Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (80)


__ADS_3

Pesta yang sangat ia dambakan telah tercapai. Perayaan dengan sederhana, menyewa tempat strategis, dihadiri dengan orang-orang pilihannya.


Dan hanya satu keurangannya. Aryan.


Pria itu tidak lagi berdiri disampingnya saat lilin akan ditiup, pria itu tidak lagi menatapnya mengharapkan ia memberikan potongan kue pertamanya kepada pria itu.


Zivana bernafas dengan payah saat ini. Karena terlalu repot melayani para tamu-tamu meyebalkan ini, sampai membuatnya kehilangan Aryan. Ia sudah mencari kesana kemari.


Pada akhirnya, Freza orang yang dipercayakan Devan untuk menjaganya mengatakan bahwa Aryan keluar Villa, pergi menuju pantai bersama tunangannya.


"Hai, Zivana. Selamat ulang tahun ya?" Zaskia mencegah Zivana keluar area party, ia sudah bersusah payah mencegah orang-orang untuk menghalangi Aryan dan Berlian keluar. Tidak akan ia lepaskan pasal Zivana.


"Terima kasih Zaskia, kamu udah mau dateng ke acaraku." tetap ingin terlihat anggun walaupun sorotan matanya menatap kesal.


"Um, aku datang bukan kemauanku, Devan merengek ingin aku datang. Bahkan aku pergi tanpa izin dari suamiku." Zivana menghembuskan nafasnya kasar.


"Lalu kamu Rey?" menatap Reya, yang senantiasa berdiri tepat disebelah Zaskia. Tidak ada yang tahu masalah antara Reya dan Zivana, yang semua orang tahu hanyalah mereka saling tidak suka.


"Aku? aku datang karena Reza menyuruhku untuk menjaga istrinya. Tenang saja, aku tidak mengambil jatah tiket pesawat, tidak mengambil jatah penginapan dan makanan yang tersedia. Aku punya uang, aku mampu." ucapnya penuh penekanan.


"Terserah kalian. Aku akan pergi." Zivana benar-benar sakit hati atas sikap dan ucapan Reya, sebaiknya ia pergi saja.


Tidak semudah itu. Zaskia berteriak. "Guuuuuys, Yang sedang bertambah umur disini. Tolong bantu aku, kita kerjai dia. Haha." teman-temannya sudah bergabung dan ikut menyeret Zivana, mengerjai Zivana dengan berbagai tantangan.


Wanita itu tidak akan marah ataupun kesal. Dia diam saja, image lebih penting dari apapun.


Setelah lama menanggapi, akhirnya Zivana lolos juga. Seluruh tamu sudah beristirahat, ada yang memilih berjemur dan ada juga yang menghabiskan sore hari berbincang diVilla.


Matanya menyusuri jalanan, ia tetap bersitegas mencari Aryan. Ini pestanya, kenapa keinginannya tidak terkabul.


Langkahnya berhenti tepat dibawah pohon kelapa, tangannya mengepal melihat Aryan dan Berlian dalam pose seperti itu. Tangan yang saling mengeratkan pelukan dan wajah tanpa adanya jarak.


"Kan sudah ku bilang. Kamu gak akan ada kesempatan apapun, Aryan sudah menyukai wanita itu sebelum mereka bertemu." Zivana menatap kearah sampingnya.


"Itu bukan masalahku." berjalan mendekat dan melingkarkan tangannya ke leher pria itu. "Van, kamu kan tahu? apapun yang aku inginkan akan terkabulkan bukan?"


Devan mengangguk. "Ya, dulu aku memang begitu. Sekarang tidak lagi. Kalau kamu mau merengek pada Papa, minta saja padanya."


Tidak mungkin Zivana akan berani merengek pada Tuan Mahaprana untuk meminta Aryan menjadi miliknya, pada dasarnya Tuan besar itu menuruti semua permintaan Zivana karena dia akan mengangkat Zivana untuk menjadi menantunya.


Devan menatap kepergian Zivana, sesekali wanita manja dan semaunya seperti Zivana harus diberi pelajaran. Belum puaskah dia? Bekas cekikan tangan Devan saja masih belum hilang dilehernya.

__ADS_1


********


"Ar, sini gabung." Teriak Aska, teman segeng dulu.


Beberapa tamu undangan pesta ulang tahun Zivana ada yang memilih untuk tetap tinggal di Bali, ada yang memilih pulang ke Jakarta. Mungkin sebagian dari mereka memiliki jadwal padat, dan menyempatkan untuk datang.


Yang memilih tetap tinggal, mereka diperkenankan untuk tinggal di Villa, namun beberapa ada yang memilih untuk mencari penginapan sendiri.


Aryan yang berada dilantai dua, langsung turun mendengar panggilan Aska. Jarang-jarang mereka berkumpul.


