
Sejuknya menghirup udara segar pegunungan, jarang sekali menemukan tempat seperti ini di ibu kota. Suatu saat ia akan merindukan tempat ini, tempat pertama kalinya ia diizinkan berlibur bersama orang lain oleh Daddy dan Mamanya. Berlian sangat beruntung memiliki sahabat seperti Angga dan kekasih seperti Farrel. Mereka mengerti situasi yang dialami Berlian.
Mereka meminta izin baik-baik kepada Daddy dan Mamanya untuk membawanya pergi. Sehingga membuat ia dibebaskan untuk pertama kalinya.
Kicau burung terdengar menusuk telinga, sedikit memekik namun nyaman terdengar. Farrel datang membawa minuman hangat dan memberikan kepada Berlian.
"Seneng banget keliatannya," ucap Farrel , membuat lamunan Berlian membuyar.
"Siapa yang gak seneng coba? Liburan ketempat nyaman gini." Berlian mengembangkan senyuman bahagianya. Bahagia sesederhana ini.
"Gimana kalau besok kita pergi ke pantai,"
Melotot mendengar kata pantai. "Emang ada?" tanyanya penasaran.
"Ada sih. Tapi lumayan jauh," Berlian menggeleng tidak keberatan. Mereka berdua kembali menatap Angga yang sibuk memotret dua wanita didepannya. Angga adalah seorang photographer. Yah tidak terlalu professional tapi hasil gambarnya tidak diragukan lagi.
Dia dibayar untuk memotret kedua wanita itu untuk urusan promosi barang seperti kosmetik, pakaian dan lainnya, mereka berani membayar Angga mahal hanya untuk beberapa gambar. Bahkan mereka yang membiayai untuk menetap beberapa hari disini. Untungnya Angga meringankan dengan mansions ini miliknya.
Farrel dan Berlian tidak terlalu berani mengganggu Angga yang terlihat sibuk bekerja. Mereka memilih untuk saling melemparkan candaan.
"Ayok kita suit," Tantang Berlian. "Yang kalah harus nurutin yang menang." Farrel mengangguk mengiyakan. Ia harus menuruti semua mau Berlian, ia tidak ingin mengecewakan kekasihnya. beberapa kali saja ia mencoba untuk menang tidak menjadi masalah. karena saat Berlian cemberut membuatnya semakin terlihat imut.
"Gunting, , Batu, , Kertas" Mereka sibuk membut permainan itu hingga membuat kebisingan.
"Hehh.. Pasutri bisa diem gak, ganggu konsentrasi gue tau" Berlian malah menjulurkan lidahnya.
Seorang wanita yang memakai baju sedikit mengumbar tubuhnya melerai Angga. padahal cuaca disini sangat dingin bagi Berlian. Tapi sepertinya wanita itu terlihat biasa saja, mungkin karena sudah biasa baginya.
"Gakpapa ngga, gue malah seru kok liat mereka gitu. Keliatan asik" Wanita satunya menyetujui suruan itu. Angga kembali memfokuskan pekerjaannya.
Sebenarnya itu tidak terlalu mengganggu, cuma alasan Angga saja karena telinganya pengang mendengar gombalan receh Farrel untuk Berlian. Bukan cemburu, Angga menyayangkan Farrel saja, yang memaksa untuk menggombali Berlian yang ucapannya terlihat sangat kaku, membuat Angga merasa malu sendiri mendengar itu.
"Yey, kamu kalah.. Gendong aku?" Farrel berjalan mundur perlahan.
"Gak mau ah, kamu berat" Berlian melotot melihat Farrel menggeleng dan berjalan semakin menjauh.
"Gendong gak?" melihat Berlian melotot membuatnya gemas.
"Enggak" menggeleng tidak mau. memancing kelucuan Berlian.
"Gendong enggak?" Tanyanya sekali lagi. Farel masih menggeleng tidak mau.
"Okee kalo gitu" Farrel langsung berlari mendekati Berlian yang berjalan mundur menjauh mengikuti tingkah Farrel.
__ADS_1
"Awas jatuh" Menggenggam tangan Berlian untuk tidak meneruskan berjalan mundur. Saat ini mereka berdiri dipegunungan dan yang sekarang mereka tapaki adalah sebuah bukit kecil hanya dipagari bambu rendah. Berlian seperti mengancam untuk terjun jika tidak digendong.
