
Limajem adalah nama asli dari mbok Jem, beliau seoramg pekerja rumah tangga yang sudah mengabdi di rumah besar Wijaya sejak Timo dan Basagita masih kecil, Mbok Jem di percayai oleh Timo untuk menjaga dan merawat rumahnya dengan di bantu beberapa pekerja lainnya. Di tempat lain seorang tuan rumah akan memperkerjakan pelayan rumah tangga yang kuat, gesit, dan terbilang masih muda, tapi tidak untuk keluarga ini.
Timo dan Basagita sangat menghormati mbok Jem seperti layaknya orang tua atau sebagai seorang ibu, bahkan seluruh permasalahan keluarga juga, Timo ceritakan kepada Mbok Jem dan wanita renta itu selalu memberikan nasehat yang baik untuk tuan yang sudah sejak kecil ia ikuti.
Mirna, anak satu-satunya Mbok Jem. juga Timo bantu untuk urusan sekolah, saat mulai bekerja Mirna menolak untuk masuk dalam perusahaan keluarga Wijaya. Ia merasa tidak enak,
Sebetulnya, kalau hanya mengandalkan gaji dari Mirna. Tentu Mbok Jem bisa hidup nyaman. Akan tetapi, ia menolak dan tetap akan mengabdi pada keluarga Wijaya saja.
Mbok Jem yang kini duduk di kursi penumpang di belakang terus merengek menolak untuk di antarkan. Karena selain takut merepotkan, Mbok Jem juga mengetahui situasi yang di miliki Aryan dan Berlian. Mereka saling tidak menerima satu sama lain, entah kenapa malah dirinya yang di jadikan tumbal oleh Timo untuk mendekatkan kedua insan yang saling menutup diri ini.
"Rumah sakit di kampung Mbok jauh loh mas. Walaupun itu di kota, tetep masih deket sama perkampungan. Tidak kayak di sini, Non Berlian ingat rumah mbok kan?" Mencari alasan agar Aryan dan Berlian berhenti memaksa untuk mengantar.
"Gak inget saya?" Tidak mempan. Mbok Jem takut jika mereka sadar bahwa mengantar dirinya hanya alasan semata-mata untuk mendekatkan mereka, Mbok Jem akan di bantai habis-habisan. Tiba-tiba bulu kuduk Mbok Jem berdiri.
"Ampun Non, Saya gak ikut-ikutan." Berlian menatap Aryan, lalu melihat kebelakang.
"Kenapa Mbok? Saya kan cuma mau antar Mbok Jem, gak mau ngapa-ngapain?" Refleks Mbok Jem menutup mulut dengan kedua tangannya. Berlian menatap curiga kepada Mbok Jem. "Mbok? Saya tau kok, kenapa saya sama dia di tugaskan mengantar Mbok Jem. Padahal yang lain banyak. Itu karena mereka semua mau mendekatkan kami berdua. Mbok Jem tenang aja, saya gak akan ngapa-ngapain kok. Dikit saja." Aryan melotot melihat Berlian,
Apa maksudnya dikit aja?
"Haahhhh? Dikit gimana Non, ampun Non Berlian, saya belum melihat cucu saya. Saya sudah tua, daging saya juga sedikit," karena ketakutan Mbok Jem sampai menangis dan menyatukan kedua tangannya memohon.
Berlian tertawa keras. Bahkan ia memegang perutnya karena kesakitan tertawa.
"Berlian," Panggil Aryan.
"Hah?" Aryan menggeleng, sepertinya tidak terjadi sesuatu pada Berlian. "Saya cuma bercanda kok mbok?" Berlian tersenyum. Tapi senyuman itu di salah artikan oleh mbok Jem sendiri.
"Engga Non, Mas Aryan tolong berhenti saya mau turun saja." Aryan menggeleng tidak mau.
"Ssstttt... Mbok diem dong, entar di kira saya beneran mau ngapa-ngapain lagi. Denger ya, Mbok Jem itu special bagi keluarga kami. Lagian gak mungkin saya mau macem-macem." Mbok Jem tertawa kecil. Berlian menjelaskan bahwa tadi hanya ucapan bercanda dari Berlian, mungkin karena wajah Berlian yang datar membuat lelucon itu tidaklah terdengar lucu. Akhirnya Mbok Jem sedikit lega mendengar itu dan Aryan sudah kembali melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Menembus mobil yang melaju lebih lambat dari kemudinya. "Sejauh apapun kami pasti antar, tenang aja, ada dia yang kuat nyetir keliling dunia sekalipun," Aryan tersenyum.
__ADS_1
Kenapa dia berlebihan banget sih. Aryan tersenyum kecil.
"Iya Mbok, Saya sanggup kok nganter Mbok Jem sampai keliling dunia." Tambah Aryan menanggapi ucapan berlebihan Berlian.
Berlian menahan senyumannya.
"Hihi... Mas Aryan sama Non Berlian cocok sekali, berlebihan seperti itu. Saya yakin setelah menikah akan hidup bahagia bersama," Aryan dan Berlian saling pandang, sama-sama merasa canggung dengan ucapan Mbok Jem.
