Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (90)


__ADS_3

Aryan memarkirkan mobilnya dengan asal, lalu berlari masuk kedalam rumah.


"Aryan, Berlian ada dikamarnya, tapi tingkahnya aneh banget," Abraham dan Gena langsung ikut bergabung. "Pintunya dikunci, Mama gak berani masuk."


"Ada apa Aryan? apa PTSD Berlian kambuh lagi?" Aryan menggeleng.


"Aryan gak tahu Pa, Aryan coba samperin Berlian ya Pa," Aryan berjalan menuju pintu kamar Berlian, sebelum mengetuk pintu, ia berusaha berdoa agar tidak terjadi apa-apa. "Berlian, ini aku Aryan. Aku boleh masuk?"


Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Aryan menoleh menatap Mama dan Papanya.


"Coba langsung masuk aja." ucap Abraham.


Aryan menyetujui dan membuka pelan lalu dibukanya lebar-lebar, terlihat Berlian sedang memasukkan semua pakaiannya kedalam koper. "Berlian." panggil Aryan lirih.


"Berlian, ada apa sayang? kenapa kamu masukin semua baju kamu? Kamu sakit lagi." Berlian sudah siap mengemas pakaiannya kedalam koper, tanpa menjawab ia langsung keluar kamar melewati Aryan dan Udayana.


"Berlian, ada apa? kenapa kamu diam saja, Om jadi bingung sama sikap kamu sayang, ayo jelasin ada masalah apa?" Abraham berjalan mendrkati Berlian.


"Berhenti perhatian sama Berlian Om," Abraham terkejut mendengar nada bicara Berlian. "Untuk semuanya, berhenti buat pura-pura baik."


"Kakak," Berlian mundur menghindari Gena yang hendak mendekat. "Ada apa Kak?"


"Mulai saat ini, gak ada hubungan antara keluarga Mahesvara dan keluarga Wijaya lagi." cepat-cepat Abraham meraih tangan calon menantunya itu, ketika Berlian hampir keluar dari rumah.


"Apa yang terjadi Berlian? kenapa kamu ngomong seperti itu? Hah? kami ada salah apa?" Berlian tersenyum sinis.


"Berlian tidak mau hidup bersama keluarga pembohong."


"Berliaaaann,,,," mata Aryan melebar menatap Berlian, kenapa Berlian harus mengatakan hal semacam itu pada keluarganya.


"Kenapa? aku gak akan laporin apa-apa soal keluarga ini, jadi buat kalian semua berhenti buat pura-pura perduli."


Aryan mendekat dan meraih tangan Berlian. "Ada apa Berlian?"


"Aku gak mau hidup sama seorang pembunuh."


"Siapa pembunuh? Ucapin dengan jelas Berlian. Kamu sedang membicarakan siapa?" Berlian melepaskan tangan Aryan, lalu menatap Udayana.


"Membicarakan Aryan. Kalian semua udah bohongin Berlian, Tante nyembunyiin kejahatan Aryan," Berlian menahan air matanya lalu menatap Aryan. "Aku baru tahu, kenapa kamu terlalu yakin buat ngejalin hubungan sama aku, dan kamu baik mau bantuin aku soal Farrel, ternyata semua itu cuma omong kosong. Karena kamu tahu, Farrel udah mati."

__ADS_1


"Siapa yang memberitahumu Berlian?"


"Apa perdulimu?"


Abaraham maju. "Farrel sudah meninggal?"


"Jadi Om gak tahu," Abraham menggeleng. "Om gak tahu kalau anak Om sendiri yang sudah menghilangkan nyawa Farreeellll."


"Tutup mulut kamu Berliaaann...." Udayana menahan amarahnya. "Aryan tidak membunuh siapapun, dia bukan pembunuh, kecelakaan itu tidak disengaja."


"Dan Tante menghilangkan bukti agar Aryan tidak dipenjara, Tante berbuat tidak adil kepada kematian Farrel."


"Kami sudah menguburnya dengan layak."


"Mamaaaaa," Abraham tidak habis fikir mendengar istrinya berbicara seperti itu. "Kenapa Papa tidak diberitahu. Dan tidak seharusnya Mama berbuat seperti itu."


"Gena juga gak tahu masalah itu Pa." Tuan besar Mahesvara memanggil Pak Hendra untuk membawa Gena kekamar.


"Itu alasannya Mama cegah Papa buat cari Farrel? dan Mama juga bilang, mustalih mencari pria itu. Astaga Yana, aku kecewa." tangan Udayana bergetar, kalau suaminya sampai menyebut namanya itu berarti dia telah membuat kesalahan besar.


"Berlian, aku bakal jelasin semuanya?" ucap Aryan, berusaha meraih tangan Berlian. Tapi Berlian mundur.


"Berliaaann jangan pergi sayang, kamu gak bisa cuma denger dari satu cerita aja. Kami akan jelaskan semuanya. Paa, tolong beritahu Berlian." menatap suaminya, tapi Abraham malah mundur, membuang muka dan tidak perduli.


"Berlian tahu apa yang harus dia perbuat, dan maaf Papa gak bisa bantu karena ini kesalahan kamu dan Aryan sendiri." ucapan Abraham membuat Udayana langsung menangis, ia tidak terima jika Berlian pergi.


