Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (40)


__ADS_3

Beberapa hari ini, Berlian mendapati Aryan yang terus membuntuti dirinya kemanapun. Ya, seperti saat ini, dia melirik laki-laki menjengkelkan di sampingnya.


"Gue bisa pergi sendiri," Melirik tajam.


"Tidak bisa, papa suruh aku buat ada di dekat kamu terus." Jawabnya sembari mengemudikan.


Berlian berdecak kesal. "Gue bukan bayi Aryan. Gue tau, gue harus kemana "


"Kamu gak tau jalan sekitar sini Berlian," jawaban Aryan membuat Berlian memilih bersandar dan memejamkan matanya.


Sudahlah, Berlian tidak lagi perduli. Yang terpenting ia bisa keluar rumah, ia sangat merasa bosan berlama-lama di dalam rumah itu.


Dengan hati yang berani Berlian meminta izin kepada Abraham untuk keluar malam. Awalnya Abraham menolak ketika tahu bahwa tidak ada yang menemani Berlian, Udayana sedang menginap dirumah adiknya.


Entah dari mana asalnya, Aryan mengajukan diri untuk menemani Berlian. Tentu saja diiyakan oleh Abraham.


"Kamu kenapa sih? Bukannya dari siang gak kenapa-kenapa, kenapa jadi marah-marah terus?" Berlian menepis ketika tangan Aryan hampir menyentuh keningnya.


"Nyetir yang bener."


Masih fokus menatap jalan dia melirik Berlian. "Kamu itu kenapa?"


"Gak apa-apa,"


"Kata Gena, cewek kalau bilang gak papa. Pasti ada apa-apa,"


"Ck. Sok tau"


"Kamu sakit?" Aryan benar-benar khawatir jika terjadi sesuatu pada Berlian, namun perempuan itu terus saja mengelak.


"Hmmm,"


"Berlian, kamu sakit???"


"IYAAAA!!!!!" Teriaknya, dengan gesit tangannya menumpu tubuhnya agar tidak tersungkur saat tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Salahnya jiga tidak memakai seatbelt. "Woy, kalau gak bisa bawa mobil bilang dong, gila ya? mau bikin gue mamp*s ya?"


"Maaf, Berlian." Setelah memeriksa kondisi Berlian yang baik-baik saja, dia mulai memasangkan sabuk pengaman pada Berlian. Lalu dia menepikan mobilnya.


"Kenapa berhenti sih? kan toko bukunya masih jauh, ya ampunnn...." Geramnya, herannya dia tidak pernah sekalipun tenang saat bersama Aryan.


"Kalau kamu sakit kita kerumah sakit saja? Masalah buku nanti biar aku yang beli,"


Berlian melototi Aryan. "Gue gak mauuu!!!"


"Kamu sakit apa?" Berlian mencoba mengatur nafasnya. "Heii, Berlian, tell me what do you feel." Mengguncang tubuh Berlian pelan,


"Hmm,,,"


"Pusing ya?? Aku ada obat sakit kepala di sini kayaknya," mencari kotak obat yang selalu di bawanya. "Di mana sih?" karena panik seketika kotak obat itu tidak terlihat di matanya,


"Gue gak apa-apa," ucapannya tidak di tanggapi, "Aryan, gue gak kenapa-kenapa loh." Aryan masih sibuk mencari dengan mulut yang terus mengomel mencari kotak obat yang tidak kunjung ketemu. "Aarrgghhhh, gue sakit hati b*go."


Tangan Aryan berhenti mencari, "sakit apa?"


"Ck?" kebodohan Aryan membuat Berlian kesal dan memilih keluar dari mobil.


"Heyy, Berlian tunggu, kamu samit hati?" teriakannya tidak di gubris membuatnya ikut keluar menyusul Berlian. "Liver? Itu berbahaya Berlian. Kita perlu periksa, takut kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu?" Aryan mencoba mempercepat langkahnya dan menarik lengan Berlian untuk berhenti. "Berlian, berhenti.. "


"Lo jadi cowok gak peka ya?"


Aryan berdiri dihadapan Berlian. "Gimana maksudnya??"

__ADS_1


"Lo itu-----" Dada Berlian tiba-tiba berdegub melihat sosok pria yang ia kenali.


"Kenapa? terasa sakit ya?" Berlian mendengar ucapan Aryan tapi otaknya tidak tahu harus menjawab apa. Matanya tidak mampu mengalihkan pandangan dari sosok laki-laki yang sibuk bermain skateboard.