Aryan memilih duduk disamping Zeka, rekan bisnis kantornya sekaligus teman sejak SMP. Sofa dengan model melengkung melingkar itu sudah penuh, sofa yang terpisah sudah diduduki oleh Devan dengan memangku Zivana.


Meja bundar yang terletak ditengah-tengah sudah terisi banyak berbagai jenis minuman dan cemilan ringan. Mereka membuat kesepakatan untuk bergadang malam ini.



"Mana Berlian?" tanya Aska.


Aryan menegak minuman kaleng bintang non-alcoholic. "Pergi, sama Zaskia dan Reya."


"Ar, si Berlian perawatan dimana sih? Gila, bening banget sumpah." tanya wanita memakai Cardigan diujung.


Aryan tertawa. "Itu serius. Dia emang gak seribet cewek kebanyakan."


"Beneran?" Aryan mengangguk.


"Cantiknya Berlian memang natural kok. Kelihatan." kalimat itu membuat Aryan menoleh pada sumber suara, Zivana.


Aryan menaikkan satu alisnya, wanita itu sedang membuat Aryan cemburu kah? menyandarkan kepalanya pada dada Devan, dan sesekali terlihat mengecup pipi Devan. Astaga, Aryan tidak akan cemburu. Untuk apa?


"Lo tau dari mana Ar?" tanya wanita disampingnya.


Aryan balas menatap. "Menurut lo? gue gak pernah gitu masuk kamarnya?"


"Iya juga sih. Mustahil banget kalo Aryan gak pernah masuk."


"Shit. Ini non-alcoholic kan? kok gue pusing ya?" mereka semua tertawa.


"Lo salah ambil." Devan membuka suara setelah lama menjadi pendengar.


"Wih. . . . Rezaa." Devan berteriak melihat kedatangan Reza, dibelakang pria itu berdiri Zaskia, Reya dan Berlian sembari menenteng plastik berisi jajanan tambahan untuk mereka bergadang.

__ADS_1


"Gue dateng bukan keacara ulang tahun lo." menatap Zivana. "Dan bukan menghargai lo." menatap Devan. "Gue cari istri gue." ucapnya sembari adu kepalan tangan kepada Devan dan yang lainnya disana, Walaupun saling menunjukkan ketidak sukaan, tapi begitulah pria. Mereka masih saling menyapa.


Aryan berdiri menghampiri dan merampas bawaan Berlian, lalu ia berikan kepada Aska yang sudah mengambil alih belanjaan ditangan Zaskia dan Reya.


"Capek?"


Berlian menggeleng. "Gak berat kok."


Aryan berjalan mendekati Reza dan mengulurkan tangannya.


"Kok lo tahu gue sewa mobil?" mengeluarkan kunci dari kantongnya. "Mau kemana lo?"


"Jalan."


"Dih, gak bosen kalian berduaan mulu?" tanya Reya.


"Gaklah, kan kesini emang mau ngabisin waktu berdua." Aryan tersenyum mendengar jawaban Berlian.


"Dasar Aryan buciin." semua tetawa keras mendengar teriakan Zeka.


"Ar, ikut." menarik tangan Aryan.


"Yaelah Kia, suami lo disini. Jangan ganggu mereka." Reza melototi. "Sini duduk." membuat Zaskia memanyunkan bibirnya lalu duduk disamping Reza.


Reya dan Amora, wanita yang mengenakan Cardigan. Pergi menuju dapur untuk menyiapkan makanan yang baru dibelinya tadi.


Api cemburu sudah membakar hati Zivna. Wanita itu menatap Devan tidak suka, yah Devan tahu. Zivana sedang cemburu saat Aryan menarik tangan Berlian dan mengatakan ingin berkeliling bersama Berlian.


"Harapanmu sia-sia." Devan berbisik ditelinga Zivana.


Bisikan itu semakin membuatnya kesal dan bangkit dari duduknya.


"Loh, mau kemana Ziv?" tanya Rendi, pria yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Zivana, dari wanita itu pura-pura bermanja pada Devan, namun saat Aryan terlihat tidak perduli, wanita itu malah terlihat marah.


"Kamar. Ngantuk." lalu naik ke lantai dua.


"Bohong banget." semua menoleh kearah Zaskia. "Dia lagi cemburu sama Berlian. Ya gak Van?" Devan mengangguk.


"Gue tahu, dari tadi merhatiin dia soalnya." ucap Rendi. "Lo gak papa Dev?"


"Gue suruh ngapain? marah? bodo amat sih. Kalo bukan karena dia kesayangan bokap gue, ya gue gak perduli." ucapnya memperjelas, bahwa ia tidak memiliki ketertarikan sejak awal pada Zivana. Wanita yang ia rebut dari sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2