Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (65)


__ADS_3

Zivana menyeret langkah kakinya menuju anak tangga. Dilihatnya Aryan berjalan dengan semangat menghampiri Berlian, bahkan terukir senyum manis diwajah tampannya menatap Berlian yang sedang berpelukan dengan Gena.


Meremas jemarinya dengan penuh kekesalan, entah sejak kapan. Pandangan Zivana terhadap Berlian berubah, awalnya ia berusaha untuk mendekati Berlian dengan embel-embel sebuah persahabatan. Namun setelah mendengar dari orang suruhannya, ia merubah niatnya.


"Nona Berlian, bukanlah wanita sembarangan nona,"


"Apa maksudmu?" Menatap kesal kearah pria yang berdiri tegap menunduk dihadapannya.


"Nona Berlian memiliki beberapa pengawal yang melindungi nona Berlian dari kejauhan, bahkan saya ketahuan dari salah satu pengawalnya." Mulai menegakkan kepala menatap Zivana yang duduk dengan angkuh menatapnya. "Sebaiknya kita hentikan ini nona, saya tidak bisa menyentuhnya,"


"Menyerah maksudmu, Haa??" pria itu mengangguk. "Bodohhh!!!!!! Enyah kau, dasar kau pria lemah, jangan temui aku lagi."


Lamunannya buyar ketika mendengar langkah kaki, Bu Nuri mendekat. "Nona, sebelumnya saya minta maaf."


"Ada apa?"


"Saya memiliki saran untuk nona," Zivana menggerakkan tubuhnya menghadap Bu Nuri penuh. "Sebaiknya nona menyerah saja untuk mengambil hati mas Aryan lagi?"


Cih,


"Bu Nuri tidak tahu? Kalau Aryan itu hanya mencintai saya, dari dulu hingga kini."


"Nona Zivana tahu apa soal perasaan cinta milik mas Aryan?" Zivana terdiam. "Sudah sejak lama, mas Aryan tidak lagi mengharapkan nona Zivana."


"Jaga bicara bu Nuri," nada suara Zivana mulai meninggi, memang untuk akhir-akhir ini ia menjadi lebih membenci sifat dari penduduk rumah Mahesvara, kepada Udayana sekalipun.


"Kalau saya jadi nona Zivana, saya akan membawa langkah kaki saya keluar dari rumah ini sejak tadi. Sejak mas Aryan mengajak anda untuk berbicara diruang bawah," senyum Bu Nuri berubah menjadi senyum penuh kebencian.


"Saya bisa laporkan bu Nuri kepada Om Abraham tentang sikap bu Nuri kepada saya ya?"


"Memangnya siapa anda?" mata Zivana melebar. "Sepercaya diri itukah anda, nona Zivana? memangnya tuan besar Abraham akan memihak anda? Saya rasa kurangkan rasa percaya diri anda. Permisi?" bu Nuri menunduk dan melangkah pergi neninggalkan Zivana.


Kurang ajar. Benarkan? Dirumah ini sudah tidak memiliki tata krama lagi, kemana meraka yang dulu selalu menunduk dan tersenyum ramah kepadaku?


Apa hebatnya Berlian, sampai-sampai aku jenuh mendengar saran dari semua orang memintaku untuk meninggalkan Aryan. Cih,


Setelah lama memikirkan langkah apa yang harus ia ambil, akhirnya ia memilih untuk turun dan menghampiri.

__ADS_1


Matanya melebar ketika melihat Aryan dan Berlian saling berpelukan, bahkan lama. Dan semakin membuat matanya melebar, Zivana melihat Berlian mengecup pipi kiri Aryan dengan tangan yang masih melingkar dileher Aryan.


"Eh, ada tamu?" ucap Berlian ketika melihat Zivana sudah berdiri didekat mereka.


"Em, iya. Hai Berlian, How are you?" Berlian menatap tersenyum.


"Fine."


"Kak, ayo aku mau cerita sesuatu?" Gena merengek mengajak Berlian pergi, sembari menarik-narik lengan Berlian.


"Wait, sebentar Gena." melepas rangkulan Gena dan berjalan meraih kopernya.


"Berlian,,," Aryan bergerak meraih tangan Berlian, sorot matanya mengatakan tolong aku. Tentu saja Berlian melepaskan itu.


"Selesaikan urusan kalian, ayo Gena!!" Gena mengepalkan tangan tinggi-tinggi untuk menyemangati Aryan.


Melihat Berlian dan Gena pergi, Zivana berjalan mendekat. "Sebaiknya aku pulang saja."