"Kenapa harus menangis, bukannya Tante bilang sendiri kalau Berlian bukan calon menantu yang cocok untuk Tante, perokok dan egois tidak perduli pada orang lain."


Udayana menggeleng. "Engga sayang, kamu cuma denger awal cerita aja. Karena semakin kesini Tante semakin sayang sama kamu, Berlian."


Kali ini Berlian yang menggeleng. "Mulai sekarang Tante gak akan lagi berakting seperti ini, pilihlah calon menantu yang Tante suka, permisi." Udayana semakin menangis mendengar ucapan Berlian.


"Berliaaannn," Aryan mengejar sampai halaman depan. "Tolong dengerin penjelasan dari aku please."


Langkah Berlian berhenti, Aryan memeluk kaki Berlian, Jangan goyah Berlian. Dia sudah menyakitimu melebihi batas, jangan luluh hanya karena kamu sudah membuka hati kepada pria ini.


"Tolong, dengerin penjelasan dari aku. Aku bener-bener sayang sama kamu, aku gak mau cerita jujur sama kamu karena aku takut kamu bakal pergi tinggalin aku, tapi bukan aku yang membuat Farrel pergi, bukan aku Berlian, bukan aku."


"Gue terlalu bodoh buat percaya sama lo, Ar. Seharusnya gue gak buka hati gue buat lo. Seharusnya gue gak maksain buat lupain Farrel buat lo. Seharusnya gue tolak lo dari awal dan gak usah percaya sama janji lo. Seharusnya gue. . . ."

__ADS_1


"Engga Berlian," semakin mempererat pelukannya. "Aku sudah terlanjut jatuh cinta sama kamu, aku gak mau kita pisah gara-gara ini."


"Gara-gara ini? semua ini terjadi karena kalian yang udah menutup semuanya. Kalau aja lo sama keluarga lo dateng minta maaf dengan baik, gak akan ada yang terluka Ar. Farrel cinta pertama gue, dan lo dateng berusaha buat nyingkirin dia? lo pikir dengan lo baik sama gue, care sama gue, gue bakal langsung maafin lo setelah tahu ini?"


"Kamu udah janji Berlian, apapun yang terjadi dengerin ucapan aku."


"Awalnya gue gitu, tapi setelah gue pikir-pikir emang ada benernya. Kalau lo itu baik sama gue, pura-pura sayang sama gue karena lo itu cuma kasihan, dan untuk Tante Yana," Berlian melihat kearah Udayana, wanita itu masih menangis berlutut pada Abraham, pasti Abraham kecewa berat melihat apa yang telah istrinya perbuat. "Karena takut kehilangan pewarisnya, Tante Yana ngilangin semua bukti dan berpura-pura baik, sok sayang sama gue, Cih bukan contoh warga negara yang baik."


"Berlian, Mama punya alasannya. Ayo masuk, aku jelasin semuanya."


"Gak perlu." dengan kekuatan besarnya, kaki Berlian lepas dari pelukan Aryan, pria itu sudah menangis menunduk.


"Aku mohon Berlian." Berlian menepis tangan Aryan, sejujurnya ia tidak sanggup melihat ini.


"Berliaann... ."


Saat ini ia harus menulikan telinganya, ia tidak berbalik ataupun menjawab panggilan Aryan. Bahkan ia mendengar Udayana menjerit memanggil namanya, Berlian lari menuju gerbang utama.


"Pak Senooooo tutup gerbangnya, jangan biarkan Berlian pergi." karena jarak yang terlalu jauh, Pak Seno menjadi bingung. Apalagi Berlian sudah lebih dulu keluar dan masuk kedalam Taxi yang ia minta tadi untuk menunggunya mengambil barang.


"Astaga, koper," Berlian meninggalkan kopernya. "Pak jalan, tolong ngebut, langsung kebandara." masa bodo dengan kopernya, yang terpenting sekarang Berlian harus pergi dari sini secepatnya.


Berlian tidak menoleh ketika mendengar Aryan berteriak memanggilnya, dan tetap memint sopir Taxi menjalankan kemudinya.


Aryan mengetuk kaca mobil sambil berlari mengikuti lajuan mobil yang ditumpangin Berlian. "Berliaan jangan tinggalin aku, kamu harus dengerin penjelasan aku kenapa aku rahasiain ini sama kamu."


"Pak tolong, mobil ini masih bisa ngebutkan?"


"Iya Non," membuat sopir Taxi terpaksa ikut menutup telinganya.


"Berliaaaannnnnn... . . . ." Berlian langsung menangis kekita sudah melaju kejalan besar, mobil masih dalam kecepatan tinggi, ia tidak akan menoleh, tidak akan.


Masih mendengar teriakan Aryan, tapi ia tidak akan menoleh. Mungkin Aryan masih mengejarnya, sampai suaranya tidak lagi terdengar.


"Ke Bandara Pak."


"Baik Non," air matanya tetap masih mengalir, entah ia menangisi karena ternyata Aryan membohinginya atau karena ia tidak terima Farrel pergi. Berlian masih tidak tahu.


__ADS_1


__ADS_2