Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (13)


__ADS_3

Aryan berjalan mendekati Berlian yang bersandar dan mendongak dengan menutup matanya. Mungkin terhanyut dengan lagu yang di dengarkan atau dia malah tertidur.


Aryan berdiri menutupi wajah Berlian dari paparan silau sinar matahari. Berlian terlonjak berdiri kaget ketika hidung mancungnya di ketuk oleh Aryan.


"Ya ampun, bikin gue kaget aja." Sambil mengelus dadanya yang terasa berdegub karena terkejut. Berlian kembali duduk sambil melepaskan earphone dari telinganya.


"Aku kira kamu tidur tadi," Berlian tidak menjawab. "Dengerin apa sih, kayaknya asik gitu?" Berlian memutar bola matanya.


"Bmth," Aryan mengangguk dan berjalan lalu duduk di samping Berlian. "Manggut-manggut gitu, kayak ngerti aja?" Mau sampai kapan sih, Berlian berbicara pada Aryan dengan intonasi ketusnya.


"Tau dong. Bring Me The Horizon kan?" Jawab Aryan tidak mau kalah. "Band Metalcore terkenal gitu masa gak tau," Berlian menaikkan satu alisnya.


Dia tau?


"Lo tau Bmth?" Aryan mengangguk. "Orang model kayak lo ini tau Band kayak gini?" Aryan mengangguk lagi. "Masa? Kok gue gak yakin ya?" Aryan tersenyum tipis.


Aryan mengotak atik ponsel nya dan menunjukkan kepada Berlian. "Sumpah demi apa? serius lo pernah nonton Bring Me The Horizon??" Aryan mengangguk bangga. Berlian menarik ponsel Aryan dan membuat pria itu terkejut.


"Ehhh Berlian," Berlian menyembunyikan ponsel Aryan di balik punggungnya.


"Ehh, tenang dong tenang, kenapa panik gitu sih?" Berlian melihat wajah panik Aryan ketika ponsel miliknya Berlian rampas.


"Enggak. Biasa aja, sini kembaliin," Berlian mengangkat tangannya yang menggenggam ponsel Aryan lebih tinggi.


"Biasa aja, tapi wajah lo kelihatan panik gitu?" Membuat Aryan gelagapan mendengarnya. "Gue cuma mau lihat aja kok, pelit banget sih?" Berlian menatap Aryan sinis. "Tadi gue gak liat lo foto sama siapa, ketutupan sama jari lo," Aryan memang sengaja menutupi foto seseorang di sampingnya. Berlian kembali melihat foto itu dan kembali menyembunyikan ponsel Aryan di punggungnya karena Aryan terus berusaha merebutnya lagi. "Ciee, itu pacar lo ya??"


"Bukan. Sini gak?" Aryan berusaha mengambil lagi, namun tangan Berlian lebih gesit membuat Aryan tidak bisa merebutnya. "Berlian,,,,," yang di panggil malah menjulurkan lidah mengejek.


"Siapa dulu?" Tanya Berlian penasaran.


"Bukan siapa-siapa?" Aryan berusaha merebut lagi ketika Berlian akan melihat foto itu ulang, Berlian sempat menjauhkan ponselnya. tapi tiba-tiba tubuhnya membeku, ketika Aryan merebut ponsel di tangan Berlian dengan posisi memeluknya.


Sepertinya Aryan tidak sadar, lakk-laki itu menekan tombol keluar menuju layar utama lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket boombernya. Dia me atap Berlian, perempuan itu masih dalam posisi tangan di atas dan setengah bersandar, posisi saat Aryan tidak sengaja memeluknya saat merebut ponsel tadi. "Kenapa?" tanya Aryan.

__ADS_1


"Haaah..... Enggak apa-apa kok," Berlian menurunkan tangannya dan kembali duduk dengan posisi yang benar. "Pacar lo tau kalo lo di jodohin sama gue?"


"Dia bukan pacarku, kalo aku punya pacar gak mungkin orang tuaku ngejodohin," Berlian mengangguk mengerti.


Bener juga, diakan dijodohin karena dia gak dapet-dapet pasangan. Terus siapa cewek itu?


"Lo gak mau ngasih tau siapa perempuan itu? Yaudah deh gue gak maksa," Aryan menatap kearah lain, merasa tidak enak harus menceritakan soal perempuan di sampingnya dalam foto tersebut.


"Zivana Ezzah, first love," Berlian mendengar itu.


Oh Jadi namanya Zivana? Oke juga. jadi wanita itu cinta pertama Aryan. Wanita yang menyakiti Aryan juga. Berlian menatap iba.


"Uwuu... Kenapa lo gak sama dia aja, lo cinta kan sama dia?"


"Cinta gak harus memiliki kan?" Berlian tersenyum sinis, entah mengapa dirinya sangat membenci kalimat itu. "Kebanyakan cinta pertama itu tidak berjalan dengan manis. Mungkin aku bukan jodohnya, anggap saja seperti itu."


"Kenapa lo masih simpen foto dia?" Pertanyaan bodoh macam apa ini Berlian. Berlian juga heran mengapa dirinya sangat penasaran dengan kisah cinta Aryan.


"Sebagai kenangan, pertama kalinya menonton konser Bring Me The Horizon saat di Amerika, dan termasuk kenangan manis bersamanya." Berlian terdiam menatap senyuman tulus Aryan, tiba-tiba dia merasa iri dengan perempuan dalam foto itu, iri akan ucapan yang Aryan lontarkan.