"Itu bagus," Zivana melotot takjub mendengar ucapan Aryan. Seketika hatinya berubah kesal menatap Aryan, benar-benar ia telah dicampakkan oleh pria ini.


"Aku pergi."


Bukan kah sudah dari lama, kalau kamu memang sudah pergi dariku, dari kehidupanku, Zee..


Aryan hanya menatap kepergian Zivana, ia tetap berdiri pada posisinya.


"Kejer kali, dari pada entar nyesel lo biarin Zivana pergi gitu aja?" melihat Berlian keluar dari kamarnya.


"Sesuatu yang sudah lama pergi, tidak bisa diterima kembali dengan enteng Berlian," wanita itu hanya mengangkat bahunya, tidak perduli dengan maksud dari ucapan Aryan barusan.


********


"Ada apa kemari?" Mendengar langkah kaki seorang wanita masuk kedalam ruangannya. Diluar seluruh karyawannya serta sekertarisnya sudah heboh dengan kedatangan wanita ini. Hanya dengan mencium aroma parfum khas nya saja, ia tahu siapa yang datang menghampirinya tanpa diundang.


"Memangnya aku tidak boleh menemuimu?" Berjalan mendekati meja kantornya dan memeluk manja dari belakang.


"Lepaskan pelukanmu Zee, semua orang bisa melihatnya." Namun ia tetap tidak bergerak, membiarkan wanita ini melepaskan pelukannya dengan sendiri.

__ADS_1


"Devan, semua orang juga tahu kalau aku dan kamu memiliki hubungan bukan? lalu kenapa kamu khawatir kalau mereka lihat kita sedang berpelukan?" Melepaskan pelukannya dan duduk dimeja kantor Devan lalu menatap pria itu.


Devan tidak kalah tampan dari Aryan, namun pesona Aryan lebih menarik dibandingkan dengan Devan.


Devan dan Aryan sama-sama memiliki darah keturunan India, memiliki bentuk wajah khas India. Mata tajam, alis tebal, hidung mancung. Namun Devan memanfaatkan itu dengan menggandeng wanita sana sini, sedangkan untuk Aryan. Dia tipe pria yang setia, jika ia mencintai satu wanita, ia kan terus mencintai wanita itu sampai sesuatu akan membuatnya belajar mencintai wanita lain.


Untuk sebuah kejayaan, mereka sebanding. Aryan memiliki perusahaan yang besar, hotel dimana-mana, dan seluruh keluarga Aryan juga memiliki usaha dimana-mana. Sedangkan Devan, keluarganya sibuk memilih jalan menjadi seorang Dokter atau Tentara, dan hanya dia yang memilih menjalankan sebuah Hotel yang cukup berjaya juga.


Bahkan untuk keduanya juga memiliki usaha bersama sebuah mall besar didua Kota, namun Aryan menyerahkan itu kepada Devan. semenjak kejadian beberapa tahun silam.


"Turun. Pantatmu menindih berkas pentingku Zivana," membuat wanita itu turun dan duduk dikursi kejayaan Devan setelah pria itu berdiri dan keluar dari ruangan.


Setelah beberapa menit, Devan kembali lagi masuk kedalam ruangan.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Apa? aku baru saja memfotocopy berkasku."


"Kamu melakukan hal yang seharusnya bukan tugasmu?"


"Ini hanya fotocopy, bukan sesuatu hal yang sulit untuk dilakukan," menggeser sedikit kursi kejayaannya yang diduduki oleh Zivana. "Berhenti mengganggu"


"Kamu ngerasa aku ganggu kamu?" Devan menggeleng.


"Berhenti mengganggu Aryan dan mencari tahu soal Berlian!!" ucapnya dengan nada santai namun terdengat mengintimidasi.


"Sial?" Devan menoleh. "Aku bukan memakimu sayang?" memeluk Devan manja. "Apa dia melapor sama kamu?"


"Hmm... aku menyuruhnya untuk menjagamu, bukan menyuruhnya untuk menjadi pesuruhmu,"


"Devan, aku hanya....."


"Berhenti mengganggu Aryan kubilang. Jangan sampai melampaui batas Zee atau,,,,,"


"Atau apa???"


"Aku akan mencabut semua kehidupanmu." Berjalan keluar ruangan sembari memakai jasnya yang tergantung.

__ADS_1


Zivana menggebrak meja kesal. Kekesalan yang memuncak untuk perempuan seperti Berlian, dan lagi, kenapa Aryan dan Devan berusaha melindungi wanita itu?


...☘️☘️...


__ADS_2