Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (98)


__ADS_3

"Mas Aryan." Bu Nuri berjalan menuju ayunan didekat pinggiran kolam, menghampiri Aryan yang sedang asik membaca buku.


Aryan mendongak. "Iya Bu."


"Dokter Raisa sama Dokter Jen sudah menunggu diruang tamu."


"Oh, Oke Bu. Makasih ya?" Aryan bangkit dan berjalan menuju rumah. Bu Nuri membungkam mulutnya untuk mengatakan soal kehadiran Berlian.


Saat ia masuk, ia melihat keributan diruang tamu. Aryan berjalan dan hanya melirik, semua orang yang sedang asik berbincang tiba-tiba menatap dirinya dengan keadaan hening.


"Sa, kekamar ku aja." Aryan melangkah naik keatas tangga dan mengabaikan semua orang yang menatapnya.


Raisa mengangguk, ia berdiri dan menghampiri Berlian yang duduk diantara Abraham dan Udayana. "Berlian, aku keatas dulu ya. Biar Om sama Tante yang ngejelasin, tolong bantu ngejelasin ya Jen." Jen mengangguk melihat Raisa yang sudah pergi menyusul Aryan.


Berlian menatap Abraham dan Udayana bergantian, lalu ia menatap Jen. "Ada apa?"


Abraham yang bersandar, mengelus puncak kepala Berlian. "Kamu inget waktu Aryan ngejer kamu?"


Berlian mengangguk. "Sampai taxi yang kamu tumpangi sudah tidak terlihat, Aryan tetap mengejarmu. Pak Seno menyaksikannya sendiri, karena pada saat itu Tante Yana menyuruh Pak Seno untuk mengejar Aryan." Berlian melihat kearah Udayana, wanita itu menghembuskan nafas berat. "Pak Seno menemukan Aryan tergeletak diaspal dengan badan yang sudah berlumuran banyak darah."


"Aryan kenapa?"


Abraham tersenyum. "Aryan ditabrak sama mobil truk ekspedisi, supirnya bilang saat ia sedang melintas dengan pelan, tiba-tiba Aryan muncul dan membuatnya tidak sempat mengerem."


Berlian sedikit melotot kaget, kenapa lagi-lagi truk ekspedisi yang membuat orang tersayang Berlian celaka.


"Utungnya Aryan selamat." lanjut Abraham


"Tapi kecelakaan itu membuat Aryan kehilangan ingatannya," Jen menambahkan. "Yang Aryan ingat itu sebelum kecelakaan terjadi, kecelakaan yang menewaskan pacarmu."


"Yang Aryan inget itu sewaktu dia masih jadi anak nakal yang suka berkeliaran gak jelas," Udayana buka suara. "Kadang dia malem-malem pergi ke garasi untuk mengambil motor yang dulu dia sering pakai buat balapan. Terpaksa kami menjelaskan ulang bahwa semua itu sudah terlewati."


Berlian menoleh melihat Abraham. "Aryan sama sekali gak inget soal kecelakaan Farrel, apalagi tentang perjodohan kamu sama dia. Maaf Berlian, Om janji akan membuatnya ingat dengan perlahan."


"It's Okay Om. Berlian gak apa-apa kok."


"Sekarang ini, Aryan mengeluhkan soal ingatannya. Dia sering bermimpi soal perempuan yang dia gak tahu siapa, tapi dia selalu merasa bahwa perempuan itu adalah Zivana." Jen menambahkan.

__ADS_1


"Tapi Tante udah kasih tahu, kalau hubungan dia dan Zivana sudah lama berakhir. Karena Devan yang merebut Zivana. Awalnya dia murka seperti dulu, tapi kami sudah menjelaskan dengan pelan dan dia mengerti."


Abraham memberikan tissue kepada sang istri. "Sejak saat itu, kami mulai memberitahu apa saja yang telah dia lewatkan. Termasuk sebagai pemilik perusahaan terbesar dan gelar pengusaha muda yang sukses."


"Devan tahu masalah ini?" Udayana menggeleng.


"Gak satupun dari mereka kami biarkan masuk, kami takut Berlian. Kalau sampai ada yang mendengar ini bisa menjatuhkan reputasi keluarga Mahesvara."


Berlian menggeleng. "Devan gak akan berbuat seperti itu Om, Devan menjelaskan semuanya dan memohon kepada Berlian untuk mengembalikan semuanya seperti semula."


"Devan menemui kamu?"


Berlian mengangguk. "Berkat Devan, Berlian berada di Indonesia sekarang."


