
Berlian mulai terbiasa ketika bangun dari tidur di pagi hari, alunan musik piano akan selalu terdengar di telinganya. Ia kembali memejamkan matanya, bukan untuk melanjutkan mimpi yang sempat tertunda. Tapi untuk menikmati alunan musik yang di mainkan, Berlian mengukir sebuah senyuman.
Ketika sudah tidak lagi terdengar, Berlian bergerak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, pagi ini tidak perlu berendam, Berlian tidak mau membuat mereka menunggu. Setelah siap, baru membuka pintu, Berlian di kejutkan dengan Abraham yang berdiri di depan pintu kamarnya sembari membawa tas kantor di tangannya. "Baru aja om mau bangunin,"
Berlian tersenyum. "Udah dari tadi kok om."
"Sarapan sendiri ya. Om sama Aryan mau berangkat, ada meeting mendadak, Gena ada di belakang. Tante katanya lusa baru pulang, minta temenin Gena saja ya makannya?" Berlian mengangguk dan Berlian mengantarkan sampai Abraham masuk kedalam mobilnya. Berlian berbalik melihat Aryan yang mengelus puncak kepalanya.
"Jangan lupa makan. Aku berangkat?" Berlian melambaikan tangan ke arah Aryan yang membalas dengan senyuman manis. Seharusnya Berlian menyadari lebih awal bahwa senyum manis yang di berikan Aryan adalah cokelat panas yang menghangatkan.
Berlian suka cokelat panas.
Berlian berjalan menuju ruang makan, waktunya sarapan. Sendiri lagi, Berlian tidak suka itu.
Berlian merenung sejenak menatap makanan yang tersedia, hingga akhirnya ia menemukan sebuah ide.
Berlian membawa sarapannya menuju taman belakang, melihat beberapa pekerja membersihkan halaman taman. Berlian tidak akan makan sendirian.
"Pagi nona," Berlian membalas tersenyum.
Suasana hatinya sedang baik sekarang. Jadi Berlian akan mengawali harinya dengan menebarkan senyuman manisnya. Bahkan Berlian lebih dulu menyapa mereka yang tidak melihat kehadiran dirinya.
Mendaratkan pantatnya di gazebo cukup besar. Disana, sudah ada Gena yang sibuk mengerjakan tugas kampusnya.
"Sibuk?" Gena mendongak.
"Iya kak, harus di kumpul sekarang lagi," menatap Berlian lesu.
"Kenapa baru di kerjain sekarang??"
"Tadi malem mager,"
Berlian menggeleng saja, hal itu memang sering terjadi, "Gena, kuliah jam berapa???"
"Jam sebelas nanti kak, why?"
"Kakak anter ya???" Gena mengangguk bahagia, tentus saja bahagia, ini kan pertama kalinya Berlian menawarkan diri mengantarkan dirinya, biasanya perempuan itu terlalu malas ikut campur pada urusan orang-orang di rumah ini. "Makan mas Dodit??"
Dodit menatap Berlian terkejut, "iya, nona." Berlian makan perlahan sembari menghirup udara segar.
"Makan Pak Hendra" yang disapa mengangguk. Sedangkan Gena menatap heran. Tumben.
"Kelihatannya nona Berlian lagi bahagia nih." Dodit meneguk air mineral yang di sediakan di sebelah Berlian duduk.
Berlian malah cengengesan. "Saya emang selalu bahagia loh mas Dodit," ucap Berlian membantah pernyataan dari Dodit.
"Tapi beda nona. Semalam pas sehabis pulang dari ngedate, cemberut gitu saya lihat," Berlian menatap Dodit.
"Siapa yang ngedate?? Kami cuma habis jalan-jalan," Dodit hanya tertawa mendengar Berlian yang tidak mau mengakui, padahal itu memang faktanya.
"Kirain emang ngedate," pasrah mendengar elakan yang tidak di terimanya.
