Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (91)


__ADS_3

Tok.... Tok... Tok...


"Selamat pagi Nona, Pizza pesanan anda sudah datang." setelah memberi tahu Nona nya, ia kembali turun kelantai utama, lalu menuju dapur.


Menyiapkan sarapan yang diminta oleh Nona nya semalam. Susu putih dengan bubble, Air putih dingin, dan sekotak Pizza berukuran jumbo.


Pria dengan jas hitam melihat kearah tangga. Nona nya sudah turun, masih mengenakan kemeja putih kebesaran dan celana pendek diatas paha. Pakaian yang sama seperti semalam.


Wanita itu berjalan sambil menarik selimut putih yang menyeret lantai, ia gunakan untuk menyelimuti tubuhnya.


"Selamat pagi Nona," menunduk ketika Nona nya sudah duduk dimeja makan. "Ini air putihnya." biasanya, Nona nya akan meneguk air putih sebelum menyantap yang lainnya.


"Hem.."


"Saya akan berada di ruang tengah, kalu butuh sesuatu panggil saya saja."


"Makanlah," mendorong sekolat Pizza dihadapan pria berjas hitam tersebut.


"Semalam Nona sendiri yang memintanya."


"Aku cuma mau mencium baunya." mengambil Susu putih dan membawanya kelantai atas.


Pria itu menggeleng, sambil menatap Nona nya berjalan menapaki setiap anak tangga dengan pelan.


Aku seperti menjaga sebuah patung, yang kaku dan autis seperti itu. Tidak perduli pada sekitar dan hanya mengurung diri selama ini. Ini sudah dua tahun berlalu, sampai kapan anda mau begini terus Nona??


Meraih laptopnya dan mengetik sebuah email. "Selamat pagi Pak. Masih seperti biasanya, tidak ada perubahan yang terjadi, pagi ini Non mengatakan ingin sekotak Pizza berukuran jumbo. Setelah saya sajikan ternyata Nona hanya ingin mencium aromanya saja." lalu menekan tombol kirim.


Menjelang beberapa menit emailnya terkirim, ia mendapat sebuah panggilan.


"Hallo Pak."


"Ajak dia keluar siang ini, saya akan mengirim alamatnya nanti, kita akan bertemu disana."


"Baik Pak." Tuan nya lebih dulu menutup panggilan. Lalu ia berjalan naik kelantai atas menemui Nona nya.


"Nona, Pak Sam menelpon ingin bertemu anda siang ini. Alamatnya sudah ada disaya." Nona nya masih memejamkan mata dikursi santai yang terletak dibalkon.


Masih memejamkan mata, Berlian menghembuskan nafas kasar. "Tidak mau, Mas Juna pergi saja sendiri."


"Tapi Non."


Berlian membuka mata. "Mas Juna gak denger, kalau Mas Juna maksa saya, saya bakal laporin sama Mami."


"Jangan Nona, baik saya akan bilang sama Bapak." pria berjas hitam dengan panggilan Mas Juna, turun kelantai bawah lagi. Lalu menelpon Tuan nya.


"Iya. Ada apa??"


"Maaf Pak, Nona tidak mau pergi. Kalau saya memaksa Nona akan melaporkan pada Nyonya Gita." jangan sampai ia dipecat karena sudah memaksa Nona nya, bisa hilang semua impiannya untuk kebahagiaan orang tuanya. Lagian ia bisa bekerja disini juga karena Nona Berlian, kemarahan Basagita membawanya untuk menjadi lebih baik.

__ADS_1


Untuk beberapa tahun yang lalu, ia sangat bersyukur melakukan kesalahan dengan membawa Nona Berlian malam itu, mengejar mantan tunangannya, bahkan sampai membuat Nona Berlian terluka. Tapi berkat itu, Basagita memberikan amplop berisi uang dan menyuruhnya pergi menemui Samuel. Ternyata ia dimasukkan kedalam pasukan khusus untuk menjadi anggota keamanan keluarga Wijaya.


Karena memiliki tekad dan stamina yang cukup kuat, Juna dinaikkan jabatan dan dipindahkan ke Jerman untuk menjaga Zoya, dan kejadian dua tahun silam, membuatnya dipindah tugaskan untuk menjaga Berlian disini.


