Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (11)


__ADS_3

Berlian baru saja keluar dari dapur, berjalan kearah tangga menuju kamarnya. Terhenti ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Refleks Berlian menoleh.


"Berlian. Mau tidur sama kamu boleh gak??" menatap Udayana di depannya yang sudah memeluk bantal. Apa lagi ini Tuhan? Berlian mengangguk karena tidak tahu harus menolak dengan cara apa. Toh, ini hanya tidur kan?


Setelah selesai melakukan rutinitas yang sering di lakukan sebelum tidur, Berlian berjalan menuju ranjangnya dan melihat Udayana sudah menutup mata. Mungkin wanita ini sudah masuk pada alam mimpinya.


Berlian berbaring pelan di sebelah Udayana, takut kalau wanita itu akan terbangun karenanya. Berlian menerawang langit-langit kamarnya, Setidaknya malam ini tidak akan bermimpi atau berhalusinasi tentang Farrel jika ada yang menemaninya tidur. Sejak Berlian mulai sering berhalusinasi. Membuatnya tidak ingin tidur sendiri, walaupun terkadang keadaan memaksa. Disisi lain Berlian ingin melupakan Farrel tapi dari sisi hatinya menolak karena Berlian sangat mencintai laki-laki itu.


"Jangan bengong, nanti kesambet loh." Berlian kaget, ternyata Udayana belum sepenuhnya tertidur.


"Belum ngantuk tante." Berlian memiringkan tubuhnya agar mudah bertatapan langsung dengan Udayana.


"Terima kasih ya?" Udayana mengeluarkan tangannya dari balik selimut dan mengelus pipi lembut Berlian. "Terima kasih, karena sudah menerima Aryan." Berlian hanya diam, "tapi tante janji bakal buat kamu ngerasa nyaman sama keluarga kami, tante nggak bakal paksa kamu."


Padahal aku nerima ini juga karena paksaan loh? Sepertinya Udayana tidak paham kalau dirinya selalu memaksa Berlian untuk apapun.


"Boleh tau, kenapa Berlian yang dipilih?" Udayana terdiam wanita itu mulai menitihkan airmata. "Tante kenapa kok nangis?" Ternyata pada adegan seriuspun Udayana tetap tampak sangat berlebihan.


"Aryan dulu pernah menyukai seseorang. Tapi, sepertinya dia bertepuk sebelah tangan. Semenjak itu, Aryan tidak membuka hati untuk perempuan manapun." Udayana menghela nafas kasar. "Aryan juga jadi anak yang nakal dan susah di atur," lanjut Udayana. "Bahkan kami beberapa kali harus bolak balik kantor polisi untuk jemput dia karena di tahan." Udayana melihat Berlian yang antusias mendengar ceritanya.


"Kenapa sampek di tahan tante?" Berlian mulai penasaran.


"Dia ikut balapan liar, terus pernah berantem sama orang gak di kenal bahkan gak jelas karena apa masalahnya waktu itu dia dalam keadaan mabuk. Tapi Berlian, dia bukan anak yang seperti itu. Dia itu anak yang nurut bahkan dia gak pernah sekalipun menolak perintah kami." Ini sudah terlihat pada saat pertemuan pertama, menerima sebuah perjodohan sudah menandakan bahwa Aryan anak yang penurut. "Terus, juga ada gosip dari kantor kalo dia itu suka sama sesama jenis, Tante gak habis pikir. kamu tau gak?" Berlian menggeleng. "Mereka bilang yang disukai Aryan itu Reza, sahabat Aryan dari kecil." Berlian membulatkan matanya.


Seburuk itukah? Wah, kasian juga jadi laki-laki itu. Gumam Berlian dalam hati. Tapi Berlian juga tidak terlalu heran sih jika ada gosip seperti itu.


"Gak mungkin bangetkan?" Berlian mengangguk saja, Awalnya juga dirinya mengira bahwa Aryan memang berbeda, tapi semenjak persetujuan antara dirinya dengan Aryan, Berlian semakin yakin bahwa Aryan memang benar-benar berbeda. "Kami memilihmu karena yang mas Timo ceritakan tentangmu, sudah masuk pada kriteria calon menantu kami" Jawaban itu masih mengambang diotaknya.


Tapi tidak lagi ia pikirkan, karena Berlian sudah melihat jelas. Pria itu hanya ingin lari dari permintaan Mamanya untuk memiliki pasangan, dia tidak ingin mencari karena sebenarnya dia memang menyukai sesama jenis. Berlian merinding dengan kata-kata yang dia pikirkan sendiri.


********


"Good morning." Udayana berteriak riang dari anak tangga menuju ruang meja makan yang berada didekatnya.


"Morning." Abraham mendekat ke arah Udayana dan mencium keningnya. Chacha langsung menutup matanya dan berteriak.

__ADS_1


"Ihh om kalo mesra-mesraan jangan depan umum dong, Chacha masih di bawah umur nih." Membuat penghuni dapur tertawa, bahkan tawa Mbok Jem sangat keras pagi itu. Sarah menyikut lengan Mbok Jem.


"Mbok pagi-pagi bahagia banget sih sampek segitunya ketawak." Mbok Jem refleks menutup mulut.


"Maaf Bu, hehe saya kelepasan." Mbok Jem menunjukkan ekspresi tersipu malu.


