
"Selamat pagiiiii........." Aryan mengucek matanya, ketika tirai gorden terbuka perlahan. Sinar mentari pagi sudah menusuk kaca jendela besar. "Hey bangun, aku udah bawain salad buah sama kopi hitam tuh, diatas meja."
Aryan membuka matanya dan melihat kearah wanita yang pagi-pagi sudah mengacauinya. "Apaan sih?"
"Heh, matahari pagi itu bagus buat kesehatan jadi sana keluar terus olahraga."
Aryan menarik lagi selimutnya dan kembali terpejam. "Keluar gaak.. Jangan ganggu privasi orang."
Berlian menendang kasur sampai membuat Aryan membuka matanya. "Bodo amat."
"Aaakkhhhhh....." Berlian berbalik lagi, sedikit terkejut karena Aryan tiba-tiba berteriak sembari tangannya meraba entah mencari apa. Berluan perlahan amenghampiri Aryan.
"Aryan ada apa???" pria itu tidak menjawabnya, hanya berteriak sembari memegangi kepalanya. "Kepalamu sakit?"
"Leppaaasssssss!!!!!!!" menepis tangan Berlian yang hampir menyentuhnya. "Mamaaaaaaa....... Mamaaaaaaa.... " Aryan berteriak sangat kencang bahkan setelah Abraham dan Udayana masuk menghampiri, Aryan masih tetap Berteriak.
"Ada apa Aryan?" Abraham meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Jen, tolong kerumah. Aryan kesakitan." teriak Abraham sembari berjalan keluar kamar.
Disana Berlian hanya mematung melihat Abraham dan Udayana kalang kabut melihat Aryan yang terus memukuli kepalanya.
"Sakitttt...."
"Tahan ya sayang, Jen sedang menuju kemari," Udayana berlari keluar tidak tahu apa yang membuatnya berlari secepat itu.
Berlian maju dan mencekam tangan Aryan yang masih memukuli kepalanya. Berlian duduk disamping Aryan. "Jangan kamu pukuli,"
"Lepasss......"
"Itu semakin membuatmu sakit, Aryaan."
"Leeepppaasssss....." Aryan berteriak cukup kencang, hal itu membuat Berlian maju dan mengelus kepala Aryan dengan kedua tangannya. "Jangan sentuh."
Berlian tidak menjauhkan tangannya. "Jangan sentuuuuhhhhhh....."
"Gimana? gak terlalu sakit lagi kan? apa yang kamu rasain? aku gak akan ganggu kamu tidur lagi, maaf ya." Aryan diam memandangi Berlian, matanya terpejam merasakan pijatan lembut tangan wanita yang sudah mengganggu harinya,
Jen yang baru datang langsung tegesa-gesa menaiki tangga dan menghentikan langkahnya tepat diambang pintu. Abraham dan Udayana juga mengerem kecepatan langkah kakinya, memandangi Berlian yang terus mengelus kepala Aryan.
"Kita turun dulu aja Tante Om, biarin Berlian yang ambil kesempatan ini." Abraham dan Udayana menyetujui ucapan Jen.
********
"Kamu sering kesakitan gini?" Aryan tidak menjawab. "Baring, tanganku pegel."
"Gak usah, keluar sana." menjauhkan tangan Berlian dari kepalanya.
"Dih, gak terima kasih lagi. Aku yang udah tenangin kamu tadi."
__ADS_1
Aryan menatap Berlian lurus. "Aku gak minta."
Mendengar ucapan Aryan barusan, Berlian berdecih, Aryan yang kali ini benar-benar menyebalkan. Mungkin karena pria itu hilang ingatan pada saat ia masih muda. Otomatis prilakunya masih seperti anak laki-laki remaja pada umumnya.
Oke, Berlian akan pahami itu.
Sembari menuruni tangga Berlian menggerutu kesal dan memaki Aryan dengan membara. Hah, Berlian jadi rindu Aryan yang dulu, yang selalu perhatian dan sangat melindungi.
Melihat Aryan yang seperti ini membuatnya ingin menyerah saja. "Gimana sama Aryan?"
Berlian mengerjap matanya. "Udah oke kok Tante, cuma tadi Berlian suruh baring aja lagi," mengikuti Udayana yang mengajaknya duduk diSofa. "Loh, Raisa? tadi kayaknya Om cuma panggil Jen aja."
"Iya, aku tidur dirumah Jen tadi malem. Ini mau berangkat ke Rumah Sakit bareng."
Jen berdiri menghampiri Berlian. "Jangan terlalu diambil pusing sama ucapan Aryan yang ketus."
"Hehe," meringis kecil, karena sepertinya mereka bertiga mendengar Berlian memaki Aryan tadi. "Bukan apa-apa kok, kesel aja."
"Tante minta maaf Berlian."
"Kenapa Tante terus minta maaf sama Berlian sih? Tante gak salah loh, Berlian juga lagi berusaha bantu ingatan Aryan biar kembali." mengelus tangan lembut Udayana.
"Yaudah biar aku sama Raisa lihat Aryan dulu ya Tante?" Udayana dan Berlian mengangguk.
