Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (68)


__ADS_3

"Loh, ke Jakarta?" mengitari pandangan kekanan dan kekiri, mereka sedang melewati Tugu Monumen Nasional, Ciri khas dari Ibu Kota Indonesia.


Untuk melaksanakan makan malam romantis saja mereka harus keluar kota, menggunakan Jet pribadi. Berlian menjadi penasaran seperti apasih sisi keromantisan dari putra sematawayang Mahesvara.


Lalu, dimana mereka akan makan malam? Tunggu, Aryan tidak akan menyewa dapur Istana Presiden hanya untuk makan malam mereka kan? Berlian menggeleng pelan. Tidak mungkin Aryan senekat itu, lagian itu terlalu berlebihan. Tapi, untuk ukuran putra sematawayang Mahesvara itu tidaklah berlebihan.


Berlian melirik Aryan sekilas. Bulu kuduknya berdiri, ia merasa merinding berada didekat Aryan. Aura pria itu terlalu mengerikan, ia selalu mendapati kesederhanaan dari Farrel.


Dan lagi, keluarganya tidak mendidik Berlian dengan kemewahan. Hanya saja Daddynya yang suka berlebihan. Dan sekarang, ia akan mendapatkan kemewahan dari Aryan. Tidak, Berlian belum siap.


Sebentar. Kenapa Berlian punya pikiran seperti itu sih? Berani-beraninya ia membandingkan Aryan dan Farrel. Tentu saja mereka berbeda.


Aryan mengerutkan keningnya, ia melihat Berlian dengan tingkah aneh. Sedari tadi ia perhatikan wanita itu diam saja, tapi kemudian ia tampak berpikir, selang beberapa menit tiba-tiba wanita itu menggeleng. Apalagi ditambah dengan gerakan tubuh yang tampak tidak tenang. Aryan merasa heran sendiri. Awalnya ia ingin bertanya, tapi sudahlah lebih baik ia pendam saja.


Senja sudah menyelimuti kota Jakarta, pertanda hari semakin sore. Jalanan semakin padat, untuk pekerja kantor mungkin ini waktunya mereka beristirahat. Untuk pedagang kecil pencari rezeki ini sudah waktunya mereka mulai berkeliaran.


Berlian menikmati itu, matanya terus tertuju keluar jendela. Sedangkan Aryan, pria itu kembali sibuk dengan pekerjaannya yang tidak bisa ditinggal barang sebentar saja.


Mobil yang mereka tumpangi sudah masuk dalam kawasan tempat mereka akan makan malam.


Ah, disini rupanya, otak Berlian berputar. Tempat dimana ia pernah kesini juga. Restaurant ini cukup terkenal.


"Berlian, Ayo keluar?" Aryan menyadarkan Berlian, yang termenung.


Pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu Berlian keluar dari dalam mobil.


Seorang petugas keamanan datang menghampiri dan menunduk hormat melihat kedatangan mereka. "Selamat datang Tuan, Nona" ucapnya, Berlian membalas dengan tersenyum tipis. Sedangkan Aryan seperti biasa, berwajah datar. Petugas itu mempersilahkan mereka masuk, dan mengarahkan mereka menuju lobi gedung.


"Duduk sebentar" suruhnya kepada Berlian, lalu pria itu pergi.


Beberapa menit setelah Aryan pergi, pria itu kembali dengan seorang wanita dibelakangnya. "Selamat datang Nona Berlian?"


"Iya" Berlian tersenyum kaku.


"Saya Lisa, Manager disini. Mari ikuti saya Tuan, Nona" Aryan dan Berlian mengikuti manager wanita itu sampai didepan lift VIP, sa'at pintu terbuka Manager wanita itu memberikan perintah dengan hormat untuk Aryan dan Berlian masuk terlebih dahulu.


