
"Tante, Devan mana?" Tanya Berlian buru-buru.
"Ada di atas sayang, katanya mau minta maaf sama kamu sama Aryan juga," Udayana menepuk sofa kosong di sampingnya. "Sini duduk,"
"Berlian mau ke atas tante."
Abraham beranjak dari duduknya dan mendekati Berlian. "Kamu disini aja Berlian, kalau dia mau minta maaf biar di depan kami saja."
"Engga om, Berlian mau ke atas aja."
Berlian berlari mendekati Bu Nuri dari arah dapur. "Bu Nuri, biar Berlian aja yang ngasih minumannya," Meraih nampan ditangan Bu Nuri, membuat Bu Nuri kewalahan.
"Eeh eh, Non..."
"Gak papa, bu," Berlian melihat ke arah Abraham dan Udayana. "Berlian ke atas dulu om, tante." Abraham tidak bisa lagi menghentikan Berlian yang sudah berjalan cepat menaiki anak tangga.
"Sudahlah Pah, tidak akan terjadi apa-apa dengan Berlian kita,"
"Mama kan tahu, di keramaian saja Devan berani berbuat tidak senonoh. Bagaimana kalau di atas hanya ada Aryan?"
"Devan, anak yang baik Pah. Mama yakin kok, Devan benar-benar tulus meminta maaf," Abraham menatap istrinya lekat. Sebenarnya istrinya ini memang polos atau terlalu bodoh sih. Sudah terlihat jelas Devan seperti apa, masih saja istrinya memuji Devan.
Mungkin karena Udayana sendiri sudah menganggap Devan seperti anaknya. Jadi, dia percaya saja pada Devan.
Apalagi Devan adalah anak dari Disa Mahaprana, sahabatnya sejak jaman Sekolah Menengah Atas. Yang terpaksa jika bertemu mereka dingin dan ketus, bahkan terkadang saling sindir menyindir satu sama lain, karena memiliki problem tentang perebutan Zivana untuk siapa. Namun dihati Udayana maupun Disa Mahaprana, mereka berdua masih saling merindukan sebagai sahabat yang selalu kemana-mana berdua.
Udayana menarik lengan Abraham. "Eeiittss papa mau kemana???"
"Ke atas."
"Papa sayangnya Mama, percayakan pada putra sematawayang kita, dia tidak akan membiarkan siapapun menyentuh Berlian." Abraham kembali duduk di sofa dan meraih korannya lagi. Matanya memang meneliti gambar dikoran, tapi pikirannya berada di lantai atas. Dia takut, kalau terjadi apa-apa dengan Berlian, sudah pasti ia akan di teror oleh Samuel.
********
Berlian yang baru saja sampai mendengar bahwa Devan dan Aryan membicarakan dirinya. Menyebut namanya dalam pembicaraan mereka yang tidak di mengerti oleh Berlian.
Melangkah mendekat kearah dua pria tampan yang menyebalkan bagi Berlian.
__ADS_1
"Yang apa??" Devan dan Aryan melihat kearah Berlian, wanita itu berdiri dianak tangga membawa minuman ditangannya. Menatap Aryan dan Devan bergantian. Berlian lebih mendekat lagi. "Apa maksud lo? Gue? Gue kenapa?" Devan tersenyum genit kearah Berlian.
"Ada orangnya, Gue tanyak langsung aja kali ya?" Aryan hanya menatap datar Devan yang terus mengoceh.
Devan berjalan mendekati Berlian. "Jangan deket-deket, berdiri disitu saja. Telinga saya masih berfungsi dengan baik kok," Devan tertawa keras mendengar ucapan Berlian.
"Kamu takut sama saya, kamu takut kalau saya macem-macem lagi?" Berlian menggeleng.
"Saya gak pernah takut, lgian Aryan gak akan ngebiarin saya di sentuh sama kamu," Aryan menatap kearah Berlian, sedangkan Devan menutup mulutnya takjub mendengar pernyataan Berlian.
"Wow. Gue sampek kaget loh." Devan melihat Aryan yang berada dibelakangnya. "Hebat lo bisa ngambil hati ni cewek. Bener dia kan?" Aryan hanya menatap lurus tanpa menggubris pertanyaan Devan berulang-ulang.
"Ngomong aja. Apa yang mau di omongin gak usah belit-belit deh." Berlian melangkah mundur ketika Devan berjalan mendekatinya.
"Jangan jutek-jutek Bee " Berlian menatap sinis.
