
Aryan terbangun, ia masih memeluk Berlian dengan erat. Berlian sudah ikut tertidur, tangisnya juga sudah mereda, namun masih menyisakan isak yang tidak kunjung berhenti.
Aryan mengelus pelan, ia melepaskan pelukannya dan menarik selimut sampai keleher. Lalu, ia berbaring lurus menatap langit-langit kamar. Mata Aryan memanas, ia ingin menangis melihat Berlian seperti tadi.
Rupanya Berlian masih mengingat soal Farrel, ia kira dengan hadirnya dirinya mampu membuat Berlian melupakan apa saja soal pria itu.
Aryan sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memperjuangkan Berlian. Membuat Berlian terus bahagia. Tapi nyatanya, Berlian masih sakit. Apa ia telah gagal?
Melihat jam menunjukan pukul 23:30 pm , Aryan bangkit dan keluar dari kamar, Abraham dan Udayana sudah menunggu sembari duduk diruang tengah. Melihat mereka masih terjaga ditengah malam, Aryan datang menghampiri.
"Belum tidur Pah, Mah?"
"Aryan." Udayana bangkit. "Bagaimana dengan Berlian, dia baik-baik saja kan?"
Aryan tersenyum. "Memangnya Berlian kenapa?"
"Kalian harus cepat menikah." Abraham menimbrung. Ucapannya yang tiba-tiba membuat Aryan dan Udayana melihat kearah Tuan Besar Mahesvara. "Berlian harus menjadi tanggung jawab kita secepat mungkin, Papa tidak tega melihat Berlian masih berada diantara Zoya. Melihatnya seperti itu membuat hati Papa teriris. Demi apapun, Papa akan membuat wanita itu tidak akan bertemu lagi dengan Berlian, tentu setelah kalian menikah."
"Pah, apa yang Papa bicarakan?"
Abraham menatap Aryan. "Tentang pernikahan kalian."
"Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu Papa." menggaruk tengkuknya.
"Lalu?"
"Pa, Mama setuju. Kita harus membebaskan Berlian. Kamu harus segera menikahi Berlian." tersenyum bahagia.
"Keserakahan adalah emosi paling jujur, dan berani-beraninya Zoya hidup dalam keserakahan." Udayana memudarkan senyumannya. "Membuat sebuah kesalahan dan berpura-pura semuanya baik-baik saja, dasar wanita tua itu."
"Papaaaa!!!" Udayana tidak tahan mendengar kalimat dari mulut suaminya, ia merasa sedang disindir saat ini. "Tidak seharusnya Papa berkata seperti itu tentang Zoya. Bagaimanapun Zoya akan menjadi besan kita." Abraham tidak menjawab.
"Aryan tidak akan menikahi Berlian."
"Haah, Kenapa Aryan?" Abraham terkejut bukan main, yang ia tahu putranya itu begitu menyukai Berlian.
__ADS_1
"Berlian masih menunggu Farrel." Aryan menatap Mamanya.
"Sayang, sebentar lagi kamu akan menggantikan posisi pria itu, kamu kan sudah berjanji."
"Papa jadi penasaran, apa yang terjadi dengan pria itu?" tanya Abraham. "Apa kita harus mencari pria itu terlebih dahulu?"
Aryan menatap Papanya."Kenapa Papa menyarankan hal itu?"
Abraham menyilangkan kakinya. "Kalau Papa jadi kamu, Papa akan berusaha mencari pria itu, setelah tahu kebenarannya. Papa akan membuat sebuah keputusan, menyerahkan Berlian kepadanya atau mempertahankan Berlian. Karena jujur, Papa sendiri tidak sanggup melihat Berlian sakit. Lebih sakit melihat orang yang kita sayangi itu tersakiti."
Aryan mengangguk. "Papa benar."
"Tidak boleh!!!!?" Udayana berteriak tidak terima.
"Aryan akan lakukan itu."
"Aryaaan!!!!??" melotot menatap Aryan. "Apa yang kamu katakan, itu tidak akan terjadi."
"Kenapa? tindakan itu akan membuat hati putra legakan? Cinta tidak harus memiliki."
"Cih, kalau cinta bisa memiliki kenapa kita harus berpatok pada kalimat itu. Intinya, kita tidak akan melakukan itu."
"Mustahil untuk menemukan pria itu." Udayana langsung terdiam, kenapa ia mengatakan itu, matanya melotot ketika melihat Abraham berdiri dan menghampirinya.
"Kenapa Mama mengatakan tentang kemustahilan, Papa bisa mencari cara untuk menemukan jejaknya." Aryan tidak bergeming, ia membiarkan Udayana menjelaskan maksud dari ucapannya sendiri.