"Mas Dodit itu butuh liburan jauh, biar pikirannya fresh," cela Gena yang duduk di sebelah Berlian, padahal gadis itu terlihag sedang asik mengerjakan tugasnya, namun ternyata dia juga menyimak obrolan antara Berlian dan Dodit.
"Haha.. Kenapa malah jadi saya,"
"Ya iyalah.. Iri kan? Lihat mas Aryan sama kak Berlian jalan gitu, jomblo diem aja."
__ADS_1
"Memangnya nona Gena punya pacar? Ngomongin saya jomblo," tidak mau kalah.
"Punya dong," Gena menjulurkan lidahnya ke arah Dodit dengan wajah mengejek.
Dodit mendelik, "saya gak percaya,"
"Awas saja kamu mas Dodit, Gena bakal tunjukin kalau Gena ini punya pacar ganteng."
"Iya,,, saya,,,,"
"Sudah jangan berantem..." Berlian melerai kedua anak muda yang sibuk beradu Argument. Dodit termasuk anggota lama yang bekerja disini, mungkin itu yang membuatnya terlihat biasa saja.
Tapi tidak hanya Dodit, Udayana dan Abraham membuat suasana rumah seperti keluarga, tidak membedakan siapa mereka.
"Jangan ganggu nona Berlian," bu Nuri datang menegur, melihat Berlian kewalahan melerai dua anak muda yang sedang berdebat.
"Mereka gak ganggu saya kok bu," meraih gelas jus yang di berikan bu Nuri. "Terima kasih, bu."
"Sayang, kerjain tugas kamu. Biar nanti tidak terburu-buru," Gena berdiri memberi Hormat.
********
"Kak, sampai sini aja!!!!!!" Teriakan Gena membuat Berlian harus mengerem mendadak.
"Gena, jangan ngagetin gitu dong. Untung kita gak kenapa-kenapa," bukannya menaggapi, Gena malah sibuk celingak-celinguk. Seperti seorang pencuri yang takut ketahuan. "Ada apa??"
"Hah. Kaget aku," Melihat wajah Berlian sebentar. "Aku takut pacar aku lihat," Berlian mengerutkan keningnya.
"Memangnya kenapa???"
Brukk....
Berlian kaget ketika pintu mobil sudah tertutup. Gena malah menabrakkan dirinya ke mobil. Membuatnya bergegas keluar, karena khawatir.
"Gena ada apa?"
Berlian mendekat, melihat wajah Gena terlihat pucat, matanya melihat seorang laki-laki yang datang mendekat.
"Gena, kamu ngapain??" tanya laki-laki itu dengan wajah kaget dan terkejut.
"Bimo, Akuu,," laki-laki itu menarik tangan Gena untuk mendekat kepadanya, lalu dia membungkuk kepada Berlian.
"Maaf nona, kalau pacar saya lancang menyentuh mobil anda," Berlian sendiri malah di buat bingung. Menatap Gena dengan berjuta pertanyaan. Gadis
itu menatap Berlian dengan memelas, memberikan isyarat agar tidak bertanya apa-apa.
"It's Oke"
"Ayooo," menarik Gena untuk segera pergi. Saat mereka berjalan melewati Berlian, Gena membisikkan sesuatu.
Nanti aku jelasin.
Berlian tersenyum melihat Gena, padahal ia belum mengerti maksudnya. Ia lebih memilih masuk mobil dan berjalan pergi. Ia masih punya jadwal untuk mengantarkan kue bolu buatannya tadi.
Setelah memasuki halaman Hotel Mahesvara, Berlian memarkirkan mobilnya setelah di arahkan satpam disana. Melihat Berlian keluar mobil satpam itu membungkuk. "Selamat datang nona,"
Berlian ikut membungkuk.
__ADS_1
Waw, Pelayanan yang bagus.
Ketika melihat Berlian masuk ke dalam hotel, seluruh pegawai membungkuk Hormat kepada Berlian. Dia hanya angkat bahu tidak perduli.