Aryan mengikuti arah mata Berlian, Sempat terkejut dengan sosok yang tidak asing baginya.


"Jangan!!!" Berlian mencegah Aryan mendekat ke arah laki-laki itu.


"Itu Farrel Berlian," Aryan menggenggam tangan Berlian, membawanya mendekati laki-laki yang sudah meninggalkan Berlian tanpa alasan. Meninggalkan Berlian selama ini.


"Jangan, gue bilang." Berlian menggeleng melarang Aryan untuk mengajaknya maju beberapa langkah. "Dia bukan Farrel..."


"Kita harus pastikan itu," langkah mereka sudah berdiri tepat di dekat mereka.


Berlian menghela napas pelan, kekuatan Aryan lebih kuat darinya. "Hai?" Berlian menguatkan genggaman tangan Aryan. Laki-laki yang sibuk dengan skateboard berhenti dan menatap Aryan yang menyapanya.


"Siapa ya?" Berlian sangat gugup mendengar suara berat laki-laki itu.


"Kamu, Ezra Farrel?" Laki-laki itu memutar bola matanya malas. Bahkan ia sempat berdecak keras.


"Sebenernya siapa sih Ezra Farrel? Penipu? Pencuri? Banyak banget yang nyariin dia," Berlian tersentak mendengar respon dari pria itu.


"Hah??? apa maksud kamu?"


"Lo ditipu sama Ezra Farrel itu?"


"Bukan??"


"Gue empet lama-lama ya, selalu di bilang Ezra, Ezra, Ezraa...." Seorang laki-laki yang duduk tidak jauh berjalan mendekat karena mendengar nada laki-laki yang di kenalnya meninggi.


"Maaf, ada apa ya?" Mengangguk menyapa Aryan.


"Ezra Farrel?" Laki-laki itu memotong dan Aryan mengangguk. "Perkenalkan saya Gino, saya temannya. Maaf sebelumnya, dia bukan Ezra yang beberapa orang maksud?"


"Beberapa orang?" Tanya Aryan.


"Iya, jadi sebelumnya Randika temen saya ini kuliah di Jakarta, waktu itu dia di gebukin masal sama beberapa preman. Mereka bilang--" Laki-laki yang Aryan kira Farrel berdecak kesal.


"Ngapain sih pake di kasih tau. Lo gak capek!!" Gio yang akrab dengan laki-laki jutek itu menepuk bahunya.


"Tenang bro, biar jelas," kembali menatap Aryan, dia melihat Aryan semakin menguatkan genggaman tangannya.


"Preman itu mengira Dika ini Ezra Farrel yang nunggak bayar utang terus tiba-tiba menghilang. Sampai orang tua Dika tau, terus ngiranya Dika ini nipu-nipu orang. Tapi bener mas dia ini Dika bukan Ezra, Saya temennya dari kecil,"


"Tapi maaf, dia mirip sekali,"


"Kami juga kurang tau mas soal itu." Aryan melihat Berlian yang bersembunyi di balik punggungnya.


"Masnya kenapa nyari Ezra?" Aryan sedikit menggeser badan agar Berlian terlihat.


"Dia Berlian, kekasih Ezra Farrel,"


"Aryan...." Rengek Berlian, meminta Aryan untuk diam.


Randika mendekat ke arah Berlian. "Sorry. Bikin kecewa lo karena ternyata gue bukan harapan lo. Tapi sumpah gue bukan Farrel, gue ini Dika, Randika Mahesa. Yang terpaksa ngehapus mimpi gue karena orang tua gue nyuruh gue buat berhenti kuliah gara-gara kejadian itu. Yang terpaksa keluar dari rumah karena mereka ngira gue udah buat malu," Berlian semakin sembunyi di balik punggung Aryan.


"Bro tenang.." Gino menepuk bahu Randika yang berbicara tersulut emosi.


"Bukan apa? Gue kesel aja," Randika sudah berbicara dengan nada membentak.


"Begini saja, bagimana kalau saya ganti kerugian yang kamu tanggung?" Randika berdecih tidak percaya dengan ucapan Aryan. Dia melirik ketika Aryan mengeluarkan kartu nama di dalam dompetnya dan di sodorkannya kepada Gino. "Itu kartu nama saya, kita bisa bertemu lain waktu atau hubungi saya jika ada sesuatu yang berkaitan dengan Ezra Farrel,"

__ADS_1


Gino menerima kartu nama yang di berikan kepadanya. "Oke mas, saya akan hubungi,"


"Oh ya, dimana saya harus bertemu dengan preman itu?"


