
"Terima kasih semuanya. Aku bisa apa tanpa kalian, sekali lagi terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang keacaraku." menunduk sedikit.
Wanita anggun itu terus tersenyum lebar menatap keseluruh orang yang datang keacaranya. Acara pesta ulang tahun yang ia sengaja buat untuk mendatangkan Aryan.
Terlihat Aryan berdiri diantara orang-orang disana, disampingnya terdapat Berlian yang senantiasa merangkul lengan Aryan tanpa merasa pegal.
Apalagi saat ini seluruh teman Aryan hadir. Mereka berdua memang pandai menyembunyikan sesuatu. Merahasiakan kenyataan tentang pertunangan mereka. Berita soal Aryan bertunangan dengan wanita yang menerimanya dengan hasil keterpaksaan sudah ditepisnya, pria berparas tampan itu sudah berhasil mengatakan bahwa Berlian menerima perjodohan karena memang menyukai Aryan.
Dan saat ini, mereka malah menjadi pusat perhatian. Padahal bukan mereka yang seharusnya menjadi bahan pembicaraan.
"Nah, sekarang waktunya potong kuee" teriak sang pembawa acara.
Zivana memotong kue dengan pelan, tidak lupa ia tersenyum manis, karena pada moment ini banyak yang akan mengambil gambar dirinya. Ia harus tetap terlihat cantik dalam pose apapun.
"Jadi, siapa yang akan menerima potongan kue pertamaaa?" ucap pembawa acara mengompori.
Semua orang mengikuti arah mata Zivana, menatap Aryan. Pria itu pura-pura bersenda gurau dengan Berlian, seakan-akan ia tidak merasa sedang diperhatikan seluruh tamu. Lebih menjiwai lagi Berlian, ia terlihat tersenyum malu-malu saat candaan Aryan diselingi dengan mengelus pipinya.
Semua orang kembali menatap iba kearah Zivana, mereka semua tahu ada kisah dibalik cinta mereka, antara Aryan, Zivana, dan Devan. Sekarang masuk cinta lain, Berlian.
Dulu, Aryan akan mati-matian berharap Zivana memberikan kue pertamanya kepada dirinya. Tapi kini, ia tidak perduli lagi. Untuk hadir disini saja, itu atas keinginan Berlian.
Seluruh tamu bertepuk tangan ketika Zivana turun dan memberikan kue nya kepada Devan, tidak lupa ia mengecup bibir Devan.
Zaskia tersenyum kecut dan berbisik kepada temannya, Reya. Ingat? dia wanita berkulit hitam yang sempat Berlian puji diacara perkenalannya dengan semua rekan bisnis Abraham.
"Kamu lihat itu Rey?"
"Lihat. Cuih. Memangnya Aryan akan cemburu melihat itu." tersenyum mengiba melihat kelakuan Zivana. Entah semua melihat atau hanya mereka berdua saja yang tahu.
Tapi mau bagaimanapun kelakuan Zivana, itu tidak membuat Aryan cemburu. Kan sudah jelas, Aryan tidak lagi menaruh hati pada wanita itu, ia sudah memberikan seluruh hatinya kepada Berlian.
Lalu pada potonga kue ke dua, Zivana turun dan memberikan kepada Berlian. Entah apa motivasi wanita itu, Berlian menerima dengan senang hati.
"Ini kue untukmu, sebagai ucapan terima kasihku. Terima kasih Berlian, sudah mau menjadi temanku." Berlian tersenyum.
Lagi-lagi Zaskia tersenyum kecut.
"Lihat Rey, beraninya dia mengatakan Berlian adalah temannya."
Reya mengangguk menatap Zivana. "Benar-benar wanita menjijikkan ya?"
__ADS_1
"Sama-sama." ucap Berlian. Zivana menatap Aryan dan tersenyum sangat manis.
"Terima kasih Aryan. Aku tahu kamu sangat sibuk, tapi kamu masih nyempetin waktu buat datang ke acaraku?"
Berlian sedikit tersenyum masam, kenapa wanita itu harus berbicara sembari menyentuh Aryan. Berlian benar-benar membenci semua wanita yang menyentuh Aryan seenaknya.
"Dengan banyak rayuan, akhirnya Aryan mau datang kesini. Aku gak enak sama kamu Zivana, ini pertama kalinya aku diundang sebagai tunangan Aryan. Awalnya Aryan menolak, tapi akhirnya dia mau untuk datang." ucapnya memanasi sembari menyuapi kue kepada Aryan.
"Haha." sebuah suara tawa keluar dari mulut Zaskia, itu menjadikannya sebuah pusat perhatian saat ini. Tawa Zaskia seperti sedang mengejek atas kekalahan Zivana.
Ya, itu benar. Zaskia sangat menyukai Berlian yang seperti ini, ia tahu kalau Berlian juga sedang memanas-manasi Zivana.
"Ups. Maaf, Reya tadi menggelitiku." memukul Rey yang tampak kebingungan disana. "Jangan menggelitiku Rey, kita jadi pusat perhatian sekarang."
Reya tertawa keras. "Maaf, Kia aku tadi cuma bercanda."