Setelah sampai di meja Resepsionis. "Hallo nona Berlian, selamat datang,"
"Kamu tahu saya?" Resepsionis itu mengangguk. "Apa Aryan ada?"
"Bapak Aryan baru saja selesai rapat, sebentar lagi keluar," jawabnya dengar ramah.
"Bisa antarkan saya keruangannya?" Resepsionis mengangguk, dan pamit kepada rekan kerjanya. Lalu berjalan mendekati Berlian.
"Berlian," seorang laki-laki dengan setelan jas berwarna navy mendekat. Membuat moodnya buruk saja. "Waw, aku kira kalian tidak seakrab itu"
Berlian tidak menjawab, ia lebih memilih mengajak resepsionis yang akan membawanya keruangan Aryan pergi. Untuk apa ia ladeni laki-laki tidak bermutu di hadapannya. Beberapa orang memperhatikan gerak gerik laki-laki yang berjalan mendekati Berlian.
Bukannya menyerah pria itu malah mengikuti Berlian sampai di depan pintu lift. "Cuek banget? Mau keruang Aryan? Aku tau!! Mau aku antar?" Berlian berbalik, selagi menunggu pintu lift terbuka.
"Maaf tuan, kita tidak seakrab itu.
Permisi," pintu lift terbuka, Berlian masuk di susul resepsionis di belakangnya.
"Mau aku kasih tahu sesuatu," Berlian menatap. "Rahasia tentang Aryan, berhubungan denganmu," Berlian tertawa kecil.
"Tuan Devan. Huh, memangnya saya perduli ya?" Pintu lift tertutup. Wanita di belakangnya hanya terdiam memendam rasa penasarannya. Bukan menjadi rahasia lagi, mereka tahu tentang malam pesta sewaktu itu. Soal Berlian, Aryan dan Devan.
Mereka tidak berani bertanya apapun, walaupun biang gosip sudah satu ruangan bersama Berlian sekarang.
Berlian di sambut oleh seorang wanita di depan lift. Ia memperkenalkan diri sebagai sekretaris dua, Cika. "Selamat datang nona," Berlian tersenyum. "Mari ikuti saya"
Berlian mengikuti sekretaris dua menuju ruangan Aryan. Setelah masuk, di taruhnya kotak berisi kue di atas meja.
"Jika ada ada sesuatu yang dibutuhkan bisa panggil saya nona," Berlian mengangguk.
Dia berkeliling menyusuri ruang kerja Aryan, laki-laki itu memang suka kerapian ya? Buku-buku yang tertata rapi, ruang kerja bernuansa abu-abu gelap dan terang. Berlian duduk di kursi kebesaran Aryan, beralih menatap sekelilingnya.
Mengambil sebuah foto pada bingkai kecil, empat anak remaja memakai seragam SMA, Berlian kenal mereka. Reza, Zaskia, Aryan dan Devan.
Selain masalah Zivana, apalagi yang membuat Aryan dan Devan tidak saling akrab. Padahal dilihat dari foto ini, mereka seperti empat sekawan.
Berlian berdiri dan duduk di sofa, mencari kesibukan dengan membaca majalah di bawah meja.
Selang beberapa menit.
Klik....
Pintu terbuka, terlihat Aryan dan sekretaris masuk, sepertinya mereka tidak sadar dengan keberadaannya disana, Berlian melihat mereka tertawa bersama, bagaimana bisa seorang atasan dan sekretarisnya bicara sesantai itu. Pikirannya menggerogoti, Berlian mengurunkan niatnya untuk menegur Aryan.
Yang membuat mata Berlian melotot adalah saat Sekretaris itu melangkah lebih dekat kepada Aryan, itu terlihat jelas sekali.
"Pak dasi anda," sekretaris itu mendekat merapikan dasi Aryan yang miring.
Mereka sama-sama terkejut dengan suara deheman Berlian. Terlihat dari ujung mata Berlian, Sekretaris itu menjauh dari Aryan ketika melihat Berlian duduk disana.
"Berlian,,"
...☘️☘️...
__ADS_1