Tentu keduanya masuk. Lalu wanita itu ikut masuk dan menekan tombol menutup pintu dan tombol untuk naik kelantai yang dituju. Tidak ada hentinya wanita itu tersenyum lebar, menjunjung tinggi Aryan sebagai salah satu Investor digedung ini, memuji kecantikan Berlian, membanggakan kecocokan mereka berdua.


Pantas saja, mereka datang disambut begitu hangat. Sampai yang mengarahkan tempat untuk mereka makan saja Managernya secara langsung. Ternyata, Aryan adalah Investor disini.


"Akhirnya hari ini tiba juga ya Tuan?" menatap Berlian sebentar, lalu beralih menatap Aryan dengan senyum yang sangat lebar.


Mungkin itu kenapa ia dijadikan sebagai Manager disini, karena ia orang yang menyenangkan dan sangat ramah.


"Iya" menarik tangan Berlian untuk bertengger pada lengannya.


"Kami sudah lama menunggu kedatangan Anda" ucap staff wanita itu dengan menyerongkan badan menatap keduanya.


Aryan tersenyum. "Maaf membuat kalian menunggu" tapi tidak terdengar seperti sebuah penyesalan. Mungkin ia hanya sedang basa-basi.


"Haha, tidak masalah" wanita itu kembali menatap lurus kedepan.


Berlian menggerakkan tangannya yang berada pada lengan Aryan.


"Ada apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Gue pernah kesini" sedikit berbisik, ia harus menurunkan intonasi suaranya. Tidak ingin membuat wanita didepannya ini mendengar.


"Oh ya? Kapan? Sama siapa?" pintu lift terbuka.


"Silahkan Tuan, Nona?" wanita itu sudah berdiri menyerong, mempersilahkan Aryan dan Berlian keluar terlebih dahulu.


Berlian baru sadar, kenapa ia harus mengenakan pakaian yang sedikit rapi. Restaurant ini sering digandrungi kaum sultan, seperti yang terlihat. Semua orang mengenakan pakaian yang terlalu mewah terkesan berlebihan.


Bukan, bukan berlebihan. Lebih tepatnya itu memang style mereka, gaya mereka. Berlian saja yang tidak tahu itu.


Tempat ini sering digunakan sebagai tempat perayaan, misalnya pesta ulang tahun, pesta pelepas masa lajang atau acara untuk melamar pasangan.


Beberapa dari mereka sudah tertawa terbahak disana, melepaskan penat yang bersarang pada otak.


Melupakan sejenak keresahan hidup masing-masing, meluapkan emosi bahagia untuk sesa'at.


Lantai ini cukup luas, ada banyak kursi berpasangan atau berkelompok. Terserah bagi tamu memilih untuk duduk dimana, jika mereka sedang merayakan sesuatu bersama teman atau keluarga mereka akan memilih untuk duduk berkelompok dengan meja panjang besar atau bundar besar dengan banyak kursi. Jika mereka sedang ingin makan malam berdua saja, mereka bisa memilih dengan meja kecil dan dua kursi.


Kalau mereka ingin sedikit membuat sebuah privasi, mereka boleh memilih ruang lantai atas.


Dengan tangga cukup lebar, lantai atas tetap akan bisa melihat kemeriahan lantai dasar. Bahkan tidak ada dinding pembatas ataupun kaca pembatas, dibiarkan terbuka.


Lantai itu yang akan Aryan dan Berlian pakai, Aryan membutuhkan sebuah privasi. Walaupun lantai atas tidak kalah ramainya, tetap saja mereka diberikan jarak untuk urusan pribadi masing-masing.


Biasanya para pejabat yang menggunakan lantai itu, karena mereka butuh ketenangan namun tetap mendapatkan hiburan. Dan para pekerja atau pemilik diperusahaan besar, mereka butuh ketenangan untuk sekedar meeting penting.


Cukup banyak pilihan, mereka ingin menghadap keluar jendela atau mereka ingin fokus pada permainan alat musik, dari band atau penyanyi terkenal yang akan mengisi, atau pianis yang akan membuat nuansa menjadi sangat romantis.


