
"Berlian!!!!" Aryan mengatur napasnya, lalu ia duduk berlutut di hadapan Berlian, menggenggam tangannya, mengelus lembut tangan Berlian.
Ingin rasanya ia bisa merasakan derita yang tunangannya alami.
Bertemunya dengan laki-laki yang sangat mirip dengan Farrel pasti membuat suasana hati Berlian sangatlah buruk. Sedari tadi, perempuan di hadapannya sama sekali tidak membuka suara.
Aryan tidak tega memendam ini.
"Mau makan?" Berlian tidak ingin menjawab.
"Mau minum?" Berlian masih tidak ingin menjawab.
"Atau kamu mau......"
Aryan menghela napas dan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, ia bingung harus berbuat apa, melihat Berlian diam seribu bahasa. Ia kurang mengerti apa yang diinginkan perempuan ketika suasana hatinya memburuk.
Apa ia diam saja?? Aryan menggeleng.
Apa ia harus menghibur Berlian? Tapi bagaimana? Aryan menggeleng lagi.
"Batalin saja beli bukunya, gue tiba-tiba males,"
"Hah??" Berlian masih memperhatikan elusan lembut tangan Aryan, Berlian tidak mengulang ucapannya, karena dia paham kalau Aryan pasti mengerti. "Kamu gak apa-apa kan?" Memastikan keadaan Berlian.
Berlian tersenyum. "Kalau gue bilang gue baik-baik aja, kelihatan bohong banget kan?"
Aryan tersenyum mengangguk. "Mau pulang???"
"Bentar lagi aja, gue baru juga duduk disini," Berlian menepuk bangku kosong di sebelahnya. "Lo gak capek jongkok gitu? gue yang liat aja capek," membuat Aryan bangkit dan memilih duduk di sebelah Berlian.
Berlian memperhatikan genggaman tangan Aryan. "Tangan gue keringetan"
"Ahh maaf," melihat Aryan melepaskan genggamannya, pandangan Berlian menerawang. Hampa. Setelah tangan hangat itu terlepas dari tangannya.
"Tumben taman sepi, biasanya malam gini masih ramai," Aryan melihat jam tangannya, menunjukkan jam sembilan malam.
Aryan melihat ke arah Berlian lagi, perempuan itu masih memperhatikan tangannya.
"Berlian???" Aryan memanggil Berlian lirih.
"Hmm,"
"Maaf, seharusnya tadi aku."
"Lo gak salah kok. Itu malah lebih baguskan?"
"Hmm,"
"Dari dulu, gue selalu ngejar setiap orang yang terlihat mirip sama Farrel, tapi hasilnya selalu nihil, dan sekarang setelah gue tahu dia gak sekedar mirip, gue malah pengen lari, karena gue belum siap." Aryan diam mendengarkan, dia mencoba menjadi pendengar yang baik. "Gue masih gak terima aja kenapa dia ninggalin gue kayak gini, takut kalau gue gak bisa terima alasan dia, apalagi gue masih berharap dia bakal dateng." Tangan Aryan bergetar mendengar ucapan terakhir Berlian. Apa ia tidak terima? Mungkin. "Aryan,,"
"Hemm," melihat Berlian.
"Terim kasih, mau nepatin janji lo," Aryan menunduk lalu mengangguk samar. Mau bagaimana lagi? Aryan harus melakukan itu, walaupun hatinya menolak. "Dia mirip banget ya?"
Aryan menoleh.
"Tadi," Berlian menunjuk kearah mereka tadi bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan Farrel.
__ADS_1
"Ohh, iya. Mirip," mengerjap matanya. "Kayaknya, dia bohong gak sih??"
"Maksud lo?"
"Dia bohong kalau dia bukan Farrel? Bisa aja kan???"
"Enggak," Berlian menggeleng. "Dia emang bukan Farrel kok."
"Yakin???" Berlian mengangguk. "Kamu tau dari mana kalau dia bukan Farrel???"
Berlian Berdiri di hadapan Aryan, dan menunjuk laki-laki itu, "coba deh lo berdiri,"
Aryan tampak bingung dengan maksud Berlian, dengan ragu laki-laki itu berdiri menuruti. Dia sempat tersentak ketika Berlian menyentuh pipinya. "Kalau dia emang Farrel, paling tidak dia setinggi lo pas gue pegang pipinya tadi." Aryan masih belum mengerti, "tadi jelas banget loh kalau dia lebih rendah dari lo."
"Farrel setinggi aku."
Berlian mengangguk, dia menarik tangannya ketika sadar malah mengelus pipi Aryan, "Sorry."
"Umm, karena batal pergi cari buku, bagaimana kalau kita pulang saja, ini sudah malam juga."
"Iya,"
********
Sepanjang perjalanan Berlian kembali terdiam membisu, lagi-lagi tidak ada percakapan yang terjalin antara keduanya, Berlian maupun Aryan masih sulit memulai topik pembicaraan. Terlebih, Aryan masih membiarkan Berlian merenungi pikirannya, pasti perempuan itu masih memikirkan hal tadi.
Bahkan saat mereka sampai di rumah, mereka masih saling membisu, tidak sengaja Abraham menyapanya saat pria itu sedang asik membaca koran di ruang tengah, Berlian melewatinya saja sampai membuat Abraham mengalihkan pandangannya dari koran.
Melihat Berlian yang sudah berjalan masuk ke dalam kamarnya, Abraham menatap Aryan, dia butuh jawaban atas sikap calon menantunya itu. Namun, saat pria berperawakan tampan itu mendekati putranya, dia malah mendapatkan jawaban kosong.