"Mbok Jem emang lagi bahagia karena anaknya abis melahirkan." Celetukan Chacha membuat Mbok Jem berhenti dari aktivitas menata piring dan mendekati Chacha.


"Non Chacha kok tau??" Pertanyaan Mbok Jem membuat Chacha melihat kearahnya, mata Mbok Jem sedang berkaca- kaca saat ini. Chacha langsung memeluk Mbok Jem. "Selamat ya mbok," Bahkan Sarah dan Denada memeluk Mbok Jem ikut merasakan kebahagiaan.


"Mirna melahirkan Mbok?" Tanya Basagita kepada Mbok Jem yang mengangguk, Basagita langsung berlari ikut memeluk Mbok Jem. Abraham dan Udayana juga mendekat memberikan selamat atas kebahagiaan yang didapat oleh Mbok Jem.


Aryan dan Timo yang baru masuk menatap heran. "Ada apa ini kok berpeluk-pelukan?? Ada kebahagiaan apa di rumah ini?" Tanya Timo penasaran.


"Pah, Mbok Jem punya cucu. Mirna sudah melahirkan." Sarah memberitahukan penuh bahagia dengan tangan yang masih memeluk tubuh Mbok Jem.


"Wahh sudah lahiran." Timo juga terkejut dan ikut berbahagia.


"Enggeh Pak." Bahkan Timo sampai memeluk Mbok Jem girang dan berulang-ulang mengucapkan selamat.


"Apa maksud kamu?" Timo melotot tajam menatap Berlian.


"Berlian gak ngomong apa-apa?" Berlian mengeles ucapannya.


"Dena tadi denger Pah, Berlian ngomong drama gitu?" Denada mengangkat satu tangannya agar Timo melihat ke arahnya. Timo kembali menatap Berlian.


"Jawab? Apa kita gak boleh ikut berbahagia atas lahirnya cucu Mbok Jem??" Mbok Jem yang semula tersenyum bahagia mendadak memudarkan senyumannya.


"Berlian gak ngomong gak boleh. Maksud Berlian, iya percuma Pakde sama Bude ngasih selamat tapi gak ngasih libur itu percuma, mending pura-pura gak tau aja," Cela Berlian. Aryan menatap Berlian kagum. Padahal yang ia tahu Berlian anak yang kurang perduli dengan sekitar.


"Ahh benar juga, saya malah gak kepikiran." Timo mengangguk-angguk tidak percaya, bahwa Berlian mampu berpikir jauh kesana. "Yaudah sana Mbok. Siap-siap buat berkemas. Saya kasih libur panjang, biar Berlian yang akan mengantarkan pulang." Ucapan itu membuat Berlian tersedak coklat panas.


Kok jadi gue.


"Waduh, terima kasih pak, tidak usah non Berlian. Di beri libur saja sudah sangat berterima kasih, nanti merepotkan kalau sampai di antar." Mbok jem lebih dulu menolak.

__ADS_1


"Oh tidak bisa." Timo menggerakkan jari telunjuknya ke arah Mbok Jem dengan maksud tidak mengizinkan.


"Pak. Mirna ada dirumah sakit kok, jadi saya gak perlu pulang. Cuma mau izin aja nengok kerumah sakit, atau libur beberapa hari aja buat nemenin di rumah sakit," Berlian menghembus nafas lega dan Timo mengangguk sambil mengelus dagunya dan menjerit tiba-tiba.


"Ahaaaaa.. Saya punya ide. Mbok Jem akan di antarkan oleh Aryan dan Berlian," Giliran Aryan yang tersedak roti panggang ditangannya.


"Kamu gak papa sayang?" Aryan menggeleng dan menyeruput teh hangat di depannya.


"Berlian gak bisa, soalnya ada urusan Pakde!!" Berlian memberi alasan lagi. Berlian tidak ingin pergi bersama Aryan terus-terusan.


"Halah kamu sibuk apa sih? Kamu kan selalu di rumah. Palingan juga kamu pergi kalau ada pameran buku." Ucap timo.


"Nah itu Berlian lagi ada urusan itu." Berlian mencari cara agar tidak ikut terbawa-bawa.


"Gak usah banyak alasan kamu." Berlian menatap Mamanya berusaha meminta pertolongan. Tapi, saat matanya bertemu Basagita, malah pura-pura tidak melihat dan melengos pergi.


Berlian mengalihkan pandangan kearah Budenya berusaha meminta pertolongan. Tapi, Sarah malah melengos pergi kedapur menyusul Basagita.


Berlian bertemu mata dengan Udayana, mana mau wanita itu menolong. Dia pasti ratu diantara drama ini kan, Timo adalah panglimanya dan Berlian adalah rakyat jelata yang tidak bisa menolak perintah sang panglima.


"Udah sana siap-siap, Nanti kalo ada kesempatan kami akan lihat Mirna, Mbok." Perintah Timo kepada Aryan dan Berlian lalu menatap Mbok Jem yang langsung pergi untuk bersiap-siap.


...☘️☘️...


ARYAN TARA MAHESVARA



BERLIAN WIJAYA CALFREDO



...*****...


Terima kasih untuk yang sudah mampir, jangan lupa like, vote ya.

__ADS_1


__ADS_2