Keduanya naik kelantai dua dan langsung masuk kekamar Aryan tanpa mengetuk, Aryan masih terbaring dikasurnya. Jen mendekat dan duduk didekat Aryan lalu mengelus kepala Aryan sebentar. "Masih sakit?"
Mendengar ucapan Jen memuji Berlian membuatnya kesal bukan main. "Kebetulan dia aja yang disini, lagian kepalaku kumat lagi juga karena dia kok."
"Nanti biar aku kasih obat buat meredakan nyeri dikepala kamu." Aryan mengangguk.
"Raisa ikut?"
"Apaa?" Aryan melihat Raisa duduk dimeja kerjanya. "Kamu ngelihat sosok wanita itu lagi?"
Aryan menegakkan tubuhnya lalu bersandar. "Engga, kali ini aku ngerasain dejavu."
"Dejavu?" Jen dan Raisa bertanya serentak.
Raisa maju dan duduk didekat Aryan. "Dejavu soal apa?"
"Waktu perempuan itu nendang kasur buat bangunin aku, tiba-tiba kepalaku sakit, dan aku teringat pernah mengalami itu."
"Selain itu apa lagi?" tanya Jen penasaran.
"Steak daging."
"Steak?" Jen dan Raisa kembali bertanya serentak.
Aryan kembali terdiam setelah ia mengangguk menatap kedua temannya. Jen dan Raisa saling pandang.
__ADS_1
"Ar, mending kamu istirahat aja. Nanti biar aku kasih obat buat pereda nya ya?"
Buru-buru Jen dan Raisa keluar menemui Udayana dan Berlian dilantai bawah. "Betul kan Sa kataku?"
"Nanti dulu. Kita harus pastiin yang jelas, jangan ambil kesimpulan kayak otak kamu itu." Jen mengelus kepalanya yang baru saja ditoyor oleh Raisa.
"Jen, Raisa? gimana sama Aryan?" melihat kehebohan dua saudara itu turun, Udayana dan Berlian langsung berdiri menghampiri.
"Iya, gimana? apa ada hal yang serius?" semua menoleh kearah Abraham yang baru saja keluar dari dalam ruang kerjanya.
"Gak apa-apa kok Tante-Om. Oh ya Berlian, boleh tanya sesuatu?" Berlian mengangguk. "Kamu pernah masakin sesuatu buat Aryan, pas dia lagi tidur?"
Berlian mengerutkan dahi kemudian menggelenh. "Engga kayaknya."
Tampak perubahan Ekspresi Jen dan Raisa kecewa. "Eh, ada waktu dia pernah main kerumah ku, aku bikinin dia steak daging. Waktu itu posisinya emang dia lagi tidur sih, dan aku..." Berlian menghentikan ucapannya beralih menatap Jen dan Raisa serius. "Aryan inget itu."
"Tepaaaatttt!!!!????!!" mereka berdua berpelukan.
Dalam pelukan Raisa, Jen hampir meneteskan air matanya. "Apa kubilang Sa, perempuan yang selalu Aryan eluhin sama kita itu Berlian."
"Iya Jen, akhirnya. Gak sia-sia kita dua tahun nungguin Berlian dateng."
Melihat keduanya terus bersyukur dan saling berpelukan. Abraham dan Udayana maju lalu mengelus kepala Berlian. "Terima kasih Berlian."
Berlian yang menyaksikan itu hanya tersenyum kaku.
Raisa lari menggenggam tangan Berlian. "Berlian."
"I-iya."
"Tolong ganggu terus Aryan, buat dia bener-bener ngerasai dejavu dengan sikap kamu."
"Tapi," Udayana menepuk bahu Berlian.
"Tante yakin kamu bisa."
Berlian menggeleng. "Gak bisa Tante, Aryan itu nyebelin banget."
"Kamu harus sabar Berlian," Jen maju. "Walaupun ucapan Aryan itu pedes kayak cabe, tapi hati dia lembut kayak kain sutra."
"Gak usah berlebihan Jen." mendelik melihat Jen. "Nih ya Berlian, apapun yang Aryan ucapin ke kamu, jangan pantang menyerah."
"Jen, Raisa. Setiap dia ngomong ketus sama aku, aku selalu lemparin senyuman sama dia. berusaha sok tegar, dan apa kata dia. 'Berhenti tersenyum, senyum kamu itu memuakkan'gitu." dengan gaya mengikuti Aryan yang protes soal senyuman kepada dirinya.
Hal itu membuat semuanya tertawa. "Kamu yang sabar Berlian, kami buat jadi temen Aryan aja perlu besi baja buat perlindungan diri, dibalik sikap cueknya yang selama ini dia lihatin kekamu, ada sikap julid sesungguhnya yang dia sembunyikan. Kamu harus lebih kuat dari ini."
Abraham sangat menyetujui ucapan nasehat dari Raisa. "Makanya Aryan jarang punya temen, selain temen dari kecil, sama temen yang berani menutup telinga sama mulut Aryan. Seperti Jen dan Raisa ini."
Berlian jadi merenung, sepertinya ia memang harus bersikap lebih sabar lagi menghadapi Aryan.
__ADS_1