Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (51)


__ADS_3

Drrrttt.... Drrtttt....


"Siapa?" Belum sempat mengintip, Aryan sudah lebih dulu meraih ponselnya.


"Orang asing," menekan tombol daya mati pada ponselnya. "Yang udah hancur gak bisa kembali bagus lagi kan?"


Reza mengangguk. "Gue setuju, tapi Ar?" Menatap Aryan sembari meneguk jusnya di meja. "Yang gue denger sih, Zee emang matre banget. Lo tau? Dia milih Devan karena dulu Devan lebih kaya dari lo."


"Gue gak tau kalo lo tukang gosip." Reza terbahak.


"Sebenernya gue gak ikut gosip, tapi partner kerja tiba-tiba ngomong sama gue," giliran Aryan yang terbahak. "Semenjak kita gak akrab lagi sama dia, katanya sih dia udah gak punya temen lagi. Gue rada kasihan sih sama Devan."


"Ya sudah lo temenin aja lagi,"


"Lo gimana?" Menatap Aryan dengan wajah berharap laki-laki itu dapat sepemikiran dengannya.


"Enggak!!"


"Lo gak kangen sama kita yang dulu kemana-mana selalu bertiga?"


"Enggak." Reza menghela nafas kesal. Sampai kapan Aryan akan menutup pintu kemurahan hatinya untuk memaafkan Devan.


"Keluarin dong, jurus kedermawanan lo." Reza mulai mengintimidasi.


"Gue gak pernah ngerasa kalo gue punya sifat dermawan," ucap Aryan merendah diri.


"Cihh."


"Mau kemana lo?" Melihat Reza bangkit dari duduknya.


"Pergi."


"Gue masih disini?"


Reza menghentikan langkahnya. "Ar, gue pengen persahabatan kita balik kayak dulu, lo inget kan? sebelum ada Zivana." Mendekat dan menepuk bahu Aryan. "Seenggaknya, lo harus hargai dia yang udah mau mohon buat balik jadi temen kita lagi."


"Lo udah di kasih apa sama dia?" Reza tersenyum.


"Nothing. Gue cuma punya rasa baik, buat terima dia." Lalu pergi meninggalkan Aryan.


"Jadi lo diem-diem di belakang gue?" Reza menggerakkan kedua tanggannya menyilang. Ia kembali duduk di hadapan Aryan.


"Gue masih diemin dia, inget gak waktu kejadian chaos pas acara perkenalan Berlian? Lo tau sendirikan, kalo dia sama sekali gak ada ngapa2in Berlian, dia cuma pengen mancing lo aja."


"Hmm"


"Luka di leher Berlian bukan bekas gigitan dia, tapi bros aksesoris yang ada di kain Sari Berlian sendiri. Itu mama yang cerita."


Aryan mengunyah sandwich miliknya.


"Lo tau itu kan Ar?"

__ADS_1


"Hmmm," Aryan tahu semua, sewaktu ia mencoba mengobati luka di leher Berlian, bukan luka bekas gigitan.


"Dia gitu pengen nyagil lo tau gak? Dia gak sadar kalau ternyata lo semarah itu."


"Lo lagi banggain dia apa gimana?" Aryan bangkit.


"Loh mau kemana?"


"Pulang." Padahal dalam pikiran Reza, masih banyak yang harus ia ungkapkan tentang Devan yang ingin kembali merajut persahabatan dengan Aryan. Tapi mau bagaimana lagi? Aryan sudah pergi.


********


Membosankan, kata itu sih yang mampu Berlian ukir pada saat ini. Setelah mengantar Gena ke kampus dan sebentar berkeliling mencari novel. Berlian harus kembali lagi kerumah.


Mengobrol? Dengan siapa? Warga di rumah ini, tidak ada yang mau mengajaknya bicara santai.


Udayana? sudah pergi untuk membeli tas katanya. Saat ia menawarkan diri untuk ikut, Udayana bersikeras menolak.


Berkebun? Cuaca sedikit panas, membuat Berlian ingin berada di ruangan ber-AC saja.


Akhirnya, Berlian memutuskan untuk menghidupkan DVD musik di kamarnya. Selagi menikmati, Berlian mendengar pintu terbuka.


Bergegas ia menuju pintu.


"Aryan? Kok udah pulang?"


"Gak enak badan"


"Gak usah,"


"Lo udah makan?" tanyanya mengikuti langkah kaki Aryan menuju lantai dua.


Langkah Aryan berhenti tepat di depan pintu kamarnya. "Sudah. Aku istirahat bentar ya?" menutup pintu, membiarkan Berlian tetap berdiri di depan pintu kamarnya.


Melihat tingkah Aryan yang aneh, membuatnya berniat kembali menuju ke dalam kamarnya. Berlian merebahkan diri di atas ranjang dan menerawang langit kamar. Perubahan sikap Aryan sejak hari itu membuat sebuah ganjalan dalam hatinya, Berlian memejamkan matanya. Menghirup aroma terapi minyak lavender dalam dalam yang di pasang pada ruang kamar Berlian.


Berlian membuka mata saat merasakan sentuhan basah pada pipinya, sebuah kecupan lembut. Matanya terbelalak terkejut. "Farrel?" laki-laki itu tersenyum dan berbaring di sampingnya.


"Kangen aku gak?" Berlian menggeleng.