Ditengah ruangan dibiarkan kosong luas, biasanya mereka akan menyuguhkan tarian tertentu atau dansa dari para tamu dengan iringan alat musik piano. Karena ditengah-tengah itu, sebuah alat musik piano berwarna putih bertengger megah.


Mereka duduk langsung menghadap kelantai dasar. Hanya makan berdua, kenapa Aryan harus memesan untuk bangku keluarga sih. Dasar pemborosan, gerutu Berlian didalam hati.


"Sama Angga, soalnya Papanya juga Investor disini, terus itu pas acara ulang tahun Papanya gitu"


Berlian ingat dengan jelas, belum sampai Papa Angga meniup lilin. Berlian sudah ditarik paksa oleh Angga untuk pergi, ia tahu pasti, bahwa Angga mendengar


kata-kata pedas dari beberapa tamu. Wajahnya sudah merah menahan amarah. Pasti karena Papa dan Mamanya mengadakan pesta untuk ulang tahun dan soal pewaris harta mereka adalah anak angkat.


Jadi, Angga merasa malu bercampur marah. Pilihan yang ia pilih membawa Berlian pergi menuju kamar Hotel yang tersedia jika ada yang ingin menginap.


Angga dan Berlian menghabiskan waktu dikamar Hotel dengan bermain PSP.


"Ohh" cukup tenang mendengar jawaban dari Berlian. Maaf, dia sudah berpikiran panjang.


"Farrel gak mungkin bisa bawa gue kesini" ucapnya tanpa sadar. Sedangkan Aryan pura-pura tidak mendengar kalimat itu.


Seorang wanita cantik berdiri ditengah lantai dasar, lalu dia bernyanyi sangat merdu. Katanya diRestaurant ini akan selalu ada Artis papan atas yang bernyanyi. Maka dari itu Berlian menyipitkan matanya, setidaknya ia mungkin mengenali wanita yang sedang bernyanyi itu. Tadi ia sempat mendengar bawa mereka senang jika wanita itu yang bernyanyi. Memangnya siapa dia?


"Isyana Saraswati" Berlian menatap Aryan datar.


Apasih??


"Dia" menunjuk sang penyanyi wanita dengan dagunya.


"Ooh, itu" Berlian manggut-manggut, padahal ia juga masih belum mengerti, apakah dirinya tahu atau tidak.

__ADS_1


Berlian sedikit memperlebar pandangannya, sejak kapan makan malam disini yang menyajikannya langsung Kokinya atau Berlian sendiri yang tidak tahu akan hal ini? Atau mungkin karena mereka berada dilantai VIP.


"Selamat malam Tuan Aryan dan Nona Berlian?" ucap sang Koki.


"Selamat malam" jawab Berlian.


"Silahkan dinikmati" dengan bantuan pelayan menyajikan makanannya. Dan kini mereka menjadi pusat perhatian lantai VIP.


Sembari pelayan menyajikan makanannya, Koki itu menjelaskan apa yang kini ada dihadapan mereka, mulai dari manfaatnya, kandungannya, bagaimana cara membuatnya. Berlian tersenyum menanggapi, ia harus menghargai kerja keras Koki ini. Terkadang ia pura-pura bertanya sekenaknya, padahal itu sama sekali tidak ia masukkan kedalam otaknya. Kenapa ia harus memahami hal itu, ia kan tidak akan memasak?


Aryan sendiri senyum-senyum melihat Berlian seakan-akan ingin tahu soal masakan, padahal Aryan juga mengetahui bahwa Berlian sama sekali tidak tertarik.


********


Setelah mereka menyesap hidangan penutup dengan mewah, tidak ada obrolan satupun yang keluar dari mulut mereka sejak mereka mulai menyantap.


Ting.... Ting.... Ting.....


Suara benturan antara gelas kaca dan garpu. "Selamat malam semua, bisa saya minta perhatiannya sebentar?" seorang wanita dengan gaun berwarna hitam berdiri tepat ditengah-tengah lantai dasar, wanita itu juga mendongak keatas meminta perhatian tamu lantai VIP.


