
Aryan terdiam, masih sangat bingung menghadapi sikap Berlian yang selalu berubah tiba-tiba. Cuek, ketus, diam, penurut, dan kali ini,,,,galak. Apa yang harus dia lakukan saat Berlian memintanya untuk tidak mencampuri urusan pribadi perempuan itu? Tiba-tiba dia penasaran dengan mimpi Berlian, mimpi itu yang membuatnya meminta keputusan secara mendadak.
Dia sudah tidak lagi dapat melihat Berlian pergi entah kemana, melajukan kemudi mobil dengan perlahan takut jika dia melewati Berlian yang kemungkinan berjalan karena pikirannya sedang kacau.
********
Ketika terlihat mobil yang Aryan kendarai memasuki halaman Rumah Wijaya. Sontak Basagita langsung berdiri menyambut ke datangan Aryan, dia memang sengaja menunggu laki-laki berwajah tegas itu. Kemungkinan Aryan tidak melihatnya, laki-laki itu berjalan pelan sembari memainkan ponselnya.
"Aryan," laki-laki itu sempat terkejut. Melihat Basagita yang memanggilnya, Aryan mempercepat langkahnya mendekati Basagita.
"Loh tante kok di luar?" tanyanya.
"Tante nunggu kamu," Aryan mengangguk dan tersenyum kecil.
"Berlian sudah sampai kan tante? tadi Aryan tanya mama." Basagita mengangguk dan melihat sekilas ke arah pintu rumah.
"Sudah, dua puluh menit sebelum kamu sampai," Aryan merasa lega mendengar kabar Berlian. "Ada apa Aryan?" Aryan menggeleng.
"Gak kenapa-kenapa kok tante, tadi tiba-tiba Berlian ingin pulang duluan."
Basagita melihat kebohongan dari ucapan Aryan. "Kamu cerita aja sama tante ada apa? Tante yakin pasti ada sesuatu? Aryan, tolonh jawab." Basagita sedikit menggoncangkan lengan Aryan yang tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Tantee..." Aryan mencoba menenangkan Basagita yang terlihat sangat khawatir.
"Berlian berhalusinasi lagi?" Aryan menghela napas panjang mendengar pertanyaan Basagita. Dengan waktu lama dia diam sejenak untuk memikirkan ini, lalu dia menceritakan semuanya kepada Basagita.
Calon ibu mertuanya ini salah satu orang yang dapat dia percaya tentang masalah ini, apalagi untuk hal memberikan saran dan masukan.
Jika Aryan menceritakan kepada mamanya itu malah akan menambah suasana semakin buruk. Siapa yang tidak memahami tentang sifat Udayana Kabinawa itu.....
********
"Setiap ucapan yang akan di keluarkan itu harus di pikirkan matang-matang Berlian. Kamu tidak bisa memutuskan sesuatu secara mendadak," Basagita mulai menyisir rambut Berlian yang baru di keringkan dengan perlahan dan tatapan mata Berlian hanya pada pengering rambut yang ia pegang. Berlian sudah menceritakan seluruh mimpinya dan alasan kenapa dirinya meminta Aryan untuk membatalkan pertunangan yang sudah di rencanakan dengan sempurna.
Basagita sudah mendapatkan cerita yang sama pada Aryan dan Berlian. Dari Aryan maupun Berlian sama sekali tidak ada yang melebih-lebihkan cerita mereka. Sejujurnya, Basagita sangat menginginkan mereka berdua itu berjodoh.
Susah di jaman sekarang mendapatkan laki-laki seperti Aryan. Mapan, pekerja keras, sopan, mengerti situasi orang lain, bisa menjaga amanah. Dan sudah pasti wajahnya tidak di ragukan lagi.
Basagita menghela napas, ia sangat menginginkan Aryan menjadi menantunya. Sangat ingin.
Selain karena Aryan yang berbobot dan blablabla, ia sangat ingin memamerkan ketampanan Aryan calon menantunya, kepada teman-teman segengnya.
__ADS_1
Pintu terketuk membuat Basagita dan Berlian menatap ke arah pintu kamar, ternyata Udayana yang berjalan membawa roti bakar di nampan dan segelas susu hangat.
"Roti bakar sayang, buat ngisi perut," Udayana menyodorkan roti bakar yang ia bawa tadi kepada Berlian.
"Makasih tante, maaf Berlian ngerepotin." Berlian mengambil sodoran roti bakar yang di berikan oleh Udayana untuknya. Udayana pun duduk di hadapan Berlian dan menatap Berlian serius.
"Ada apa tante?" Udayana menarik tangan Berlian yang baru menaruh roti bakar di tangannya.
"Maafin Aryan ya Berlian," Berlian menatap heran.
"Maaf untuk apa ya tante?"
"Tante tau kok kalo semalem kalian pulang secara terpisah. Tadi Aryan cerita kenapa kalian pulang sendiri-sendiri gitu. Dia emang gitu jailnya sampek buat kamu marah, Aryan nakal banget ya?" Berlian menatap Basagita di belakangnya yang masih sibuk memberikan vitamin di rambutnya. Basagita hanya mengangkat bahu tidak tahu. "Tante bakal paksa dia buat mintak maaf sama kamu ya? Dia harus tau, kalo dia itu salah." Udayana mengepalkan kedua tangannya dan mengangkat tinggi dalam bentuk menyemangati.