"Nama saya Berlian"
"Panggilannya kan Bee, ya gak sih?" Menatap Aryan, pria itu tidak menjawab. "Hah Aryan? yang gue baca di buku itu, panggilan terdekatnya itu Bee." Aryan menatap Devan tajam.
"Tulisan? Tulisan apa? Buku apa?" Menatap Aryan. "Tulisan apa maksudnya?" Berganti menatap Devan.
Aryan berjalan mendekati Berlian yang masih menatap kepergian Devan. "Gak jelas banget sih tuh orang?" Sambil melihat Devan yang berjalan dan berpamitan kepada Udayana disofa. "Kalian ngomong gue?"
"Enggak."
"Maksudnya dia tadi apa? Gue kenapa? Tulisan apa? Buku apa?"
"Engga ada apa-apa Berlian,"
Menatap sinis Aryan. "Gak usah bohong sama gue Aryan, lo kayak nyembunyiin sesuatu dari gue." Semakin kesal menatap wajah Aryan tanpa ekspresi.
"Tadi kan kamu denger sendiri, dia lagi bercanda. Anak itu emang gak pernah bisa buat lelucon. Ini kopi buat aku " Berlian melihat Aryan menunjuk minuman dinampan.
"Tadinya sih iya sama buat tu anak, tapi udah di habisin tuh sama dia," menunjuk Devan yang sudah pergi dengan dagunya.
"Yaudah, temenin minum yuk?" Berlian mengangguk dengan ajakan Aryan yang membawanya ke rooftop. Berdiri dari atas sini, Berlian masih dapat melihat mobil sport Devan yang baru keluar dari halaman rumah Mahesvara.
__ADS_1
"Sebenernya ada masalah apa sih lo sama Devan, kok kayaknya lo selalu masang wajah gak enak kalo ketemu sama dia?" Berlian melihat Aryan yang menyeruput kopi sembari duduk dengan tenang tanpa berniat untuk menjawab. "Keliatan banget lo benci sama dia?" Aryan terdiam lalu menatap Berlian yang berdiri didepannya.
"Bisa iya, Bisa juga enggak." Berlian mengerutkan kening mendengar jawaban ambigu Aryan.
"Iyanya kenapa? Enggaknya kenapa?" Berlian berjalan dan duduk disamping Aryan. "Kasih tau gue dong. Gue penasaran nih "
Aryan tersenyum melihat Berlian yang mulai ingin tahu tentang dirinya. "Iya, karena dia pernah merebut seseorang yang aku suka."
"Zivana?" Aryan mengangguk. Mengetahui Aryan mengakui wanita yang dia suka adalah Zivana membuat mood Berlian menjadi buruk. "Segitu sukanya lo sama dia?"
Aryan tersenyum. "Bisa dibilang gitu,"
"Gak usah jujur-jujur banget dong."
"Kenapa?"
Berlian tertawa. "Yaaa.... lo kan lagi sama gue yang secara garis besar, gue itu tunangan lo."
"Memangnya kenapa? Apa hubungannya?" Berlian terdiam. Benar juga, apa hubungannya. Kenapa Berlian harus mengucapkan itu. "Aku harus menjaga sikapku kepada siapapun di depanmu, aku harus menjaga bicaraku selagi bersamamu. Kenapa?"
Iya, Kenapa ya? Berlian sendiri tidak tahu. "Kenapa aku harus ngelakuin itu, sedangkan kamu tidak?" Berlian masih terdiam. "Berlian??" Aryan memanggil lagi.
"Hah?" Aryan tersenyum, sebaiknya ia tidak perlu melanjutkan pembicaraan ini. "Sampai mana tadi kita?"
"Iyanya kenapa? Enggaknya kenapa?" Jawab Aryan.
"Berarti lo tinggal jawab enggaknya."
"Umm,, Enggaknya, karena itu sudah masalalu, aku cuma ingin jaga jarak saja sama dia. Lagian kan sekarang.." Berlian mengembangkan senyuman.
Sekarang kamu udah punya aku, jawab gitu. Baru kali ini dia mencoba berharap lebih pada jawaban singkat Aryan.
".... Perempuan itu jauh lebih bahagia bersama dia. Kalau enggak, mungkin aku akan lebih benci sama laki-laki itu." Berlian memudarkan senyumannya. Ternyata Aryan masih memikirkan kebahagiaan perempuan itu.
Aryan mendongak melihat Berlian tiba-tiba beranjak dari duduknya.
"Mau kemana?" Berlian pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari Aryan. Bahkan berulang laki-laki itu memanggil namanya, Berlian tidak menggubris itu.
__ADS_1
...☘️☘️...