Ini lah, terlalu lama bergaul bareng Chacha sama Dena. Mbok Jem jadi nyinyir, atau malah mereka yang ngikut Mbok Jem. Berlian menjadi iba sekaligus khawatir kalau mengingat-ingat Chacha dan Dena suka menodai pikiran polos mbok Jem.
Setelah hampir lima jam sampai di rumah sakit yang akan di kunjungi, Mbok Jem dan Berlian lebih dulu turun di pelataran Rumah Sakit dan Aryan mengarahkan mobil ke parkiran.
Berlian sangat tidak menyukai bau khas Rumah Sakit, Mencoba bertahan untuk sekedar basa-basi kepada Mirna yang sudah ia kenal lama. Karena Mamanya yang pernah membantu biaya sekolah Mirna. Berlian juga sering berkunjung kerumah mbok Jem sekedar bermain. Setelah menemui Mirna dalam waktu cepat Berlian memilih duduk di luar saja karena sudah tidak tahan.
"Loh kamu gak masuk?" Berlian menggeleng, melihat Aryan berjalan mendekat.
"Gue pengen muntah kalo masuk sini, lo aja sana. Gue tunggu di sini," Aryan mengangguk.
"Iya tau, emangnya gue anak kecil?" Berlian mendengus menatap aaryan.
"Aku serius. Jangan jauh-jauh dari aku?" Berlian terdiam mendengar ucapan Aryan dan menatap pria yang masih berdiri didepannya. Mengalihkan pandangan menatap taman rumah sakit yang asri dipandang.
Ini orang lagi gombal ya.
"Ehem.. Iya"
"Iya apa?" tanya Aryan.
Berlian berdecak. "Iya gue gak akan jauh-jauh dari lo. Puas???" Aryan mengangguk, mengelus lembut kepala Berlian dan izin untuk masuk menemui Mirna anak Mbok Jem. Berlian mulai terbiasa dengan sikap Aryan yang terus mengelus kepalanya, itu kebiasaan pria yang memiliki sifat lembut, seperti Abraham mungkin atau seperti Andronico Papanya.
Halaman yang kecil di penuhi dengan bunga berwarna-warni membuat rumah sakit tampak semakin menenangkan. Masih bisa Berlian menghirup udara sejuk dikota.
__ADS_1
Berlian mengeluarkan ponselnya dan menancapan kabel earphone pada lobang ponsel dan mendengarkan lagu agar mengusir rasa bosan yang melanda. Play Now (Ilomilo-Billie Eilish)
********
"Ini calonnya Berlian Bu?" Tanya Mirna. Aryan menunduk sopan dan menyalami Mirna dan Tio menantu Mbok Jem.
"Hallo, saya Aryan," Mirna mengangguk. mbok Jem menuntun Aryan untuk duduk di sofa panjang.
"Makasih sudah repot mengantarkan Ibu." Ucap Tio tersenyum ramah kepada Aryan.
"Jangan sungkan,"
"Tolong sampaikan kepada Pak Timo dan Bu Sarah, makasih sudah memerintahkan Rumah Sakit untuk memindahkan saya di ruangan yang baik. Kamarnya nyaman." Aryan mengangguk.
"Nanti saya sampaikan." Mirna tersenyum melihat Aryan.
"Non Berlian itu tidak suka bau rumah sakit," Aryan menatap mbok Jem. "Dulu Pak Andro meninggal setelah sampai di Rumah Sakit, maka dari itu Non Berlian selalu menganggap rumah sakit adalah penyebab Pak Andro meninggal. Membuat Non Berlian sangat membenci Rumah Sakit, dan kalau sakit atau apa lebih memilih memanggil dokter pribadi kerumah," Aryan mengangguk mengerti.
"Pasti sulit ya mendekati Berlian?" Aryan kini beralih menatap Mirna yang sudah menggendong bayi mereka di pelukannya dengan bantuan Tio.
Aryan menggeleng. "Ini baru permulaan, masih belum terasa, masih tahap mencobalah mba," Mirna dan Tio menanggapi dengan tawa.
"Semangat ya" Tio berjalan dan menepuk bahu Aryan untuk menyemangati. Aryan menahan senyumnya, selain Basagita tidak ada lagi yang menyemangati dirinya untuk terus mencoba menembus dinding hati Berlian yang batu.
"Hati Berlian memang batu, karena ada beberapa faktor yang membuat dia begitu," tutur mirna.
"Sepertinya mba Mirna kenal dekat dengan Berlian?" Tanya Aryan penasaran.
"Dulu setiap liburan Berlian selalu datang kekampung buat menginap di rumah, kami suka mengobrol," Aryan mengerti. "Pokoknya, semangat aja. Pasti suatu saat Berlian akan membuka hatinya dan menerima Mas Aryan dengan baik." Aryan tersenyum.
Rasanya kalimat itu sangat jauh bagi Aryan yang menjalaninya. Aryan tidak akan bisa menggapai Berlian. Seperti apapun caranya. Karena Berlian sudah membangun bentengnya sejak awal.
__ADS_1
...☘️☘️...