Dirumah yang tidak ada seorangpun yang tahu, rumah yang hanya bisa diakses oleh Samuel, Berlian, Juna, dan bibi pengurus rumah.


"Sebentar lagi saya akan kesana." sebelum mendengar jawaban Juna, Samuel sudah lebih dulu mematikan sambungan telepon.


"Bagaimana Mas Juna," bibi pengurus rumah mendekat kearah Juna. "Tidak dimakan lagi? saya berasa gak guna disini Mas, wong saya cuma nyapu aja. Masak buat diri sendiri, Nona Berlian sama sekali gak minta bantuan saya."


Juna tersenyum. "Dimaklumi ya bi, bukannya enak ya bi, kerja gak berat tapi gaji lancar."


"Walah, , , apaan. Mas Juna pasti juga pusing to ngadepin Nona Berlian. Sampai kapan Nona akan terkurung dalam masa lalunya?"


"Ssttt. . , bi Riem hati-hati kalau bicara, Nona Berlian hanya butuh kesendirian, bukan terkurung dalam masa lalu. Tidak semua orang bisa sekuat Nona," Juna menepuk bahu bibi pengurus rumah. "Bibi harus bangga loh, Nona Berlian sudah melewati masa sulitnya, penyakit trauma yang tidak muncul lagi."


Bi Riem masih anggota keluarga Juna, Juna merekomendasikan kepada Samuel untuk memperkerjakan bibinya, karena menurutnya bibinya ini sangat pandai memasak dan rajin kalau soal urusan beres memberes, tapi ternyata. Sudah hampir dua tahun bi Riem merasa tidak memiliki pekerjaan lain selain nyapu dan ngepel. keahliannya dalam memasak tidak digunakan.


"Sekarang lebih baik bibi masak sesuatu karena Pak Samuel mau mampir, mana tahu beliau mau makan siang bersama Nona disini."


"Iya Mas Juna." bi Riem pamit untuk pergi kedapur.


********


"Selamat datang Pak." meraih jas Samuel yang dilepas saat keluar mobil tadi. Lalu menyerahkan kepada bi Riem.


"Selamat datang Tuan."


"Nona Berlian tidak pernah merepotkan saya. Kalau Tuan mau makan siang bersama Nona, sudah saya siapkan."


"Oke. Saya mau samperin Berlian dulu, dimana dia Jun??" menatap Juna.


"Diatas Pak, mari saya antar." setelah melihat Samuel masuk, Juna turun kembali kebawah.


Samuel masuk kedalam dan melihat Berlian tidur dibalik selimutnya. Padahal tadi Juna mengatakan Berlian sudah bangun, tapi ini terlihat seperti Berlian masih nyaman dalam mimpi.


"Sayang bangun," panggil Samuel, tapi sepertinya Berlian tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar. "Come on, beraktifitaslah diluar, kulitmu butuh terkena sinar matahari."


"Emmhh.. Daddy kapan datang?"


"Ck, gayamu seakan-akan tidak tahu kedatangan Daddy. Cepat bangun, kita makan siang, memangnya kamu tidak lapar?" menarik selimut agar Berlian bangkit.


"Berlian belum laper?"


"Kamu gak bosen ya, melakukan rutinitas seperti ini selama dua tahun," Berlian memutar bola matanya. "Cepat hubungi Mami, Bisa gila Daddy diganggu olehnya setiap saat," baru saja dibicarakan, ponsel Samuel berdering dengan nama Basagita yang tertera. "Lihat? baru saja dibilang."


Samuel menekan tombol hijau lalu ia tekan tombol pengeras suara. "Iya sayang."


"Sudah bertemu putrimu Sam? kapan kamu belikan dia ponsel, aku ingin mendengar suaranya," Samuel menggaruk kepalanya. "Sam, ayolah beritahu aku dimana kamu sembunyikan Berlian. Aku khawatir."