Aryan pergi, dia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
********
Berlian duduk termenung di tepi kolam, ia memutar-mutar jarinya seakan sedang menggerakkan air padahal air bergerak akibat perbuatan kakinya sendiri. Gena yang di perintahkan oleh Abraham untuk menyapa dan memberikan beberapa makanan kecil pada Berlian sama sekali tidak di hiraukan. Berlian asik bermain dengan air.
"Ada apa sama nona Berlian?"
Gena mengangkat bahunya. Bu Nuri yang sedang menyeduh cokelat panas bergabung pada pembicaraan Gena, Dodit dan Pak Hendra.
Ara sang pelayan ikut bergabung. "Dari awal masuk rumah sudah diam saja kok, bapak yang nyapa saja di cuekin tadi," jawab Ara karena menyaksikan kejadian itu secara langsung.
"Bu, biar saya saja yang memberikan minumannya."
"Eh, iya..." Terkejut karena kedatangan Aryan tiba-tiba, bu Nuri memberikan nampan berisi susu cokelat hangat kepada Aryan. "Hati-hati mas Aryan, masih panas soalnya."
"Iya bu," Mereka memperhatikan Aryan berjalan menjauh,
Berlian mendongak, melihat Aryan yang berjongkok di dekatnya, lalu ia kembali menunduk menatap air kolam renang. Aryan tahu betul yabg di rasakan oleh tunanganya, rapuh, sangat rapuh, itu terlihat jelas sekali.
Aryan paham seperti apa rasanya kehilangan sosok yang di cintai itu.
Bahkan,
mendekati Berlian, beban rindu yang berat mampu membuat Berlian kehilangan sosok cerianya. Lalu apa yang bisa Aryan perbuat?
Sejak awal, perempuan itu sendiri yang sudah memberikan pembatasan. Benteng besar. Tidak mungkin Aryan menerobos masuk tanpa adanya izin, bukankah itu ilegal, Aryan berpikir sendiri.
__ADS_1
"Hai," Berlian menoleh, mulutnya masih lengket untuk menjawab sapaan Aryan. "Cokelat. Awas panas," Berlian hanya tersenyum tipis. Dia dapat merasakan Aryan berjalan menjauh dan duduk di ayunan tepat di belakangnya. "Sini duduk, memangnya tidak merasa dingin main air malam-malam begini?"
Berlian hanya menggeleng tanpa melihat.
Dia masih termenung. Sedangkan Aryan sudah sibuk mencari buku yang akan ia baca.
"Aryan?"
"Hem,"
"Gue,,,,"
"Ah ini dia," menemukan buku yang pas untuk dia baca sekarang.
"Aryan gue mau ngomong,,," melihat Aryan yang entah sibuk mencari apa!
"Ngomong aja,"
Dia kembali menatap air. "Gue bodoh gak sih kayak gini terus?" Masih dengan menatap air kolam. Aryan tahu yang Berlian maksud adalah tentang pria itu. Farrel.
"Enggak dong. Setiap orang kan punya caranya masing-masing, untuk encintai seseorang." Berlian mendengarkan. "Kamu, memilih tetap mencintai walaupun kamu gak tahu dia dimana. Tapi, cinta kamu yang buat kamu bertahan kan??" Berlian mengangguk.
"Kalau lo?"
"Aku,,," Aryan diam sebentar. "Aku, memilih tetap mencintai walaupun aku tahu, aku gak punya kesempatan buat di cintai oleh dia."
"Zivana???"
Kamu.
"Hmm," Berlian meremas tangannya lalu ia berdiri mendekati Aryan dan mengulurkan tangannya. Laki-laki itu hanya menatap uluran tangan Berlian.
Namun saat Berlian menggerakkan tangannya, bergegas Aryan mengeluarkan tangan yang ia simpan di saku celananya dan meraih uluran tangan Berlian.
"Kenapa?" tanyanya.
"Gue..." Aryan melihat mata Berlian berkaca-kaca. "Gue mau coba buka hati buat lo," Aryan tercengan, sangat. Sangat-sangat tercengang, membuatnya langsung berdiri dan menatap Berlian. "Bantu gue buat nerima lo,"
"Berlian,,,"
"Gue capek." Isak tangis terdengar, Aryan bergerak menuntun Berlian untuk duduk.
"Duduk dulu,"
Aryan berjalan meninggalkan Berlian menuju teras belakang yang menyisakan Bu Nuri dan Dodit yang sedang mengobrol pasal tanaman. "Bu Nuri, tolong ambilkan saya handuk kecil,"
Setelah mendapatkan handuk dari bu Nuri, Aryan kembali membawa handuk kecil itu menuju Berlian, dia berlutut di hadapan Berlian dan mengeringkan kakinya yang basah. Sedangkan Berlian hanya melihat Aryan yang tidak merespon ucapannya. Ucapan yang Berlian ragukan selama ini.
Aryan mendongak melihat Berlian menyentuh kepalanya. Ia bergerak menggenggam tangan Berlian. "Aku gak pernah memaksa kamu untuk menyukai ku Berlian, aku akan menunggu,,"
"Gue gak ke paksa, ini hati gue sendiri yang minta. Sikap lo, perhatian lo, itu semua yang membuat gue coba untuk nerima lo," Aryan tersenyum mendengar Berlian yang mencoba membuka hatinya. "Gue juga akan bantu lo?"
"Tentang?"
"Tentang rasa lo yang sia-sia buat Zivana," Aryan tersenyum mengangguk.
...☘️☘️...
__ADS_1
Maaf, Aku sering Update suka-suka aku.