"Bagaimana bisa?" Udayana menutup mulutnya, ia tidak menyangka Devan yang coba mereka jauhi malah dia yang bisa membujuk Berlian untuk kembali.


"Zivana sudah lari Om, Tante. Dia kabur sama Bodyguard yang bertugas menjaga dia selama ini," Abraham menggeleng kaget. "Devan terus memohon sama Berlian untuk menemukan Aryan lagi. Dia ingin meminta maaf untuk segalanya."


"Mah," Abaraham berdiri. "Papa Mau menemui Mahaprana dan mengajaknya untuk makan malam."


Udayana mengangguk. "Mama setuju Pah, Mama akan coba menghubungi mereka, Papa siap-siap aja."


Berlian mengangguk menyetujui ucapan Abraham. Lalu ia menatap Jen yang sudah perpindah duduk disampingnya. "Aku senang Berlian, kamu membuat semuanya tersenyum kembali. Aku akan tetap berusaha membuat ingatan Aryan kembali. Tolong bantu Aku dan Raisa ya?" Berlian mengangguk.


********


"Gena seneng bisa makan dengan suasana seperti ini lagi." menatap sekelilingnya, semua wajah kembali bersinar bahagia.


"Jadi gimana sama hubungan kamu sama Bimo?" Gena memudarkan senyumannya. "Kenapa? apa tetap berjalan baik?"


"Bimo gak pernah hubungin Gena lagi, setiap Gena coba telepon gak pernah diangkat." Abraham menatap sang putri.


"Kenapa gak bilang sam Papa? Papa akan urus soal Bimo."


Gena melotot kaget. "Semua sibuk karena masalah Mas Aryan, Papa jangan apa-apain Bimo. Wajar kok dia marah, karena Gena udah bohongin Bimo."


Berlian mengelus kepala Gena. "Kamu kan gak berbohong buat masalah yang besar, besok coba temui, ceritain segalanya dan alasannya. Bimo pria yang baik, pasti dia mengerti."

__ADS_1


Berlian melihat Bu Nuri menyiapkan roti panggang dan cokelat panas dinampan, Berlian berdiri menghampiri.


"Buat Aryan Bu?" Bu Nuri menggangguk. "Sini biar Berlian aja Bu."


Bu Nuri mendorong nampan kehadapan Berlian. "Maaf Non, merepotkan?"


Berlian membawa nampan itu menaiki tangga dan berhenti tepat didepan kamar Aryan. Berlian mengetuk dengan pelan.


"Iya Bu, sebentar..." terdengar Aryan berteriak dari dalam. Saat kepala pria itu muncul dari balik pintu, tampak terkejut karena melihat Berlian yang berada didepan kamarnya. "Siapa? eeh ada apa?"


"Ini," mengangkat nampan tinggi-tinggi. "Disuruh Bu Nur nganter ini."


Baru Aryan mau mengambil, Berlian lebih dulu menyerobot masuk kedalam kamar Aryan, hal itu membuat Aryan kaget dan mengikuti Berlian masuk.


"Lancang sekali kamu masuk."


Berlian menatap sinis. "Raisa aja boleh masuk, kenapa aku gak boleh?"


"Aku kenal Raisa dan aku gak kenal kamu, bisa tolong keluar sekarang? taruh aja nampannya diatas meja, dan cepat keluar." ucapan Aryan membuat Berlian terdiam, lihat. Bahkan dulu Berlian sering tidur dikamar ini. "Kenapa diam?"


"Iya ini mau keluar." Berlian berjalan menunduk melewati Aryan.


"Hah, siapa sih dia? gak sopan banget." Aryan memaki setelah menutup pintu.


Tok.... Tok... Tok....


Aryan mengerutkan dahinya. Lalu membuka pintu, masih dengan Berlian disana. "Ada apa lagi?"


"Aku lihat novel Veronica Rossi diatas meja," Aryan menatap Berlian dengan penuh tanda tanya. "Under The Never Sky. Boleh aku pinjam?"


Tampak Aryan menghela nafas, lalu pria itu berjalan mengambil novel yang dimaksud Berlian dan menyerahkan kepada wanita yang sangat mengganggunya itu.


"Aku pinjam boleh."


"Hm." jawab Aryan ketus.


Berlian tersenyum lebar. "Nanti aku kembalikan kalo sudah selesai. Terima kasih."

__ADS_1


"Whatever." Brakk.. Pintu tertutup keras, bahkan sampai membuat Berlian terlonjak kebelakang saking terkejutnya.


__ADS_2