Farrel berjongkok dihadapan Berlian untuk menghentikan sikapnya. Berlian tersenyum bahagia dan langsung menaiki punggung pria didepannya. Berlian berteriak memanggil Angga.
"Angga cepetan foto kita" Angga yang sibuk mengambil gambar gadis-gadis cantik didepannya langsung menggeleng tidak mau kearah Berlian.
"Maless banget.. Kamera gue rusak entar moto kalian berdua, pasangan yang kurang bahagia" Ucap Angga ketus. Pasalnya ia tidak mengajak Berlian dan Farrel pergi, karena Berlian yang merengek meminta ikut terpaksa Angga mengiyakan. Bukannya membantu pekerjaannya malah Farrel dan Berlian mengganggu kerjanya dan telinganya.
Berlian tersenyum smirk kepada Angga.
"Yaudah kalo gak mau, itu kamera beli dimana? entar gue beli kamera sendiri" Angga langsung nyengir kuda, mengingat bahwa kamera yang dirinya genggam sekarang adalah hadiah pemberian Berlian. Kalau bukan karena Berlian yang memberikan, pasti Angga tidak memiliki pekerjaan seperti sekarang. Ia bisa saja meminta dibelikan oleh orang tuanya, jangankan sebuah kamera, mansions yang sekarang mereka tinggali juga baru Angga minta. Angga tidak berani meminta lagi, karena sehabis merengek meminta sebuah mansions Angga kembali merengek meminta sebuah mobil mewah yang kini sudah ditangannya.
Untungnya ia memiliki sahabat seperti Berlian yang tidak kalah kaya darinya. Angga mengingat itu langsung mengacungkan jari V kearah Berlian lalu berjalan mendekat dan mengambil gambar Berlian dan Farrel. Itu satu-satunya kenangan yang Berlian miliki.
********
"Dimana ya foto itu??" Sudah berapa kali wanita berambut pirang itu melongok kekolong ranjangnya. Mondar-mandir di area kamar tidurnya, membuka laci meja rias, membongkar seluruh isi lemari bahkan toiletpun dirinya kunjungi beberapa kali. Berlian ingat, bahwa ia tidak pernah menaruh foto itu ditasnya, tapi akhirnya Berlian buka karena penasaran dan hasilnya nihil.
Kini Berlian menuruni anak tangga berjalan menuju ruang tamu dan membongkari bantal-bantal penghias sofa, sempat melongok kolong meja, Aryan dan Abraham yang berada diruang tamu dibuat bingung dengan kelakuan Berlian. Menggeser laptop, map-map dan kertas yang rapi menjadi berserakan.
"Kamu cari apa sayang?" Berlian bengong melihat Abraham yang bertanya padanya, Aryan juga melihat kearah Berlian yang memang bertingkah aneh.
"Gak ada kok Om. Hehe" Berlian pergi menuju ruang keluarga, mulai membongkar majalah dimeja depan sofa panjang. Bahkan membuat Chacha dan Denada beranjak dari duduknya karena Berlian yang mengusir.
"Gak cari apa-apa kok Mba" Semua dibuat bingung oleh tingkah Berlian malam ini.
"Gak ada, tapi kayak kebingungan gitu. mana tau Mba bisa bantu" Berlian melihat kearah Alicia dengan wajah linglung. Tidak mungkin Berlian mengatakan bahwa dirinya kehilangan foto bersama Farrel kekasihnya, Bisa mati dia dengan dihujam berjuta pertanyaan.
"Hah, serius kok. Berlian lagi gak nyari apa-apa" Alicia menggeleng heran menatap Berlian. mengatakan tidak ada, tapi Berlian tetap bergerak kesana kemari seperti kehilangan sesuatu.
"Kamu cari apa Berlian?" Menghentikan langkahnya dan menatap Udayana didepannya.
"Loh kapan Tante pulang?? Mami mana Tante?" Berlian malah balik bertanya lain kepada Udayana.
"Baru aja, Mami kamu masih di Jakarta. mungkin besok pulang," Berlian mengangguk dan bengong. Tunggu, tiba-tiba Berlian ingat bahwa dirinya sempat membawa foto itu ketaman belakang. Berlian langsung lari, membuat semua orang terkejut dengan Berlian yang tiba-tiba lari.
