
"Siapa kamu?" Samuel bertanya pada laki-laki yang berdiri di hadapannya, saat laki-laki tersebut mengulurkan tangan Samuel menolak dengan mengangkat satu tangannya. "Kamu Aryan Tara Mahesvara?" Aryan mengangguk menarik tangannya dan memasukkan kesaku celana.
"Samuel Bramantio, Daddy Berlian," Aryan menaikkan satu alisnya.
Daddy Berlian?
Aryan mengeluarkan kembali tangannya dan meraih uluran tangan Samuel. "Aryan Tara Mahesvara," Aryan memperkenalkan diri walupun pria itu sudah menyebutkan nama lengkapnya tadi.
"Hmmm. . . Tampan juga, tapi itu tidak berpengaruh padaku. Aku lebih tampan," Aryan tersenyum canggung karena tidak mengerti maksud pria didepannya ini. Berlian sendiri malah cekikikan mendengar ucapan Samuel.
Samuel berjalan melewati Aryan yang sempat menunduk sopan.
"HEII??!!" Baru Aryan berjalan mendekat ke arah Berlian terpaksa berhenti karena mendengar teriakan Samuel, Aryan membalikkan badan dan Berlian juga ikut melihat ke arah Samuel. "Bagaimana dengan konser Bring Me The Horizon?" Aryan menatap Samuel serius.
Pikirannya jadi tidak tenang mengingat konser itu.
"Bmth selalu tampil menarik," Samuel mengangguk paham, sempat menampilkan senyum smirknya.
"Menarik mana? Bmth atau Berlian?" Berlian sedikit terkejut dengan pertanyaan Samuel, sedangkan Aryan menaruh curiga dengan pertanyaan Samuel. Sepertinya pria ini tahu sesuatu.
"Daddy.. Udah pergi sana," Berlian merengek mengusir. Tapi Samuel menyuruh Berlian untuk diam.
"Kenapa tidak menjawab?" Pikiran Aryan berputar, Siapa pria ini masih menjadi pertanyaan dibenaknya.
"Daddy, , Aryan itu baru pulang dari..." cela Berlian menggantung ketika mendengar jawaban dari Aryan.
"Berlian.." Jawaban itu benar-benar membungkam mulut Berlian. Sedangkan Samuel malah tertawa keras mendengar jawaban enteng dari mulut Aryan.
"Jawaban yang menarik," menatap Aryan intens. "Tapi ingat, aku sedang memantaumu," Pria itu melenggang pergi.
Masih penasaran dengan pria yang memperkenalkan diri sebagai Daddy Berlian, dia berjalan mendekati bangku dimana Berlian duduk. Menyodorkan kaleng cola kepada calon tunangannya itu.
Berlian menggeleng pertanda tidak mau. Melirik buku asing di tangan Aryan, berdecak kecil, bagaimana bisa laki-laki itu duduk santai sembari membaca buku padahal ada seseorang di sampingnya.
"Kenapa lo jawab itu tadi?" Tanya Berlian. Huah, dia tidak tahu posisi Aryan kepadanya ini seperti apa.
"Biar cepet. Kalau aku jawab lain pasti akan semakin panjang, lebih baik cari jawaban yang menarik untuknya. Lagi pula, memang malam itu aku janya fokus padamu Berlian."
Berlian menutup mulut dengan kedua tangannya takjub. "Aryan, lo ngomong panjang banget sumpah."
"Masa?" Berlian mengangguk.
"Gak sia-sia lo kerja keras siang malem ada efek sampingnya juga. Seharusnya gue rekam tadi," Tanggapan Aryan lagi-lagi hanya senyuman tipis. Mengelus puncak kepala Berlian gemas,
__ADS_1
Melihat Aryan kembali pada bukunya membuat Berlian bosan, dia menggeser tubuhnya sedikit mendekat kesamping Aryan. Sangat penasaran dengan buku yang laki-laki itu pegang, seperti sebuah buku yang menarik.