Alis Gino berkerut, "untuk apa?"


Aryan tersenyum tipis, "untuk apalagi, tentu saya akan membayar hutang-hutang Ezra Farrel. Meluruskan kesalahpahaman ini, agar namamu baik kembali, Dika."


"Gak perlu baikin nama gue, lagi semua hutang itu udah di bayar sama nyokap bokap gue." Jelas Randika, sembari memainkan skateboard miliknya.


Aryan mengangguk, "kalau begitu, bisa berikan nomer rekening kamu dan sebutkan nominal yang sudah orang tuamu keluarkan." Aryan menatap Berlian ketika tangannya melepaskan genggaman saat merogok ponsel di dalam sakunya.


"Gak perlu, dengan kalian pergi sekarang dan menjauh aja udah puas buat gue..."


Gino menyikut lengan Randika, "baik-baik lo ngomong cuy,, mas..." Gino melihat kartu nama, "mas Aryan, begini. Keluarga Dika sudah mengikhlaskan soal ini, jadi tidak perlu ada ganti rugi atau apapun, karena itu akan semakin memperkeruh keadaan Dika."


"No, apaan sih lo. Gue udah bilang kan, gak usah pakai jelasin panjang lebar gitu, karena mereka........" Randika menggatungkan ucapannya ketika Berlian menyentuh pipinya, dan mereka saling menatap.


Mata Berlian berkaca-kaca, rasa rindunya sudah membendung akan sosok Farrel.


"Eehhh, maaf." Tangannya ia tarik, lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh, dia malu, sangat malu. Padahal hatinya sudah membaik, tapi mendapat kenyataan itu hatinya kembali sakit.


Aryan hanya menatap kepergian Berlian, saat tersadar sekali lagi dia meyakinkan kedua laki-laki tersebut. "Tolong Gino, saya percayakan sama kamu. Total semua kerugian yang Randika dapat kamu kasih tau saya, saya akan ganti, permisi,"


Melihat Aryan mengejar Berlian yang mulai terisak menangis, Gino kembali melihat kartu nama di tangannya, memandang kearah Randika yang masih menatap kepergian Aryan dan Berlian.


"Kasihan tu cewek,"


"Iya, kasihan...."


"Padahal cantik kayak gitu kok pacarnya malah pergi ninggalin bukannya bersyukur sih."


"Iya,"


"Iya iya mulu lo." Melihat Gino berulang kali menatap kartu nama dan kepergian Aryan. "Heh No, kenapa lo??"


"Anjirr , eh Astagfirulloh," Randika menatap terkejut saat sahabatnya ity berteriak. "Aryan Tara Mahesvara. Ini pengusaha muda woy, pantes gue gak asing sama muka cowok itu,"


Randika merebut kartu nama berwarna hitam di tangan Gino dan memperhatikan nama yang tertera. "Aryan Tara Mahesvara,,," Randika menimang-nimang ingatannya, seperti tidak asing juga dengan nama yang tercetak dengan warna emas di kartu nama.


"Pemilik salah satu hotel terkenal di ibu kota kan?" Gino mengangguk.


"Pemilik cabang Hotel di pulau jawa dan sumatera kan?" Gino mengangguk lagi.


"Pemilik salah satu perkebunan dan pabrik teh kan?" Gino mengangguk lagi.


"Ayahnya pemilik restoran khas india yang terkenal itu?" Gino mengangguk lagi.


"Ibunya salah satu donatur terbesar dibeberapa tempat wisata itu?" Gino mengangguk lagi, lagi, dan lagi.


Randika bergeser dan menatap Gino yang menampilkan wajah takjub akan Aryan yang sering ia lihat di beberapa stasiun TV. Randika mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu lalu menyodorkan ke wajah Gino. Matanya membelalak besar, "tunggu Dik, cewek yang tadi itu Berlian, dan Berlian itu tunangannya Aryan kan?"


Randika mengangguk yakin. "Lo paham kan sekarang?"


"Iya, gue paham. Kenapa kita harus kasih informasi ke dia kalau kita tau soal Farrel yang dia bilang kekasih Berlian." Ucap Randika panjang kali lebar.


"Waw..." Gino menggeleng tidak percaya dengan fakta yang ia ketahui. Lalu dia mengangguk sembari merangkul Randika dengan tepukan kecil di bahu, "kita tau sesuatu bro?"


Randika mengangguk. "Iya,,, kita tau sesuatu."


...☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2