Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (21)


__ADS_3

Sepertinya ada sedikit persamaan dari Berlian dan Chacha, sama-sama cerewet. bedanya diawal pertemuannya dengan Berlian. Terlihat Berlian anak yang pendiam saat pertama bertemu. Tetapi, semakin kesini semakin lama mengenalnya, Berlian lebih cepat membuka diri tanpa harus orang yang memaksanya.


Sesekali Aryan menghela nafas berat, mendengar Chacha yang terus mengoceh. Sejak kapan gadis ini masuk kedalam kamarnya, Aryan sama sekali tidak merasa mempersilahkannya masuk.


"Aryan?" Panggilnya.


"Hmm"


"Sejak kapan lo bisa bahasa Jerman?" Aryan tidak menjawab karena terlalu sibuk memasukkan map kedalam tas kantornya. Berkas penting yang akan ia kerjaan nanti siang bersama rekan kerjanya.


"Jawab dong. Gue nanyak nih" Aryan duduk di sofa, menghadap lurus memandang calon adik iparnya yang sedang bertelungkup dikasur memainkan laptop miliknya. Aryan lagi-lagi lupa kapan ia mengizinkan Chacha meminjam laptopnya. Aryan tidak terlalu perduli itu.


"Udah lama, soalnya pernah sempat tinggal di Jerman" Chacha mengangguk paham sekarang.


Tinggal di Jerman. Pantas aja dia kelihatan gak kaku waktu ngomong pake bahasa Jerman. Gumam Chacha.


"Ngapain lo ke Jerman? Sekolah?" Aryan menggeleng.


"Mencari seseorang," Chacha mengerutkan dahinya.


"Siapa? Pacar lo?" Aryan tersenyum lalu menggeleng.


"Kamu tidak sekolah?" Selain bertanya karena penasaran, Aryan juga sedang mengalihkan pembicaraan.


"Kok ngalihin pembicaraan?" Chacha menangkap basah sikap Aryan. "Lo punya pacar?" Aryan menggeleng. "Terus lo nyari siapa?" Tanyanya lagi, ia jadi sangat penasaran dengan ucapan Aryan tadi, soal Aryan mencari seseorang.


"Seorang teman, tapi sudah ketemu kok," Chacha mengangguk.


"Gue kira lo punya pacar, gue gak mau Berlian kecewa lagi," Raut wajahnya tampak berubah.


"Aku gak akan buat dia kecewa." Chacha mengembangkan senyumannya.


"Serius?" Aryan mengangguk meyakinkan Chacha tentang ucapannya. Chacha sangat takut jika Berlian harus menderita untuk kedua kalinya. melihat Berlian yang seperti ini saja sudah membuatnya sesak.


"Jadi, kamu kenapa gak sekolah? Bolos?" Tanya nya sekali lagi, karena tadi ia belum mendapatkan jawaban.


"Gue ambil cuti. Lusa kalian tunangan kan, Yakali gue gak ada. Waktu lo pulang tiba-tiba, gue juga pulang kok ke Jakarta buat sekolah. Baru ambil libur lagi" Aryan mengangguk sembari menata kertas yang berserakan dilantai karena tadi Chacha yang tanpa sadar menggeser hingga terjatuh. Gadis ini sama sekali tidak merasa bersalah karena sudah menjatuhkannya. "Gue perlu manggil apa sih? Kayaknya gak sopan bener manggil lo dengan panggilan nama?" Ungkap Chacha menatap Aryan yang masih membenarkan kertas yang berserakan dilantai.


"Enaknya aja gimana? Aku gak keberatan kok, kamu panggil nama" Chacha mengetuk-ngetukkan dagunya berpikir. Panggilan apa yang cocok untuk Aryan.


"Gimana kalo abang? Ehh jangan-jangan itu cuma buat Angga seorang?" Chacha berbaring dan memeluk dirinya sendiri seperti sedang membayangkan ia memeluk Angga. "Apa ya bagusnya" Chacha mulai berpikir lagi.


"Angga" Nama yang tidak asing bagi Aryan.


"Iya Angga. Dia itu suami gue dimasa depan nanti" Aryan mengangguk sajalah. "Yaudah lah terserah gue manggil apa aja ya?"


"Oh iya Charlotte?"


"Chacha aja, gak enak bener manggil lengkap gitu. Gak sekalian, Oh iya Charlotte Wijaya Valfredo" Ucap Chacha sambil memperagakan ucapan Aryan.


Aryan hanya tersenyum melihat tingkah Chacha yang membuatnya gemas.


"Oh iya Chacha" Ucap Aryan ulang.


"Hmm"


"Farrel itu gimana orangnya?" Chacha yang kembali memainkan laptop Aryan langsung berhenti mendengar pertanyaan itu. Lalu melihat Aryan dengan tatapan sinis.


"kenapa lo nanyak soal dia?" Aryan menggeleng, ia kan hanya bertanya. Kenapa sepertinya Chacha tidak menyukai itu.