"Farrel please.." Berlian beranjak dari ranjang dan duduk disisi bawah menghadap Farrel yang masih terbasing di ranjangnya. Mengatupkan kedua tangannya memohon sembari memejamkan mata berharap agar itu bukanlah halusinasi. "Farrel, kalau ini hanya halusinasi aku aja. Please jangan ganggu aku, kalau kamu hadir untuk kasih tau aku sesuatu, katakan. Aku gak mau terus-terusan kayak gini"


"Kamu rindu aku?" Matanya terbelalak kaget ketika perlahan membuka mata. Melihat sekelilingnya berubah menjadi tempat yang asing bagi Berlian. Tempat yang sangat menakutkan, Berlian melihat sosok Farrel yang berdiri menatapnya.


AC sejuk menyentuh kulit tidak terasa lagi. Aroma terapi minyak lavender ruangan sudah tidak tercium lagi. Alunan musik yang menenangkan sudah tidak lagi terdengar.


"Berlian, tolong sadar please" Berlian mengucek matanya, lalu ia buka kembali. Masih pada tempat yang sama. "Sadar Berlian sadar, ini cuma halusinasi lo aja," terdengar suara tawa renyah dari kekasihnya. "Farrel please, kalo kamu sayang sama aku jangan giniin aku, aku capek, capek banget sama situasi kayak gini," Berlian menyeka air matanya.


"Kamu yang maksa buat inget aku terus, kamu harus ikhlasin aku. Kamu harus buka hati kamu buat laki-laki itu," Berjalan maju tepat pada Berlian berdiri.


"Aku sayang sama kamu, kamu selama ini dimana?"

__ADS_1


"Disini. Disisih kamu," Berlian menggeleng. "Aku akan pergi kalau kamu sudah ikhlasin aku sayang." Berlian mendekati Farrel.


"Kamu mau ninggalin aku lagi?" Farrel menatap Berlian dengan lekat. "Kamu gak boleh pergi Farrel" Memeluk Farrel dengan erat.


Sirna......


Pria yang baru saja ia peluk erat menghilang. Berlian terisak sedih, lagi-lagi seperti ini. "FFAARREEEEELLLLL!!!!!!" Berlian berteriak sangat kencang. Berlian tersadar melihat sekelilingnya, masih di dalam kamar. Mimpi. Tapi itu terlihat sangat nyata. Berlian juga mengeluarkan air mata saat ini.


Bahkan suara musik yang Berlian dengarkan masih terputar. Berlian turun dari ranjang dan terduduk di bawah menangis untuk kesekian kalinya karena ulah Farrel, hatinya masih bingung harus bagaimana?


Apa harus ia mengikuti ucapan Farrel, untuk melupakan laki-laki itu dan menerima Aryan.


Berlian menangis lagi, meluapkan seluruh emosi dihatinya.


********


Tok... Tok... Tok...


Aryan melihat ke arah pintunya yang terketuk dan terbuka kecil. "Bu Nur, ada apa?" Melihat Bu Nuri berada di ambang pintu, meremas jari jemarinya berulang-ulang.


"Mas, itu non Berlian," Aryan langsung berdiri dan mendekati Bu Nuri yang raut wajahnya terlihat sangat khawatir.


"Kenapa dengan Berlian, bu?"


"Saya dengar non Berlian teriak terus nangis, tapi saya gak berani masuk." Aryan yang mendengar itu langsung berlari bergegas menuju kamar Berlian.


Di depan pintu kamar sudah ada beberapa pekerja yang berdiri menatap pintu kamar dengan khawatir.


Dibuka pintu kamar, Aryan terkejut melihat Berlian yang duduk menangis di lantai. Bu Nuri langsung memerintahkan para pekerja untuk meninggalkan tempat mereka berdiri.


Aryan berjalan mendekat dan berlutut disamping Berlian, mengelus rambutnya, perempuan itu mendongak melihatnya. Aryan melihat wajah Berlian yang sudah bercucuran air mata. Menyeka air mata Berlian dengan ibu jarinya, dan menarik untuk menangis dalam pelukannya.


"Aryaan, gue mau pulaaaangg," Aryan mengelus punggung Berlian.


"Iya besok ya," Berlian menggeleng.


"Gue mau SEKARAAANGG!!!!!!" Berlian berteriak sambil menangis dalam pelukannya.


"Iya, aku pesan tiket kamu siap-siap ya?" Berlian mengangguk, langsung mengambil koper dengan tergesa-gesa dan memasukkan asal beberapa pakaian kedalamnya.


"Bu, tolong ambilkan Berlian minum," bu Nuri bergegas pergi kedapur mengambil minuman.


"Gue gak mau minum!!!" Membuat bu Nuri berhenti dan menatap Berlian, wanita paruh baya itu sedikit terkejut melihat perubahan Berlian saat ini, tidak seperti Berlian biasanya. "Gue mau pergi sekarang Aryan!!!!!" Melotot menatap Aryan yang menghentikan kesibukannya memesan tiket pesawat.


"Oke, bu, gak jadi minumnya. Ayo kita berangkat ke bandara sekarang."


********


Setelah beberapa jam Aryan mengemudi dengan kecepatan tinggi, untung kota ini tidak sedang di landa kemacetan. Mereka sampai di bandara dengan selamat, Berlian keluar dari pintu mobil dengan tergesa-gesa, bahkan Aryan belum sempat memarkirkan mobil dengan benar di latar bandara. Aryan menarik lengan Berlian yang berjalan dengan cepat hingga berhenti.


"Aku ikut?" Berlian menarik tangannya tanpa mendengar permohonan Aryan dan masuk keruang chek-in. Aryan hanya dapat melihat Berlian yang berjalan semakin menjauh, tanpa menoleh kebelakang. Kearahnya.

__ADS_1


...☘️☘️...


__ADS_2