"Berlian ada apa sayang?" Teriakan Udayana tidak digubris olehnya. Berlian berlari sangat kencang menuju pohon besar dan bangku panjang ditaman.
Menghela nafas kasar, foto itu sama sekali tidak ada disini. "Kok gak ada sih?" Berlian berlari lagi kedalam rumah dan mencari diruang makan, Bi Dina yang berada disana melihat Berlian bingung. Berlian kembali menuju ruang keluarga, Berlian sangat ingat setelah meninggalkan Aryan ditaman, dirinya sempat menonton TV. Akhirnya Berlian bergerak menuju ruang TV, dirinya sangat takut jika orang lain menemukan foto itu.
Denada memegangi kepalanya dan berteriak. "Arhgghh Apasih yang lo cari, pusing gue?" Berlian menatap Denada yang terus memegangi kepalanya kesal. "Gue sampek gak konsen nonton Abang Chang Wok tau gak gara-gara lo yang mondar-mandir didepan gue!!" Denada mengumpati Berlian yang benar-benar membuatnya naik darah.
"Lo nyari apa sih Bee? biar gue bantu cari kalo penting, kalo gak ya males banget?" Kali ini Chacha yang membuka suara, karena semua orang semakin bingung dengan tingkah kakaknya.
__ADS_1
"Ich suche Bilder von mir und meinem Geliebten (dalam bahasa jerman 'mencari foto saya dan kekasih saya')" Chacha yang mengerti ucapan Berlian langsung berdiri melotot.
"Gue bantu" kali ini Chacha yang lebih heboh dibandingkan Berlian. Chacha terus membongkar dan mengoceh dalam bahasa Jerman. Membuat Aryan dan Abraham penasaran, bergabung melihat kehebohan dua kakak beradik ini.
"Kalian kenapa sih?" Udayana mulai membuka suara lagi, kali ini ia benar-benar menyesali menolak usul dari suaminya untuk belajar bahasa jerman. Aryan mengejar Berlian yang mulai menaiki anak tangga.
"Berlian" Wanita itu menghentikan langkahnya dan berhenti ditengah anak tangga, berbalik melihat Aryan yang berjalan menaiki anak tangga. menyerahkan sebuah buku kepada Berlian.
Ini kan buku Teenfiction tadi siang, disaat seperti ini kenapa dia ngasih ini sih. Kan dia tau gue gak suka buku ginian. Geram Berlian dalam hati.
"Suchen Sie nach diesem Buch? (dalam bahasa jerman 'kamu mencari buku ini')" Berlian sempat menatap Aryan bingung dan meraih buku tersebut. "Lesezeichen (dalam bahasa jerman 'pembatas buku')" Berlian perlahan membuka dibagian pembatas buku dan mulutnya menganga kaget, matanya juga ikut melotot takjub. Kini ia tersenyum lebar menatap Aryan.
"danke schön (dalam bahasa jerman 'terima kasih')" Tubuh Aryan mematung ketika Berlian memeluknya, Berlian sama sekali tidak menyadari itu dan berlari membawa buku itu menuju kamarnya.
"Gern geschehen (dalam bahasa jerman 'sama-sama')" Semua orang melongo kepada tingkah Berlian yang tidak sadar memeluk Aryan, dilain itu Chacha lebih kaget karena mengetahui calon kakak iparnya yang mengerti bahasa Jerman. Aryan turun tangga, pura-pura tidak melihat semua mata yang memandangi mereka.
"Aku baru tau mereka semanis itu," Ucap Alicia tanpa sadar.
...☘️☘️...
Haloo gais.. terima kasih ya, yang sudah mau membaca. maap kalo ada kekurangan, karena manusia tidak luput dari kesalahan dan kekurang. Hehe. . .
maapin aku nih, kalo ada kurang dipenulisan bahasa jermannya. aku suka bahasa itu aja makanya aku pake. maap yah, itu hanya bermodalkan google translate. Hehe. . . .
Oh Ya, Kasih saran dong. menutut kalian mendingan tetep ada tulisan bahasa jermannya atau tulisan bahasa indonesia, tapi mereka pura-pura kayak lagi ngomong pake bahasa jerman gitu.
Aku rada bingung nih..
mohon sarannya ya..
.
.
.
.
Oh iya, satu lagi.
hehe mintak tolong kasih jempolnya yah, ga susah kok, ada tuh dipojok kiri.
Makasih. . . Cium jauh...
__ADS_1