"Cuma penasaran aja"


"Lo gak usah cari tau tentang Farrel, lo harus jadi dirilo sendiri buat dicintai Berlian kakak gue. Farrel itu cuma cowok biasa yang beruntung dicintai Berlian. Bukannya merasa beruntung dia malah berbuat se'enaknya sama kakak gue. dengan ninggalin gitu aja pas lagi sayang-sayangnya" Aryan tersenyum mendengar ucapan Chacha yang amat panjang.

__ADS_1


"Chacha, aku kan cuma bertanya. Kenapa juga aku harus jadi orang lain buat dicintai Berlian" Chacha memandangi Aryan heran.


"Terus ngapain lo tanyak soal dia???!!??" Kali ini nada ucapannya berubah menjadi sinis.


"Iya cuma pengen tau aja kok" jawab Aryan asal.


"Gue kok gak yakin ya?" firasatnya tidak enak memandangi Aryan didepannya.


"Jangan gitu dong. Aku cuma nanyak aja, seperti apa sih pria yang dicintai Berlian"


"Pria biasa yang jauh dari kata sempurna, dia manusia biasa yang tidak luput dari segala dosa dan mara bahaya" Gelak tawa Aryan pecah mendengar ucapan Chacha. "Kenapa lo ketawak?" Tanya nya bingung karena melihat Aryan yang tertawa begitu kencang.


"Lucu aja, semua manusia kan begitu Chacha. Berarti aku termasuk pria yang itu juga kan," Chacha langsung menggeleng.


"Enak aja, lo itu beda"


"Bedanya??"


"Ya beda. Mana ada sih cowok yang terima apa adanya kayak lo ini, lo tau kan Berlian masih belum bisa lupain cowok itu," Aryan mengangguk membenarkan. "Waktu itu Berlian pernah di kenalin juga sama anak temen Pakde, tapi orangnya ngeselin mintak ampun"


"Kenapa???"


"Bukannya nerima Berlian yang masih belom bisa move on, ehh dia malah nyalahin Berlian kenapa gak mau ngelupain, mulai dari disitu, Berlian jadi males buat liburan kesini"


"Berarti sebelumnya Berlian pernah di jodohkan dengan beberapa pria?" Chacha mengiyakan, Timo sangat kasihan melihat Berlian yang selalu menyendiri. Makanya Timo mengenalkan beberapa pria kepada Berlian. Tapi itu tidak sampai waktu lama, karena mereka semua tidak cocok untuk Berlian.


"Gue kaget aja, kok Berlian tiba-tiba mau terima lo. Padahal dulu boro-boro tunangan, dikenalin aja gak mau,"


Perlu kamu tau. Berlian menerimaku juga karena kami membuat sebuah kesepakatan. Bukan adanya ketertarikan satu sama lain. Tidak!! Sepertinya cuma aku yang memiliki ketertarikan kepada Berlian.


Pintu terbuka lebar. Membuat Chacha dan Aryan melihat kearah pintu bersamaan. Udayana langsung masuk tanpa perlu izin dari Aryan. "Eh ada Chacha" Chacha langsung menegakkan badannya dan tersenyum kearah Udayana yang masuk.


"Hallo tante," sapa Chacha.


"Hallo juga sayang, kalian sedang membicarakan apa? Serius kelihatannya" Chacha langsung menggeleng.


"Kenapa mah?" Udayana langsung menatap putranya, ia sempat lupa apa tujuannya datang kekamar Aryan. Karena melihat Chacha disini membuatnya gemas dan melupakan tujuan utamanya.


"Nyonya Valfredo sudah datang,"


"Omaa," Chacha langsung berlari mendengar itu, melewati Udayana yang terkejut.


"Hati-hati sayang nanti kamu bisa jatuh" Chacha tidak menjawab.


********


"Holla Mr.Abraham," Abraham meraih uluran tangan dari Zoya Valfredo.


"Holla Mrs.Valfredo" Wanita berumur yang hampir menginjak angka tujuh itu tertawa.


"Panggil aku Zoya saja," ucapan itu masih terdengat medok khas jerman.


"Baik Nyonya Zoya," Zoya menggeleng.


"Panggil aku Z.O.Y.A tidak usah pakai nyonya," Zoya menepuk tangan Abraham memperingatkan. Abraham tersenyum lebar dan mengangguk.


Chacha yang berlari kencang langsung menyambar Omanya yang baru saja berpelukan dengan Sarah.


"Ich vermisse dich so sehr (dalam bahasa jerman 'Aku sangat merindukanmu')" Zoya membalas memeluk Chacha sangat erat.


"Oma juga sayang," Mengecup kening Chacha berulang. Berlian yang melihat itu dari atas melangkah untuk bergabung dalam kerumunan itu. Zoya melihat Berlian hanya melambaikan tangan, Berlian tidak terlalu akrab dengan Zoya karena terakhir kali bertemu mereka bertengkar besar.