Aryan menatap seorang suster yang menuntun pasiennya menuju gedung rumah sakit. "Tidak ada alasan."


Aryan berdiri, mengajak Berlian izin kepada mbok Jem untuk pulang karena hari semakin sore, takut kalau mereka akan sampai rumah kemalaman. Mereka juga hanya menghabiskan waktu di taman Rumah Sakit tanpa melakukan hal yang lain kecuali diam dalam pikiran masing-masing.


********


Selama dalam perjalanan, tanpa sadar Berlian terus menatap Aryan. Tanpa sorotan menunjuk sesuatu, tatapan kosong. Merasa sedang di perhatikan, Aryan menoleh. "Ada yang mau di omongin?"


Hal itu membuat Berlian terkejut, dia gelagapan karena tertangkap basah sedang memperhatikan. "Emm, gue suka pemandangan yang di sana." Mata Aryan mengikuti arah telunjuk Berlian, tentu membuatnya keheranan.


Aryan tersengum tipis. apa bedanya?? pemandamgan di samping mereka sama saja, sepanjang jalan di hiasi dengan bunga matahari dan di selangi segerombolan bunga aster, dan setiap berjarak lima meter pohon besar berdiri redup. "Gantian gue dong yang nyetir, bosen nih gue," Rengeknya, Berlian merasa pegal sepanjang jalan hanya diam dan mengobrol sesekali.


"Kamu tidur aja kalau bosen,"

__ADS_1


"Gue bosen bukan ngantuk. Yaudahlah kalo lo maksa gitu," karena menganggap suruan Aryan itu ada benarnya, akhirnya Berlian memilih untuk tidur.


Sesekali Aryan mirik Berlian yang sudah terlelap, kalau saja saat ini tidak sedang dalam perjalanan, ada kemungkin Aryan akan bergeral menatap Berlian lama-lama, tidak hanya sekedar melirik.


Laki-laki dengan hidung mancung itu selalu mencari cara untuk menatap Berlian lama-lama, namun tidak pernah terwujud, Berlian selalu melototi Aryan jika kedapatan sedang menatapnya. Walaupun akhir-akhir ini Berlian tidak lagi memelototinya, tapi tetap saja Aryan tidak punya keberanian yang kuat untuk menatap Berlian.


Untuk meregangkan otot yang pegal, Aryan mengarahkan mobilnya di area parkir pom bensin, itu juga setelah dia mengisi bahan bakar mobilnya, Aryan melihat ke arah Berlian lagi, masih tertidur. Hanya dalam waktu cepat Berlian mampu tertidur pulas?


Apa yang sedang dia mimpikan? Tanya Aryan penasaran. Wajahnya begitu tenang.


Aryan terus tersenyum memperhatikan wajah sempurna Berlian, hidung yang mancung, bibir yang tipis tapi selalu berucap sinis. Wajah yang terlihat sangat terurus walaupun pernyataan itu di bantah oleh Chacha. Karena menurut Chacha, Berlian satu-satunya wanita yang malas memperhatikan diri sendiri termasuk wajah.


Aryan memajukan kepalanya, berusaha untuk lebih dekat menatap wajah Berlian. Tiba-tiba ekspresi wajah perempuan itu berubah, semula tenang menjadi gelisah bahkan napas Berlian memburu. Sepertinya Berlian sedang bermimpi buruk.


"Berlian aku percaya kamu, tapi mungkin kali ini pilihan yang terbaik adalah kita harus berpisah " Berlian berdecak, melangkah mencoba mendekat. "Jangan Berlian. Kamu udah gak butuh aku lagi, kamu harus bahagia walau kenyataannya itu gak sama aku," Berlian menggeleng, dirinya sangat mencintai farrel apapun yang terjadi.


"Cinta gak harus saling memiliki Berlian," Berlian berdecak sebal. Berlian tidak suka kalimat itu, sudah tidak asing kalimat itu ditelinga Berlian.


"Aku gak mau. Aku cuma mau sama kamu. Please jangan tinggalin aku Farrel." Berlian berlutut di hadapan Farrel. Bukannya menghentikan sikap Berlian, Farrel lebih memilih pergi menjauh.


"Farrel tunggu," Berlian berusaha mengejar Farrel yang semakin menjauh.


Berlian membuka mata dan langsung melihat sekitar, ini masih di dalam mobil. Mencoba mengatur napas.


Aku mimpi lagi.


Di lihatnya keluar jendela langit yang sudah berubah menjadi gelap.


"Kamu mimpi buruk?" Aryan bertanya khawatir dan Berlian hanya terdiam masih mengumpulkan pikirannya, Aryan meraih pergelangan tangan Berlian ketika hendak keluar mobil. "Ada apa? kamu kenapa?" Berlian menatap tangannya, mereka saling beradu tatap, sorotan mata Berlian dapat Aryan artikan, perlahan laki-laki itu melepaskan genggamnanya.


"Jangan sentuh gue, yang perlu lo lakuin sekarang adalah, batalin perjodohan ini." Ucapan Berlian dengan intonasi tinggi.


"Kenapa?" Berlian keluar dari mobil tanpa menjawab panggilannya dan berlalu pergi .

__ADS_1


...☘️☘️...


__ADS_2