"Baca buku apa?" Aryan menjauhkan buku yang ia pegang karena kaget. Melihat Berlian kembali duduk menjauh dan memasang wajah cemberut.
"Semacam buku diary gitu, menceritakan isi hati dan beberapa puisi." Aryan menyodorkan buku itu, dibalas gelengan cepat dari Berlian. "Maaf, tadi kaget."
"Teenfiction?" Aryan mengangguk. "Gue gak suka buku kayak gitu," tolak Berlian. Aryan mengangguk mengerti lalu kembali membaca bukunya. Di bandingkan novel bertema kisah cinta anak remaja Berlian lebih menyukai novel bertema Action atau Horror. Tapi anehnya Berlian malah menyediakan novel Romance di cafenya.
Berlian terdiam menatap ke belakang, melihat beberapa orang yang masih sibuk mendekor. Bahkan Samuel sudah melepas jas yang di kenakan dan membantu membawa beberapa barang. Berlian dan Samuel saling melempar senyuman dengan melambaikan tangan.
"Aku belum pernah mendengar soal pria itu? Samuel Bramantio," Berlian kembali memposisikan tubuhnya dengan benar.
"Sahabat Papi sama Mami, Daddy itu orang yang sayang banget sama gue. Daddy di tugasin ngejaga gue, Chacha dan Mami. Nah sekarang ini Daddy di tugasin buat ngelola perusahaan Papi yang di Kanada," Aryan menutup bukunya dan mendengarkan cerita Berlian. "Makanya Daddy gak pernah ada disini, jarang juga ada yang tau soal Daddy, karena dia jarang dateng ke acara apapun itu. Kecuali acara besar gitu atau acara yang menyangkut soal perusahaan."
"Sudah menikah?" Berlian mengangguk.
"Sudah. Daddy pernah menikah dulu, tapi istrinya meninggal pada saat kecelakaan. Daddy menolak usulan Mami untuk menikah lagi. Sejak saat itu juga Daddy jadi sayang banget sama gue dan Chacha, bahkan dia sering overprotektif sama kami. Beliau kesini karena Mami kasih tau soal pertunangan gue sama lo." Aryan mengangguk, sempat melihat ke arah Samuel yang ternyata juga sedang melihat kearahnya,
Samuel menggerakkan kedua jarinya ke arah matanya dan ke arah Aryan bergantian. Mungkin maksudnya dia selalu memantau, seperti yang ia ucapkan tadi.
"Sifat overnya itu sampaisekarang masih Daddy terapin, kata Chacha sih Daddy nugasin beberapa pengawal buat mantau kegiatan kami gitu." Aryan melotot kaget, meneguk salivanya kuat. "Tapi gue gak tau sih, itu bener atau enggak,"
Jangan-jangan beliau tahu tentang kejadian semalam. Aryan kembali menatap Samuel, ternyata pria itu sedang menatapnya juga.
Kenapa senyum pria itu jadi mengerikan.
"Haha, iya gue terlalu antusias kalo cerita tentang Daddy," Aryan hanya tersenyum. "Oh ya?" Aryan sempat melirik Samuel yang memandangnya dengan tatapan aneh sebelum menatap Berlian penuh.
"Hm.."
"Soal semalem, gak terjadi apa-apa kan?" Tanya Berlian, ia masih penasaran dengan kejadian semalam. Kenapa dirinya begitu mabuk, padahal seingatnya ia hanya meminum sedikit.
"Terjadi apa ya?" Tanya Aryan pura-pura tidak tahu. Aryan sangat lega dan bersyukur Berlian sama sekali tidak mengingatnya.
"Gue gak tau semalem minum berapa banyak, sampai gue gak inget gini," ucap Berlian. "Gue takut kalau gue ngelakuin semacam hal aneh gitu"
"Engga kok." Sebenarnya Aryan masih memikirkan soal Samuel yang selalu memantaunya.