"Mama, akan mempertahankan Berlian untuk keluarga ini. Itu janji Mama, dengan paksaan keras Mama tegaskan, Papa tidak boleh mencari siapapun." Abraham mendekat, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal pada diri istrinya. Gerak gerik sang istri membuatnya curiga.
"Apa Mama tahu sesuatu?" Abraham mendekat.
"Ho, Mama tahu apa ya?" tanyanya balik sembari melangkah mundur.
"Jangan buat Papa mencari tahu."
"Pa, Ma, sudah ya. Ini sudah malam, sebaiknya Papa sama Mama istirahat, Aryan mau kekamar, ada kerjaan yang belum Aryan selesain." berjalan meninggalkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Terlihat Abraham dan Udayana juga ikut masuk kedalam kamar. Walau masih terdengar adu mulut dari mereka.
********
Memang benar, Aryan tidak sedang menghindari percakapan dengan orang tuanya, ia benar-benar sedang mengerjakan pekerjaan kantornya.
Sandra tidak membiarkannya bersantai sedikit, baru Aryan membuka laptopnya. Pesan email sudah menumpuk, diiringi dengan Sandra mengirim pesan.
Sandra : Pak, Maaf. Hehe,
Saya kasih Bapak banyak tugas ya. Saya tidak akan membiarkan Bapak bersantai sedikit saja, Fighting!!
Ucapnya menyemangati, Aryan menggeleng, ia memang tidak akan pernah bisa bersantai.
Kreet
Aryan diam, ia mendengar suara pintu terbuka, melihat sebentar kearah jam dinding. Jam dua pagi, gumam Aryan. Pria itu berjalan menuju balkon. Memang sengaja Aryan membiarkan pintu terbuka, dingin angin malam lebih menyenangkan dibandingkan AC.
Jarak kamar Aryan dan Gena diselingi sebuah lantai luas dengan diisi sebuah sofa dan beberapa alat gym. Keluarga Mahesvara gunakan sebagai lantai santai, dengan balkon dan pembatas dinding dikelilingi dengan bunga-bunga cantik dan sebuah tangga menuju rooftop.
Kamar Aryan dan Gena juga memiliki sebuah balkon kecil, karena sangat sunyi hanya terdengar suara detikan jam dinding kamarnya, dan terdengar suara jangkrik mencekam malam. Suara gerakan bendapun nyaring terdengar ditelinga.
Aryan keluar menuju balkon untuk memastikan karena ia mendengar suara dari arah luar, ia hanya ingin memastikan. Walaupun pikirannya mengatakan, bisa saja itu hanya suara benda yang tidak sadar tersenggol, mungkin Gena belum tidur. Akhir-akhir ini, gadis itu memiliki gangguan insomnia.
Melihat sekelebat bayangan. Seorang wanita menaiki tangga menuju rooftop. Gena kah? pikir Aryan.
Tidak mungkin, gadis itu penakut. Kalau benar dia, apa yang membuatnya nekat keluar kamar sendirian. Hal itu membuat Aryan memutuskan untuk keluar kamar dan mengikuti pandangan matanya, ia ingin memastikan saja. Mana tahu ia salah lihat.
Aryan menaiki tangga dengan suara pelan, ia usahakan sampai tidak terdengar. Sesampainya diatas, ia sama sekali tidak melihat siapapun disana. Tubuhnya bergerak mengitari situasi tempat, benar. Aryan tidak menemukan siapapun, ia tidak sedang berhalusinasi hanya dengan bergadang kan?
Tidak ada jalan untuk turun selain jalan yang ia tapaki sekarang. Tidak mungkin juga seseorang naik dan melompat begitu saja. Aryan melongok kebawah, takut kalu dugaannya benar. Mana tau seorang pelayan dirumahnya mendapat gangguan stres dan menggunakan rumahnya untuk ajang bunuh diri.
Mendongak keatas, bisa saja yang ia lihat tadi terbang. Aryan menggeleng cepat, apasih? enak saja pikirannya ini.
Aryan mengelus lengannya, kenapa suasananya menjadi sangat seram. Bulu kuduknya sampai berdiri.
__ADS_1
Dirasa situsasi mulai tidak baik, Aryan memutuskan untuk turun, sepertinya itu lebih baik. Mungkin saja benar, karena terlalu banyak bergadang dan fokus pada kerjaannya, ia jadi berhalusinasi.
Baru ia berbalik akan melangkahnya kakinya, sebuah suara seretan kaki pada lantai terdengar. Aryan berbalik lagi, mencari sumber suara.