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir Gita, dia sudah ada yang menjaga. Dan lagi, bukan aku tidak membelikannya ponsel, tapi putrimu sendiri yang tidak mau menggunakan ponsel yang kubelikan." Samuel sudah jengah, dalam dua tahun ia sudah membelikan Berlian ponsel model terbaru tapi memang putrinya ini sendiri yang tidak mau menggunakan.


"Aku tidak perduli, sekarang temui dia dan katakan aku merindukannya. . . Eehh Chacha, Mami lagi bicara,"


"Daddy, Chacha rindu sama Daddy, kapan Daddy bawa Berlian ke Indonesia."


"Hey, gadis kecilku. Kalau kamu merindukan Daddy, kenapa Berlian yang kamu inginkan kembali?"


"I don't Care, Chacha mau Berlian kembali ke Indonesia," Samuel mengadahkan ponselnya kearah Berlian, agar wanita itu dapat mendengarnya.


"Sini, dasar pengacau. Pergi sana, pacarmu sudah menunggu tuh," terdengar langkah kaki kepergian Chacha. "Sam, mereka datang menemuiku terus menerus dan memohon untuk kembali. Aku harus bagaimana?"


Samuel menarik ponselnya lagi. Mata Berlian terpejam seakan-akan ia sedang tidur. "Nanti aku telpon lagi, jangan khawatir."


Menatap Berlian, ia sampai bingung apa yang harus ia perbuat pada Berlian. Sama sekali tidak ada perubahan, hidup putrinya semakin kacau. "Berlian..."


"Astaga." ponselnya berdering lagi. "Lihat ini, Angga juga ikut mengganggu."


Menekan tombol hijau dan pengeras suara. "Ada apa???" jawabnya ketus.


"Daddy, dimana? kalau ada Berlian tolong jangan loudspeaker. Menjauhlah, Angga mau memberitahu sesuatu." Berlian membuka matanya, ia melihat Samuel keluar kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.


Hal itu membuat Berlian turun dari kasur dan membuka sedikit pintunya, agar ia mendengar apa yang dibicarakan Angga dan Samuel.


"Daddy, mereka datang ke Cafe. Angga bingung harus menjawab apa?"


"Siapa saja?"


"Tuan Abraham dan Nyonya Yana, kemarin ada yang namanya Adi katanya dia itu supir pribadi. Mereka terus memohon dan meminta maaf. Angga gak sanggup lihat mereka terus saja mengganggu."


"Apa pria itu datang?"


"Siapa? Aryan maksud Daddy? dia gak kelihatan, kalau sampai dia muncul. Akan Angga habisi dia, berani-beraninya dia berteman dengan Angga, padahal sudah membunuh sahabat Angga."


"Tahan emosimu, Daddy akan memerintahkan seseorang untuk menjaga Cafemu, mereka tidak akan berani lagi mengganggu."


"Oke, bagaimana keadaan Berlian? apa dia baik-baik saja, Angga kangen sama Berlian." terdengar helaan nafas Angga, pasti pria itu sangat khawatir.


"Dia baik, kamu gak usah khawatir, Daddy sudah menjaganya dengan baik. Urus saja Cafe. Sudah dulu ya." Samuel langsung mematikan sambungan telepon.


Juna lari mendekati Samuel. "Dari mana kamu?"


"Maaf Pak, saya habis memberikan Pizza yang tidak dimakan Nona kepada tunawisma."


"Hmm.. Hubungi anggota yang berada di Indonesia, suruh mereka menjaga Cafe milik Berlian, rumah Basagita, dan Rumah Timo Wijaya. Katakan pada mereka, jangan memberikan kelonggaran pada siapapun termasuk keluarga Mahesvara. Aku akan sampaikan itu nanti pada Timo."


Juna mengangguk. "Baik Pak,"


"Katakan pada mereka, periksa siapa saja yang akan menemui Timo. Dan jangan biarkan siapapun menemui Basagita dan Chacha. Untuk Cafe, jangan biarkan Angga berada dilantai utama, perintahkan dia untuk tetap dilantai atas. Beritahu para pegawai untuk tidak terlalu dekat dengan para pelanggan."

__ADS_1


"Baik Pak, saya permisi." tangan Berlian bergetar mendengar itu, Daddy nya sangat cepat dalam mengatasi masalah.


__ADS_2