"Serius?" Aryan mengangguk saja. Tampak Berlian bernafas lega. "Gue sama sekali gak ngomong yang aneh-aneh kan?" Karena takut ketahuan berbohong, Aryan kembali terfokus pada buku yang sempat dibaca tadi.
"Kamu cuma bilang rindu Farrel," Berlian terkejut dan menutup mulutnya. Aryan menggeleng. "Waktu di dalam mobil." Lagi-lagi Berlian menghela nafas lega.
"Haahh. . Syukur deh, gue takut aja bilang gitu pas di depan temen-temen lo,"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ya, itu bisa buat lo malu lah."
"Temanku juga lagi gak pada sadar, Berlian."
"Iya juga sih," Berlian bergeser dan mendaratkan kepalanya di atas paha Aryan yang menyilang.
Aryan sempat kaget, untung saja Aryan sedang membaca buku jadi wajahnya tertutup dan tidak terlihat ekspresi kagetnya.
"Kenapa?" Berusaha mengontrol diri Aryan menggeser buku yang menutupi wajah Berlian dari pandangannya.
"Pusing." Berlian menutup matanya.
"Mau dipijit," Dengan anggukan dari Berlian. Aryan langsung memijit dahi Berlian dengan lembut, walaupun itu tidak terasa oleh Berlian, Berlian membiarkannya. Sedangkan Aryan masih membaca bukunya walaupun buku yang dibacanya sama sekali tidak masuk keotaknya karena sibuk mengontrol jantungnya.
"Aryan," Berlian memanggil lirih masih dengan mata tertutup.
"Hmmm"
"Karakteristik cewe idaman lo itu gimana?" Aryan menggeser buku dan melihat wajah Berlian yang matanya masih tertutup.
Baru saja Aryan ingin menjawab. Berlian lebih dulu nyerocos. "Eeeiittss, , , baik, cantik, sopan, terima gue apanya. Itu basi ya? yang lain," Aryan tersenyum dan kembali pura-pura membaca buku. "Cepet jawab yang lain?"
Masih tangan satu memijat kening Berlian, mencoba mencari jawaban. "Emm. . . Yang mau menerima apa adanya Nyonya Mahesvara mungkin." Berlian tertawa mendengar itu, saking semangatnya saat Berlian akan bangkit, buku yang Aryan pegang membentur tulang hidungnya. membuat Berlian meringis kesakitan. Buku yang memiliki sampul tebal.
"Maaf Berlian," Aryan mengelus tulang hidung Berlian.
"Gak apa-apa, gue yang salah. Gue terlalu bersemangat," Berlian kembali berbaring karena Aryan yang mencegahnya untuk bangkit, lebih mudah untuk mengelus hidung Berlian yang sakit. lagi-lagi itu hanya alasan Aryan saja.
Menatap wajah Berlian membuat jantungnya berdegub semakin kencang. Berlian masih menutup matanya membuat Aryan terhanyut dalam tatapan memesonanya.
Tiba-tiba mata Berlian terbuka dan bertatapan dengan matanya, Berlian merasa dejavu dengan menatap mata Aryan. Berlian langsung beranjak dari tidurnya dan berdiri.
"Gue mau. . gue mau apa ya?" Berlian linglung. "Oh iya, gue mau ke dalem deh, di sini panas makin buat gue pusing," Aryan tersenyum melihat kegugupan Berlian yang langsung cepat-cepat berlalu pergi tanpa diberikan izin dari Aryan.
Aryan kembali membaca buku yang sempat ia hentikan tadi karena Samuel masih menatapnya tajam, ujung matanya menangkap sebuat kertas tergeletak di bangku, mengambilnya dan sekilas menatap Berlian yang sudah tidak terlihat.
Sebuah foto Berlian dengan Farrel. Aryan menatap foto tersebut dengan saksama.
"Aku akan menjaganya dan membuatnya bahagia, I promise"
...☘️☘️...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, sama coment ya gais.
Aku butuh saran dengan tulisanku ini.. Makasihh