Berlian meraih tangan Udayana. "Tidak usah Tante, Berlian gak papa kok," Udayana menggeleng. Ingat, wanita itu adalah orang yang sangat egois. Permintaan Berlian tidak akan membuatnya berhenti dari tingkah anehnya. Berlian hanya pasrah ketika melihat Udayana keluar dari kamarnya.
"Mami gak tau apa-apa loh, pagi ini Mami belum ada gosip sama tante Yana." Basagita mengelus kepala putrinya. "Gini deh.. Mami mau buat perjanjian sama kamu," Berlian mengerutkan keningnya.
"Perjanjian?" Berlian teringat akan perjanjiannya dengan Aryan sewaktu itu. Kini Mamanya juga akan membuat perjanjian dengannya. Kenapa Berlian jadi terus terikat dengan sebuah perjanjian??
"Mami janji. Kalau Farrel kembali, mami akan bantu kamu untuk bilang sama mereka kalo kamu berhenti dari perjodohan ini. Walaupun saat itu adalah hari pernikahan kamu mami tidak perduli. Bisa percaya sama mami?" Kenapa Berlian tampak ragu dengan ucapan mamanya sendiri. "Yang perlu kamu lakuin sekarang adalah bertahan Berlian, kamu cukup turuti aturan main mereka, Yaa....." Berlian mengangguk ragu, mencoba mempercayai ucapan mamanya. Pintu terketuk menghentikan obrolan mereka dan sama-sama menatap ke arah pintu.
Pintu terbuka pelan. "Eh Aryan. masuk sini sayang." Basagita beranjak dari tempat duduknya untuk pergi dan mempersilahkan Aryan masuk. Membiarkan mereka berdua untuk membicarakan tentang masalah mereka secara dewasa. Aryan berjalan mendekati meja rias Berlian.
"Maaf,"
Berlian mengangkat kepalanya menatap Aryan. "Untuk?" Dalam sepengetahuan Berlian, yang seharusnya meminta maaf adalah dirinya, karena dirinyalah yang bersalah, Aryan menggeleng.
"Mama bilang, aku suruh mintak maaf." Berlian tertawa. Lihat, Aryan memang anak yang penurut bukan?
"Lo mintak maaf sama gue tapi gak tau kenapa lo mintak maaf?" Aryan mengangguk. "Aneh?" Pria itu malah mengangguk. "Lo bilang apa sama tante Yana?"
Aryan mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Tante Yana tadi bilang sama gue, kalo lo cerita soal kenapa gue balik duluan. Karena lo itu jailin gue terus buat gue kesel makanya gue balik duluan. Kenapa lo bohong?" Aryan menggeleng ragu.
"Bukannya kamu yang bilang sama mama kalau aku menyebalkan dan membuat kamu marah sampai mengancam untuk batalin perjodohan." Berlian membulatkan matanya. Sekarang Berlian yang menggelengkan kepala. "Ckk.. Ya sudah itu gak penting, yang terpenting sekarang adalah kamu maafin aku atau enggak?" Sebaiknya Berlian mengangguk saja, agar masalah ini cepat selesai. Aryanpun berdiri untuk pergi karena perintah mamanya sudah terlaksana. Terserah ucapan mana yang benar intinya Aryan sudah mengikuti kemauan mamanya.
"Gue mintak maaf!!" Langkah kaki Aryan berhenti dan berbalik menatap Berlian yang semakin mengeratkan pegangan tangannya pada pengering rambut.
"Untuk?" Seharusnya Aryan tidak perlu bertanya kan? Berlian berpikir sejenak untuk ucapan yang akan di lontarkan.
__ADS_1
"Gue bisa kan tarik ucapan gue tentang batalin perjodohan ini?" Aryan berpikir dan berjalan mendekati Berlian.
"Kenapa kamu mau tarik ucapan itu?" Aryan semakin bingung dengan sikap Berlian yang lagi-lagi berubah.
"Gue ngerasa itu salah aja," Aryan mengerti maksud Berlian, hanya saja Aryan tidak mengerti dengan sikap Berlian.
"Aku gak akan batalin itu," Berlian menatap Aryan.
"Serius?" Tanya Berlian.
"Aku akan menyetujui untuk membatalkan ini kalau saja itu keluar dari mulut tante Gita atau om Timo," Berlian menatap Aryan yang tersenyum.
"Itu tandanya perjodohan ini gak jadi batalkan?" Untuk memastikan saja, Berlian kembali bertanya.
"Iya," Aryan mengacak kepala Berlian gemas. Berlian malah tertawa bukannya marah.
"Makasih ya,"
Aryan tersenyum. "Untuk??"
Berlian menatap Aryan lekat. "Untuk gak membatalkan perjodohan ini, gue takut pakde bakal kecewa denger ini," Aryan mengangguk.
"Aku tidak masalah Berlian, tapi aku mohon lain kali, coba kita bicarakan semua dengan baik-baik ya. Jangan selalu mengambil tindakan tanpa berpikir," Berlian mengangguk mengiyakan perintah Aryan.
"Kamu ada acara sore ini sampai malam mungkin?"
Berlian berpikir sejenak. sejak kapan Berlian punya acara, Berlian langsung menggeleng. "Gak ada."
"Mau ikut keluar Sore ini? Aku mau ketemu sama temen-temen,"
...☘️☘️...
ARYAN TARA MAHESVARA
BERLIAN WIJAYA VALFREDO
...*****...
__ADS_1
Gaiss... Terima kasih sudah mampir dan setia membaca, jangan lupa vote, like, sama rate ya... Terima Kasih.... 💜