Zivana berbalik. Ia harus menghentikan seluruh kejadian ini, saat ini semua orang harus tertuju padanya, bukan pada Aryan dan Berlian atau Zaskia dan Reya.
"Baiklah, acara potong kue sudah siap. Saatnya pesta musiiiikkkkk. . ." teriaknya menggelegar.
Saat suara dentuman music Dj berbunyi, semua tamu sudah masuk pada dunianya masing-masing, ada yang ikut berjoget serasa diclub, ada yang asik berbincang sembari menyantap hidangan ringan disana.
Semua tamu tidak diperkenankan menggunakan pakaian formal, mereka semua mengenakan pakaian pantai.
Berlian memilih mengenakan dress hitam sepaha bermotif buah, dengan bagian bahu menurun sampai kelengan.
Sedangkan Aryan, pria itu mengenakan celana pendek dan baju kemeja over size berwarna terang bermotif, dia juga mengenakan dalaman kaos hitam. Aryan terlihat berbeda saat ini, biasanya pria itu selalu mengenakan baju kaos atau kemeja lengan panjang dimanapun.
Karena saat ini Aryan sedang mengenakan baju kemeja lengan pendek, Berlian baru mengetahaui satu fakta. Bahwa Aryan memiliki tato tulisan memanjang ditangan kirinya.
Mereka berdua memilih untuk berjalan-jalan dipinggiran pantai, sore dengan latar pantai dan matahari hampir terbenam membuat suasana semakin terlihat romantis, kini Berlian tidak canggung lagi saat Aryan mulai menggandengnya. Diam, masih menjadi pilihan mereka saat ini.
Ombak menyapu jejak kaki mereka, tanpa menghilangkan kenangan yang mereka lewati.
"Farrel suka pantai." Berlian memulai pembicaraan.
"Hm."
__ADS_1
"Dan aku benci pantai." Aryan berhenti, membuat Berlian ikut berhenti. "Pantai buat aku inget tentang Farrel, dan aku benci itu."
"Kalau gitu kita kembali ke Villa."
"Kenapa. Bagus tahu." menunjuk sang surya yang hampir tidak terlihat lagi. "Sekarang mungkin aku akan menyukai pantai, makasih Aryan."
Aryan mengeratkan genggamannya, ketika Berlian memilih untuk menggenggam kedua tangan Aryan. Apa maksud Berlian, Aryan belum mengerti.
"Makasih, kamu udah nguatin aku. Kamu kasih aku pelajaran tentang bertahan. Kamu bertahan walau aku gak pernah merasakan kasih sayang kamu. Kamu bertahan walau aku terus mengimpikan kembalinya Farrel. Kamu bertahan dan terus membantuku mencari Farrel."
Aryan masih diam, sampai Berlian tidak lagi memberikan jarak antara mereka.
"Jadi. Sejak kapan kamu menaruh hati untukku?" membuat Aryan melebarkan matanya.
"Kamu tahu?" Berlian mengangguk.
"Aku tahu, semuanya. Saat konser The Rocky kamu menciumku, saat kamu pulang dengan keadaan mabuk kamu menciumku, saat aku tertidur dikamarmu pertama kali kamu menciumku, saat kita tidur di Apartment sehabis dating kamu juga menciumku. Mana yang udah buat kamu jatuh hati sama aku?" Aryan mematung. Berlian mengingat semuanya, bahkan semua itu sudah ia pendam dan sudah tidak ia ingat lagi.
"Pertama kali, kedua kali, ketiga kali. . . ."
"Sebelum semua itu terjadi." ucap Aryan memotong.
Berlian tertawa. "Sebelum semua terjadi? cinta pada pandangan pertama?" tanya Berlian.
Tentu Aryan menggeleng. "Sebelum kita bertemu."
Lagi-lagi Berlian tertawa. "Ayolah Aryan, jangan buat lelucon. Kamu gak cocok."
"Aku serius." Berlian menghentikan tawanya. "Aku sudah jatuh cinta saat melihat fotomu pertama kali." ucapnya meyakinkan.
"Ahh, foto yang Pakde Timo kasih pertama kali sama Om Abraham dan Tante Yana? Aku emang cukup cantik disitu." lagi-lagi Aryan menyumpah serapahi dirinya sendiri, tenggorokannya mengering. Ia tidak bisa memberi tahu Berlian segalanya.
Berlian melepaskan genggamannya dan menaikkan tangannya perlahan sampai tepat dikedua bahu Aryan, Berlian berjinjit dan mengecup bibir Aryan.
"Biarkan aku belajar mencoba menyukaimu Aryan." tangannya sudah melingkar dileher. Pria itu juga sudah melengketkan tangannya pada pinggang Berlian.
Matahari sudah benar-benar tenggelam, hari sudah semakin menggelap, lampu jalanan dan pinggiran pantai sudah menyala.
Pantai mulai sepi tertinggal beberapa orang yang ingin menikmati angin pantai dimalam hari, saat mereka berjalan keluar dari bibir pantai.
Mereka tidak lagi peduli saat melewati Aryan dan Berlian. Membiarkan keduanya menumpahkan seluruh isi hati mereka. Dan pantai menjadi saksinya.
__ADS_1