak lo sendiri aja yang ngusir dia." Aryan menggeleng.


"Gue gak bisa," menegak jus jeruk ditangannya. "Dia selalu berlindung dibalik Mama sama Papa, kalau dia emang niat cari tunangannya kenapa musti tinggal disini dan ganggu gue."


"Berlian itu tipe perempuan yang bener-bener setia, mana berani dia gangguin cowo lain padahal dia lagi nyari tunangannya yang hilang." Reza menahan senyumnya. Benar kata Berlian, mengerjai Aryan sangatlah menyenangkan.


Aryan mundur sedikit ketika matanya bertemu pada mata Berlian, terlebih wanita itu melambaikan tangan kearah balkon. Dimana Aryan dan Reza berdiri.


Reza yang melihat itu langsung ikut melambaikan tangan kearah Berlian, dan mereka sama-sama tertawa, Reza tahu sebetulnya Berlian hanya melambaikan tangan kearah Aryan, karena merasa Berlian sepertinya dicueki oleh Aryan membuat Reza berinisiatif membalas lambaian tangan Berlian.


Ah, Reza memang paling mengerti.

__ADS_1


__ADS_2