"Kamu tidak ingin memeluk Oma?" Berlian menggeleng.

__ADS_1


"wofür? Weil meine Beziehung zu Farrell vorbei ist? (dalam bahasa jerman 'untuk apa? Karena hubunganku dengan Farrell sudah berakhir?')" Aryan langsung menoleh melihat Berlian yang berdiri disampingnya. Semua orang hanya saling pandang karena tidak mengerti.


Basagita yang berada dibelakang Zoya menggeleng menatap Berlian, memperingatkan agar tidak mengatakan Apa-apa.


Zoya mendekati Berlian. "Oh apa yang kamu katakan, darl?" Zoya tertawa melihat beberapa orang, takut mereka tahu bahwa hubungan dirinya dan Berlian sedang tidak baik.


"Tu nicht so, als ob es uns gut ginge (dalam bahasa jerman 'Jangan pura-pura kita baik-baik saja')" Zoya memudarkan senyumannya dan menatap beberapa orang disana tidak enak.


"Berlian, sebaiknya kembali ke kamarmu," Tanpa membantah ucapan sang Mama, Berlian berbalik pergi dari tempat itu.


Udayana lalu mendekat. "Perkenalkan Zoya, ini Aryan anakku. Dia calon tunangan Berlian " Udayana berusaha melerai kecanggungan dikeluarga ini. Lagipula pembicaraan mereka berdua tidak ia mengerti, Aryan mengangguk menyapa. Lalu memeluk Zoya.


********


"Kann mitmachen (dalam bahasa jerman 'boleh bergabung')" Berlian melihat Aryan yang menghampirinya.


"Silahkan?"


Aryan duduk di samping Berlian, menatap perempuan itu dalam posisi dagu bertopang pada sandaran bangku, menatap tempat pertunangan yang sedang di dekorasi. Tempat duduknya membelakangi panggung membuat Berlian duduk dengan posisi yang menggemaskan. Menurut Aryan.


"Oma gue itu dari dulu gak pernah suka sama Farrel, katanya dia itu gak bertanggung jawablah, gak punya pekerjaan tetaplah. Dia terus aja nyuruh gue buat putusin Farrel, kesel gak sih?" Berlian menatap Aryan yang tersenyum.


"Aku ngerti kok," Berlian menarik nafas panjang.


"Sorry gue malah cerita sama lo" ucap Berlian sadar.


"It's OK. jangan terlalu canggung, kita bisa memulai semua dengan label pertemanan," Aryan melihat Samuel yang berjalan kearah mereka. Pikiran Aryan langsung waswas.


"Hai tuan Aryan, anda harus berangkat kerja sekarang," Aryan tersenyum melihat perintah dari Samuel. Memang dirinya kini sudah rapi memakai setelan jas.


"Iya om, ini mau berangkat kok." Jawab Aryan.


"Berhenti memanggilku om, aku bukan om mu Aryan. Panggil aku Daddy," Berlian menatap Daddy nya aneh.


"Kenapa aku harus memanggil anda Daddy"


"Karena aku Daddy Berlian," Aryan mengerutkan keningnya. "Ikuti saja"


"Ee iya Daddy, ini mau berangkat." Jawab Aryan canggung.


"Sudah hampir jam sepuluh pagi, anda akan terlambat dan jangan terus rayu anakku, karena dia tidak akan menyukaimu," Berlian tertawa mendengar perkataan Samuel yang menantang.


"Kita lihat saja nanti," Aryan lebih menatang lalu melambaikan tangan kepada Berlian dan berjalan menjauh. Samuel melototi kepergian Aryan.


"Berani-beraninya dia." Berlian semakin tertawa mendengar ucapan Samuel yang seperti anak kecil.


"Sudah dong Daddy." Samuel langsung mendekati Berlian yang kini sudah kembali duduk dengan posisi yang benar.


"Semalam Daddy tidur dimana?"


"Hotel,"


"Kenapa gak disini aja??"


"Cuma menginap di hotel tidak membuat Daddy bangkrut sayang," Berlian tertawa saja. "Sudah bertemu dengan omamu?"


"Sudah " Samuel menghela nafasnya.


"Kenapa wanita tua itu datang, menyebalkan." Berlian yang tadinya murung berubah tersenyum. Samuel satu-satunya orang yang sama dengan dirinya, tidak ingin akrab dengan Zoya.


Dulu, Zoya sempat menuduh Samuel akan merebut Basagita dari anaknya, namun kini Zoya malu karena tuduhan itu tidaklah benar.


"Mari kita cuekan dia sampai akhir," Samuel mengepalkan tangannya ke arah Berlian. Membuat Berlian langsung menggenggam kepalan tangan Samuel, menyetujui.

__ADS_1


"Siap Pakk." Bergerak memberi hormat.


...☘️☘️...


__ADS_2