Aryan dan Berlian sama-sama melongok. Wanita itu mengangkat gelas berisi Anggur. "Hari ini adalah hari bahagia saya, setelah lama saya mengejar seorang pria akhirnya ia mau menjalin hubungan dengan saya dan kami berpacaran selama lima tahun. Dan kini dia telah menjadi suamiku, ini malam kedua kami. Saya memohon para tamu lantai dasar dan lantai VIP mau ikut berbahagia" tampak semua ikut memandang dengan serius, Aryan mengangkat gelas berisi Anggurnya.


Aryan mendekat ketelinga Berlian. "Hargai dia?" membuat Berlian mengangkat gelasnya. Para tamu lain ikut mengangkat gelas mereka.


"Terima kasih Tuan, Nona. Semoga kalian mendapatkan kebahagiaan lebih besar dariku" sontak mereka sama-sama meminum air anggur sampai habis setelah wanita itu menghabiskannya duluan. Wanita itu menunjuk kearah seorang pria untuk mendekat awalnya semua mengira pria itu adalah suaminya ternyata seorang pianis muda. "Turunlah. Mari kita berdansa. Saya akan merasa bahwa kalian semua ikut merasakan kebahagiaan bersama saya?" ucapnya lagi, belum ada tanda-tanda seseorang maju untuk berdansa.


Berlian terkejut ketika melihat Aryan sudah berdiri dan mengulurkan tangannya.


"Kemana?" tanya Berlian.


"Dansa?"


"Tapi belum ada yang turun"


"Kenapa harus nunggu orang kalau kamu sama aku bisa memulainya lebih dulu" membuat Berlian menerima ajakan itu.


Mereka menuruni tangga dengan menjadi pusat perhatian, sampai mereka menuju lantai dasar berdiri berhadapan dengan wanita pengundang dadakan ini.


"Terima kasih Tuan, Nona. Tampaknya kalian sedang berbahagia malam ini. Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan ini kepada saya. Semoga kalian berbahagia selamanya bersama"


Apasih? kenapa berlebihan banget ni orang. Berlian tersenyum canggung menatap wanita itu.


Beberapa tamu mulai ikut bergabung setelah Aryan dan Berlian lama berdansa, sepertinya mereka melihat penampilan Aryan dan Berlian dulu.


Aryan mengganti posisi, menarik Berlian kedalam pelukkannya, tangan kiri yang semula berada pada lengan Aryan tarik sampai kebahu, untuk tangan kanan yang semula bertautan dengan tangannya, ia pindah sampai kebahu juga. Aryan menarik Berlian dengan memeluk erat pinggang wanita itu.


Berlian nurut saja, wanita itu seperti sedang terhipnotis oleh Aryan. Entah apa yang membuat Berlian menyandar pada bahu Aryan, menutup mata sekedar merasakan alunan romantis dan pelukan hangat Aryan. Setiap menyentuh Aryan tanpa sengaja atau Aryan sengaja menyentuhnya, Berlian merasakan tubuh pria itu begitu hangat. Membuatnya nyaman berada didekat Aryan.


Pria itu menaikan satu tanganya sampai kepunggung Berlian, menyandarkan kepalanya dikepala Berlian, ikut menutup mata merasakan kedekatan ini.


Berlian membuka mata ketika merasakan Aryan mengecup puncak kepalanya. Membuat Berlian meneteskan air mata.


Aku rindu Farrel. Dengan cepat Berlian menghapus air mata itu.


Braaaaaakkkkk..........

__ADS_1


Disaat semua sedang menikmati, gerbrakan pada meja terdengar keras, dari salah satu meja tamu disana.


"Hentikan drama ini" Aryan, Berlian dan para tamu yang sedang berdansa terpaksa berhenti. Alunan piano juga sudah ikut berhenti.


__ADS_2